
Defan dan Dira duduk dimobil penumpang, diantarkan supir pribadi Desman.
Selama perjalanan Defan tak membuka suaranya, ia menutup mata dan pura-pura tertidur. Sedangkan Dira sibuk mengutak-atik ponselnya.
Ia membaca pesan di grup watsappnya dari teman-temannya. Tertawa-tawa sendiri setelah membaca isi pesan tersebut.
Jenny
Awas jangan sampai kau hamil Dir! Titip oleh-oleh untukku!
Carol
Nggak mau tahu! Pokoknya harus ada oleh-oleh istimewa! Asal jangan calon ponakan xixixi!!
Shinta
Kalau aku sih minta dibawakan ponakan xixixi eh salah deng! Bawaain pie Bali yang enak ya!
Candaan isi grup watsapp Dira, setelah ia berpamitan pada tiga sahabatnya karena akan berangkat ke Bali siang ini.
Dira
Tenang kelen semua! Nanti ku bawakan oleh-oleh segoni! Biar puas kelen semua makannya!
Dira tertawa-tawa cekikikan seorang diri. Defan tampak cuek saja, pura-pura tak mendengar tawa Dira.
"Sudah sampai tuan!" ucap sopir, membukakan pintu mobil mempersilahkan Defan dan Dira keluar.
Defan menarik koper yang sudah dikeluarkan oleh supir berjalan cepat hingga Dira ketinggalan jauh dibelakang. Ia tak memperdulikan Dira saat itu.
"Abang! Tungguinlah," teriak Dira pontang-panting berlari mengikuti langkah kaki Defan yang sangat cepat.
"Cepat! Nanti ketinggalan pesawat," ketusnya tak memperdulikan Dira.
Defan kesal pada orangtuanya yang memberikan paket liburan ke Bali. Percuma ia ke Bali, kalau tidak bisa ngapa-ngapain. Dira kecil hanya bisa membuatnya tergoda saja.
Defan langsung ke loket untuk boarding dan memberikan koper miliknya. Defan menjadi bingung, apakah cukup baju yang disiapkan oleh pelayan di rumahnya untuk liburan selama lima hari di Bali.
Koper sebesar itu tapi berisikan baju untuk dua orang. Tapi dia tak perlu khawatir, kalaupun sampai kekurangan baju, dengan mudahnya tuan muda seperti Defan membeli bajunya saat di Bali nanti.
Defan dan Dira menunggu diruang tunggu. Pesawat bisnis class yang mereka naiki berangkat pada jam sebelas siang ini. Masih tersisa dua jam lagi sebelum berangkat.
"Mau makan dulu nggak?" tanya Defan khawatir pariban kecilnya itu kelaparan.
"Beli snack aja bang, Dira belum lapar kali kok," jawabnya singkat sambil menatap ponsel miliknya.
__ADS_1
Defan ke minimarket didalam bandara meninggalkan Dira.
"Jangan kemana-mana. Tunggu disini," tegas Defan meninggalkan Dira.
Defan membelikan beberapa snack untuk dibawa kedalam pesawat serta dimakan selagi menunggu, sebelum mereka masuk ke dalam pesawat tersebut.
Satu kantong plastik besar disodorkannya kepada Dira.
"Yaampun bang kok banyak kali sih!" keluh Dira melihat snack yang banyak padahal hanya untuk dimakan berdua.
"Udah makan aja! Bawel," ketus Defan. Ia sengaja membeli banyak snack dengan varian yang berbeda, karena ia tak mengetahui selera Dira.
Hufftt
Bunyi nafas kasar yang baru saja dikeluarkan oleh Dira. Ia sangat tak menyukai sikap paribannya yang suka berbuat semaunya. Terlebih makanan yang dibeli terlalu banyak hanya untuk dua orang saja.
Defan dianggapnya terlalu suka berhamburan membuang-buang uangnya begitu saja. Wajar jika Dira protes, karena dirinya selama ini selalu berhemat apalagi kedua orangtuanya tak memiliki uang yang banyak untuknya agar bisa bersenang-senang walaupun sekedar hanya memakan cemilan seperti ini.
Bisa-bisa ia menghabiskan cemilan itu sampai lima hari kedepan saat di Bali nanti.
"Abang makan jugalah! Kalau aku aja yang makan bisa seabad baru habis ini cemilan," ketus Dira yang ditatap dengan dingin oleh Defan.
Defan mengambil satu snack dan memakannya.
Krezz krezz krezz
Ia seperti sedang merawat anak kecil untuk berlibur.
"Bang nanti disana kita ngapain aja?" tanya Dira dengan semangatnya. Semangat yang selalu menggebu-gebu untuk hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
"Nggak tahu yang pasti honeymoon!" sinis Defan.
"Kok abang nggak tahu sih. Iya honeymoonnya ngapain?" rengek Dira.
"Kan bukan abang yang pesan paket liburannya. Mama sama bapak yang pesan, jadi mereka yang tahu! Honeymoon aja masa ga tahu!" balas Defan dengan dingin membuat Dira semakin jengkel.
"Abang ini nggak bisa lembut kalau bicara loh!"
Defan dengan cueknya mengabaikan perkataan Dira, ia mengambil ponsel yang ada di kantongnya. Mengecek ponsel miliknya, disana ternyata ada satu pesan dari sahabatnya.
"Jangan lupa kau bawa oleh-oleh untukku ya Def :)"
Pesan yang dibaca Defan dari Dania sahabatnya. Defan sengaja tak membalasnya. Dania mengetahui kalau Defan sedang honeymoon ke Bali dari CEO kantornya. Ia cukup akrab dengan bapak Defan, karena sejak dulu Dania sering bermain ke rumah Defan.
Defan kemudian membuka file pekerjannya kembali. Mengecek apakah ada pekerjaan yang belum diselesaikan dan harus dipelajari kembali.
__ADS_1
"Nggak tahu bang Dira, biasanya honeymoon ngapain aja?" tanya Dira spontan dengan polosnya.
"Honeymoon itu bikin anak," goda Defan dengan wajah datarnya membuat Dira semakin kikuk dan takut pada Defan.
"Loh kok malah diam! Udah dikasih tahu malah diam," sindir Defan menggoda Dira.
"Kalau honeymoon bikin anak, itu nggak bisa bang! Ingat loh ada perjanjiannya diatas materai!" kecam Dira mengingatkan Defan dengan wajah polosnya malah membuat Defan semakin geram.
PENGUMUMAN!!
Penumpang Pesawat dengan penerbangan tujuan Bali dengan nomor 33000XX diharapkan segera memasuki pesawat.
"Udah ayo mau berangkat! Nggak perlu banyak cakaplah," ajak Defan sambil menarik tangan Dira. Dia lupa melepaskan tangan itu, karena penumpang yang mengantri masuk sangat padat.
Namun setelah berjalan cukup jauh, akhirnya Defan menyadari kalau ia masih menggandeng tangan Dira. Dira juga tak berontak dari tadi untuk dilepaskan karena kerumunan orang yang begitu banyak.
Ia takut akan ditinggalkan oleh Defan, mengingat langkah kaki Defan yang cukup cepat. Jadi Dira membiarkannya begitu saja dengan cueknya.
Ketika Defan tersadar, tiba-tiba ia melemparkan tangan Dira.
"Aw!! Sakit bang! Nggak bisa pelan-pelan apa," singgung Dira sambil mengecek kondisi tangannya.
"Alah gitu aja manja. Sorry tadi aku pegang karena takut kau nggak keliatan, kalau ketinggalan kan jadi repot," ketus Defan.
Defan dan Dira masuk ke dalam pesawat tersebut. Menunggu pesawat lepas landas, mereka berdua mengaktifkan mode airplane pada ponsel mereka sesuai arahan pramugari saat itu.
"Bang disini boleh makan kan?" tanya Dira yang ingin melanjutkan ngemil snack pembelian Defan tadi.
"Boleh" ucap Defan dengan dingin. Ia menutup matanya, malas untuk mengobrol ngalur ngidul nggak jelas dengan gadis kecil yang duduk disampingnya sambil mengunyah cemilannya.
"Bang! Lihat deh pemandangannya bagus banget," kata Dira sambil menepuk-nepuk lengan Defan agar Defan melihat pemandangan dari kaca pesawat sesaat setelah take off. Pemandangan kota medan dari atas pesawat, memperlihatkan rumah-rumah warga.
Defan membuka matanya dan menoleh, bukan pemandangan dari jendela pesawat yang ia perhatikan. Malah wajah cantik Dira yang sedang tersenyum melihat pemandangan diluar.
Melihat senyum simpul dari wajah Dira, Defan malah ikut tersenyum.
"Astaga! Apa-apaan ini," batinnya segera menyadarkan diri dan menundukkan kepalanya.
Ia pura-pura kembali menutup matanya agar tak ketahuan oleh Dira. Tapi ternyata saat Defan menatapnya tadi, tertangkap pantulannya di kaca jendela pesawat. Dan itu dilihat oleh Dira.
Dira bingung mengapa ekspresi Defan berubah begitu melihatnya. Apakah Defan mulai menyukai Dira diam-diam.
Sekarang giliran Dira yang menatap Defan yang berpura-pura tertidur. Ia menatap tajam sosok pria tampan yang dingin disampingnya. Tapi yang dia rasa biasa saja, tidak ada yang aneh.
Pria dingin yang arogan disampingnya itu membuatnya semakin penasaran. Paribannya yang kaku, apakah dia benar mencintai Dira?
__ADS_1
"Pariban arogan ini, ada apa dengannya? Mengapa dari tadi dia seolah-olah cuek tapi diam-diam malah memperhatikanku," hati kecil Dira terus bertanya-tanya sambil menatap Defan.