Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
menyambar


__ADS_3

Jenny akhirnya tersadar bahwa dia pernah meninggalkan nomor ponsel saat pertama kali memasukkan bahan untuk pembuatan makalah di fotokopian. Namun, dia menyadari saat itu, pria yang dianggapnya sangat tua tersebut justru tidak berada di sana.


Namun dengan rasa penasaran akhirnya Jenny memberanikan diri untuk membalas pesan dari seorang pria yang sengaja menghubunginya, lalu dia sendiri mengatakan bahwa tidak ingin berkenalan dengan pria itu.


Pemilik fotocopy itu sebenarnya memiliki paras yang tampan. Bahkan ia juga memiliki kekayaan yang cukup banyak karena ia membuka beberapa cabanf tempat fotokopi sebagai bisnis usahanya. Kekurangannya hanya satu di mata Jenny, ia memiliki umur yang terpaut jauh dengan Jenny. Karena saat berbincang-bincang berdua, Jenny sempat menanyakan umur pria itu.


Ternyata usia mereka terpaut 10 tahun lamanya, sontak saja Jenny tak berminat dengan pria tua seperti itu.


jenny


Maaf! Saya tidak kenal jadi saya tidak mau berkenalan dengan anda.


****


Di sisi lain, Defan sempat menggoda sang istri yang sudah terbaring dengan santai di atas ranjang. Ia berkali-kali menyolek pinggang istrinya untuk melakukan mengajak kegiatan suami istri malam ini.


Meskipun sedang berada di kediaman orang tuanya, Defan nggak segan untuk menggoda sang istri.


"Ih, Abang nggak enak kalau di rumah Amang dan Inang," gerutu Dira, sembari melirik suaminya yang berada di belakang.


Saat itu, Dira tidur dengan menyamping, ia membelakangi tubuh suaminya, bahkan enggan untuk menuruti perintah suaminya karena tubuhnya merasa lelah, seharian sudah capek berkeliling di mall.


"Ayolah, satu ronde saja," ajak Defan, setengah berbisik di pinggir telinga sang istri.


"Enggak, ah aku capek!" tolak Dira dengan suara yang semakin melemah karena ia sudah merasa mengantuk.


"Please lah!" mohon Defan, seraya mengusap-usap penggung istrinya.

__ADS_1


Namun bukannya malah semakin membelalak karena mendapat belaian, Dira justru matanya semakin menyipitkan mata. Ia malah terlelap dalam tidur saat menerima sentuhan suaminya.


"Sayang ... sayang, kok nggak suara sih!" kata Defan, sembari mendelik, lalu untuk menatap istrinya ia mencondongkan tubuh ke depan. Saat itu, ia melihat wajah sang istri yang membelakangi tubuhnya.


Dan ternyata, tebakannya benar kalau perempuan kecil itu sudah tertidur lelap, bahkan terdengar suara ngorok sejenak sehingga membuat Defan terkejut.


"Ya, ampun bener-bener deh ini anak keenakan diusap-usap punggungnya malah ketiduran," batin Defan, lalu menggeleng-gelengkan kepala.


Pria itu, kemudian menarik selimut dan menutupi tubuh istrinya agar perempuan itu tidak kedinginan. Sementara Defan, malah ikut tidur dan memeluk istrinya dari belakang.


Dalam pelukan itu, Devan mengusap-ngusap pucuk kepala istrinya, meskipun Dira tak menyadari. Karena merasa lelah, akhirnya ia pun terjun ikut lelap sembari memeluk erat istrinya dari belakang.


****


Pagi-pagi sekali, Melva sudah repot memasak di dapur, dia sengaja untuk menyiapkan sarapan pagi sendiri, didampingi oleh beberapa pembantu yang ada di rumah tersebut.


Bahkan, untuk sarapan pagi saja sudah terlalu mewah. Itu menurut pandangan Dira tapi tidak bagi keluarga Defan, mereka memang sudah terbiasa untuk menyantap sarapan dengan berbagai sajian serta berbagai macam makanan.


Dira menghampiri Melva, menatap mertuanya yang sedang sibuk memasak, menggerakan sutil dengan lihai, tangannya sangat cekatan dan gerakannya pun sangat cepat bak seorang koki yang profesional.


Bahkan, Dira pun meminta agar bisa diajarkan oleh mertuanya langsung. Sehingga nantinya dia bisa memasak seperti yang dilakukan oleh Melva sekarang ini.


"Inang, ajarilah aku masak kayak gitu," pinta Dira seraya menggulum senyum di wajah.


"Kalau masak itu gampang kok, kita cuma tinggal sering-sering aja memasak, memang awalnya masakan kita pasti dirasa ada saha yang kurang pas, entah itu kurang garam atau kurang enak tapi nanti lama-kelamaan pasti akan semakin bisa," jawab Melva.


"Masa sih, Inang smang dulunya Inang nggak bisa masuk juga kayak aku?" Dira menatap lekat mertuanya.

__ADS_1


"Iya, Inang dulu waktu baru nikah itu nggak bisa masak sama sekali, jangankan masak membedakan bawang putih sama bawang merah aja nggak bisa," kekeh Melva seraya merutuki kebodohannya semasa muda dulu.


"Ah, masa iya sih, Inang?"


"Iya, Inang dulu meskipun keluarga Opungmu miskin tapi kan tetap saja Inang malas disuruh memasak, lebih suka memanjat pohon bermain bersama teman-teman atau bahkan lebih suka disuruh untuk mengerjakan pekerjaan rumah seperti nyapu, ngepel dan selalu menghindar jika disuruh opungmu memasak," ungkap Melva, terkekeh mengingat kenangan masa lalu.


Dira pun sampai terkekeh dibuat oleh mertuanya, ia tak menyangka Melva ternyata sepolos itu. Masih mending Dira, ia masih bisa mengenal berbagai bumbu karena memang sudah diajari oleh seorang mamak sejak lama.


"Ada-ada saja, Inang tapi bagaimana caranya bisa semakin lihai kayak koki profesional?" cecar Dira menatap lekat wajah mertuanya.


"Semenjak menikah nanti juga semakin fokus dan semakin pintar sendiri. Apalagi amangmu dulu tidak pernah mau makan di luar, maunya masakan rumahan saja,terutama masakan dari istrinya jadi aku terus belajar. Alhasil, lama kelamaan jadi bisa jadi, makanan pun semakin enak dan semakin cepat proses masaknya. Biasanya dulu awal-awal bisa sampai 2 jam Inang baru bisa selesai sekarang hanya satu jam saja," cerira Melva panjang lebar.


"Jadi semua berproses, ya, Inang nanti aku bakal sering-sering mencoba resep masakan. Supaya Bang Defan sebagai kelinci percobaannya untuk mencicipi makananku," canda Dira, mengeluarkan tawa terbahak-bahak diikuti gelak tawa Melva yang juga terkekeh geli melihat penuturan menantunya.


Selain itu, Dira akhirnya memilih menunggu duduk di kursi makan. Namun, saat mengingat Defan yang masih tertidur pulas, apalagi sudah hampir jam 6 pagi, Dira bergegas pamit kembali ke kamar. Ia ingin membangunkan suaminya agar tidak terlambat berkumpul bersama keluarga di meja makan.


"Inang, aku pamit dulu ke atas mau bangunin Bang Defan," ucap Dira seraya dijawab dengan anggukan oleh Melva.


Sementara, beberapa pembantu mulai menyajikan semua makanan di meja makan, semua hasil masakan Melva sudah selesai. Ia juga ingin segera mandi karena masih ada waktu tersisa 30 menit lagi untuk mereka bersiap-siap sebelum menyantap sarapan pagi.


****


"Abang, bangun!" teriak Dira, sembari menggoyangkan tubuh suaminya yang tertidur sangat lelap.


Tadi, saat Dira terbangun, ia terkejut karena berada di dekapan suaminya. Sontak, Dira baru mengingat bahwa ia ketiduran tadi malam. Padahal suaminya itu tengah meminta jatah malam itu. Namun karena merasa sangat lelah, dia tak sadar sudah tertidur dengan nyenyaknya.


"Hem ..." Defan hanya berdeham tanpa sedikitpun membuka kelopak mata. Ia masih saja memejamkan mata tapi telinganya sudah berfungsi dengan baik, menangkap suara Dira yang terus saja mengoceh.

__ADS_1


"Bang, buruan udah setengah enam, Inang udah beres masak loh. Nanti kalau kita telat bisa dimarahin!" papar Dira, dalam ocehannya.


"Iya!" Defan pun mulai bergelayut di atas ranjang. Namun ia tiba-tiba menyambar tubuh istrinya yang terdiam menunggu pergerakannya.


__ADS_2