Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
hukuman?


__ADS_3

Defan meletakkan ponselnya diatas nakas, lalu menghempaskan tubuhnya kembali diatas ranjang.


Huftttt


Nafas kasar itu ia keluarkan. Satu persoalan yang selama tiga bulan ia nantikan, akhirnya tertangani. Pikirannya masih terombang-ambing sejenak, memikirkan strategi untuk persidangannya nanti.


Kelakuan laki-laki pedofil itu harus dihukum dengan kejam! Jangan sampai pria itu lolos karena hanya dia orang berkuasa dan memikiki uang banyak!


Defan terus larut dalam pikirannya, sampai akhirnya pikirannya tertuju lagi pada istrinya yang masih bersantai ria diatas ranjang. Memegang ponselnya, berseluncur dengan asik di media sosialnya.


Hufttt


Nafas berat itu kembali ia keluarkan. Lalu merubah posisi tubuhnya menghadap kesamping, menatap tajam istrinya yang masih sibuk dengan ponselnya.


Meski Dira baru bangun dari tidurnya, tetapi wajahnya tetap cantik, rambutnya bahkan tak berantakan sama sekali. Sampo apa yang ia gunakan? xixixi


Sekarang aku akan menghukummu! Keterlaluan sekali pagi-pagi bikin aku malu!


Defan menyorot Dira dengan mata elangnya. Tanpa bersuara apapun, mata itu sudah menyiratkan apa yang ada dalam pikirannya. Dira baru menyadari sedaritadi ada seseorang yang tengah memelototinya. Membuatnya jadi tak nyaman untuk bersantai.


Ia segera mematikan ponselnya, melepaskan dari genggamannya, menyimpannya diatas nakas. Sementara Defan masih menatap tajam apa yang dilakukan istrinya tanpa berkedip sedikitpun.


Dira menggerakkan tubuhnya dengan posisi menyamping, menghadap wajah kepada pria yang tengah menunjukkan wajah penuh amarah. Menatap lekat tatapan tajam suaminya.


Selama menunggu Defan memulai pembicaraannya, mereka masih saling menatap. Sampai-sampai Dira mengerutkan keningnya, menunggu sampai pria itu melontarkan kata-kata tajamnya dampak dari kejahilannya tadi malam.


Dira tersenyum. Senyum khasnya yang manis, membuat Defan semakin bingung. Defan masih memikirkan hukuman apa yang pantas ia berikan untuk gadis kecil yang sudah beberapa hari ini bersamanya.


"Apa kau kurang kerjaan sampai harus mencoret-coret wajahku?" tanyanya dengan dingin, ekspresi datarnya datar. Namun, mata elang itu terus menyorot.


Dira membalas dengan senyuman. "Aku nggak bisa tidur, karena suamiku terlalu ganteng, jadi aku harus mencoret wajahnya! Biar kegantengannya hilang dari wajahku," jawab Dira mendramatisir dengan santai.


Astagaa! Apa ini ? Pagi-pagi sudah menyerangku dengan kata-kata seperti sedang menggoda? Apa maksudnya? Atau dia hanya mengalihkan agar aku tak marah?


Defan bergumam seorang diri, sorotan matanya masih menatap lekat istrinya.


"Nggak usah berlebihan! Jawabnya yang jujur," tegas Defan sembari menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


"Serius bang! Aku emang nggak bisa tidur tadi malam." Dira mendorong tubuhnya kedepan, jarak antara mereka semakin terkikis. Walaupun jaraknya masih agak jauh sampai 30 centimeter.


"Kenapa nggak bisa tidur? Bukannya seharian udah capek?" Defan masih menuturkan bahasa yang biasa saja, nada bicaranya pun masih santai.


"Gara-gara berisik!" ketus Dira yang terus menatap lekat manik mata indah yang berwarna kecoklatan milik suaminya.


"Berisik apanya? Kan sudah malam! Nggak ada suara apapun!" Defan semakin kikuk karena mata gadis kecil itu tak kunjung beralih dari dirinya.


"Suara ngorok abang tuh! Ribut kali! Bikin aku nggak bisa tidur!" kilah Dira jujur.


"Oh jadi karena itu alasannya kau menyumpal mulutku dengan saputangan jorok itu! Hih," decak Defan dengan kesal.


"Itu nggak jorok bang! Itu saputangan baru, belum kupakai sama sekali," hardik Dira tak terima dengan perkataan suaminya.


"Tuh lihat, nggak jorok apanya. Warna saputangannya saja sudah pudar begitu! Hmmm," cecar Defan seraya menunjuk saputangan Dira yang tergeletak di lantai.


"Buang aja tuh!" sambungnya lagi.


"Yah abang! Semuanya aja barangku dibuang!" sesal Dira memalingkan wajahnya dari tatapan suaminya. Kini tubuhnya terlentang, tatapannya mengarah ke langit-langit kamar.


"Aku masih bicara ten—."


"Bang, kasihan ya gadis kecil itu." Tiba-tiba Dira memotong pembicaraan suaminya.


"Sungguh aku nggak tega dengar ceritanya tadi. Pasti dia trauma sekali!" lirihnya dengan tatapan sendu.


"Tapi kenapa orangtuanya setenang itu? Apa mereka nggak khawatir sama mental anak itu?"


Pikiran Defan teralihkan. Memang kedua orangtua Shaira tampak tenang, karena mereka sudah berbaikan dengan keadaan. Tetapi hati mereka tentu saja hancur, melihat gadis kecilnya kesakitan.


"Sejujurnya mereka hancur, tetapi mereka berpura-pura baik-baik saja didepan anaknya. Selama tiga bulan ini, mereka berusaha menyembuhkan Shaira. Saat kejadian itu, Shaira sangat ketakutan bertemu laki-laki termasuk bapaknya. Sampai bapaknya berusaha untuk terus mendekati Shaira, dan akhirnya gadis itu mau mendekatinya lagi." Defan pun ikut larut dalam pertanyaan istri kecilnya.


"Lalu bagaimana nasib pelaku bang? Apa dia masih berkeliaran?"


"Setelah ditetapkan sebagai tersangka, dia sudah mendekam di penjara. Kita masih menunggu sidang untuk vonis hukumannya." Defan masih menatap lekat gadis didepannya.


"Kira-kira apa hukuman untuk pelaku bang?" Dira mengenyampingkan tubuhnya lagi, menangkap manik mata indah suaminya.

__ADS_1


"Apa ya? Kalau menurutmu apa yang pantas untuknya?" tanya Defan mengerutkan keningnya.


"Hukuman Mati!" jawab Dira santai tak mau mendapat penawaran.


"Di negara kita belum ada hukuman mati untuk kasus pelecehan seksual. Tetapi kalau dia sudah di penjara nanti, para tahanan lain yang akan menghukumnya. Dia pantas mati saat di dalam penjara," kecam Defan penuh penekanan.


"Lo kenapa tahanan lain yang hukum bang?" Dira semakin kebingungan pada jawaban pria itu, dia tak pernah mengikuti kasus-kasus seperti itu meski hanya menonton lewat berita.


"Loh apa kau tidak pernah nonton berita? Kan banyak kasus, untuk pelecehan seksual, apalagi pada pedofil seperti itu. Biasanya mereka dihakimi oleh tahanan lain. Kasus pelecehan seksual itu paling terberat! Tapi sanksinya malah paling ringan di negara kita. Maka dari itu, tahanan lainlah yang menghukumnya dengan berat," cerita Defan panjang lebar membuat Dira mengangguk patuh.


"Apa dia bisa mati?" tanyanya dengan polos.


"Tentu! Dia bisa mati terbunuh didalam penjara, kalau tahanan lain menyiksanya. Banyak kasus seperti itu sudah terjadi. Dan para sipir seolah tutup mata, karena mereka juga geram dengan tingkah laku para pelaku pelecehan seksual."


"Udah itu nggak perlu kau pikirkan, nggak nyampe otakmu kesana," celetuk Defan mengakhiri topik kasusnya.


Ia ingin kembali menghukum istrinya karena masih kesal.


"Nah, kalau hukuman untukmu apa yang pantas?" tantang Defan dengan tatapan tajamnya.


"Maksud abang apa?" Dira malah menunjukkan cengirannya pada pria itu.


"Kok malah nanya, hukuman untukmu pantasnya apa? Karena sudah membuatku malu tadi pagi? Selain itu, bikin mulutku kaku karena terisi sapu tangan." Defan mengetatkan rahangnya, memegang rahang itu dengan kedua tangannya.


"Hehehe abang kok masih bahas itu. Aku kira abang akan memakluminya," hardik Dira mengalihkan.


"Tidak ada kata maklum untuk hal seperti itu! Aku akan memberikanmu hukuman!" tegas Defan mulai mencondongkan tubuhnya kedepan mendekati sang istri.


Sementara Dira semakin khawatir, ia takut hukuman itu akan dilakukan Defan sekarang juga. Ia melirik jam tangannya, pagi itu menunjukkan pukul 8 pagi.


"Bang aku mandi dulu. Jam 9 pagi kita berangkat loh," teriak Dira menghindari terkaman suaminya, beranjak dari kasurnya dengan cepat. Berlari ke kamar mandi.


Para readers, hukuman apa nih enaknya dikasih Defan untuk adek Dira? hihi


Yuk jangan lupa supportnya... Bantu


Vote, Vote, Vote ya teman-teman🄰

__ADS_1


__ADS_2