Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
kaya prangko


__ADS_3

"Ini ada apa kok ramai-ramai?" Defan menatap datar mertua dan mamanya. Tetapi ia merasa malu karena dada bidangnya yang terekspose, hanya menutup bagian pinggang ke bawah menggunakan handuk tetapi tubuhnya dilihat dua wanita paruh baya tersebut.


"Loh kok malah nanya kau?" tegur Melva.


Kamu nenyeee? kamu bertenye-tenye🤣


"Jadi ini sebenarnya ada apa?" tanya Defan seraya menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kalian mandi berdua atau tidak?" desak Rosma penasaran.


"Oh, aku juga nggak tahu. Kenapa Dira ada di kamar mandi. Dir, coba jelaskan!" Defan menoleh ke arah Dira menatap dengan dingin.


Defan sendiri tak mengetahui tragedi mengapa Dira bisa ada di dalam kamar mandi yang sama dengannya.


Semua mata tertuju pada Dira, menatap tajam menunggu jawabannya. "Ehmmm aku juga nggak tahu. Tadi aku mandi terus ketiduran. Pas bangun, tiba-tiba abang udah di kamar mandi, makanya aku teriak-teriak," jelas Dira dengan jujur.


"Udah kan Mak, Inang. Jadi nggak ada apa-apa ya sebenarnya. Aku juga nggak tahu kalau Dira di Kamar mandi. Jadi kita sama-sama nggak tahu," pungkas Defan merangkul kedua wanita paruh baya itu membawanya ke depan pintu kamar.


Defan tersenyum berpamitan, lalu mengunci pintu kamarnya. Dira yang masih mematung pun kebingungan. Entah mengapa penjelasan suaminya terasa masih gamang.


Karena posisinya masih memakai handuk, ia bergegas mengambil baju di dalam lemari, lalu masuk lagi ke kamar mandi.


Defan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku gadis kecil itu. Tapi kejadian tadi masih bergelut dalam pikirannya.


Kejadian aneh, mengapa bisa terjadi? Apakah ia harus meminta penjelasan pada Dira. Kini tubuh eksotisnya sudah dinodai oleh istrinya sendiri.


Tapi ia tak mau ambil pusing, lebih baik melupakan kejadian itu daripada harus berdebat memperpanjangnya.


Defan mengambil kaos rumahan serta celana pendeknya. Memakai baju itu tanpa buru-buru. Ia jadi semakin tak peduli jika Dira keluar sewaktu-waktu dari kamar mandi.


Toh dia udah lihat semua yang ada di dalam sini. Ngapain lagi ditutup-tutupi!


Defan bergumam sendiri, menatap wajahnya di depan cermin. Ia menyugar rambutnya yang masih lembab agar terlihat lebih rapih meski tanpa menyisirnya, memakai sedikit parfum di tubuhnya.


Tanpa peduli keberadaan Dira, ia bergegas menuruni anak tangga, untuk berkumpul dengan orang tua bahkan mertuanya.


Defan langsung menuju teras rumah, disana masih ada Desman dan Sahat yang asik mengobrol ngalor-ngidul sambil menikmati kopi barunya.


Defan hanya terdiam duduk mendengarkan pembicaraan para pria itu. Defan yang tidak merokok hanya sibuk dengan ponselnya. Sesekali ia menyesap teh manis yang sudah dibuatkan oleh pembantunya.


"Def kaya mana perkembangan kasusmu itu?" cetus Desman mengalihkan perhatiannya.


"Kasus apa rupanya?" tanya Sahat penasaran.


"Kasus pelecehan seksual, anak kecil korbannya," sambung Desman.


"Loh, kok parah kalilah itu, anak kecil pun diembat," sambar Sahat memberikan pendapatnya.

__ADS_1


Defan hanya menatap kedua pria itu, lalu memotong pembicaraan mereka. "Minggu depan sidangnya pak. Udah aku dapatkan pengakuan korbannya. Jadi lebih gampanglah memenangkan kasusnya."


"Jadi apalah nanti sanksi untuk pelakunya itu?" sosor Sahat.


"Itulah yang kami tunggu Mang, kami inginnya dihukum berat. Tahu sendirilah Amang kaya mana peraturan pemerintah kita ini," imbuh Defan.


"Itulah yang disayangkan dari negara kita ini. Harusnya kasus-kasus yang kaya gitu diberatkan. Jangan hanya hukuman beberapa tahun lalu dibebaskan. Setelah itu, dibiarkan lagi pelaku bertemu korban," singgung Desman.


Perdebatan sengit terus mencuat dari kedua pria paruh baya itu. Membuat Defan semakin pusing, akhirnya Defan memilih pergi meninggalkan mereka.


Sementara Dira baru saja berganti baju, ia bergegas ke dapur, membantu-bantu di sana. "Inang, Mak, apalagi yang harus aku bawa ke meja makan?" tanya Dira memberikan bantuan.


"Nggak usah boru, udah dibereskan itu semua," sahut Rosma yang sedang bersantai bersama Melva.


"Loh udah rapih semua ya? Jadi kita mau makan sekarang? Biar aku panggil bapak sama amang," usul Dira.


"Bentar lagilah. Duduk aja kau santai di situ," balas Melva. Ia bersama Rosma tengah asik berbincang, sementara Dira kebingungan tak tahu harus melakukan apalagi.


Ia duduk santai di ruang tv. Sambil memegangi ponsel miliknya. Dira baru teringat kalau belum memberikan kabar pada sahabatnya. Besok pun ia harus kembali ke sekolah.


Apa nggak perlu aku chat mereka? Langsung aja besok kasih surprise?


Dira larut dalam pikirannya, ia galau mau memberi kabar atau tidak. Tetapi ia sedang bingung dan tak punya teman berbincang saat ini.


^^^Dira^^^


^^^Woi! Aku udah pulang, kelen nggak rindu samaku?^^^


Mereka berdua saling diam. Tak ada yang memulai topik pembicaraannya. Suasana semakin canggung dan dingin sehingga Dira tak betah berlama-lama di sana.


Dira beranjak dari duduknya, ingin menghampiri mamaknya.


"Mau kemana?" Defan menarik lengan Dira, seketika ia terduduk kembali.


Menatap lekat suaminya seraya memicingkan matanya.


Waduh! Ada apalagi nih? Kok tiba-tiba dia nyegah aku pergi dari sini?


Dira bertanya-tanya dalam batinnya. Apakah Defan akan menyinggung soal kejadian tadi sore?


"Aku mau ke dapur bang," balas Dira bernada datar.


"Sini aja! Ngapain ke dapur, nggak ada apa-apa juga disana," kilah Defan ingin ditemani istrinya.


"Hmmm malas aku disini bang," hardik Dira.


Ting Ting Ting

__ADS_1


Suara notifikasi di ponsel Dira sangat banyak. Sehingga ia mendapatkan tatapan sengit dari Defan.


"Dari siapa itu? Bising kali," celetuk Defan memasang wajah penuh amarah.


Padahal status Dira masih libur, tetapi ponselnya sudah penuh notifikasi. Dira langsung menatap layar ponselnya, mengecek siapa yang berkirim pesan padanya.


Benar saja dugaannya, kalau sahabat-sahabatnya baru menjawab pesan dari dirinya.


"Oh ini dari kawanku kok." Dira mulai sibuk membaca pesan di dalam watsapp grup itu satu-persatu.


Carol


Nggak lupa kau kan sama oleh-oleh kami?


Jenny


Besok kau udah sekolah kan?


Shinta


Rindu kali aku loh samamu, makanya besok bawa oleh-oleh yang banyak.


Dira sibuk mengetik balasan untuk sahabatnya. Membuat Defan iri, karena kesibukan itu, Dira menjadi cuek padanya.


"Dir?" panggil Defan.


"Hmmm." Dira hanya menjawab dengan gumaman saja, membuat Defan semakin malas untuk melanjutkan pembicaraannya.


^^^Dira^^^


^^^Tenang kelen semua, aman itu oleh-oleh udah ku kuras duit suamiku demi membelikkan kalian oleh-oleh hahahaha. Besok aku sekolah, ada PR nggak?^^^


Dira mengirimkan pesan itu pada teman-temannya. Pada jam-jam senggang seperti itu, mereka hanya sibuk dengan ponsel masing-masing.


Carol


Ada PR, makanya kau besok datang pagi-pagi biar bisa nyontek hehe


Shinta


Nanti ceritakan jalan-jalanmu ya. Eh kaya mana kabar bang Defan🥹


^^^Dira^^^


^^^Oke aman! Besok pagi aku udah di sekolah. Bang Defan sehat, ini dia di sampingku.^^^


Jenny

__ADS_1


Udah nempel dia kaya prangko ya, dekat-dekat istrinya terus?


*Yuk bantu votenya ya sayang! Jangan lupa ramaikan dengan like dan komentar kalian. Terimakasih**🥰*


__ADS_2