Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
syarat


__ADS_3

"Halo? Ada apa, Niar?" tanya Melva, sembari jalan keluar rumah.


"Halo, Ma tolong segera ke sini. Aku nggak sengaja menabrak mobil orang sampai penyok dan baret," ungkap Niar merasa panik.


"Apa? Mama, baru mau ke pajak untuk belanja. Kenapa kau bisa tiba-tiba menabrak mobil orang? Bukannya kau di kantor?" cecar Perempuan paruh baya itu.


"Aku lagi ada kerjaan di luar kantor, Ma untuk mengurus perkara yang sedang ditangani. Kebetulan karena memang aku nggak bawa mobil karena tadi pagi berangkat sama bapak, jadinya aku pakai mobil bapak dan ternyata terjadilah kecelakaan ini ," bebernya panjang lebar.


"Astaga, coba suruh Bapakmu aja yang menangani persoalan kayak gitu. Mama nggak ngerti-ngerti kalau ngurusin masalah gini," seloroh Meva, berjalan tertatih didampingi Nena.


"Ah ... nanti aku dimarahin Bapak, mobilnya pun rusak, ringsek kayak gini," sambung Niar.


Melva akhirnya menyetujui keinginan anaknya. Ia membatalkan rencana untuk pergi ke pasar dan meminta sopir pribadi mengantarkannya ke alamat tempat di mana terjadinya kecelakaan Niar bersama orang yang tak dikenal.


Nena tetap ikut mendampingi Melva meskipun mereka tak jadi berbelanja. Sesuai dengan arahan wanita itu, Nena tetap mengikuti sang nyonya. Sebab, Melva tetap berkeinginan pergi ke Pasar setelah mengurus kecelakaan Niar.


****


"Siang!" sapa Jaki saat melihat Anggi berada di sebuah taman yang sunyi, hanya dia yang mengerjakan tugas di sana. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Jaki untuk mendekati mahasiswanya sendiri.


"Ada apa, ya, Pak? Kan tenggat waktunya masih panjang, bisa sampai sore ini," ketus Anggi, menatap penuh selidik.


"Oh ... enggak! Saya cuman mau menyapa saja karena kebetulan saya sekalian lewat kok," sahut Jaki.


"Saya kira bapak sengaja nyamperin untuk menagih tugas ini. Karena saya masih berusaha menyelesaikannya." Anggi pun menatap sinis ke arah sang dosen yang berdiri mematung di sebelahnya.


"Santai saja, saya hanya ingin menghampiri dan mengobrol-ngobrol saja!" racau Jaki, basa-basi.


"Maaf, Pak saya tidak ada waktu untuk mengobrol." Anggi buru-buru merapihkan segala barang-barangnya, baik laptop maupun tas, semua diangkut. Lalu, ia pun pergi meninggalkan dosennya itu seorang diri tanpa berpamitan.

__ADS_1


Jaki hanya terdiam saat menatap mahasiswanya itu pergi, meninggalkan dirinya. "Ada apa sih, kok dia malah jadi kabur. Kenapa dia malah takut denganku," gumam Jaki, bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Saat berjalan dengan langkah yang yang lebar, Anggi menggerutu tentang dosennya itu. Bahkan ia mencurigai sesuatu, mengapa sang dosen terus berusaha mendekatinya.


"Kayaknya Pak Jaki memang sengaja mendekatiku," batin Anggi, tak sekalipun berniat menoleh ke belakang untuk memastikan dosennya telah pergi, meski ia sendiri masih penasaran.


"Nggak-nggak! Aku nggak boleh dekat-dekat dengan dia," tandasnya lagi.


Tak ada niatan Anggi untuk berdekatan dengan dosennya. Sebab, dirinya hanya ingin fokus belajar untuk mengemban ilmu sehingga bisa segera menyelesaikan studinya selama empat tahun ke depan.


****


"Maaf, Pak," ucap Niar, berulang-ulang kali, menyerukan permintaan maaf pada orang yang ditabraknya.


Kedua mobil yang terlibat pada tabrakan itu, sengaja diparkirkan di pinggir agar tak menghalangi jalan pengendara lain.


Bahkan, ucapan Niar malah menyinggung pemilik mobil. Bagaimana mungkin memanggil seorang pemuda dengan sebutan bapak? Padahal nyatanya, lelaki itu terlihat masih sangat muda bahkan lebih mudah dari dirinya.


"Kau ini buta atau apa sih! Masa kau panggil aku Bapak? Padahal aku lebih muda daripada kau," sungut pria itu, menatap sinis.


"Jadi saya harus panggil apa? Adik?" tanya Niar sembari meralat perkataannya.


"Terserahmu lah," balasnya dengan nada ketus dan bersikap acuh.


Tak berselang lama, Melva pun tiba di lokasi. Tempat di mana kecelakaan terjadi, perempuan bertubuh gempal itu hanya menarik serta mengeluarkan nafas kasarnya setelah melihat adanya cekcok mulut atau perdebatan yang terjadi antara anaknya dan si pemilik mobil.


"Kau gimana sih, Niar bisa-bisanya di siang bolong kayak gini nabrak orang," celetuk Melva, setelah menghampiri anak keduanya.


"Aku tadi meleng dikit, Ma. Soalnya aku lagi balas pesan dari bosku, eh nggak taunya malah nyeruduk mobil orang," erang Niar, menundukkan kepalanya, bersikap sopan saat sang mama telah datang.

__ADS_1


Padahal tadi ia sempat meracau hingga tak mendapatkan titik temu untuk permasalahan yang di alami.


"Maaf, Dek. Anak saya memang suka teledor! Jadi kau mau seperti apa persoalan ini diselesaikan?" tanya Melva, langsung menyampaikan kepada pemuda itu.


"Eh ... Nggak apa-apa, Bu. Cuma memang mobil ini agak ringsek. Paling saya minta ganti rugi," ucap Pemuda itu dengan ramah tamah, lantaran ia sedang berbicara dengan orang yang lebih tua.


"Saya akan mengganti rugi semuanya kok. Berapa kira-kira kebutuhan yang akan dikeluarkan untuk memperbaiki kerusakan mobil ini?" ketus Niar, dengan nada yang sedikit meninggi.


Lantas pria itu tak segera menafsirkan berapa harga yang harus dikeluarkan untuk memperbaiki mobil itu. Dirinya sengaja memberikan syarat pada Niar untuk bertanggung jawab, salah satunya yaitu Niar pun harus ikut menemaninya saat memperbaiki mobil di bengkel.


"Gini aja, Bu saya kan nggak tahu nih berapa kerugian yang akan saya alami. Lebih baik nanti, Kakak ini ikut saya saja saat ke bengkel. Tetapi, kalau sekarang saya tidak bisa karena buru-buru mau bekerja."


"Jadi bagaimana kelanjutannya, Dek. Nggak masalah sih kalau anak saya harus ikut ke bengkel untuk mengetahui kerusakannya," papar Melva, sembari menoel lengan anaknya dengan kepala mengangguk agar anaknya yang tomboy itu menyetujui kesepakatan.


Negosiasi itupun berakhir dengan damai. Setelah Niar menyetujui keinginan yang disampaikan oleh pemuda itu, Niar harus ikut memperbaiki mobil, walau entah kapan waktunya karena memang pria itu belum menjadwalkannya.


"Kalau begitu saya minta nomor, Kakak aja! Kalau saya sudah ada waktu ,untuk ke bengkel, kapan pun itu Kakak harus siap!" pinta Pemuda itu.


Dengan terpaksa Niar pun memberikan nomor ponselnya walaupun mulutnya berkomat-kamit mencibir pada lelaki saat menyampaikan nomor ponselmya.


"Kak, save nomor saya! Ingat jangan diacuhkan, karena kakak bisa saya laporkan karena tabrakan ini," ancam Pemuda itu, setelah menghubungi nomor yang diberikan oleh Niar.


Kalau tidak ada sang Mama di dekatnya, bisa-bisa pemuda itu sudah habis dibogem oleh Niar. Sebab, ia hanya memiliki kesabaran setipis tisu, terlebih sangat tak suka bila diancam seperti ini.


Karena ada sang Mama, makanya ia menyetujui kesepakatan yang terjadi agar persoalan segera tuntas.


"Iya," jawab Niar, dengan malas seraya memutar bola matanya lantaran jengah melihat pemuda yang bersikap arogan itu.


"Kalau begitu, sudah selesai kan, Dek perkaranya? Nanti tinggal hubungi saja anak saya, yang terpenting kondisi adik tidak apa-apa, kan?" sambar Melva, menengahi perdebatan yang tak kunjung usai.

__ADS_1


__ADS_2