Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
terkena masalah


__ADS_3

Defan memastikan jumlah nol dibelakang angka nominal yang ditransfer oleh Dira. Ia sampai terkejut mengapa Dira harus mengirimkan uang untuk keluarganya.


Defan meraih ponsel itu, lalu membalas pesan istrinya. Dira memang sempat membaca pesan dari suaminya sebelum berjalan menuju kampus.


Suamiku


Hati-hati, Yang!


Defan membalas pesan istrinya. Namun, pikirannya berkecamuk, mengapa Dira selalu suka melakukan tindakan sendiri tanpa seizin suaminya. Untuk apa lagi uang sebanyak itu diberikan kepada orang tuanya padahal ia sudah rela tak mengambil uang dari sang mertua untuk liburan keluarga besar.


Defan semakin larut dalam pikirannya sendiri. Bahkan, ia menduga pasti ada satu masalah yang menimpa keluarga istrinya, hingga Dira rela mengirimkan uang untuk mertuanya.


"Mengapa Dira selalu bertindak sendiri, tidak pernah sekalipun meminta izin padaku. Apakah aku tidak dianggap sebagai suaminya? Atau dia hanya memanfaatkan keuanganku?" batin Defan, menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya sembari memijit pelipisnya.


Defan terus larut dalam pikiran sendiri, ia berpikiran negatif pada istrinya. Kali ini, meskipun uang yang digunakan untuk kepentingan keluarga tetapi sebagai seorang istri seharusnya Dira mengabari suaminya sebelum melakukan tindakan itu.


Defan sangat menyayangkan tindakan Dira yang selalu melakukan apapun sesukanya. Meskipun ATM itu sudah menjadi miliknya tetap saja itu adalah hasil dari jerih payah Defan setelah bekerja banting tulang untuk memenuhi kehidupannya.


Harusnya Dira membicarakan dengan baik-baik, meminta izin penggunaan uang apalagi dengan nominal yang cukup besar.


****


"Halo, Mak! Sudah aku transfer, ya, 10 juta ke rekening Mamak langsung, cek aja, lalu ambil untuk kebutuhan sehari-hari," kata Dira, melalui sambungan telepon.


"Iya, makasih lah, Boru. Sudah mau memberikan uang untuk kami. Eh tapi jangan lupa kau kasih tahu hela itu, nanti dia malah marah samamu dan kau dituduh menghabiskan uangnya," ungkap Rosma, merasa lega satu permasalahan telah tertangani.


"Astaga ... sampai lupa aku mengabari Bang Defan, kalau aku harus menggunakan uangnya untuk keluarga kita. Makasih, Mak udah mengingatkan, aku mau berangkat ke kampus lagi," sambung Dira.


"Ya, Boru hati-hati. Jangan lupa juga bilang sama suamimu siapa tahu dia bisa membantu mencari penipu itu," pesan Rosma.


"Iya," Dira mematikan sambungan telepon, lalu ia pun kembali untuk dibonceng oleh sopir ojek online, motor melaju dengan kencang karena harus mengejar waktu yang tinggal tersisa 10 menit lagi.


"Bang, ngebut ya! Aku takut terlambat," teriak Dira, setelah sang sopir melajukan motor itu.

__ADS_1


"Iya, Kak," balas sopir ojek online.


Lalu, 5 menit kemudian, Dira bersama sopir ojek online sudah tiba di depan kampus. Ia bergegas berlari, sebelumnya Dira meneriakkan sesuatu pada sopir ojek online tersebut.


"Bang, tipsnya melalui aplikasi aja, makasih loh!"


"Oke," jawab sopir ojek online itu, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat tingkah remaja yang tengah terburu-buru itu.


Dira berlari tergesa-gesa agar tidak terlambat masuk kelas. Jam sudah menunjukkan pukul 09.55 pagi, dari 5 menit yang lalu, harusnya dia sudah berada di dalam kelas. Namun kini, ia masih berlari menyusuri setiap lorong kampus agar segera sampai di dalam kelas.


Haaah...


Nafasnya terenggal-unggal sebelum memasuki kelas, ia mengatur kembali nafas agar segera normal setelah mengintip ke dalam kelas, ternyata belum ada dosen yang datang.


"Untunglah, aku selamat," kata Dira, seraya mengusap dada.


Dira duduk di sebelah Jenny yang sudah datang lebih awal. "Eh ... Dir Kok tumben kau hampir terlambat," celetuk Jenny.


"Iya, tadi aku mampir dulu ke ATM dan kebetulan ATMnya itu error jadinya aku harus pakai ATM yang berbeda bank."


"Aku mau transfer uang untuk mamakku."


"Oh ... eh, eh ... dosen udah datang, cepat siap-siap," bisik Jenny.


Dira dan Jenny duduk dengan rapi di kursi belajar masing-masing. Keduanya menatap ke depan, seorang dosen muda yang cantik baru saja memasuki ruangan.


Kali ini, dosen yang tidak dikenal, kemungkinan dosen itu adalah dosen baru yang mengajar di kampus mereka.


"Pagi," sapa Dosen itu.


"Pagi, Bu," jawab Mahasiswa dengan kompak.


"Hari ini, saya baru mulai mengajar. Saya harap kalian bisa menjadi mahasiswa yang baik dan menuruti semua permintaan dosennya. Satu lagi saya ingatkan, tugas apapun yang saya berikan harus dikerjakan tepat waktu, jika tidak, maka kalian akan mendapatkan nilai nol," tegas Dosen—Maudy.

__ADS_1


"Huuu ..." teriak seluruh Mahasiswa, menyerukan karena tak senang mendengar permintaan sang dosen.


"Tenang, jangan khawatir. Saya tidak pelit nilai kok," tampik Maudy.


Pelajaran pun dimulai, mahasiswa tampak sibuk mendengarkan penjelasan dosen.


***


Tadi pagi, Anggi sudah sibuk mengurus makalah yang harus dikumpulkan sesuai permintaan dosennya—Jaki Ananda. Namun ada satu yang kurang, ia tak bisa memenuhi tugas sesuai tenggat waktu yang diberikan. Sang dosen memang memberikan tugas yang tak masuk akal, dalam waktu sehari harus segera dikirimkan ke ruangan dosen.


"Ah ... sial, kenapa sih dosen ini terlalu pelit dan sok keras. Apa-apa harus ngerjain tugas dan tepat waktu pula! Bikin orang pusing aja," gerutu Anggi, di sebuah taman kampus.


Dosen killer yang sudah menjadi pengagum rahasia Anggi. Dia memang sangat senang memberi tugas dadakan dengan waktu yang mepet. Walaupun setiap mengajar, ia selalu memberikan penjelasan mengenai mata kuliah tersebut.


****


Setelah seminggu kepulangan Melva ke Medan, dirinya sudah merindukan anak siapudannya. Mungkin karena sibuk kuliah dan sibuk mengerjakan tugas, Anggi bahkan tak sempat menghubungi sang mama.


Rasa rindu itu terus merebak di dada Melva, ingin sekali rasanya ia menghubungi anaknya tapi ada rasa khawatir lantaran anaknya hanya sibuk belajar untuk mengemban ilmu.


Seperti yang diketahui, Anggi memang maniak belajar, tak heran nilai prestasinya sangat tinggi.


"Apa dia baik-baik saja? Kenapa dia tidak pernah menghubungiku?" tanya Melva dalam hati.


Melva terus saja larut dalam pikirannya sendiri meski ia sibuk menonton televisi yang ada di hadapannya. Pagi ini, semua penghuni rumah sudah berangkat sejak tadi. Suami dan anak keduanya sudah berangkat bersama-sama ke kantor yang sama.


Sepertinya Melva harus memiliki rencana lain untuk mengisi kekosongan waktu. Sebab, sudah terlalu sering ia menikmati waktu semdiri saat yang lain tengah sibuk bekerja.


Ia sempat berpikiran harus mengunjungi anak tertuanya yaitu Defan dan menantunya. Namun, lagi-lagi niatnya diurungkan karena ia mengingat kalau Dira dan Defan masih sibuk dengan kegiatan masing-masing.


"Nena, sini! Saya sepertinya harus ke pajak. Temani saya," teriak Melva, setelah memutar otaknya untuk mengisi waktu luangnya yang kosong.


"Iya, Nyonya." Nena berlari kecil menghampiri Melva serta membawa sebuah keranjang yang biasa dibawa oleh Melva jika pergi ke pasar untuk berbelanja.

__ADS_1


Namun, tiba-tiba ponselnya bergetar. Seseorang yang sedang terkena masalah menghubunginya.


Drrt ... Drt ...


__ADS_2