
Defan mengelus rambut Dira, lalu meraih tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. "Sekarang sudah pintar, ya!" puji Defan, membuat Dira merasa malu.
"Ih ... abang apaan sih!" jawab Dira, suasana pun menjadi kikuk, rasanya tabu jika membicarakan hal-hal intim seperti itu.
"Loh, kenyataannya memang begitu loh, Yang! Awal-awal kita baru belajar tapi sekarang sudah makin pintar karena belajar dari pengalaman," ledek Defan, terkekeh geli.
"Ih ... udah ah, ngapain sih ngomongin itu, emang abang belum puas?" tanya Dira, menangkup wajah suaminya, lalu memberikan ciuman di bibir itu.
"Udah kok!" balas Defan, cepat.
Keduanya masih rebahan di atas ranjang. Saling memeluk, menutupi tubuh polos itu dengan selimut putih tebal milik vila. Tak berselang lama, keduanya langsung bergantian membersihkan diri di kamar mandi.
*****
Pagi hari, semua keluarga sudah sibuk bersiap-siap untuk berangkat. Termasuk Defan dan Dira. Semua barang-barang bawaan telah dimasukkan ke dalam bagasi bus.
"Jangan ada yang ketinggalan!" Defan mengingatkan semua keluarga, memperhatikan semua barang bawaan yang masuk ke dalam bagasi bus.
Kemudian, bus besar dan mewah itu berangkat dari vila. Semua keluarga sudah duduk di posisi masing-masing.
Dua pemuda sebagai tour guide juga ikut di dalam bus. Mereka duduk di samping supir, menunjukkan jalan agar sang supir tidak kebingungan.
Perjalanan mencapai 1jam lebih, bus itu bahkan melalui 8 kelokan khas jalan si bea-bea yang sempat viral. Wisata yang baru diakhir 2022, memang sangat terkenal karena jalan berkelok dengan latar danau toba yang memukau, serta sebuah patung yang tinggi mengalahkan patung tertinggi sebelumnya berada di Brazil dengan ketinggian 38 meter.
Seluruh keluarga turun dari bus, Defan bersama tour guide sudah membeli tiket masuk menuju pelataran bukit si bea-bea. Tour guide membawa masuk seluruh keluarga, orang-orang berswafoto untuk mengabadikan momen keberaamaan saat berada di tempat yang sangat religi itu.
Patung Yesus Kristus setinggi 61 meter menjadi daya tarik paling utama. Dira dan Defan mengabadikan foto bersama dengan latar foto patung Yesus Kristus.
"Gila sih, bang! Kok keren kali tempat wisata ini," puji Dira, mengedarkan pandangan menatap patung megah yang berada di atas ketinggian bukit 1.021 dari atas permukaan laut.
"Iya, Yang! Keren kan, makanya aku ajak ke sini! Di sana juga ada rumah doa tapi belum jadi," ujar Defan.
"Nanti kalau sudah rampung semua, kita harus kembali ke sini, ya, bang!" pinta Dira, dengan nada yang manja.
Pada perjalanan ini, hanya Anggi yang tak mengikutinya. Sebab, ia berada di perantauan. Sayang rasanya harus pulang ke Medan hanya untuk dua hari.
__ADS_1
Sementara, Niar yang orangnya introvert juga meluangkan waktu untuk mengikuti liburan keluarga. Ia dengan malas membantu kedua orang tuanya untuk memotret moment langka yang terjadi sekarang ini.
"Niar, cepat foto mama sama bapak!" ujar Melva, memberikan ponsel pada anak keduanya.
"Iya, mam!" jawab Niar, dengan malas ia mengambil beberapa foto dengan pose mesra kedua orang tuanya.
****
Rombongan opung matua tengah menikmati pemandangan dari atas bukit si bea-bea. Menyaksikan patung religi serta menikmati pemandangan dari ketinggian bukit. Tampak danau Toba yang sangat eksotis.
"Kita harus sering-sering melakukan perjalanan wisata seperti ini," celetuk Opung Matua, pada anak dan menantunya yang ikut menikmati pemandangan alam di pagi hari.
"Kalau sering-sering gini, bisa bangkrut, pak!" jawab Sahat, terkekeh seorang diri.
"Iya, biayanya mana sedikit ini, pak!" jawab Devi, setelah menerka-nerka budget yang dikeluarkan untuk wisata ini.
"Betul itu, berapa kau habiskan untuk wisata semewah ini, Bang?" tanya Sohit, menoleh pada abang kandungnya.
"Entah, mana kutahu! Helaku yang nyiapkan ini semua, mau ku transfer malah ditolaknya," terang Sahat mengernyitkan keningnya.
"Bah ... enak kali lah kau, Pak Dira!" sambar Opung Tiur.
****
Dira dan Defan menanjak ke atas, hingga berada di dekat patung Yesus Kristus. Keduanya memanjatkan doa agar segera diberikan momongan.
"Bang, ayo kita berdoa! Siapa tahu langsung dikabulkan!" ucap Dira, asal. Ia hanya pasrah meminta pada Tuhannya.
"Hu'um ... kalau nunggu rumah doa selesai kelamaan," sahut Defan.
Keduanya mengatupkan tangan, memanjatkan doa masing-masing. Usai Dira berdoa, ia menatap suaminya yang sangat serius menyampaikan permintaan isi hatinya.
Bahkan, ia menjadi penasaran seperti apa isi doa suaminya. Merasa ada yang terus memperhatikannya, Defan menyudahi doa yang telah dipanjatkan.
"Abang, doa apa sih? Kok lama kali?" tutur Dira, menatap lekat suaminya.
__ADS_1
"Doa untuk kita berdua supaya langgeng sampai maut memisahkan!" ucap Defan, keduanya pun saling menatap.
"Lalu? Masa doa sependek itu lama kali!" tandas Dira, semakin penasaran.
"Ih ... pengen tahu, ya? Kepo ih!!" ledek Defan, mencubit hidung istrinya.
"Abang!" sesal Dira, menggelitik pinggul suaminya agar menyerah, lalu menyampaikan isi doanya.
"Udah dong, Yang! Geli loh ... pokoknya rahasia," imbuh Defan, segera berlari agar tak lagi mendapat gelitikan dari istrinya.
"Abang!" pekik Dira, berlari sekencang mungkin untuk mengejar pria kesayangan itu.
****
Usai menikmati pemandangan di bukit si bea-bea, keluarga Tampubolon melanjutkan perjalanan.
Kali ini, bus melaju dengan kecepatan sedang menuju Air Terjun Efrata. Perjalanan mencapai setengah jam lebih, bus pun berhasil tiba di perpakiran wisata air terjun.
Pemandangannya sangat meneduhkan, ketinggiannya bahkan mencapai hingga 20 meter. Sebelum menikmati wisata itu, keluarga menikmati makan siangnya.
Matahari telah terik, seluruh keluarga pun merasakan lapar yang luar biasa. Untungnya, berada di dekat wisata air terjun ada sebuah restoran yang bisa disinggahi.
Tour guide mengarahkan agar semua keluarga makan di restoran yang tak jauh dari tempat wisata. Mereka hanya berjalan kaki, menyusuri tempat restoran.
Kali ini, makanan sederhana mampu mengenyangkan perut mereka. Setelah menyudahi makan siang, semuanya masuk ke dalam wisata air terjun.
Tak sedikit keluarga yang menyelam, menikmati air asli pegunungan. Air terasa dingin dan menyegarkan.
Dira dan Defan saling menyipratkan air, lalu Defan mengajari istrinya untuk berenang di tepian danau air terjun.
Tak hanya itu, keluarga Dira dan keluarga Defan semua menikmati pemandian air pegunungan. Termasuk opung Matua dan opung Tiur, meski sudah renta tapi tak menyurutkan semangat mereka untuk menikmati pemandangan serta air asli pegunungan itu.
Dira masih memikirkan doa yang disampaikan oleh suaminya. Meski sedang diajarkan berenang tapi rasa penasaran Dira tak kunjung hilang.
Flashback On!
__ADS_1
Defan mengatupkan kedua tangannya. Memejamkan kedua mata setelah memastikan Dira mulai memanjatkan doa.
"Ya, Tuhan, berikanlah kami momongan yang banyak. Aku dan istriku ingin segera memiliki anak. Hilangkan lah rasa trauma yang ada pada diri istriku. Aku khawatir kalau ia masih takut untuk merasakan kehamilan."