Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
cemburu


__ADS_3

"Iya, kau tahu kan dari dulu si Shinta terang-terangan suka sama suami si Dira!" jawab Jenny, menatap jalanan yang cukup padat.


"Iya, sih! Suka-suka gitu aja kupikir tapi masa suami kawannya sendiri harus diembat!" seloroh Carol, menatap dengan sengit meski yang ditatap hanyalah jalanan.


"Hahaha! Jangan sampailah! Itu malah membuat kerenggangan dengan persahabatan kita," tampik Jenny.


"Ya, tapi kau lihat ajalah gelagat si Shinta itu. Harus kau peringatkan dia, jangan sampai dia memecah bela persahabatan kita!" keluh Carol.


"Nanti aku peringatkan. Terlalu frontal kalau dia berani merebut bang defan, lagi pula apa bang defan mau sama dia? Nggak sesuai kriteria lah haha!" seloroh Jenny, terkekeh sendiri memikirkan itu.


"Ya, kalau digoda terus kenapa engga sih?" balas Carol, berdecak kesal.


"Nggak mungkinlah, tipikal bang defan itu pria yang setia. Nggak kau lihat dia sama si dira aja romantis kali!" celetuk Jenny.


****


Di tempat permainan, Defan sudah merasa lelah dengan kegiatan itu. Permainan anak kecil memang seru tetapi sangat melelahkan.


"Yang, pulang, ya!" titah Defan, saat berjalan gontai keluar dari arena permainan mobil.


"Iya, deh! Aku udah capek juga!" tandas Dira, mengangkat barang belanjaan yang sempat disimpan di tempat penitipan.


Belanjaan Dira cukup banyak, Defan sampai menambil alih belanjaan yang ditenteng oleh istrinya. "Sini, abang bawain!" ucap Defan, meraih seluruh barang yang berada digenggaman Dira.


Keduanya berjalan keluar dari mall menuju perparkiran. Tak berselang lama, mereka sudah berada di dalam mobil, Defan melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


"Abang jangan dekat-dekat si Shinta deh!" ketus Dira, menatap lekat suaminya yang tengah fokus menyetir.


Defan mendelik seketika, ia masih larut dalam pikirannya sendiri. Perkataan Dira membuatnya berpikir keras. Mengapa istrinya sampai memperingatkan hal seperti itu.


"Loh ... kenapa? Kita hanya sebatas mengobrol kok, Yang!" kilah Defan, memicingkan matanya seketika saat menatap sang istri.


"Nggak enak dilihat orang, masa punya istri malah ngobrol sama wanita lain!" timpal Dira, masih bernada ketus.


"Haha ... dia itu kan temanmu, emang kau kenapa sih?" cecar Defan, merasa aneh pada diri istrinya.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, cuma nggak suka aja!" papar Dira, mendengus dengan kesal.


"Ih ... kau cemburu, ya?" desak Defan, terkekeh kecil.


"Dih, siapa juga yang cemburu sama teman sendiri!" sesal Dira, mengerutkan kening lantaran tak sependapat dengan sang suami.


"Keliatan kok kalau kau sedang cemburu!" imbuh Defan, mengulum senyum tipis di sudut bibir.


"Pokoknya, jangan pernah lagi dekat-dekat sama dia!" kecam Dira, menatap sinis sembari memalingkan wajah dari tatapan suaminya.


Mobil sedan audi berwarna hitam itu masuk ke dalam basement kondominium, Defan segera memarkirkan dengan rapih. Tak berselang lama, keduanya keluar dari dalam mobil.


Defan mengambil semua barang belanjaan istrinya, menenteng dengan santai hingga menuju rumah.


"Bang, ingat, ya! Perkataanku tadi! Awas abang kalau dekat-dekat dia lagi," seloroh Dira, melongos di depan suaminya, masuk ke dalam kamar saat mereka sudah masuk ke dalam kondominium itu.


Defan pun meletakkan semua belanjaan di meja rias dalam kamar. Ia menatap wajah kesal Dira yang terus saja cemburu dengan temannya sendiri.


"Yang, jelek loh mukanya ditekuk gitu!" tegur Defan, saat melihat wajah cemberut yang terpasang pada raut wajah gadis kecil itu.


"Hmmm," dehem Dira, menghempaskan tubuh di ranjang.


Dira yang malas beranjak, pura-pura tak mendengar ucapan suaminya. Ia sibuk menatap ponsel sembari berbaring. Sontak saja, ia langsung teringat dengan teman-temannya yang pulang tanpa memberi kabar.


Dira melakukan satu panggilan pada Carol, memastikan kalau ketiga wanita itu pulang dengan selamat.


"Yang, dengar abang ngomong nggak sih?" ucap Defan, mendekatkan diri di samping istrinya.


"Sssttt!" Dira meletakkan tulunjuk di depan bibir, agar suaminya terdiam selagi ia menunggu jawaban telepon dari sahabatnya.


"Ada apa sih?" tanya Defan, menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Aku lagi nelepon Carol, belum dijawab. Abang diam dulu deh!" pinta Dira, selagi menunggu hingga panggilan terjawab.


*****

__ADS_1


Drrrt ... Drttt ....


Meski sudah mendengar suara getaran dari telepon, lantas tak membuat Carol bergegas mengangkat panggilan telepon tersebut. Ia masih sibuk memarkirkan mobil di halaman rumah.


Setelah mengambil ponsel di dashboard, Carol keluar dari dalam mobil. Lalu mengangkat telepon Dira sembari berjaan gontai memasuki rumah. Sejak 10 menit yang lalu, Carol akhirnya mengantarkan Jenny sampai di depan rumahnya. Hingga dia yang paling terakhir tiba di rumah sendiri.


"Kenapa, Dir?" tanya Carol, setelah menerima panggilan telepon.


"Kau di mana ini?" tanya Dira dari seberang telepon.


"Aku baru sampai rumah!" jawabnya singkat.


"Yang lain gimana? Kok kelen pulang nggak bilang-bilang sih? Kata bang defan kelen sempat ngikutin kami ke tempat permainan?" sergah Dira, melirik ke arah suaminya yang melamun di ranjang entah apa yang dipikirkan.


"Oh, kami langsung pulang karena kau sibuk main sama suamimu! Kami juga dicuekin," ujar Carol, seraya meletakkan semua barang belanjaan setelah masuk ke dalam kamar.


Sebelumnya, ia sudah menyapa kedua orangtuanya yang sedang berbincang di ruang keluarga. Mencium punggung tangan kedua orang tuanya meski masih sibuk berbicara melalui telepon dengan Dira.


"Astaga, aku nggak tahu kelen ikut ke sana juga loh! Kelen juga nggak manggil aku!" ungkap Dira, sembari mengeluarkan nafas kasarnya.


Defan pun merengkuh tubuh istrinya, ia meletakkan kepala mungil itu di bahu. Karena tak selesai-selesai mengobrol, Defan mencari kegiatan sendiri. Mengelus-elus rambut sang istri dengan tatapan binar.


Dira juga merasa nyaman dengan semua perlakuan itu. Tak ada penolakan darinya. Sesekali ia melirik Defan yang terus menatap wajahnya hingga menunggu obrolan berakhir.


"Mau kami panggil kian tapi kau sibuk kali. Akhirnya Jenny dan Shinta minta pulang. Pas aku bilang pamitan dulu, mereka udah pergi gitu aja ninggalin aku!" beber Carol, menghempaskan tubuh di atas ranjang.


"Oh yaudahlah, yang penting kelen selamat semua sampai rumah kan?" ucap Dira, memastikan kembali keadaan temannya.


"Kalau nggak selamat, nggak mungkin aku bisa jawab panggilan teleponmu ini!" tukas Carol, mengerutkan keningnya.


"Hehe, jadi kau yang antar dua orang itu?" sahut Dira, mengeyampingkan tubuhnya agar saling menatap suaminya.


Ia mencuri satu kecupan dari bibir suaminya, membuat Defan geram karena mendapatkan ciuman tanpa persiapan dahulu.


"Iyalah, siapa lagi? Kan naik mobilku tadi. Eh tadi kami berdua sama Jenny ngomongin si Shinta," imbuh Carol, saat terlintas obrolannya dengan Jenny.

__ADS_1


Dira langsung berpamitan pada Carol. Tak ingin pembicaraan mengenai Shinta terdengar ke gendang telinga suaminya.


"Rol, udah dulu, ya! Besok kita ketemu di kampus lagi. Bye!" Dira memutus sambungan telepon itu secara sepihak tanpa menunggu jawaban sahabatnya.


__ADS_2