Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
masa kecil kurang bahagia


__ADS_3

"Heh ... ngapain kalian di sini bertiga, malah melamun lagi," ucap Dira saat menatap ketiga temannya yang tengah duduk termenung, entah apa yang mereka pikirkan karena larut dalam pikiran masing-masing, Defan juga menatap datar ketiga orang itu.


"Iya, kok diam aja sih dari tadi!" sambung Defan, menatap penuh selidik.


"Abang, dari dalam juga?" Diki menunjuk ke arah pintu, dengan mata memicing. Sebab, tak menyangka Dira dan suaminya berani masuk ke dalam sana.


"Iya!" jawab Defan santai, lalu segera mengajak Dira pergi dari tempat itu.


"Ayo, Sayang!" titah Defan, lalu ia pun mulai melangkahkan kaki, berjalan tanpa menoleh lagi ke belakang.


Sementara, Defan sudah melangkah pergi tapi tidak dengan Dira. Ia masih menunggu ketiga temannya agar bergegas mengikutinya.


"Hei ... ayo, kalian nggak mau ikut rupanya? Mau di sini terus?" celetuk Dira, menyadarkan ketiga orang itu.


"Iya nih, kalian nggak mau ikut rupanya?" sergah Diki, dirinya juga mulai beranjak karena Dira mengajak mereka untuk pergi.


Sebelum melangkah, tiba-tiba Carol dan Jefri muncul dari balik pintu, menatap teman-temannya yang tampak kebingungan.


"Kau dari sini juga, Rol?" tanya Dira, mengernyitkan alis saat menatap wajah Carol yang masih tampak histeris, berbeda dengan wajah Jefri tampak biasa saja.


Alih-alih sibuk mengurus teman-temannya, Dira justru telah ditinggal oleh suaminya. Defan semakin menjauh karena terus berjalan tanpa memperdulikan Dira yang masih menunggu keputusan teman-temannya yang lain karena belum tersadar penuh.


"Iya, kami berdua penasaran, makanya nyobain wahana rumah hantu ini. Ternyata seseram itu, ihhh!" keluh Carol sembari berdecak ketakutan.


"Emang seram!" Shinta menimpali dengan kesal.


"Tapi kayaknya abang nggak takut, ya?" tanya Dira pada Jefri karena lelaki itu berekspresi datar.


"Enggak!" jawab Jefri singkat, sementara Carol hanya bergeleng-geleng.


"Udah, ayolah kita cabut dari sini! Ngapain coba di sini lama-lama, apalagi mereka bertiga ini, bukannya udah dari tadi kelen di sini!" ketus Dira, menanyakan kepada Diki dan kedua sahabatnya.


"Yaudah, ayo!" ajak Carol, mulai berjalan dengan gontai, yang lain pun ikut bergerak.


Ditengah kesibukan Dira bersama teman-temannya, akhirnya ada yang sadar kalau suami Dira tak bersama mereka.

__ADS_1


"Eh, bentar dulu, Bang Defan mana?" tanya Shinta, karena ia mencari jejak pria tampan itu tetapi tak terlihat dari tadi.


"Astaga, Bang Defan udah jauh kayaknya, mungkin dia jalan sendiri deh!" Dira langsung berlari, mencari keberadaan suaminya.


Sementara yang lain pun ikut mengekori dari belakang, berjalan dengan langkah yang lebar.


****


Di tempat gelap dan sunyi ...


"Yang, Sayang?" Defan mencari istrinya tapi saat menoleh ke belakang tidak ada seorangpun yang mengekorinya.


Lelaki itu, lalu kembali lagi ke belakang dan akhirnya bertemu dengan sang istri di tengah-tengah perjalanan.


"Kemana aja sih? Aku nyariin loh!" ujar Defan, dengan suara yang sedikit meninggi.


Entah mengapa, ia sudah merasa lelah akibat dari kejutan di dalam rumah hantu, rasanya Defan ingin sekali pulang dan merebahkan diri di atas ranjang.


"Abang, kok bentak-bentak sih!" keluh Dira berwajah sendu, tak menyangka suaminya bisa bersikap seperti itu.


"Aku juga minta maaf, soalnya tadi nungguin teman-teman. Abang, sih kenapa pergi duluan!" protes Dira, menekuk wajahnya sehingga menampilkan raut wajah yang cemberut.


"Oh ... yaudah, ayo kita pulang aja deh! Abang, sudah capek!" tutur Defan, mengusap wajahnya yang terasa lelah, ia ingin segera keluar dari pasar malam.


"Abang, kok buru-buru kali sih! Kita baru main beberapa wahana doang loh!" protes Dira, mendongak ke samping agar bisa menatap dalam suaminya.


"Emang mau main apa lagi?" Defan mengedarkan pandangan, menatap sekitar mencari teman-teman Dira yang juga belum muncul.


"Nggak tahu, sekalian kita lihat aja ada wahana apalagi. Abang kenapa celingak-celinguk?" hardik Dira, ikut-ikutan menoleh ke kanan dan kiri.


"Eh, kawan-kawanmu mana?" tanya Defan seraya mengedarkan pandangan.


"Masih di belakang kayaknya, kan tadi mereka baru jalan, sementara aku langsung lari-lari ngejar Abang karena tiba-tiba nggak kelihatan!" balas Dira.


Akhirnya, Dira dan suaminya memilih diam di sana, menunggu teman-temannya datang. Dan benar saja, berselang 5 menit, semua teman-teman Dira sudah berkumpul bersama mereka.

__ADS_1


Saat ini, mereka masih berkompromi untuk melanjutkan permainan di pasar malam. "Mau lanjut atau mau pulang?" tawar Dira, sebab dari tadi suaminya sudah berkeluh kesah, merengek meminta pulang bak seorang anak kecil.


"Mau pulang."


"Lanjut."


Dua jawaban berbeda dari teriakan teman-temannya membuat suasana semakin kikuk, Dira pun malah menjadi bingung lantaran teman-temannya yang menjawab dengan tidak kompak, ada yang ingin pulang dan ada yang ingin lanjut bermain di Pasar Malam.


Sedangkan Dira, masuk pada suara yang ingin lanjut bermain di pasar malam.


"Gimana, Bang?" tanya Dira pada suaminya, ia tak ingin membuat keputusan sendiri.


"Lanjut aja deh!" Malah Jefri yang menjawab pertanyaan Dira.


"Maksud aku nanya ke Bang Defan!" kelit Dira, dengan wajah memelas agar suaminya berubah pikiran.


"Abang, sih udah capek loh, soalnya nyoba beberapa wahana aja sudah makan banyak waktu!" keluh Defan, sembari menyugar rambut lantaran merasa frustasi tak bisa menolak permintaan sang istri secara terang-terangan.


Setelah berdebat panjang lebar, dengan terpaksa, akhirnya semua melanjutkan permainan, kali ini mereka bermain bersama-sama menaiki wahana yamg belum ditentukan.


"Main itu aja!" usul Jenny, menunjuk permainan komedi putar yang sudah terisi penuh oleh anak-anak dan beberapa orang dewasa.


Dira pun tampak antusias ingin menaiki wahana komedi putar, sebab dia belum pernah menaiki wahana itu seperti merasakan masa kecil kurang bahagia.


"Boleh juga tuh!" sahut Dira, dengan semangat menggebu.


Alhasil, Carol pun ikut menyambar. "Bolehlah kita coba sekali-kali."


Lain hal dengan para pria, dengan pasrah mereka menuruti keinginan perempuan meski dengan rasa malas. Ketiga pria itu hanya bisa pasrah. Lagi-lagi, Defan menjadi sasaran untuk membelikan tiket wahana itu karena dia tokoh utama malam ini, berjanji mentraktir segala permainan malam ini.


Permainan komedi putar yang dinaiki oleh pengunjung lain sudah berakhir, bertepatan saat Defan sudah kembali membawakan tiket untuk istri dan teman-teman yang lain.


Kini, giliran Dira bersama suami dan sahabatnya untuk naik ke atas kuda-kuda yang ada di dalam komedi putar tersebut. Defan akhirnya nenyerahkan semua tiket, hingga membuat istri dan teman-teman Dira berlari mengambil posisi pada kuda-kuda itu.


Mereka semua duduk dengan rapi sesuai dengan pasangan masing-masing. Carol dengan Jefri bersebelahan, Dira bersama suaminya, Jenny dan Shinta, sementara Diki dengan pengunjung lain yang tak dikenalnya.

__ADS_1


__ADS_2