Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
Aparat pemerintah


__ADS_3

"Aku harus memikirkannya lagi," lirih Carol, masih tak yakin untuk menerima tawaran Jefri untuk berpacaran dan mengenal satu sama lain.


"Tolonglah, jalani saja dulu, aku tidak akan memaksamu untuk melakukan hal yang tidak kau suka. Yang terpenting kita jalani saja dulu hubungan ini," bujuk Jefri, tak pantang menyerah.


Carol masih Duduk menatap lekat manik indah Jefri, ia pun tersenyum tipis setelah memantapkan keputusannya. Perlahan, akhirnya Carol menganggukkan kepala.


"Baiklah kita jalani dulu tapi aku tidak berjanji kalau hubungan ini bisa berlangsung lama," hardik Carol, menatap pria itu dengan senyuman tipis.


****


Shinta dan Dika baru saja sampai di mall, keduanya langsung mencari sebuah restoran untuk makan siang.


Sebuah restoran mahal menjadi pilihan Shinta mengingat Diki adalah seorang pria yang kaya raya.


"Dik, kita makan di situ aja!" cetus Shinta.


"Jangan di situ, terlalu mahal," tolak Diki.


"Yaudah jadi menurutmu di mana?" Shinta memberi kesempatan pada Diki untuk memberikan pendapat.


"Itu aja!" Dicky menunjuk sebuah outlet kecil, tempat makanan cepat saji yang menurutnya sangat cocok untuk mahasiswa seperti mereka.


Sembari menggerutu, Shinta berjalan mengikuti Diki menuju outlet makanan itu. Keduanya memesan makanan cepat saji untuk mengisi perut yang kosong. Saat berada di kasir dan ingin melakukan pembayaran, tiba-tiba Diki gelagapan, ia seakan-akan seperti orang yang kehilangan dompet.


"Waduh, sepertinya aku ketinggalan dompet," racau Diki, merasa khawatir setelah memeriksa seluruh saku yang ada di celana.


"Kau yakin betul-betul meninggalkannya? Apa ada di mobil? Coba ingat-ingat lagi," papar Shinta.


"Kayaknya memang ketinggalan di rumah deh soalnya tadi aku kan nggak sempat makan di kantin," ungkap Diki.


"Astaga, jadi bagaimana ini?" Shinta mengedarkan pandangan.


"Maaf, Kak pembayarannya menggunakan debit atau tunai? tanya Kasir itu karena antrian di belakang sudah cukup panjang.


"Kau yang bayar dulu deh," pinta Diki.


Shinta mencari dompet di dalam tas. Untung saja, uangnya cukup untuk melakukan pembayaran makanan cepat saji. Meski begitu, Diki mendapat cibiran tajam karena terlalu kelewatan untuk menyuruhnya yang membayar makanan mereka disaat hari pertama melakukan pendekatan.


Baru pertama kali jalan bersama sudah membuat Shinta kelimpungan, harus mengeluarkan uang yang banyak padahal uang itu adalah jajan untuk satu minggu ke depan yang diberikan oleh kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Kau gimana sih, Dik! Masa mau jalan begini nggak bawa dompet," sungut Shinta.


"Sorry, soalnya waktu tadi pagi aku buru-buru berangkat ke kampus," kilah Diki.


Karena sudah membayar semua makanan itu, dengan terpaksa Shinta pun menghabiskan makanan cepat sajinya. Untung saja, Diki menolak saat diajak ke restoran yang paling mahal di mall itu ternyata Diki memiliki niat lain.


Saat menyantap makanan, tersirat seperti Diki tengah tersenyum seorang diri, senyum penuh kemenangan ia sematkan di kedua sudut bibirnya. Entah mengapa, Diki kelihatan sengaja meninggalkan dompet dan ingin memberi pelajaran pada Shinta yang diangapnya seperti perempuan matre.


Diki sempat melihat wajah Shinta yang merasa kagum dan kedua bola matanya langsung mentereng setelah melihat mobil mewah milik Diki saat di parkiran kampus tadi.


Setelah menyantap makan siang, kedua orang yang sedang melakukan PDKT itu, kemudian berjalan-jalan menyusuri setiap mall. Namun karena Diki tak membawa uang sepeserpun, akhirnya mereka hanya berkeliling tanpa melakukan kegiatan lain.


Awalnya, Shinta ingin menikmati momen kebersamaan itu dengan menonton bersama di bioskop tapi karena uangnya telah habis untuk makan siang, ia batalkan kembali niat itu.


****


Jenny dan Dira sudah menyerahkan flash disk untuk di print ke dalam bentuk makalah. Mereka pun pulang bersama menggunakan taksi online.


"Kenapa kau nggak dijemput sama suamimu?" celetuk Jenny, menatap penuh selidik.


"Bang Defan masih kerja jadi aku harus pulang sendiri. Lagian ini masih jam 3 sore," ujar Dira.


"Jen, apa kau mau mampir di rumahku?" tawar Dira, karena ia akan merasa kesepian saat di rumah seorang diri.


"Bolehlah tapi nanti pulangnya ongkosin aku, ya!" sela Jenny.


"Gampang bisa diatur," sahut Dira.


Keduanya akhirnya turun di depan kondominium. Lalu, bergegas menuju rumah Dira. Mereka berdua asik berbincang-bincang di dalam rumah selain memakan snack yang disiapkan oleh Dira.


"Jen, jangan lagi kau peringatkan si Shinta kayak tadi. Nanti dia jadi merasa nggak enak sama kita malah mengasingkan diri," sesal Dira, saat memperingatkan Jenny tentang kejadian tadi siang.


"Kemarin si Carol yang nyuruh aku buat memperingati dia," sanggah Jenny.


"Iya tapi nggak enak loh terang-terangan gitu nyampein ke orangnya," lontar Dira.


"Biar dia juga sadar diri, Dir!" cemooh Jenny.


"Udah, biarkan aja dia mau berbuat apapun. Lagian nggak mungkin juga dia mau merebut Bang Defan dariku," tampik Dira.

__ADS_1


****


Jefri memeluk Carol secepat kilat, ia takut mendapat tatapan sinis dari orang-orang sekitar.


"Malu bang!" cakap Carol, mengepalkan tangan lalu menepuk dada Jefri malu-malu.


"Yes, akhirnya keinginanku terwujud. Terima kasih Tuhan," desis Jefri seraya mengaitkan kedua tangannya untuk menandakan ia tengah berdoa.


"Kok senang kali kau, Bang!" goda Carol.


"Siapa sih yang nggak senang kalau punya pacar secantik ini," puji Jefri, setelah ungkapan cintanya diterima, lalu menoel dagu pacarnya.


"Mau diantar pulang?" tawar Jefri.


"Jangan! Aku bawa mobil sendiri," jawab perempuan itu.


"Yah ... mulai besok jangan bawa mobil sendiri lagi, biar aku yang jemput aja," tandas Jefri memberi tawaran.


Carol hanya mengangguk, lalu menyematkan senyum tipis di bibir. Entah mengapa ia merasa senang, kini sudah ada pria yang akan menjemputnya setiap hari.


*****


Di kantor, Defan sangat sibuk menatap berkas yang tadi diantarkan seorang pria ke ruang kerjanya. Ia masih bimbang apakah menerima kasus itu atau menolaknya.


"Kenapa dipandangin terus berkasnya, Pak! Tampaknya Bapak ragu-ragu mau menerimanya perkara itu!" ucap Juni.


"Kasus ini terlalu rumit untuk saya," balas Defan.


"Emang itu kasus apa?" Juni yang berdiri di dekat kursi bosnya seolah-olah ingin mengintip berkas tersebut.


"Kasusnya rumit, yang punya kasus adalah seorang polisi dan mobilnya malah di duga dicuri oleh rekannya sendiri, yang juga seorang polisi. Nah, ini melibatkan aparat pemerintah jadi membuat saya pusing," kilah Defan.


"Astaga, pantas saja bapak sebimbang itu. Lawan bapak adalah aparat pemerintah," kata Juni terkekeh kecil.


"Iya, makanya sepertinya saya harus menolak perkara ini!" putus Defan.


"Tapi bapak coba saja dulu, siapa tahu menguntungkan untuk menangani para aparat itu," saran Juni.


"Saya tidak mau main-main dengan aparat pemerintah," pungkas Defan seraya menghempaskan berkas yang ada di tangannya ke atas meja kerja.

__ADS_1


__ADS_2