
"Oke silahkan berbaring di brangkar dek, tengkurap ya! Karena suntikannya di bokong," pinta Bidan mengarahkan Dira.
Dira naik ke atas brangkar, ia tidur dengan tengkurap. Sang Bidan pun menyisihkan celana yang Dira pakai, diturunkan kebawah sedikit. Lalu menyuntikkan KB itu ke bokong Dira.
"Awww!" pekik Dira karena merasa seperti digigit semut, tetapi lumayan lebih sakit rasanya.
Bidan mencabut suntikan itu setelah semua cairan dalam suntik berpindah pada tubuh Dira.
"Sudah selesai ya. Bulan depan kesini lagi ditanggal yang sama." Bidan menaikkan celana Dira dan memperbolehkannya turun dari brangkar.
"Baiklah bu Bidan, terimakasih banyak," ucap Dira tersenyum ramah.
Rosma langsung melakukan pembayaran pada Bidan tersebut. Mereka kembali ke rumah setelah menyelesaikan satu persoalan.
Saat berjalan menuju rumah, Dira mengambil ponsel dari sakunya. Sialnya, satu notifikasi itu dari suaminya. Ia baca dengan teliti, Dira sangat takut kalau suaminya itu murka karena ia tidak memberikan kabar.
Setelah membacanya, Dira mencoba tetap tenang, membalas pesan itu dengan santai.
Dira
Di rumah mamak, bentar lagi aku pulang bang. Mau dibawain apa?
Dira sengaja mengirimkan pesan itu untuk mengecoh suaminya agar lupa kalau ia tidak memberi kabar dan meminta izin sebelum keberangkatannya.
"Mak, aku harus pulang. Kayanya bang Defan udah pulang. Bisa kena semprot aku kalau aku lama-lama di luar. Tadi juga aku nggak izin sama abang itu," tandas Dira ketika sudah sampai di depan rumah mereka.
Rosma mengangguk, menyetujui permintaan anaknya. Ia tahu anaknya tak bisa lagi berlama-lama di rumah mereka. Semua gerak-geriknya harus diketahui oleh suaminya.
"Udah pulanglah kau. Hati-hati ya!" ucap Rosma setelah supir ojek online tiba didepan rumah mereka.
Dira naik diboncengan belakang supir tersebut, melambaikan tangannya sembari menggulum senyum lebarnya.
"Kapan-kapan aku kesini lagi mak. Da... da..." Dira melambaikan tangan dengan semangat mengebu-gebu tapi ada rasa sedih dan haru juga setelah berpisah dengan ibunya. Biasanya ia selalu di rumah bersama mamaknya, kini harus berpisah karena mengikuti tempat tinggal suaminya.
*****
Sejak tiga puluh menit yang lalu, Defan terus menggerutu. Menunggu pesannya yang tak kunjung dibalas oleh Dira.
Setelah mandi dan berganti baju, ia melirik ponselnya tapi tidak ada notifikasi. Tidak seperti biasanya, Defan laki-laki yang cuek, dingin dan arogan, kini telah uring-uringan menunggu kabar dari istrinya.
__ADS_1
Kenapa aku jadi seperti ini? Apa aku udah mulai jatuh cinta pada istriku? Tapi ini baru satu minggu loh! Sadar Def Sadar!
Ia bergumam seorang diri, meratapi tingkahnya yang semakin aneh. Terlebih seperti ada rasa rindu yang mengerubungi hatinya kalau istrinya itu tidak ada di depan wajahnya.
Padahal jika Dira ada disisinya, bukannya malah berbaikan dan saling melempar perhatian. Tetapi malah mengajak berdebat terus dan berantam.
Ting
Suara notifikasi di ponsel Defan berbunyi, ia yang berbaring diatas ranjang bergerak cepat meraih ponsel yang ada di atas nakas. Benar saja dugaannya, satu pesan baru ia dapatkan dari istrinya. Setelah ia baca, dengan cepat Defan membalasnya.
Defan
Buruan pulang! Aku nggak perlu apa-apa!!!
Dira yang membaca pesan balasan Defan semakin tak berkutik. Tanda seru dalam pesan itu penuh penekanan, ia takut sekali akan dimarahi oleh suaminya.
Akhirnya, Dira tiba di rumah mertuanya. Rumah megah bergaya ala eropa itu sangat luas.
"Makasi ya bang," teriak Dira pada supir ojek onlinenya. Ia melangkah gontai memasuki rumahnya. Sudah jam 6 sore, meski langit-langit masih cerah.
Dira menyusuri setiap ruangan, melewati ruang tamu, di ruangan keluarga ia terhenti untuk menyapa mertuanya.
Ia meraih punggung tangan mertuanya lalu menciumnya dengan lembut.
"Udah pulang tadi suamimu itu. Di kamar kayanya dia." Melva kembali menonton tv yang ada dihadapannya.
"Inang daritadi disini terus? Nggak bosan nonton?" tanya Dira penasaran.
"Ada sinetron favoritku disini. Udah sanalah kau temui dulu suamimu." Melva melanjutkan nonton tvnya, sesekali ia tertawa melihat adegan yang ditayangkan.
Dira melangkah gontai, menaiki anak tangga dengan pelan. Ia mulai memikirkan kata-kata apa yang tepat sebagai alasan kepergiannya hari ini.
Baru sampai di depan pintu kamar, ia tak berani membuka pintu itu. Tubuhnya diam mematung di depan pintu kamar mereka.
Ceklek
Tiba-tiba pintu ditarik dari dalam, Dira tiba-tiba semakin kikuk dan galau. Suaminya itu sudah ada di depannya saat ini. Raut wajahnya penuh amarah, dingin, dan suasana pun seketika menegang.
"Sial!" cibir Dira dalam batinnya. Kedua mata mereka saling melekat beradu. Tatapan tajam suaminya membuatnya semakin bergidik ngeri.
__ADS_1
"Hehe abang, mau kemana?" lontar Dira membuka pembicaraan mereka sore ini.
"Kau darimana aja sih?" Defan menatap dingin istrinya, merasa kesal tidak dianggap sebagai suami karena tak ada kabar apapun.
"Kan tadi udah dibilang aku ke rumah mamakku!" ucap Dira berlalu melintasi tubuh pria dingin itu masuk ke dalam kamar mereka.
"Hey! Aku belum selesai bicara! Kenapa nggak ngabarin? Ada perlu apa kesana?" desak Defan dengan dingin mengekori istrinya dari belakang.
"Santai dong bang, biasa aja kali ngomongnya," sindir Dira mulai kepanasan dengan sikap suaminya.
Defan selalu saja mencari-cari masalah pada istrinya. Tapi kalau gadis kecil itu tak ada disisinya, ia kesepian dan menggerutu seorang diri menunggu kehadiran gadis itu.
Namun, setelah orangnya datang malah bersikap dingin dan semaunya. "Aku tanya ada perlu apa harus kesana?" cecar Defan duduk ditepian ranjang, melihat Dira yang sedang meletakkan barang bawaannya di atas meja.
"Aku rindu sama mamakku! Kenapa sih emang? Lagian aku sudah minta izin sama Inang kok," seloroh Dira yang berjalan menuju kamar mandi.
"Duduk sini dulu," titah Defan mulai merasa kesal dicuekin oleh istrinya.
"Ada apalagi sih," ucap Dira, dengan rasa malasnya ia duduk dihadapan suaminya.
"Kemarin inang sama amang kan baru datang kesini, masa sudah rindu." Defan semakin menekan Dira karena penasaran, tidak mungkin hanya sekedar rindu ia datang ke rumah mertuanya.
"Loh akukan anaknya, setiap hari biasanya aku lihat mamak. Tapi sekarang aku harus lihat muka abang yang judes! Gimana nggak rindu sama mamakku," kilah Dira merahasiakan tentang maksud kepergian sebenarnya untuk pemasangan KB.
Defan menatap sengit wajah cantik yang ada di hadapannya. "Sekarang ini kau bukan anak-anak lagi! Statusmu sudah jadi seorang istri! Mau kemanapun kau harus mendapatkan izinku dariku dulu," sahut Defan bernada dingin.
"Iyah!" lirih Dira seraya tertunduk.
"Maaf! Aku belum terbiasa," lanjut Dira lagi.
Mendengar kata maaf dari bibir mungil itu, hati Defan serasa luluh. Tapi ia tetap harus mempertahankan harga dirinya, tetap seolah bersikap dingin dan cuek.
"Sana mandi," usir Defan dengan sinisnya. Membuat Dira menggerutu seorang diri.
Dira berjalan gontai menuju kamar mandi. Kali ini, Dira tak lupa mengunci pintu kamar mandinya. Tak ada lagi alasan bagi Defan untuk masuk ke dalam kamar mandi itu.
"Ih dasar pria dingin! Nada bicaranya itu loh! Bikin aku kesal. Nggak bisa apa dia kalau nggak marah sehari aja! Nggak tenang kali hidupnya kalau nggak marah-marah." Dira menghentak-hentakkan kakinya lantaran rasa kesalnya menggebu-gebu.
*Jangan lupa bantu votenya yuk sayang! support aku banyak-banyak ya.. Klik like dan kasih komentarnya juga**🥹 *
__ADS_1
Terimakasih