Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
judi online


__ADS_3

"Astaga! Aku lupa nanya soal itu pula! Tapi yang pasti kita jadi berangkat kok, soal waktu keberangkatan nanti, ku tanyakan lagi, ya." Dira mengangguk-angguk seolah meminta maaf penuh keyakinan, padahal wajah mereka tak saling terlihat.


"Oh, yaudahlah. Jangan sampai lupa kau ya, lusa udah harus berangkat kita," tambah Jenny.


"Iya, Jen." Dira mematikan sambungan telepon itu.


******


Defan menggali lebih dalam mengenai kasus perjudian online. Terlalu banyak korban, akan sulit mendapatkan pengembalian uang.


Tok ... Tok ...


Suara ketukan pintu mentalihkan pandangan Defan dan Juni. Mereka berdua langsung menatap ke arah pintu.


"Siapa itu, Jun pagi-pagi gini?" kata Defan, mereka berdua saling tatap.


"Ehmm ... nggak tahu juga pak." Juni mengangkat kedua tangan menengadahkan ke atas serta bahunya pun ikut terangkat, pertanda ia memang tidak tahu.


"Buka sana!" titah Defan, kembali memfokuskan pandangan ke arah berkas di tangan.


Juni beranjak, menarik daun pintu kantor mereka. Seorang yang dikenali oleh Juni ternyata datang pagi-pagi.


"Pak, silahkan masuk. Pagi sekali datangnya?" tanya Juni saat berhadapan dengan tamu itu di ambang batas pintu.


"Iya, kebetulan saya juga ingin mengetahui lanjutan kasus yang kami berikan. Selama ini tidak ada kabar, Senin sidang pertama sudah digelar. Pas kali lah, kalian juga membutuhkan keterangan dari saya," ungkap tamu itu.


Juni berjalan masuk ke dalam, diekori tamu mereka. Ketua SKJO—Mariner, langsung menyapa pengacara yang belum pernah ia temui semenjak kasusnya di percayakan pada S.N.G Lawfirm.


"Pagi, pak!" Mariner mengulurkan tangan saat Defan berdiri menyambut kedatangannya.


"Pagi juga, pak!" sapa Defan, meraih tangan itu, lalu aling berjabat tangan.

__ADS_1


"Mari duduk." Defan mengantarkan ke sisi sofa, di mana tempat mereka untuk berbincang.


"Terima kasih." Mariner duduk dengan santai, mengedarkan pandangan, menatap kantor baru milik Defan.


"Baru pindah, ya, pak? Saat saya datang masih di lantai bawah. Belum di lantai teratas ini. Makanya tadi saya kesulitan mencari, untung ada satpam yang ngasih tahu kantor baru bapak di lantai teratas," timpal Mariner.


"Iya, pak, kemarin kami pindah ke sini. Maaf, ini pertama kali saya bertemu bapak. Dengan bapak siapa?" Defan bertanya dengan sopan.


"Saya, Mariner. Panggil saja saya, Riner." Pria itu tersenyum lebar.


"Siap, pak!" Defan mulai memberikan berkas perkara pada Mariner agar pria itu kembali melihat.


"Oh, saya yang membuat berkas itu pak. Jadi saya sudah hapal dengan semua isinya." Mariner terkekeh.


"Baiklah, yang mau saya tanyakan di sini. Apa bapak bersedia menjadi perwakilan saksi saat persidangan digelar?" ucap Defan, menatap ke arah Mariner.


"Tentu saja! Selama untuk kepentingan persidangan. Saya juga berharap agar pak pengacara bisa memenangkan kasus ini." Mariner lagi-lagi terkekeh, padahal menurut Defan tidak ada yang lucu.


"Nah, saya juga ingin bertanya, pak. Berapa total kerugian korban? Lalu, apakah korban dipaksa untuk join judi online berkedok investasi saham itu?" lontar Defan.


"Total kerugian kami, sekitar 1 triliun pak. Dari semua yang tergabung dalam SKJO. Memang kami tidak dipaksa tetapi ajakan dari selebgram dan influencer dengan iming-iming keuntungan yang besar, tentu siapa yang tidak tertarik?" Mariner kembali tertawa terbahak-bahak, membuat Defan menatap aneh pada pria itu.


"Saya mengerti pak, dari mana bapak mengenal selebgram ataupun influencer yang sengaja mengajak semua korban?" Defan mengambil catatan kecil, menulis semua yang dikatakan oleh Mariner dalam catatan itu.


"Mereka tergabung pada komunitas para pengusaha, pak. Semua member yang ikut itu adalah para pengusaha. Jadi, dari mulut ke mulut mereka mempromosikan. Ada pula yang mengajak melalui chat watsapp, print percakapan itu sudah saya lampirkan dan berikan ke bu Juni," terang Mariner secara jelas.


"Baiklah, pak. Sebenarnya, kita tidak bisa berharap banyak pada kasus ini. Saya hanya berusaha saja. Namun, keputusan nantinya berada ditangan Hakim. Sebab, bapak dan korban lainnya secara sadar ikut bergabung dalam investasi bodong tersebut," beber Defan to the point.


Mariner pun mengangguk patuh. Namun, ia sangat menyakini kemampuan Defan. Pria itu sangat terkenal dibidangnya sebagai pengacara handal.


"Saya mengerti, pak pengacara. Kami juga berusaha untuk meminta kembali hak kami. Satu-satunya cara adalah menggunakan bapak sebagai pengacara untuk mengawal kasus ini." Mariner lagi-lagi terkekeh saat pembahasan serius seperti itu.

__ADS_1


"Baiklah, pak. Terima kasih atas waktunya. Sampai jumpa, Senin pekan depan." Defan mengulurkan tangan, menjabat tangan pria itu.


Bahkan Mariner menghentakkan tangan mereka karena Mariner tipikal orang yang suka bercanda. Ia juga menepuk punggung tangan Defan sebagai bentuk perpisahan mereka, lalu melepaskan jabatan tangan itu.


"Kalau begitu, saya permisi dulu. Terima kasih sudah menerima kami." Mariner berlalu, keluar dari ruangan diantarkan oleh Juni hingga ke depan lift.


"Bu Juni, jangan lupa hadir pekan depan." Mariner mengerlingkan mata. Juni menyambut dengan senyuman, lalu mengangguki kepalanya.


Setelah mengantarkan klien mereka, Juni kembali lagi ke dalam ruangan. Tiba-tiba Defan pun menyambar, membicarakan gelagat aneh pria itu.


"Kau lihat nggak tadi, Jun? Kok ketawa aja kerja pak riner itu? Setiap bicara pasti dia ketawa." Defan menggaruk-garuk tengkuk yang tidak gatal, merasa aneh dengan sikap pria itu. Baru kali ini, ia menemui pria yang terlalu sering tertawa.


"Orangnya memang gitu, pak. Saya aja kaget pas pertama jumpa. Memang ketawa aja kerjanya, padahal nggak ada yang lucu," seloroh Juni, menirukan sikap Mariner ikut terkekeh dengan tawa lebar.


"Nah, kayak kau itulah tadi dia. Aneh kali, kan? Baru kali ini saya lihat ada orang seperti itu." Defan bergeleng-geleng karena merasa sangat aneh.


"Ya, itu tadi saya tirukan pak riner loh, pak! hehe ... makanya saya ketawa-tawa," singgung Juni.


******


Dira merasakan kesepian saat di rumah seorang diri. Berbagai hal ia lakukan, mulai dari tidur-tiduran, ke ruang keluarga untuk menonton tv, mencoba memasak tapi masakannya gagal, serta banyak hal lainnya.


Namun, ia tetap merasakan kebosanan yang luar biasa. Akhirnya, ia kembali lagi ke tempat tidur, Dira teringat pada liburan yang akan berlangsung dua hari lagi yang belum jelas bagaimana konsepnya.


Dira meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas, menelepon suaminya untuk menanyakan kabar serta mengingatkan tentang masa liburan mereka.


Entah mengapa, selama libur beberapa bulan ini, Dira mulai jenuh. Bahkan, ia ingin segera cepat-cepat memasuki masa kuliah, di mana ia bisa bertemu kembali dengan teman-teman sebayanya. Tak hanya itu, Dira juga menantikan teman baru selain ketiga sahabatnya.


"Halo, bang! Lagi ngapain?" sapa Dira melalui sambungan telepon yang sudah diangkat oleh Defan.


Perbincangan Defan dan Juni telah selesai sejak lima menit yang lalu, keduanya kembali bekerja di kursi masing-masing.

__ADS_1


"Halo, sayang, abang masih kerja," balas Defan bersandar pada kursi.


__ADS_2