
Nena membawakan empat gelas jus jeruk kemasan ke ruang keluarga. Banyak snack juga yang sengaja ia bawakan untuk menemani obrolan Dira dan teman-temannya.
Setelah mengantarkan minum dan makanan, Nena pamit undur diri, kembali ke dapur membantu majikan yang sedang asik mulai memasak.
"Nyonya, mau bikin apa hari ini?" tanya Nena, sebab sejak pagi persiapan masak mereka tak kunjung selesai.
"Banyaklah! Aku mau masak rendang ini, bagus untuk pemulihan rahim si Dira kalau makan daging-dagingan!" ungkapnya dengan jelas.
*****
"Dir, enaklah kau ya, ada mertuamu yang sayang kali samamu!" celetuk Shinta, ia mulai mengiri pada sahabatnya.
"Namanya juga mertua, kaupun kalau punya mertua pasti sayang samamu!" hardik Dira, tersenyum ramah pada Shinta yang menunjukkan wajah datar.
"Udah kau jangan iri-iri sama si Dira! Dia itu sahabatmu, lagian itu udah rejeki dia! Punya keluarga yang baik," timpal Jenny frontal dan to the point.
Jenny tahu melihat ekspresi Shinta, temannya itu memang sangat suka iri pada sahabatnya. Mungkin, karena keluarga Shinta mirip dengan keluarga Dira. Status ekonominya biasa saja, beruntung Shinta bisa mengikuti jejak ketiga temannya masuk ke universitas negeri di Kota Medan.
"Hehe! Siapa yang iri sih," canda Shinta, bernada ketus.
"Tuh ... Tuhkan! Nadanya aja ketus gitu, kalau nggak iri apa coba!" cecar Jenny, memperumit obrolan itu.
"Ih! Udah-udah, heboh kali kelen dua, nggak senang kalau nggak ada keributan!" lirih Dira, menengahi kedua sahabatnya.
"Eh, kapan kita masuk?" ujar Carol, mengalihkan pembicaraan.
"Iya, ya! Bentar lagi kita ngampus! Kita jadi mahasiwa!" sahut Jenny, girang.
"Nggak sabar loh, ketemu kawan baru," celetuk Shinta, mendapat sorotan tajam dari tiga pasang mata yang ada di sana.
"Hehe, peacelah! Maksudku, kawan baru saat di kampus loh! Kan kita beda-beda jurusan," timpalnya membenahi ucapan.
"Anak hukum biasanya ganteng-ganteng loh, Shin," ledek Jenny, memperingatkan Shinta agar bisa mencari pasangan.
"Oh pasti itu, tapi kalau kau ada kenalan calon dokter, kenalkan samaku nanti, ya! Aku pengennya dokter muda hahah," ungkap Shinta, serius.
"Bagus kau cari anak senior yang udah mau lulus, Shin," timpal Carol, menyengir kuda.
"Iya, betul tuh! Yang mau coas! Udah jadi dokter muda lah dia," tambah Dira, ikut-ikutan menyengir.
__ADS_1
"Iya, boleh tuh! Kenalkan kelen lah nanti, ya! Sama senior-senior kelen di jurusan dokter," sahut Shinta semakin serius.
Jenny dan Dira terkekeh sangat kompak. Diikuti gelak tawa Carol juga. Shinta sangat fokus untuk mendapatkan suami kaya raya seperti milik Dira.
"Oalaah, Shin, Shinta! Cita-citamu sama kayak si Dira, ya? Punya suami kaya?" kekeh Jenny, menggelengkan kepala.
"Iyaloh we! Setidaknya memperbaiki kondisi ekonomi hahah," canda Shinta terbahak-bahak.
*****
Ceklek
Suara daun pintu mengalihkan pandangan keempat wanita remaja. Dira yang mendengar pintu terbuka, buru-buru berjalan menuju daun pintu. Ia melihat ternyata suaminya telah pulang ke rumah.
"Abang! Kok udah pulang?" sosor Dira, menatap lekat suaminya.
Defan langsung merengkuh pinggul Dira, memeluknya lalu mencium bibir wanita itu.
"Wooooo!" teriak ketiga wanita remaja dengan kompak, mengagetkan Defan saat itu juga.
Ia melepaskan ciuman itu, kebiasaan Defan memang sangat suka mencium bibir istrinya ketika pulang ke rumah. Sampai ia tak tahu kalau ketiga sahabat Dira tengah berkunjung.
"Mau jenguk aku katanya, bang! Abang sih main sosor aja!" keluh Dira, mengerutkan keningnya.
"Hehe! Maklumlah!" Defan terkekeh, ia langsung berjalan mendekati tiga remaja yang tadi fokus menonton adegan kecupan suami istri di pagi menjelang siang hari.
"Abang kok udah pulang?" sela Dira, mengekori Defan dari belakang.
"Abang sudah beres sidang, kemarin sudah dapat izin dari bapak, boleh nggak masuk kerja!" jelas Defan, beralih menyapa tiga sahabat Dira.
"Kapan kalian datang?" cetus Defan, membuat lengkungan tipis di bibir.
Jenny, Shinta dan Carol menjabat tangan Defan bergantian. "Baru 30 menit yang lalu, bang!" sahut Shinta, semangat menatap wajah tampan yang ada di hadapan.
"Semangat kali kau, Shin!" kelit Jenny.
"Ah, kau juga senang ada abang ganteng di sini!" timpal Shinta, tertawa sumringah pada sahabatnya.
"Iya, sih hehehe! Tapi ingat, dia suaminya kawan kita," seloroh Jenny, tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Yaudah, lanjutlah kalian ngobrol-ngobrol! Abang masuk dulu," urai Defan, kemudian segera pergi dari kumpulan wanita rempong tersebut.
Defan langsung menuju dapur. Ia tahu kalau mamanya masih asik dan sibuk memasak. Wangi rendang sudah mulai memenuhi ruangan.
"Mam," sapa Defan.
"Loh, kok udah pulang kau, Def?" tanya Melva, mengelap tangan yang kotor ke celemek yang dipakai.
Defan mencium punggung tangan Melva, lalu mengecup pipi sang mama. Ia masih menjadi seorang anak kecil bagi sang mama.
"Malas kerja! Masak apa, mam?" tanyanya lagi.
"Kok malas kerja? Kan Dira ada mama yang jagain di sini! Kau nggak perlu sampai bolos kerja gitulah," bantah Melva.
"Tadi aku udah ikut sidang ma, cuma libur setengah hari aja kok! Lagian aku nggak mau mama repot terus!" terang Defan, tersenyum lebar pada sang mama.
"Mama nggak pernah repot loh! Mama senang bisa rawat Dira. Artinya mama dipercaya sama anak dan menantu sendiri!" balas Melva.
"Udahlah ma! Mama masak apa? Masa dari aku berangkat sampai pulang nggak beres-beres!" sesal Defan, tak mau melihat mamanya capek dan sibuk.
"Kau lihatlah itu! Banyak yang mama masak, lagi proses bikin rendang. Kalau mau makan, makan aja! Di meja makan udah banyak, ayam goreng, ayam bakar, ikan bakar, sayur-sayuran juga ada."
Melva kembali sibuk mengaduk rendang agar santannya tak pecah.
"Hmm ... lapar jadinya nyium bau rendang. Pengennya makan rendang ajalah!" sela Defan.
"Yaudah, sana! Ganti baju dulu, masa mau makan pakai jas," kekeh Melva.
Defan berjalan gontai masuk ke kamar. Sementara, Dira masih bergabung dengan ketiga sahabatnya setelah memasukkan tas Defan ke dalam kamar.
Ia sengaja tak mengikuti suaminya ke dapur, apalagi harus meninggalkan ketiga sahabatnya.
"Dir, mertuamu masak apa sih? Kok wangi kali! Aku jadi lapar," desah Carol seraya mengendus harum masakan yang memenuhi seluruh ruangan.
"Entahlah, daritadi inang sibuk masak. Bentar lagi paling manggil kita untuk makan bersama. Sabar ya, masakannya kayaknya belum beres tuh," pungkas Dira.
Keempat remaja itu asik menyemil snack-snack yang berserakan di atas meja.
*****
__ADS_1
Defan mengganti bajunya dengan pakaian rumahan. Ia merasa beruntung, Dira dikelilingi orang-orang baik. Ada ketiga sahabatnya yang selalu berada di samping, bahkan keluarganya juga peduli pada istrinya.