Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
rencana liburan


__ADS_3

"Kaya pakai dasi sekolah aja loh! Masa gitu aja nggak bisa," kelit Defan, ia pun menyontohkan pada Dira cara memakainya.


"Gini, terus gini, lalu dikaitkan begini." Defan mempraktekkan dan dilihat sangat serius oleh Dira.


"Oh ... gitu caranya. Bisa-bisa aku!" kata Dira sok tahu, lalu melepaskan ikatan simpul yang sudah dipasang oleh suaminya.


"Coba deh, pasang lagi," tutur Defan mengarahkan.


"Gini kan, tuhkan aku bisa yeyeye." Dira melompat-lompat kegirangan.


"Gitu dong pintar, itu baru istri, abang!" Defan mencubit hidung Dira dengan sangat gemas.


"Yaudah, yuk, sarapan," ajak Defan setelah menyugar rambutnya di depan cermin. Ia sudah sangat rapih dan gagah.


Tak heran, jika Dira benar-benar jatuh cinta pada pria itu. Ketampanannya kini sudah mulai membius Dira.


"Ganteng kali sih suami aku! Jaga matanya, jangan nakal kalau di luar kalau lagi nggak sama istri." Dira memperingati suaminya dengan bertolak pinggang.


"Iya! Iya! Ih, jangan gitu. Seram, udah kayak inang-inang sambo aja kau," cetus Defan terkekeh.


"Sini duduk dekat abang," lanjutnya saat menarik kursi di samping, lalu menyantap roti coklat yang sudah dibuat oleh Dira.


Dira malah ke meja dapur, menyeduh ulang teh suaminya karena yang tadi sudah dingin.


"Ini minumnya, bang! Yang itu jangan diminum. Udah dingin, nggak enak!" kata Dira.


Pria itupun menurut saja, meminum teh baru yang sudah di seduh oleh Dira. Setelah selesai menyantap sarapan, ia berpamitan pada Dira. Mencium kening istrinya begitu lembut.


"Abang, kerja dulu ya. Kunci pintu, jangan biarkan siapapun masuk! Oh ya, hari ini kau nggak kemana-mana kan?" tanya Defan sebelum berangsur pergi.


"Nggak tahu, belum ada agenda," kata Dira lantaran ia belum mengecek ponsel yang sudah dipenuhi notifikasi dari tiga sahabatnya.


"Yaudah, nanti kabari kalau mau kemana-mana! Jangan asal pergi tanpa izin suami," seloroh Defan mengulurkan tangan kanannya untuk dicium oleh gadis kecilnya.


"Iya, suami aku!" lontar Dira penuh penekanan, mengecup punggung tangan itu begitu lembut.


Defan pun pergi tepat pada pukul 8 pagi. Meninggalkan Dira seorang diri di dalam kondominium. Dira berlanjut mencuci piring sisa sarapan mereka agar semua terlihat bersih dan kembali rapih.


Setelah menyelesaikan semuanya, ia kembali ke kamar. Merebahkan diri diatas ranjang. Namun, perhatiannya tersita pada ponsel yang belum sempat dipegang tadi pagi.


Ia memanjangkan uluran tangan, meraih ponsel dari atas nakas. Sontak saja, mata Dira terbelalak setelah melihat notifikasi yang muncul begitu banyak.


Ia membuka notifikasi yang hanya dari satu grup watsapp. Di sana, banyak sekali chat ketiga temannya, sampai-sampai membutuhkan waktu untuk memanjat chat awal mereka.

__ADS_1


^^^Dira^^^


^^^Ada apa kelen kok rame kali? Capek mataku mau baca satu-satu dari atas.^^^


Jenny


Mau liburan ke mana intinya nggak jelas orang itu dua!


^^^Dira^^^


^^^Oh ... liburan? Mau kemana rupanya?^^^


Jenny


Entahlah, nggak jelas kali. Kesal aku lihat orang itu dua, lihat aja sekarang malah ngilang.


^^^Dira^^^


^^^Ini ada pula ku baca mau ke danau toba, sanggup rupanya kelen kesana?^^^


Jenny


Itulah makanya belum jelas Dir, kau aja dari tadi nggak nampak!


Gimana kalau kita hari ini kumpul di rumahmu, Dir? Bicarakan soal rencana liburan!


Jenny


Boleh juga tuh, bang Def udah pergi kan?


^^^Dira ^^^


^^^Masih pagi loh we, udah mau bertandang aja kelen semua!^^^


Shinta


Ayolah! Lagian di rumahmu nggak ada siapa-siapa kan?


^^^Dira^^^


^^^Yaudah cepatlah kelen kesini! Pasrah aku, tapi janji kelen bersih-bersihkan semuanya sebelum pulang!^^^


Shinta, Jenny, dan Carol pun menyetujui kesepakatan yang Dira berikan. Tidak butuh waktu lama, Carol langsung menjemput kedua temannya ke rumah mereka masing-masing. Lalu, langsung menuju rumah Dira.

__ADS_1


Sebelum kedatangan tamu-tamu centilnya, Dira membersihkan rumah, menyapu dan merapihkan. Agar tidak merusak pemandangan para tamu ketika mereka tiba.


******


"Def, ini berkasmu ketinggalan di ruangan bapak," ujar Desman saat datang ke ruangan Defan pagi itu.


"Loh, sama bapak ini berkas? Aku cari tadi malam sampai bikin pusing. Pulang jam 2 malam aku dari kantor." Defan langsung mengambil berkas itu dari tangan Desman.


"Loh, bukannya kau libur semalam?" Desman mengerutkan dahinya lantaran bingung. Seingatnya, Defan cuti untuk satu hari demi menghadiri acara kelulusan Dira.


"Iya, aku libur tapi malam kesini lagi karena asistenku nelepon. Katanya berkas ini hilang." Defan mengibaskan berkas tersebut.


Tok ... Tok ...


"Permisi, pak, apa kita bisa berangkat sekarang?" Juni baru datang pagi ini, sesuai kesepakatan dengan Defan mereka akan berangkat bersama.


"Pak, aku pamit dulu. Ada sidang, kasus yang di berkas ini. Untung bapak datang dan kasih ke aku. Aku aja lupa kalau beberapa hari lalu sempat bawa berkas ini ke ruangan bapak." Defan mencium punggung tangan Desman, sementara Juni justru heran dengan tindakan bosnya.


Juni juga tidak mengetahui kalau bosnya adalah anak dari bos besar mereka. Juni orang yang terlalu polos, tidak suka bergosip, bahkan jarang berkumpul dengan rekan kerja lain. Termasuk dengan Dania, Juni bahkan menghindari wanita itu. Karena Juni tahu kalau Dania menyimpan perasaan pada Defan.


"Ayo, Jun!" titah Defan seraya berjalan mendekati gadis itu.


Juni mengangguk lalu mengekori Defan setelah pria itu melintasi dirinya. "Pak, saya pamit dulu." Juni menundukkan kepala kepada bos besar di S.N.G Lawfirm.


Setelah kedua orang pemilik ruangan itu berangkat, Desman pun segera meninggalkan ruang Defan. Sebelum ia pergi, Desman masih melihat-lihat tumpukan berkas serta sesaknya ruangan itu ketika diisi oleh dua orang sekaligus.


"Hmmm ... sepertinya aku harus mengganti ruangan untuk Defan. Tidak baik juga pria dan wanita satu ruangan!" gumam pria paruh baya itu.


Ia pun lekas melangkahkan kaki dengan lebar. Desman sengaja memberikan berkas langsung tanpa menyuruh sekretaris maupun asisten. Sebab, ia ingin melihat wajah putra semata wayangnya sebelum mengikuti sidang pagi ini.


********


Hadirin dimohon berdiri!


Hakim ketua memasuki sidang yang digelar pagi ini. Semua langsung berdiri lalu dilanjutkan dengan pelantunan lagu kebangsaan Indonesia.


Defan yang sudah duduk disamping pemilik minimarket. Sedangkan terdakwa hanya di dampingi seorang pengacara yang disediakan oleh pihak pemerintah secara gratis. Sebab, pelaku itu hanyalah kaum bawah yang mencuri susu demi menyalamatkan hidup sang bayi.


"Sidang pengadilan negeri Kota Medan, yang memeriksa perkara pindana nomor 1xxx.xxx atas nama terdakwa, Zuleha pada tanggal 27 Juli dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," kata Hakim Ketua seraya mengetukkan palu hingga tiga kali ketukan.


Suasana hening, semua orang terdiam mengikuti arahan sidang hari ini. Sebelum persidangan dimulai, Defan sudah memberikan usulan perdamaian untuk terdakwa.


Namun, sebagai efek jera, pihak pemilik minimarket tetap ingin agar persidangan digelar sehingga terdakwa tidak lagi melakukan kesalahan serupa.

__ADS_1


__ADS_2