
Juni semakin jengkel pada Dania. Gara-gara Dania protes pada Defan, postingan itu harus segera dihapus.
"Sial! Kepo kali sih sama hidup orang!" umpat Juni dalam batin, mau tidak mau, ia harus menghapus kenangan pertama dan terakhir bersama bosnya.
"Udah kau hapus, Jun?" cecar Defan, bernada tinggi.
Ia juga tak mau postingan dirinya bersama wanita lain menyebar. Apalagi sampai diketahui oleh Dira. Bisa hancur reputasi Defan sebagai suami yang baik dan romantis jika postingan itu merebak di kantor atau sampai ke tangan istrinya.
"Sudah, pak! Maaf, saya sudah memposting tanpa izin bapak. Saya hanya bermaksud foto makanan saja tetapi tangan bapak ternyata terlihat di sana!" ungkap Juni seraya menyesal.
"Baiklah! Lain kali jangan memposting sembarangan!" kata Defan, memperingati.
"Iya, pak!" Juni hanya bisa tertunduk dengan penyesalan.
****
Di kampus, seperti biasa, keempat wanita tengah berkumpul. Bergosip ria sebelum melanjutkan ospek yang akan segera diselenggarakan.
Sembari menyarap, keempat wanita itu asik mengobrol tentang persoalan Carol yang ditembak oleh seniornya.
Namun, ditengah-tengah obrolan, Dira merasa bersalah mengingat kejadian pagi ini. Ia jadi kepikiran pada suaminya. Saat berpisah pun, Dira masih marah bahkan belum memaafkan Defan.
Namun, ia tetap mengalihkan pikiran dengan berbincang-bincang dengan ketiga sahabatnya.
"Rol, kayak mana kalau kau dicecar oleh seniormu? Kalau kau dipaksa harus mau nerima dia gimana? Terus nggak malu kau jumpa hari ini sama dia?" ujar Jenny dengan berbagai pertanyaan.
"Banyak kali pun pertanyaanmu! Sampai lupa aku!" balas Carol, merutuki pertanyaan sahabatnya.
"Hehe! Soalnya kan belum jelas hubunganmu sama dia!" sambung Jenny.
"Eh ... eh ... orangnya lewat tuh, itu dia kan, si Jefri—senior galak!" umpat Shinta, mengarahkan wajahnya menatap senior Carol.
"Ssst ... jangan tanda kali kau tatap dia!" sindir Carol, kepalanya menunduk agar tidak disadari oleh Jefri.
Namun, pria itu membawa sepiring lontong sayur. Menghampiri meja yang ditempati oleh empat sekawan tersebut.
Dira yang melihat Jefri semakin mendekat, langsung menyenggol lengan Carol.
"Apa sih, Dir?" decit Carol, lengannya terasa sakit karena terus disenggol tapi ia enggan menatap ke depan.
__ADS_1
"Lihat itu!" bisik Dira.
Namun, kesempatan untuk menolak kedatangan Jefri telah habis. Jefri sudah berada di depan Carol. Mengulurkan sepiring lontong sayur pada wanita itu.
"Ini untuk sarapanmu!" ucap Jefri dengan suara berat.
"Cieeee!" teriak Shinta dan Jenny dengan kompak tapi langsung ditegur oleh Dira agar mereka membungkam mulutnya sendiri.
"Aku sudah sarapan, bang!" tutur Carol, berbohong.
Sebenarnya, ia baru menyesap susu kotak yang dibeli. Sedangkan untuk sarapan, pagi ini memang dia tidak sarapan di rumah karena sudah tahu kebiasaan ketiga sahabatnya yang akan sarapan di kantin kampus.
Saat tiba di kantin, Carol belum merasa lapar, alhasil dia belum memesan makanan apapun.
"Jangan boho—" Belum selesai Shinta menyampaikan kata-katanya, Jenny sudah menyumpal mulut Shinta dengan gorengan miliknya.
"Apa sih, Jen!" gerutu Shinta, dengan suara parau seraya mengeluarkan gorengan dari mulut.
"Sudah, makan saja! Aku daritadi merhatiin kau kok! Belum sarapan apapun!" tandas Jefri, segera meninggalkan Carol dan ketiga sahabatnya.
Setelah Jefri jauh, Shinta dan Jenny dengan hebohnya meledek Carol.
"Gilak! So sweet kali!" celetuk Jenny, tertawa-tawa.
Dira hanya menatap seraya terkekeh melihat kedua sahabatnya sangat iseng meledek Carol. Meski orang yang dibicarakan tengah diam menatap lontong sayur yang ada di hadapannya.
Ia bingung apakah harus memakan atau membuang makan itu. Namun, jika membuangnya maka akan mubazir.
"Makanlah, rol!" ucap Dira, melihat Carol diam terpaku menatap sengit lontong sayur tersebut.
"Aku takut di jampe-jampe, we!" celetuk Carol, membuat ketiga sahabatnya tertawa terpingkal-pingkal.
Jenny dan Shinta berdecak melihat tingkah polos Carol yang takut memasuki dunia masa puber ala remaja.
"Heh, kau ada-ada aja, di era modern gini udah nggak jaman lagi jampe-jampe!" ketus Shinta, menepuk punggung Carol untuk menyadarkan.
Dira pun menyambung perkataan Shinta dengan lemah lembut sehingga membuat Carol yakin untuk menyantap makanan pemberian seniornya.
"Makanlah, niat baik orang harus kita terima. Sayang kalau makanannya kita buang, masih banyak orang di luar sana yang nggak makan!" ucap Dira, dengan kata-kata bijak.
__ADS_1
"Ho'oh, makan aja sih, Rol! Lagian kau kan belum sarapan!" sahut Jenny, tersenyum tipis.
"Yaudahlah!" jawab Carol, dengan pasrah.
Akhirnya, ia mengikuti saran sahabatnya. Di sudut kantin, Jefri tengah menatap, menanti penuh harap jika makanan pemberiannya akan di makan oleh Carol.
Bahkan, ia membuat taruhan pada dirinya sendiri sebagai bentuk keyakinan untuk melanjutkan proses mendapatkan hati Carol agar berlanjut ke hubungan yang lebih serius.
Kalau dia makan pemberianku, artinya lampu hijau untuk meneruskan hubungan ini ketahap yang lebih serius. Tapi kalau dia buang, berarti tidak ada harapan bagiku untuk menjadi pacarnya!
Jefri menggerutu dalam batin. Larut dalam pikiran sendiri sembari fokus menatap Carol dari kejauhan. Carol pun tak menyadari kalau lelaki itu ternyata memantaunya.
Perlahan-lahan, Carol menyendok makanan, mengangkat sendok, menyuapkan ke dalam mulutnya sendiri. Melihat sendok yang terangkat, Jefri kesenangan sembari menjentikkan jarinya.
"Asik!" ucap Jefri kegirangan setelah melihat satu suapan masuk ke mulut Carol.
Ini pertanda baik untuk hubungan kami.
Jefri lagi-lagi menggumam dalam batin. Dengan hati yang senang, ia semakin yakin untuk mendekati Carol serta menjadikan juniornya itu sebagai seorang pacar.
Jefri sendiri belum pernah berpacaran. Tiga tahun mengemban pendidikan di jurusan arsitektur, membuat ia lebih fokus belajar dibandingkan harus melakukan pendekatan dengan seorang perempuan.
Baru kali ini, ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Bahkan, dia sangat antusias untuk mendapatkan hati Carol. Kecantikan Carol pun membuat ia terpesona.
****
"Gitu dong, habiskan, ya!" kata Dira, tersenyum pada sahabatnya yang melahap lontong sayur tersebut meski terlihat ragu-ragu.
Dira, Jenny dan Shinta juga tiba-tiba mendapatkan makanan yang sama dengan Carol. Ibu kantin membawakan tiga piring lontong sayur di atas nampan.
"Kak, ini untuk kakak bertiga, tadi ada yang pesan. Katanya terima kasih bantuannya," tutur Ibu Kantin, berlalu pergi setelah menempatkan piring di atas meja.
Keempat sahabat itu saling menatap, lalu mengedarkan pandangan tapi tak terlihat orang yang dicurigai masih di sana.
Jefri, lima menit yang lalu memesankan tiga lontong sayur untuk Dira, Jenny dan Shinta. Itu dilakukannya sebagai bentuk ucapan terima kasih lantaran sudah membantu untuk membujuk Carol.
Setelah memesan lontong sayur, ia bergegas pergi meninggalkan kantin kampus.
"Lumayan, makan gretong!" ujar Shinta, tak memikirkan siapa yang mengirim makanan tersebut.
__ADS_1
"Makan ajalah, sayang dari pada kebuang, lagian nggak perlu keluar uang!" kekeh Jenny, mengerling.
"Iya, ayo kita makan! Makasih, bang!" teriak Dira sedikit berteriak, sehingga orang-orang di kantin menatapnya.