
Meski awalnya tak berniat, akhirnya Sahat mengirimkan pesan pada boru panggoarannya, menyampaikan bahwa mereka memulai bisnis baru. Ia juga memerintahkan agar Dira datang untuk ikut membantu menyusun segala bahan-bahan yang sudah mereka beli.
***
Di sisi lain, Dira tampak fokus mendengarkan penjelasan dosen. Ia sangat sibuk karena hari itu dosen yang mengajar harus diperhatikan sehingga dia pun sangat fokus untuk menatap pelajaran yang disampaikan di depan kelas.
****
Tak sengaja, Anggi berpapasan lagi dengan dosen killernya —Jaki Ananda. Kali ini, Anggi sengaja menyapa sang dosen, ia menunduk dan tersenyum dengan lebar.
"Permisi, Pak!" ucap Anggi seraya berjalan tanpa henti, ia sudah melintasi tubuh dosen killernya itu.
Sementara Jaki hanya mengangguk lalu cuek saja tanpa menyapa mahasiswanya.
"Tumben tuh bapak-bapak gak mau nyautin aku," gumam Anggi sembari ingin melirik ke belakang tapi ia takut bahwa akan dianggap sengaja mencari perhatian pria tersebut.
Pagi itu, memang dosennya sedang memiliki mood yang tidak baik. Ia habis meminta para mahasiswa untuk mengerjakan tugas tetapi ada seorang mahasiswa yang membantah kata-katanya padahal dia sangat tidak suka jika dibantah seperti itu.
Jaki Ananda memang tidak mau bersenda gurau dengan Anggi lantaran ia tidak memiliki mood yang baik sehingga ia tidak mau merusak citranya di depan Anggi. Oleh karena itu, ia lebih baik menghiraukan mahasiswa tersebut. Tak seperti biasanya, Jaki padahal sangat suka untuk mengobrol dengan Anggi walaupun hanya sekedar bercanda.
****
Defan baru menyelesaikan beberapa berkas, lalu ia sangat sibuk untuk menyelesaikan pekerjaannya. Kemudian, ia pun bergegas ke ruangan sang bapak karena sebelumnya ia telah dipanggil oleh Desman untuk datang ke ruangan tersebut.
Tok tok ...
Defan mengetuk daun pintu. Dengan cepat, Desman langsung menjawab dari dalam masuk, untuk memerintahkan Defan masuk.
Meskipun pria itu adalah anak pemilik perusahaan tetapi ia tetap santun dan meminta izin dulu sebelum masuk ke dalam ruangan. Oleh karena itu, sebelum memasuki ruangan, Defan menyempatkan untuk mengetuk pintu dan meminta izin.
"Masuk!" teriak Desman dari dalam ruangan.
__ADS_1
Setelah melihat kedatangan putranya, Desman meminta agar Defan duduk di kursi tamu.
"Def, duduklah di sofa!" perintah Desman, kemudian ia menghampiri Defan, beranjak dari kursi kebesarannya ke arah Defan.
"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Desman dengan basa-basi.
"Ya, biasa sajalah, Pak banyak kasus yang perlu ditangani," balas Defan.
"Baguslah, kalau begitu ada sesuatu yang perlu Bapak bicarakan denganmu, ini adalah sesuatu hal yang penting."
"Mengenai apa?" Defan menatap lekat wajah sang bapak.
"Mulai besok, jabatan ini akan diserahkan kepadamu. Kita akan melakukan serah jabatan, kau akan mulai menempati posisimu sebagai seorang CEO di perusahaan ini."
"Hah ... secepat itu? Emangnya kenapa Bapak mau menyerahkan jabatan ini padaku padahal bapak masih kuat dan berjiwa muda," seloroh Defan tanpa memalingkan tatapannya.
"Bapak sudah lelah makanya Bapak ingin di masa tua ini untuk menikmati hidup bersama mamamu. Kami ingin mengelilingi kota di seluruh penjuru negeri ini, menikmati masa tua bersama," ungkap Desman.
"Jadi bapak nggak bakal bekerja lagi di perusahaan ini?" cecar Defan.
"Baiklah kalau begitu, Pak. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk mengembangkan perusahaan ini, jadi mulai besok aku akan bertugas menggantikan posisi Bapak?" tanya Defan, serasa tak percaya bahwa posisi itu akan segera ia miliki.
"Iya, mulai besok kaulah yang akan duduk di ruangan ini!"
"Kalau begitu aku pamit dulu." Defan pun beranjak pergi, berpamitan pada CEO S.N.G Lawfirm dengan rasa semangat dan menggebu ia keluar dari ruangan tersebut.
Tak disangka dengan usianya yang masih muda seperti ini, ia akan menjadi seorang CEO di perusahaan firma hukum paling terbesar di seluruh kota Medan.
Kemudian, Defan memasuki ruangan, langsung berbicara pada Juni untuk meminta perempuan itu bahwa mulai esok dirinya akan merangkap jabatan sebagai seorang sekretaris sekaligus.
"Jun, mulai besok kau bisa menjadi seorang sekretaris?" tanya Defan seraya menatap asistennya.
__ADS_1
"Bukankah bidang itu terlalu jauh dengan profesiku saat ini?" timpal Juni,tak mengalihkan pandangan dari tatapan bosnyaz
"Tidak mengapa, kan? Kau bisa merangkap dua jabatan sekaligus sebagai asisten maupun sebagai sekretaris. Karena aku belum bisa mencari sekretaris baru, lagian kan masa magangmu tinggal 2 bulan lagi. Biarkanlah kau merangkap dua jabatan itu!" seloroh Defan, tak menerima penolakan.
"Loh ... memangnya Bapak mau jadi apa? Kenapa harus membutuhkan sekretaris juga?" imbuh Juni, menatap lekat wajah sang bos.
"Besok aku akan diangkat sebagai seorang CEO di perusahaan ini. Besok akan ada penyerahan jabatan sehingga aku perlu seorang sekretaris untuk mulai menyusun jadwal kerjaku," jawab Defan dengan lugas.
"Wah, selamat, ya, Pak!" Juni pun terperanjat, ia menghampiri bosnya dan memberikan ucapan selamat dengan saling berjabat tangan.
"Makasih, Jun! Kembalilah bekerja," titah Defan, tak ingin berbahasa-basi lagi pada asistennya.
Defan langsung duduk di kursi kebesarannya, orang yang pertama kali yang ia hubungi adalah istrinya. Ia ingin mengabarkan bahwa mulai esok dia akan menjabat sebagai seorang CEO di perusahaan firma hukum terbesar milik keluarganya.
Tak membutuhkan waktu lama, telepon Defan langsung diangkat oleh Dira karena saat itu ia baru menyelesaikan kelasnya sehingga tidak ada dosen yang berada di dalam kelas.
"Halo, Bang! Ada apa?" tanya Dira to the point, karena ia khawatir nantinya akan ada dosen lain lagi yang masuk untuk mengajar.
"Yang, aku ingin mengabarkan hal baik untukmu jadi tadi Bapak baru saja mengabarkan padaku bahwa mulai besok aku akan diangkat menjadi seorang CEO!" terang Defan, dengan bangga.
"Serius, Bang? Bukannya terlalu cepat untuk Abang mendapatkan jabatan itu?"
"Ya, serius! Aku sendiri tak percaya kenapa tiba-tiba aku bisa menjadi seorang CEO. Tapi bapak bilang dia ingin beristirahat makanya mengalihkan tugas itu padaku," sahut Defan dengan semangat.
Dira pun langsung berdiri dari tempatnya, ia tersenyum dengan sumringah dan mengucapkan selamat pada suaminya.
"Waw, selamat suamiku! Tapi nanti setelah menjadi seorang CEO, Abang harus tetap bisa mengatur jadwal antara kebutuhan pekerjaan dan kebutuhan rumah tangga kita," ujar Dira.
"Iya, Sayang harus dong! Kepentingan keluarga justru nomor satu dan harus diutamakan dibandingkan pekerjaan. Yang pasti sih, memang aku akan semakin sibuk dengan tugas yang di perusahaan ini. Tapi aku yakin, setidaknya aku bisa mengaturnya," papar Defan.
"Iya, Bang selamat, ya! Berarti kita harus makan-makan nih untuk perayaan penerimaan jabatan baru, Abang!" tutur Dira dengan antusias.
__ADS_1
"Iya, Sayang kalau begitu kita harus dinner malam ini juga!" tegas Defan.
Lalu, lDira pun mengiyakan, kemudian sambungan itu berakhir karena Dira harus melanjutkan kelasnya dengan dosen yang baru saja memasuki ruangan.