
Judika tersenyum penuh kemenangan, kala Jefri meninggalkan lapangan kampus. Sementara, Carol hanya menatap sinis ke arah Judika. Rasa kesalnya masih terpendam dan belum terluapkan semua. Tetapi, Judika malah sengaja ikut campur dengan urusan antara senior dan junior itu.
"Sudah-sudah! Semuanya kumpul! Karena satu kesalahan dari maba ini, semua akan kena hukuman. Minum air garam dari satu gelas secara bergantian!" kata senior perempuan yang mengambil alih tugas tersebut.
"Hah? Apalagi sih ini. Dia yang buat salah kenapa kita yang kena?" gerutu maba lain—Grite.
"Jangan gitu dong, kak! Suruh dia aja yang minum!" tandas seorang maba laki-laki, sedikit berteriak.
"Tidak! Kesalahan karena kalian hanya melihat dia tanpa membantu. Jadi sebenarnya kalian yang dihukum, bukan dia," ucap Senior, Gembi.
"Hah! Yang benar saja! Cih," decak Grite dengan keras.
"Kenapa? Kau tidak terima?" sahut gembi mendengar decakan Grite yang seakan meremehkan.
Grite dengan terpaksa mengatupkan mulutnya. Diam seribu bahasa tidak berani membantah. Tak berselang lama, Judika mengambilkan segelas air hangat yang sudah diseduh dengan beberapa sendok garam.
Ia mencicipi rasa air di dalam gelas, terlalu asin dan langsung memuntahkannya. "Huekss!"
Judika menghampiri Gembi, menyodorkan gelas air garam. Lalu, Gembi mengarahkan semua maba duduk berbaris termasuk Carol. Gembi menyerahkan gelas itu pada maba yang berada posisi paling ujung, lalu meminta agar mahasiswa itu mulai meminum.
"Huekss!"
Secara bergantian para mahasiswa ingin sekali memuntahkan tetesan air yang telah masuk ke tenggorokan. Namun, senior memaksa mereka menelannya, bila kedapatan ada yang memuntahkan, maka hukuman yang diberikan lebih berat lagi.
Tiba giliran Grite, yang duduk tepat di samping Carol. Grite menahan mulutnya agar tak memuntahkan air tersebut. Namun, rasa asin yang tidak tertahankan akhirnya membuat ia muntah begitu saja.
"Huekss ... hueksss," teriak Grite, menyita perhatian kedua seniornya yang menatap dengan tajam.
"Sial!" umpat Grite, menyeka sisa air di tepi bibir.
Judika dan Gembi menghampiri Grite. Menatap sangat sengit, lalu Gembi mengucapkan kata-kata yang menyakitkan dan tidak enak didengar.
__ADS_1
"Kau, ini! Sudah kubilang jangan berani memuntahkan! Tolol, bego atau apa sih kau? Pekak kuping kau, ya? Sampai nggak dengar apa yang sudah diperintahkan?"
Grite terdiam dan terkaku, ia hanya menatap secara mengelus dada. Tindakan yang dilakukan oleh para senior itu bahkan sudah masuk dalam kategori perpeloncoan, membuat Carol memberanikan diri untuk melawan.
"Kakak mau saya laporkan ke pihak kampus? Apa kakak tidak tahu aturan terbaru dari pemerintah? Sekelas universitas negeri seperti ini, tidak pantas melakukan perpeloncoan pada maba! Sebaiknya kakak intropeksi diri sebelum dilaporkan kepada dosen!" tegas Carol, menatap Gembi dan Judika secara bergantian.
Gembi tak menanggapi apa yang baru saja diucapkan Carol. Ia justru tak takut bila dilaporkan, merasa dirinya benar sebagai pihak senior yang diberikan tanggungjawab untuk mendidik para maba.
"Laporkan saja kalau kau berani!" tantang Gembi, berdecak untuk meremehkan tindakan Carol.
"Kenapa kau membelanya? Lebih baik kau diam saja agar tidak ikut-ikutan dihukum," tambah Judika yang sengaja memperingati Carol agar tidak ikut-ikutan.
"Kakak dan abang senior yang terhormat! Saya tidak takut karena masalah sepele seperti ini di DO dari kampus tapi yang saya khawatirkan kalian berdua yang di DO! Kita bisa viralkan kasus ini!" Carol menunjukkan rekaman video yang sengaja direkam sejak Gembi mulai teriak-teriak memerintahkan meminum air garam.
"Apa?" geram Gembi, ingin merampas ponsel Carol tapi dengan cepat Carol mengantonginya.
"Mau saya laporkan sekarang juga? Atau kalian membenahi sistem ospek ini?" ancam Carol, membalikkan posisi para senior.
Judika mendekatkan diri kepada Gembi, membisikkan sesuatu. "Sudahi saja ospeknya, atau hanya pengenalan kampus biasa. Kita bisa terancam tidak lulus bahkan di DO bila video itu tersebar!"
Gembi hanya mengangguk mendengar nasihat Judika. Lalu, merampas gelas air garam yang masih ada ditangan Grite dan membuang airnya ke tanah.
"Awas kau, ya!" ancam Gembi, meletakkan dua jari membentuk V ke matanya lalu menghempskan ke depan mata Carol.
Judika bertepuk tangan mengalihkan konsentrasi seluruh maba dari jurusan arsitektur. "Oke, kita mulai berkeliling kampus! Pengenalan kampus khususnya untuk fakultas teknik arsitektur."
Judika dan Gembi dengan malas berkeliling kampus, mengenalkan ruang-ruangan serta memberikan arahan mengenai pembelajaran tahapbawal di jurusan arsitektur.
Saat berjalan menyusuri kampus, Grite mendekati Carol, lalu mengulurkan tangan untuk berkenalan. "Halo, aku Grite, senang bisa berjumpa denganmu. Makasih tadi sudah membelaku walau aku sempat menyinyiri kelakuanmu!"
Dengan ramah, Carol menyambut uluran tangan Grite. "Aku, Carol! Sama-sama, aku melakukan itu karena tidak suka dengan penindasan."
__ADS_1
Keduanya mulai berteman sejak hari itu. Grite dan Carol mulai akrab dan kemanapun pergi berdua selama kegiatan di kampus.
****
Defan menjemput Dira yang baru saja pulang dari kampus. Kebetulan, ospek yang dilakukan selama seminggu berturut-turut itu berlangsung hingga sore hari.
Dira buru-buru masuk ke dalam mobil agar tidak ada yang melihatnya. Sementara, Jenny pulang dengan Carol dan Shinta. Sebelum pulang ngampus, mereka berjumpa di Kantin, membicarakan kehebohan ospek hari ini hingga akhirnya berpisah.
"Yang, gimana ospeknya?" ujar Defan, saat memutar kemudi stir meninggalkan halaman kampus.
"Monoton, bang! Nggak seru, nggak asik," jawab Dira dengan malas.
"Loh, kok gitu, Yang? Emangnya ngapain aja?" balas Defan, sesekali melirik ke istrinya lalu fokus menatap jalanan.
"Ya gitulah, cuma pengenalan kampus aja. Seniornya juga nggak seru," papar Dira.
"Hmmm ... hari ini kita ke rumah mama mau nggak?" tawar Defan, setelah sekian lama memang mereka tak pernah berkunjung ke sana.
"Tapi kan inang nggak ada di rumah, bang?" lontar Dira, menatap lekat suaminya.
"Hehe, iya sih, tapi sudah lama nggak jumpa bapak sama Niar. Apalagi kau kan sudah sehat! Mau nggak?"
Dira sejenak berpikir, penampilannya tidak mendukung untuk berkunjung ke rumah sang mertua. "Nginap nggak, bang?" sahut Dira, masih menatap lekat suaminya.
"Ya, harusnya sih nginap, sayang! Masa cuma sejam di sana!" beber Defan, tersenyum ke arah sang istri, lalu fokus menatap jalanan.
"Nanti ajalah, bang! Tunggu beres ospek, abang nggak lihat penampilanku kacau balau gini? Lagian sekalian nunggu inang pulang," jelas Dira, yang diangguki oleh Defan bahwa ia setuju dengan pendapat itu.
Defan langsung menancapkan gas, berjalan menyusuri jalanan yang lengang sore itu. Tak berselang lama, mereka sudah tiba di basement kondominium. Defan memarkirkan mobil, menatap sang istri dengan hasrat yang menggoda.
"Kenapa, bang?" cecar Dira, menghentikan langkah kakinya saat Defan memelototi tubuhnya di parkiran.
__ADS_1
Defan hanya mengernyit, lalu tersenyum sinis. Pikirannya sudah melalang buana saat sang istri membalas tatapannya.