Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
pacar siapa?


__ADS_3

"Iya, awalnya ditolak tapi akhirnya diterima kok ," kilah Jefri, dengan bangga.


Jefri dan Carol saling menatap, lalu mereka tersenyum kecil, kemudian menertawai Judika yang sempat meledek Jefri. Tak hanya itu, keduanya pun melenggang meninggalkan teman-teman seangkatannya setelah memperkenalkan Carol.


"Eh, bro semuanya, kalian pesan aja makanan yang mau kalian makan, nanti aku yang bayar. Kalau gitu, aku tinggal dulu ya," pamit Jefri, seraya berjalan gontai beriringan bersama sang pacar menghampiri Dira dan teman-temannya.


"Kita ninggalin mereka, Bang?" bisik Carol, saat mengekori pacarnya.


Jefri pun mengangguk, ia memang sempat merasa tersinggung setelah merasa diledekin oleh teman seangkatannya. Oleh karena itu, ia merasa sedikit sakit hati jadi lebih memilih bergabung bersama teman-teman Carol.


"Iyalah, malas sama mereka!" jawab Jefri dengan datar.


"Apa, Abang merasa tersinggung, ya?" celetuk Carol.


"Iya, soalnya abang diledekin tadi!" sesal Jefri, lalu menyematkan senyum pada sang pacar.


Keduanya pun tiba di mana teman-teman Carol berada. Akhirnya Jefri dan Carol bergabung, tetapi di sana masih ada Diki yang duduk dengan santai, seakan-akan merasa mengakrabkan diri dengan Dira dan teman-temannya.


"Pergi sana!" usir Shinta, karena merasa tak nyaman saat Diki terus saja mengikuti dirinya.


"Biarin napa sih, aku mau gabung sama kalian, soalnya aku nggak ada kawan nih!" tampik Diki berpura-pura.


"Hai ... kita juga mau gabung di sini. Waduh nggak ada kursi kosong, ya!" ucap Jefri.


Jefri mengedarkan pandangan lalu mencari dua kursi Kosong yang tak jauh dari posisi mereka. Lalu, ia membawakan dua kursi itu, memberikannya satu pada Carol dan satu lagi untuknya. Jefri pun duduk tepat di sebelah Diki.


"Kau pacar siapa?" cecar Jefri, pada lelaki itu karena dia satu-satunya pria yang ada di sana sebelum kedatangan Jefri.


Shinta dan teman-temannya malah terkekeh mendengar pertanyaan dari Jefri. Sementara Diki merasa kebingungan, ia bahkan menoleh ke kanan dan ke kiri menatap teman-teman Shinta secara bergantian.


"Dia orang kesasar, Bang!" sahut Shinta, asal.

__ADS_1


"Terus, dia ngapain di sini?" sungut Jefri.


"Biasalah anak sok kenal, sok asik dan sok akrab kayak gitu, pasti mau gabung sama siapa aja," cibir Shinta.


"Kau kok gitu sih, Shin!" balas Diki.


"Udah kau pergi sendiri aja, makan sendiri sana, jangan kau di sini!" kelit Shinta, mengusir Diki yang cukup mengganggu pandangannya.


"Enggak lah, aku nggak ada kawan loh. Makanya aku gabung sama kalian! Gimana kalau kau kutraktir aja, kita duduk di sana!" Dicky menunjuk ke arah sebelah sudut ruangan agar Shinta mau ikut bersamanya.


"Enggak, ah ... males! Ngapain juga aku ikut sama kau, nanti aku yang ujung-ujungnya disuruh bayarin," tolak Shinta terang-terangan.


"Hahaha!" Diki pun tertawa terbahak-bahak. Walaupun dia sebenarnya tak berniat melakukan apa yang seperti dituduhkan oleh Shinta.


"Enggak kok, tenang aja, beneran aku yang bayar. Aku bawa dompet kok!" sahut Diki, mengangkat dompet, menunjukkan pada Shinta dan teman-temannya.


Shinta tetap menggelengkan kepala, ia tidak mau lagi terkecoh pada pria itu. Shinta tetap duduk di kursi tanpa beranjak sedikitpun. Keputusan Shinta jugalah yang membuat Diki tetap bertahan di tempatnya.


"Ya, kalau kau nggak mau, aku juga tetap di sinilah!" papar Diki.


"Ini yang namanya Dira tadi, ya?" ucap Jefri.


Dira mengangguk kecil, lalu mengulurkan tangan, mereka berdua saling menjabat tangan.


"Kenalin aku Dira, Bang!" sahut Dira, tersenyum tipis pada pria itu.


"Iya, kenalin saya, Jefri seniornya Carol sekaligus sekarang sudah menjadi pacarnya. Oh, ya ... nanti sore kita mau makan bersama, kau bisa ikut, kan?" sambung Jefri.


"Kemungkinan bisa sih cuma aku harus minta izin pada suamiku dulu," tandas Dira.


"Baiklah, yang penting saya sudah kasih tahu dari sekarang karena hari ini mau mentraktir semua teman-teman yang ada di sini, kecuali dia!" Jefri menunjuk pria yang masih clingak-cilinguk kebingungan seorang diri.

__ADS_1


"Aku kan kawannya, Shinta loh, Bang! Masa nggak diajak" sungut Diki.


"Oh ... emang kau benar temannya, Shinta? Betul nggak sih itu, Shin?" Jefri memastikan pada orangnya langsung.


"Enggak ah, Bang. Dia cuman ngekori aku aja dari tadi, kan tadi Abang lihat sendiri, aku ngusir dia!" keluh Shinta.


"Yang mana sih yang benar!" Jefri menggaruk-garuk tengkuknya meski tidak gatal karena merasa bingung.


"Aku temannya, Shinta lho, Bang!" urai Diki, masih konsisten dengan jawabannya.


"Enggak, Bang!" hardik Shinta, memutar tangannya dengan cepat, menandakan bahwa memang ia tidak mengakui Diki sebagai seorang teman.


"Yaudahlah kalau kau teman si Shinta, boleh ikut!" jelas Jefri akhirnya pasrah.


"Oh ... iya, satu lagi pengumuman, untuk makan siang kali ini, kalian boleh makan sepuasnya apapun itu. Nanti saya juga yang bayar!" ucap Jefri lagi.


"Oke!" ucap keempat perempuan itu dengan kompak.


Semua memesankan makanan masing-masing Lalu menyantapnya, termasuk juga Diki. Tanpa rasa malu, ia memesan makanan berharap Jefri juga akan membayarkan makanan tersebut.


****


Di dalam ruang persidangan, suasana tampak semakin menegang setelah terbongkar adanya kejadian tentang kesaksian palsu yang disampaikan oleh saksi dari pihak terdakwa.


Francisko semakin merasa pesimis bahwa ia akan mendapatkan hukuman lebih ringan lagi, setelah mendengarkan penuturan saksi yang dibawanya, pria itu malah mengungkapkan tentang kebohongan Fransisko selama ini.


"Maaf, Yang Mulia, memang saya dibayar oleh Fransisko untuk membuat pengakuan palsu tapi saya tidak berniat melakukan itu semua. Keadaanlah yang memaksa saya untuk mengambil uang darinya. Oleh karena itu saya akan membeberkan semuanya!" ungkap Saksi itu.


Saksi tersebut malah berpihak pada korban, ia tidak lagi berpihak pada terdakwa. Kemudian, saksi merunutkan semua kejadian yang dilakukan oleh Fransisko selama 2 minggu lamanya.


"Yang Mulia, saya meminta maaf sekali. Fransisko memang sudah menodai anak itu, melakukan hal senonoh yang tidak ada di dalam pikiran orang-orang!" beber Saksi.

__ADS_1


Dia menodai anak itu lewat belakang alias bokongnya. Itulah alasan mengapa tubuh korban bagian belakang terasa nyeri, bahkan anak itu sulit untuk duduk. Hal itu diketahui saksi karena ia sempat mengintip ke dalam tempat di mana anak itu tengah berteriak.


"Visum saja bagian bokong anak itu, bahwa memang terdapat kerusakan karena selama dua minggu terdengar anak itu berteriak terutama di saat malam hari!" terangnya lagi.


__ADS_2