Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
honeymoon kedua


__ADS_3

"Bagus! Terus kayak mana KBmu itu? Apa sudah kau hentikan?" imbuh Melva, saat pertemuan di rumah, ia memang tak sempat menanyakan tentang status perpanjangan KB tersebut.


"Sudah, Inang. Kebetulan memang nggak ku lanjut saat pengumuman kelulusanku. Sudah dua minggu lah, kira-kira. Apa bisa langsung hamil?" celetuk Dira polos.


*******


Defan menikmati pemandiannya pagi itu. Suasana hatinya begitu senang dan meneduhkan lantaran tadi malam sudah mendapatkan jatah untuk kedua kali.


Bahkan, selama melakukan ritual mandi, ia terus saja bersenandung dengan lagu-lagu bermelodi riang.


Hari ini, ia semakin bersemangat lagi untuk bekerja. Bahkan, rasanya ingin segera menyudahi pekerjaan itu, langsung melanjutkan dengan suasana malam. Berdua dengan sang istri, menikmati moment kebersamaan mereka.


"Pagi sampai sore bisa di skip aja nggak? dududuudu," gumam Defan, seraya membasahi seluruh tubuh di bawah pancuran shower.


Dia bahkan memikirkan sejenak untuk rencana liburan yang ditawarkan oleh Dira dan sahabat Dira. Bisa jadi, itu sebagai salah satu cara untuk mereka melanjutkan honeymoon yang sesungguhnya.


Sebab, honeymoon pertama, mereka tidak bisa melakukan apapun. Jangankan berhubungan di ranjang, saling menyentuh pun tidak.


"Sebaiknya, aku harus menyetujui rencana liburan itu! Suasana dingin di Toba justru akan membuat Dira semakin lengket padaku! Uhuyy." Defan melompat-lompat kegirangan sembari menyudahi ritual pemandian.


******


Melva langsung bahagia mendengar jawaban dari Dira. Ia semakin yakin, kalau dirinya akan segera menyandang panggilan sebagai seorang opung. Melva bahkan menepuk-nepuk punggung tangan Dira, ia sudah tak sabar menantikan cucu kesayangan yang ditunggu hingga beberapa tahun lamanya.


"Inang, yakin kalau kau akan segera hamil!" Melva melayangkan senyuman, lalu mengelus rambut di pucuk kepala Dira.


"Iya, Inang ... semoga saja!" Dira menatap wanita paruh bayah itu penuh nanar, entah mengapa, semenjak ia lulus SMA, seakan-akan dipaksa segera memiliki anak.


Padahal, Dira masih ingin menikmati masa muda. Dimana ia masih inngin melalui kehidupan masa kuliah. Bakan, ia justru tak ingin tersendat proses kuliah itu, selama perutnya belum mengandung seorang bayi.


*****


Defan bergegas memakai setelan jas yang diambil sendiri dari dalam lemari. Pagi ini karena Dira sibuk menemani mertua dan adik ipar, tak ada waktu baginya untuk mempersiapkan setelan baju untuk suaminya bekerja.


Baju dengan warna senada pun jadi pilihan Defan. Ia menggunakan jas dan celana bahan berwarna hitam, sedangkan kemeja ia memakai berwarna putih. Warna netral menurutnya.


Defan berjalan gontai, mengarah ke ruang tamu. Disana ia mendengarkan pembicaraan Dira beserta sang mama yang tengah mencecar seorang cucu.

__ADS_1


"Dasar orang batak! Kalau kawin, pasti yang ditanya soal penerus keturunan terus!" keluh Defan dalam batin sembari menggelengkan kepala.


*******


"Jadi sudah berapa kali kalian lakukan?" racau Melva membuat Defan semakin berang.


"Mam, kepo kalilah, mama! Mama bawa sarapan nggak?" timpal Defan, menyambar pembicaraan kedua wanita yang sangat ia cintai.


"Udah beres kau? Mama, bawa kok. Ayo-ayo kita makan," ajak Melva segera beranjak, ia merangkul Dira mengarah ke dapur.


Di sana, Anggi sudah menyajikan makanan yang mereka bawa pagi ini. Hasil masakan Melva, ia sudah susah payah bangun subuh-subuh demi menyiapkan sarapan untuk anak dan menantunya.


"Ma, yang masak ini, mama?" tanya Defan, takjub melihat makanan yang banyak, semua adalah favoritnya.


"Iya, ada kesukaanmu tuh. Ayam goreng, mie lidi goreng, rendang, lihatlah semua itu!" jelas Melva.


"Semua kesukaanku ini, ma. Makasih, ya!" Defan langsung menyendoki nasi ke piring, meski menu itu terlalu berat di pagi hari, ia tetap menghabiskan banyak makanan.


Apalagi masakan sang mama tak akan pernah dilupakan. Semuanya langsung menyantap seluruh hidangan pagi itu.


******


"Niar, kayak mana PKPAmu? Lancar?" tanya Desman saat di meja makan. Lantaran hanya berdua, Desman pun mengajak ngobrol anak keduanya.


"Lancar, pak! Apa boleh setelah lulus PKPA, aku magang di kantor bapak?" Niar sesekali menatap mata elang sang bapak.


"Bolehlah boru, mau kau dibawah pengawasan abangmu?"


"Janganlah, pak! Sama pengacara lain ajalah! Masa keluarga sama-sama terus," tampik Niar, seraya menyendoki suapan ke dalam mulut.


"Hmmm ... yaudahlah, nanti bapak atur kau ke pengacara lain. Pokoknya harus pande kau jadi pengacara! Gesit, cerdas, cekatan, dan lantang!" tegas Desman.


"Oh, kalau itu harus, pak! Walaupun aku perempuan tapi aku ingin menjadi pengacara terkenal dan disegani," cerita Niar.


Sampai mereka menghabiskan sarapan, obrolan itu berakhir. Niar dan Desman berangkat terpisah dengan mobil masing-masing.


******

__ADS_1


"Ma, sepertinya minggu ini, aku dan Dira akan berlibur," tandas Defan setelah menyuapkan santapan terakhir.


"Ke mana?" tanya Melva, penuh selidik.


Dira juga langsung menoleh ke arah sang suami. Belum ada percakapan serius antara mereka kelanjutan pillow talk tadi malam. Bahkan, Defan masih menimbang tentang rencana liburan mereka.


"Mau honeymoon kedua kami mak, ke Danau Toba," ucap Defan memicingkan mata.


"Oh ... bagus itu! Haruslah kalian lakukan honeymoon kedua. Supaya cepat jadi cucuku." Melva tertawa terbahak-bahak.


Sementara Anggi, hanya diam mendengarkan obrolan serius tentang masalah rumah tangga. Ia tak berani ikutan kalau membicarakan persoalan suami istri.


"Kau juga, Dir! Jangan lama-lama kali punya anak. Udah nggak sabar Inang menimang cucu," desak Melva.


Dira hanya terdiam sembari menganggukkan kepala. Tak ada lagi yang bisa ia katakan, sebab persoalan itu sudah terus dicecar oleh Melva saat Defan mandi.


"Inang, habis sarapan masih di sini kan?" tanya Dira memastikan.


"Iya, aku mau di sini dulu, satu hari ini sama si Anggi. Kau nggak ada rencana mau kemana-mana kan?"


"Rencana sih, aku mau ke rumah mamak. Mereka mau pindahan, Inang mau ikut?" tawar Dira, ia tak ingin melewatkan momen kepindahan keluarganya.


"Oh, mau pindah ke mana orang itu? Kau ikut, Def?" sambar Melva.


"Engga ma, Dira sendiri ke sana. Kalau mama mau ikut sama Dira aja. Ajak si Anggi juga, biar ramai kalian!" terang Defan.


"Ikutlah kami, Dir. Aku penasaran gimana rumah baru kalian."


"Iya, Inang. Tadi naik apa Inang sama Anggi?" Dira pun kebingungan, ingin mengajak naik taksi online merasa tak enak pada mertuanya. Apalagi, mertuanya terbiasa naik mobil mewah.


"Oh, tenang lah kau. Ada supir kami di bawah. Nanti kita diantar," imbuh Melva, tersenyum tipis.


"Yaudah, kalau gitu kita berangkat jam 9an aja, ya, Inang? Inang santai dululah di rumah ini."


Sementara, Defan beranjak dari kursi makan, ia mengambil tas dan jas yang belum di pakai ke kamar. Dira pun mengekori pria itu. Anggi dan Melva pun bersantai di ruang keluarga.


"Sayang, abang berangkat dulu, ya? Nanti hati-hati berangkatnya. Kabari abang kalau sudah di rumah amang dan inang," pinta Defan, kemudian ia mengecup kening Dira penuh kasih sayang dan kelembutan.

__ADS_1


__ADS_2