Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
jackpot


__ADS_3

Defan menarik lengan Dira yang tengah berdiri di samping tepi ranjang, lalu perempuan itupun terhempas ke atas ranjang. Tiba-tiba ia sudah mendarat dipelukan suaminya.


"Pagi," bisik Defan seraya mengusap-usap wajahnya pada cerul leher istrinya.


"Pagi," jawab Dira dengan lembut, lalu ia pun hanya bisa pasrah melihat suaminya yang masih pagi-pagi sudah bermanja-manja.


Padahal, sudah tidak ada lagi waktu bagi mereka untuk melakukan hal yang menjurus pada kegiatan suami istri yang sempat tertunda tadi malam.


"Satu ronde dong," bisik Defan, karena jatahnya tadi malam tidak terpenuhi.


Namun, Dira malah terkejut dengan penuturan pria itu, saat menatap jam di dinding memang masih ada waktu hingga setengah jam untuk mereka segera bersiap-siap baik mandi maupun yang lainnya.


"Udah nggak sempat, Bang! Ini udah setengah enam, kita mandi aja udah butuh berapa lama," seru Dira menggerutu, lalu menghadapkan tubuhnya agar bisa saling menatap satu sama lain.


"Please lah," pinta Defan, tak lama ia langsung melucuti pakaian istrinya, membuka secara perlahan-lahan mulai dari baju, celana hingga dalaman yang dikenakan oleh wanita itu.


"Abang, nggak enak lho, kita sedang di rumah Amang dan Inang, masak melakukan hal senonoh seperti ini," celetuk Dira yang sudah melihat tubuhnya tak lagi berbalut sehelai benang pun.


Namun, tak ada lagi balasan dari Defan. Pria itu langsung melakukan aksinya untuk memenuhi hasrat yang tertunda sejak tadi malam.


Dengan terpaksa, Dira hanya bisa pasrah saat Defan mencumbu tubuhnya, mulai dari leher, dada hingga menjurus ke inti tersebut.


Meski baru bangun pagi, Defan tak segan mencium bibir istrinya. Entah mengapa walaupun mereka baru terbangun dari tidur, bibir itu tetap terasa manis.


*Cinta memang buta bang defan, padahal bau jigong tapi dibilang manis huehe...

__ADS_1


Dira menoleh ke belakang karena setelah mendapat *******, ia beralih dipeluk dari belakang oleh suaminya.


Dira pun semakin mendalami dan meresapi seluruh ciuman yang digelontorkan oleh suaminya. Walaupun pasrah tapi akhirnya Dira semakin larut menikmati sentuhan kala pagi itu.


Tak butuh waktu lama, Defan hanya membutuhkan waktu 5 menit saja untuk memuaskan hawa nafsunya, mereka melakukan penyatuan dalam waktu yang singkat dengan rasa deg-defan dan khawatir karena takut akan disambangi oleh sang mama.


Dengan rasa khawatir, Dira sekali-kali menoleh jam dinding, ia berharap penyatuan itu segera berakhir agar bisa segera mandi karena saat tadi menghampiri mertuanya ia memang belum mandi.


Karena sejak terbangun, dari dalam kamar ia mendengar suara keributan di dapur sehingga ingin berniat membantu mertuanya tetapi berakhir dengan mendapatkan penolakan. Melva sengaja menolak akrena tidak ingin membuat menantunya kerepotan.


Dalam waktu 5 menit, Defan sudah menghempaskan tubuhnya di samping Dira. Seluruh benihnya pun sudah luruh ke dalam rahim istrinya. Ia tersenyum penuh kemenangan, menatap langit-langit kamar. Sementara Dira langsung berjingkat dan berlari menuju kamar mandi.


Setelag Dira sudah berada di dalam kamar mandi, hendak membersihkan diri agar bisa segera bersiap-siap dan berkumpul di meja makan tanpa waktu yang telat. Namun, saat proses pemandian itu berjalan, tiba-tiba Defan menyergap masuk ke dalam, ingin ikut juga membersihkan diri bersama dengan istrinya.


"Abang, kebiasaan deh suka nyelonong tiba-tiba masuk!" sesal Dira menatap datar wajah suaminya.


Saat itu, julit saling menyentuh kulit, keduanya semakin larut hingga proses ritual pemandian selesai. Mereka juga masih sempat bermesraan di dalam kamar mandi, saling memeluk, menggosok punggung bahkan Defan membantu sang istri untum berkeramas.


Kemudian, Defan juga sangat sigap untuk membantu mengusap seluruh tubuh Dira agar segera kering. Ia sengaja menggunakan satu handuk untuk menutupi tubuh keduanya, sembari berjalan berhimpitan menuju kamar.


Meski sempat protes, pada akhirnya Dira menikmati semua momen itu. Sejak awal, Dira sempat mengoceh dan menolak permintaan suaminya untuk menggunakan satu handuk berdua karena tubuh mereka saling menempel satu sama lain, apalagi berjalan dengan langkah yang sangat kecil sehingga memakan waktu lebih lama.


"Ih, ngapain sih, Abang dempet-dempetan kayak gini, susah tahu jalannya," sergah Dira, seraya sesekali melirik suaminya dan menatap ke belakang, karena mereka berjalan menatap ke depan, tubuh Dira pun berada di depan suaminya.


"Seru tahu, biar mesra aja!" kekeh Defan, seraya bergelayut manja di tubuh istrinya, ia juga berjalan dengan sangat pelan dengan tangan yang melingkar di perut sang istri, sementara Dira memegang kaitan handuk agar tidak terlepas.

__ADS_1


Setelah berada di dalam kamar, keduanya pun melepaskan ikatan handuk yang menyatu, lalu keduanya kembali bersiap-siap dengan waktu yang tersisa sebanyak 15 menit sebelum menuju meja makan.


Dira mengambilkan kemeja, jas, dasi dan celana bahan dari dalam lemari. Di sana memang sudah tersedia banyak berbagai baju kerja yang biasa digunakan oleh suaminya, mereka memang sengaja menyimpan di sana untuk berjaga-jaga kalau jika sewaktu-waktu diminta menginap seperti hari ini.


Sedangkan Dira, menggunakan pakaian yang tersedia di dalam lemari, masih banyak pakaian Dira yang belum pernah sama sekali terpakai hasil pemberian mertuanya.


Dengan wajah sumringah, sepasang suami istri itu berjalan beriringan menuju meja makan. Benar saja, keluarganya sudah menyambut dengan senyum yang lebar di meja makan.


"Kok lama amat sih datangnya," ujar Melva, saat melihat sepasang suami istri itu tersenyum lebar menatap dirinya.


"Biasa lah, ada kejadian tidak terduga, Mam!" kekeh Defan seraya menutup mulut yang tertawa tak henti-henti.


Pagi itu, Dwfan seperti mendapatkan kemenangan dan jackpot di pagi hari.


"Ah pasti ada sesuatu tuh sama Bang Defan. Buktinya dia kok bahagia kali pagi-pagi gini." Niar berprasangkan dan sok tahu.


"Siapa juga sih yang lagi bahagia, eh tapi emang bahagia sih," kekeh Defan seraya menarik kursi untuk istri dan untuk dirinya sendiri.


Dira pun dipersilahkan untuk duduk, ia diperlakukan sangat istimewa di depan keluarga Defan.


"Udah, ayo, sarapan udah pas nih jam 6 pagi," titah Desman, membuyarkan topik pembicaraan menurut mereka membuat penasaran.


"Iya, ayo kita sarapan!" Melva mulai menyendoki nasi ke dalam piring suaminya, tak lama Desman pun kembali memimpin doa sebelum mulai menyantap sarapan pagi mereka.


*Hening ...

__ADS_1


Keheningan pun dimulai hanya suara piring dan sendok yang saling beradu, berbagai sajian makanan sudah memenuhi perut satu keluarga itu, mereka sangat menikmati sajian yang disiapkan oleh Melva bahkan membuat perut mereka sangat mengenyangkan.


__ADS_2