Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
penyerobotan tanah


__ADS_3

Dengan cepat, ketiga sahabat itu menghabiskan lontong sayur pemberian Jefri menyusul Carol yang sudah menghabiskan lontong sayurnya.


Tak berselang lama, keempat sahabat itu bubar dari kantin, pergi ke kelas masing-masing. Hari keempat ospek pun di mulai.


Semua sudah berada di kursi masing-masing sesuai jurusan, menunggu kehadiran para senior.


****


"Jun, ada kasus baru?" tanya Defan, setelah menelisik berbagai berkas yang tertata di meja kerja.


"Belum ada, pak! Masih kasus lama semua!" jawab Juni lugas.


Tok ... Tok ...


Tiba-tiba ada tamu yang mengetuk pintu. Juni langsung membukakan pintu tersebut. "Ada perlu apa, pak?" tanya Juni, menatap datar para tamu yang datang.


"Apa ini ruangan pengacara—Defan Sinaga?" tanyanya, seraya termenung menatap sekitar.


"Benar sekali, pak!" sahut Juni, kemudian mempersilahkan tiga orang tersebut masuk ke dalam.


Ketiga tamu masuk, Defan pun langsung berdiri menyambut kedatangan mereka. Dengan senyum yang lebar dan uluran tangan menyambut tamu, meski belum diketahui tujuan kedatangan mereka mencari dirinya.


"Pagi, pak! Ada perlu apa?" tanya Defan, mengulurkan tangan, ketiga tamu bergantian menjabat tangan tersebut.


"Pagi, pak!" sahut seorang tamu.


"Silahkan duduk." Defan juga ikut duduk ketika tiga tamu tersebut juga sudah duduk dengan rapih.


"Ada perlu apa mencari saya, pak?" tanya Defan, menatap penuh selidik.


Tiga orang pria, berparas tegas tetapi terlihat berwajah garang. Datang membawa satu map untuk diberikan pada Defan. Seorang pria menyodorkan map tersebut.


"Dilihat dulu, pak!" ujar tamu tersebut.


Defan membaca berkas yang diberikan mengenai kasus penyerobotan tanah. Kasus itu bernilai tinggi, sebab pemilik tanah sudah mengetahui sejak lama bahwa tanahnya seluas 5 meter diserobot oleh tetangganya sendiri.


Namun, baru kali ini ia mau memperkarakan kasus tersebut. Terlebih, tanah yang dimiliki hendak digunakan untuk penambahan luas bangunan rumahnya.


"Siapa pemilik lahannya?" tanya Defan, setelah membaca inti kasus yang tertera dalam berkas.


"Saya, pak!" Lelaki paruh baya, mengangkat telunjuk, memiliki jenggot berwarna hitam bercampur putih alias beberapa rambut berisi uban.

__ADS_1


"Maaf, dengan bapak siapa?" tanya Defan, menatap lekat pria itu, bertanya dengan sopan santun.


"Junedi, pak!" jawab pria itu singkat.


"Baik, pak Junedi, sudah berapa lama bapak mengetahui penyerobotan tanah ini? Apa bapak sudah menegur orangnya?" cecar Defan, meletakkan berkas di atas meja.


"Hampir 5 tahun, pak! Saya tahu, berkali-kali saya ingatkan tapi dia tetap keras kepala mengaku kalau itu tanah miliknya. Padahal di surat tanah saya sudah jelas luas tanah yang dimiliki, dulu juga sempat di patok tapi orangnya membuang tanda patok tersebut," ungkap Junedi, menceritakan panjang lebar.


"Astaga! Kenapa ada orang seperti itu? Bapak sudah melaporkan ini ke pihak polisi?" Defan meminta Juni agar menyuguhkan air minum pada tamunya.


"Sudah pak, makanya saya mencari pengacara karena sidang akan segera digelar! Jadwalnya dua minggu lagi!" ucap Junedi, memberikan jadwal tersebut.


"Baiklah, pak, saya butuh surat tanah bapak yang asli, kemudian foto lahan yang diserobot oleh tetangga bapak, serta saksi dari tetangga lain kalau benar tanah ini diserobot!" ungkap Defan, setelah menyetujui untuk mengambil kasus tersebut.


"Baik, pak! Semua akan saya siapkan dalam waktu dekat. Jadi bapak akan menangani kasus saya, kan?" Junedi memastikan kembali, yang dijawab dengan anggukan dari Defan.


"Untuk berkas ini apakah saya tinggal atau dibawa lagi?" Junedi hendak mengambil berkas tapi dicegah oleh Defan.


"Biarkan saja di sini, pak! Biar saya yang urus! Bapak tinggal bawa kembali semua yang diperlukan sesuai yang saya sebutkan tadi!" papar Defan, tersenyum ramah.


Juni melangkah gontai, membawakan tiga teh manis hangat untuk ketiga tamu. "Silahkan diminum, pak!" ucap Juni, mempersilahkan tamunya setelah memindahkan gelas dari nampan ke meja.


Usai menyesap teh manis, ketiga pria itu saling menatap. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Mereka sudah menyampaikan seluruhnya pada Defan.


Junedi juga memberikan kartu nama dan bertukar kartu nama dengan milik Defan.


****


Senior kedokteran telah berkumpul. Lagi-lagi, memberikan tugas untuk juniornya. Tugas itu sengaja diberikan dengan alasan untuk melatih psikologis agar bisa tetap tenang dalam kondisi yang penuh tekanan.


Puk ... Puk ...


Para senior bertepuk tangan untuk mengalihkan pandangan juniornya yang masih sibuk berbisik-bisik.


"Hari ini kami akan memberikan kalian tugas! Semua mahasiswa harus membuat tas dari plastik dengan berbagai motif. Terserah, bahannya kalian dapatkan dari manapun! Tas ini nantinya bisa digunakan untuk menyimpan peralatan yang ada di lab kita!" ucap seorang senior—Gamal.


"Huuu ..." teriak maba kompak, mereka kuliah di kedokteran tetapi malah disuruh untuk belajar membuat tas ala-ala anak seni.


"Kak, nggak ada tugas lain?" seru Dira, dengan malas. Meski ia cukup kreatif untuk membuat tas karena sempat meminati bidang seni terutama dibidang fashion.


"Tugas lain? Oh ... sekalian buat name tag juga, untuk kalian pakai sendiri!" tambah Senior lain—Tika.

__ADS_1


"Apa?" lirih Jenny, mengangkat kedua telapak tangan.


"Kok tugasnya aneh sih, kak!" teriak maba lain di dalam kelas.


"Aneh apanya?" cecar sang Senior, Gamal.


"Ya, masa nggak nyambung tugasnya sama jurusan kita!" timpal anak lain.


"Kan ini untuk melatih mental dan skill kalian!" kilah Senior.


"Halah!" keluh Dira dengan lirih.


"Nggak jelas kali pun, Dir!" sahut Jenny, menoel tangan Dira.


"Entahlah!" sambung Dira, dengan wajah kusut.


Ketiga senior itupun berpamitan. Meninggalkan juniornya di dalam kelas.


"Ingat, ya! Dari bahan plastik, cari di manapun yang bisa kalian temukan. Kami lagi ada tugas, jadi kalian ditinggal dulu," pesan seorang Senior.


"Iya, kak!" jawab maba dengan malas.


****


Di kelas Shinta, para maba sedang asik bercerita. Entah mengapa senior mereka tak kunjung datang hari ini. Shinta juga mencari keberadaan pria yang menjadi crush baginya.


"Eh, mana senior kita? Jadi hari ini, kita bebas, ya?" tanya Rina.


"Nggak tahu, nggak ada pengumuman juga kalau mereka nggak datang hari ini!" sahut Santa.


"Iya, aneh, crushku mana, ya?" Shinta mengedarkan pandangan tetapi tak melihat kedatangan para senior.


****


Di depan kelas, Jefri dan Judika sedang memberikan contoh untuk dilakukan sidang PBB jadi-jadian.


Di ospek hari ke empat, maba dibagi jadi delegasi per-negara terus ikut sidang PBB jadi-jadian.


Saat menjelaskan pun, Senior Carols—Jefri sering mencuri-curi pandang padanya. Meski sidang telah digelar, Carol sangat sibuk untuk mengikuti sidang PBB ala anak arsitektur.


Seluruh maba jadi mengenal dunia hubungan internasional, teman baru dan juga semakin akrab dengan senior. Tak hanya itu, para maba juga jadi tahu kemampuan anak-anak angkatan dan siapa yang bisa jadi rekan kerja yang baik di kampus.

__ADS_1


__ADS_2