
"Siapa yang goda abang," sindir Dira sembari mendorong tubuh Defan agar menjauh darinya.
Defan terhempas kembali ke ranjangnya, tapi ia mengangkat tubuhnya mendekati Dira yang belum bergerak dari tadi.
"Kan kau yang mulai menggoda dulu," tutur Defan seraya menampilkan senyum sinisnya.
"Engga bang bukan gitu maksud Dira. Aku cuma mau nyuruh bang Defan makan saja, karena daritadi kan abang belum makan," jawabnya polos dan kikuk tak berdaya dengan tingkah paribannya yang sangat dekat sekali jarak mereka berdua.
Defan yang baru terbangun dari tidurnya seperti pria lainnya. Burung perkututnya mengembang dan terasa gatal, tapi ia malu untuk menggaruknya didepan Dira sehingga membiarkannya begitu saja.
Beruntung Dira tak melihat kearah bawahnya. "Bang buruan makan," bisik Dira seolah-olah menggoda suaminya itu. Dira beranjak dari tempatnya, meninggalkan Defan.
Tapi tiba-tiba saja telapak tangan Defan ternyata sudah menggenggam tangan Dira begitu erat, menghentikan langkahnya yang mau bergerak menuju kamar mandi.
"Mau kemana?" tanya Defan dengan sinisnya seraya mencegah kepergian Dira.
"Mau mandi bang, udah sore," balas Dira dengan cepat agar Defan tak berbuat aneh-aneh padanya.
"Oh," ucap Defan seraya melepaskan genggaman tangannya. Namun tiba-tiba ponsel Defan berdering.
KRING KRING ADA SEPEDA- SEPEDAKU RODA TIGA
Bunyi dering ponsel aneh milik Defan membuat Dira tertawa setelah ia terperanjat dari genggaman Defan.
"Apa-apaan sih deringnya. Kayak anak-anak aja," sindir Dira dengan suara kerasnya agar didengar oleh suaminya.
"Apa tadi kau bilang," teriak Defan memastikan ucapan Dira yang terdengar samar-samar.
"Hehehe engga bang, Dira cuma bicara sendiri," kekehnya sambil berlari memasuki kamar mandi.
Defan mengambil ponselnya yang berada didalam kantongnya. Ia merasa kegelian karena getaran dering ponsel miliknya.
Sejenak ia melihat layar ponsel, tertera nama Dania disana. Ia bingung harus menjawabnya atau tidak, karena saat ini sedang bersama Dira walaupun Dira sedang ada didalam kamar mandi. Ia takut Dira akan mendiamkannya selama di Bali karena terus berhubungan dengan Dania.
Defan tahu kalau Dira sangat tidak menyukai Dania, apalagi saat mereka ketangkap basah tengah nonton berdua di dalam bioskop.
"Angkat tidak, angkat tidak," bimbangnya sambil menghitung jari jemarinya untuk keputusan yang ia buat.
Layar ponsel itu ia geser ke kanan, namun ia tidak meletakkan ponselnya ditelinganya.
"Halo, Halo!!" teriak Dania dari seberang teleponnya.
"Astaga aku lupa sudah mengangkatnya ternyata," gumam Defan yang tak sengaja menekan layar menerima telepon Dania karena sedaritadi masih bimbang.
"Iya ada apa Dan?" tanya Defan memastikan maksud Dania meneleponnya disaat honeymoonnya.
"Udah sampai kau Def?" balasan Dania tak sesuai keinginan Defan, kenapa tidak langsung to the point alasan apa yang membuatnya hingga meneleponnya.
"Sudah!" jawabnya singkat.
"Oh jadi kelen nginap dimana?" tanyanya basa-basi.
"Ya di Hotel, sudah dipesan oleh mamaku kemarin. Ada perlu apa?" ucapnya karena ingin sekali mengakhiri sambungan telepon tak penting ini agar tak didengar oleh Dira.
__ADS_1
"Oh, ini kau lagi dimana?"
"Astaga anak ini! Bukannya to the point malah basa-basi dari tadi," Defan semakin jengkel dengan pertanyaan Dania yang tidak penting.
"Kau ada perlu apa sih? Dari tadi malah nanya nggak jelas," kesalnya dengan nada setengah berteriak.
"Hehehe santai dong! Aku cuma mau tahu kabarmu. Masih hidup apa engga," canda Dania malah membuat Defan semakin kesal seraya dia terus menatap kearah kamar mandi, dia akan mengambil ancang-ancang siaga menutup telepon dari Dania jika Dira keluar sewaktu-waktu.
"Def, Def," panggil Dania karena tak mendengar suara Defan memastikan teleponnya masih tersambung.
"Iya kenapa. Udah nggak ada lagi yang mau kau bilang kan? Kututup ya!" tegas Defan sembari mematikan ponselnya secara sepihak dan melemparkan ponselnya diatas ranjangnya karena kesal pada sahabatnya itu.
Ceklek!
Suara tarikan pintu terdengar oleh Defan, beruntung ia sudah mematikan panggilan dari Dania.
****
"Si Defan ini kenapa sih! Belum juga orang beres ngomong udah dimatikan teleponnya," kata Dania bernada kesal.
Dania yang saat itu berada disamping CEO SNG Lawfirm ngedumel sendiri. Ia tak segan bertingkah seperti itu, karena menganggap Desman sudah seperti bapaknya sendiri karena sejak remaja sering berkunjung ke rumahnya.
"Kenapa kau Dan," tanya Desman yang melihat tingkah Dania menggerutu seorang diri.
"Ini loh amangboru, si Defan tadi ku telepon. Belum beres aku bicara udah dimatikannya," kesal Dania.
"Ah kaupun ada-ada aja. Ngapain pulak kau telepon dia. Orang dia lagi honeymoon sama istrinya," sindir Desman karena tak suka dengan sikap Dania yang mengganggu waktu anaknya dan menantunya.
Dania kira Desman akan membelanya, karena ia tahu sejak awal bapak Defan tidak menyukai Dira yang menjadi menantunya. Bahkan Desman sering menyinggung pada Defan agar lebih menjauhi Dira karena tak ingin memiliki menantu miskin.
"Amangboru udah nerima Dira jadi menantu ya sekarang?" tanyanya dengan tatapan tajam.
Desman malah membalas tatapan tajam Dania. "Bukannya amangboru nggak suka sama dia," lanjut Dania lagi.
"Ya mau kek mana lagi dibuat Dan. Sekarang dia sudah menjadi mantuku! Nggak mungkin lagi ku tolak. Udah itu keputusan boumu," ucapnya sambil membalikkan berkas yang ada didepannya.
"Iya juga sih amangboru. Hehe," canda garing Dania malah mendapat tatapan tajam dari Desman.
"Udah sana kau kerja, nah bawa berkas ini," usirnya sambil memberikan bekas yang ia pegang tadi untuk ditandatangani.
"Iya amangboru, aku pamit dulu mau kerja lagi," kata Dania sambil meninggalkan ruangan CEO SNG Lawfirm.
****
Defan menatap dengan tajam kehadiran Dira yang hanya menutupi tubuhnya dengan handuk putih polos milik hotel. Ia lupa membongkar bajunya dari dalam koper, Dira benar-benar tak ingat kalau bajunya belum diambil untuk dipakainya didalam kamar mandi.
"Sial! Dia natapku gitu kali. Kaya mau diterkamnya aku," batin Dira sembari ketakutan Defan menyentuhnya.
"Lupa kali aku bawa baju ke kamar mandi. Paok kali pun," umpatnya lagi dalam hati.
"Kok diam?" tanya Defan mengangkat satu alisnya dengan sinis, daritadi Dira tak kunjung bergerak dari depan pintu kamar mandi.
"Abang makan dulu sana. Aku mau pakai baju dulu," ketusnya dengan takut-takut berjalan mencari dimana koper berada.
__ADS_1
"Aku belum lapar," balasnya dingin menunggu Dira mengganti baju didepannya.
"Yaudah abang ke dapur dulu kek! Aku mau ganti baju," pintanya dengan nada kesal.
"Ngapain aku harus kesana! Kalau mau ganti baju ya disini saja, saya kan suamimu. Emangnya kenapa?" tanyanya dengan bahasa formalnya yang dingin membuat suasana semakin tegang.
"Ya aku malu bang," akunya dengan kepala tertunduk.
"Ngapain malu, aku udah lihat yang ada didalam itu," ledek Defan dengan senyum sinisnya.
"Ishhh! Susah kali abang ini dibilangin," gerutu Dira seraya menghentakkan kedua kakinya karena rasa kesal yang kian memuncak.
"Apa sih maksud dia? Mau lihat aku telanjang didepannya," batin Dira.
Defan pura-pura mengambil ponselnya, dan menggeser-geser layar ponsel miliknya. Ia memalingkan wajahnya dari posisi berdiri Dira saat ini.
Dira yang melirik seisi ruangan mencari koper mereka. "What the.... kenapa koper itu disamping dia sih!!!" keluh Dira semakin kesal melihat koper yang ada didekat Defan.
Handuk yang ia pakai menutupi tubuhnya cukup pendek. Handuk itu hanya menutupi badan hingga pahanya saja.
Jika ia berjongkok mengambil baju didalam koper, paribannya itu akan melihat area sensitifnya?
"Enggak! Enggak! Ini nggak bisa dibiarkan! Aku harus gimana. Dasar laki-laki tua bangka yang arogan," umpatnya lagi seraya mulai mendekati koper itu.
"Bang, tolong dorong koper yang didekat abang dong," pintanya pada Defan yang sibuk dengan ponselnya.
"Kau nggak lihat aku sibuk? Ambil sendirilah," balas Defan.
"Aishhhh," pekik Dira. Ia sangat tak suka dengan tingkah Defan yang dingin dan tak peduli dengannya.
"Bang please lah! Aku cuma pakai handuk ini. Nggak enak kalau aku harus berjongkok didekat abang," rengekan Dira lagi-lagi tak dihiraukan oleh Defan.
"Ini orang maunya apa sih! Sengaja ya dia!" lagi-lagi Dira bergumam seorang diri merutukki tingkah Defan yang membuatnya semakin kesal.
Defan malah menggerakkan tubuhnya membelakangi tubuh Dira tak perduli. Karena posisi Defan membelakanginya, Dira bergegas mendekati koper dan mendorongnya kearah kamar mandi.
"Ngapain dibawa ke kamar mandi! Kalau basah semua baju didalamnya gimana? Disitu bukan cuma baju kau, tapi bajuku juga," cibir Defan yang mencuri-curi pandang pergerakan Dira.
Dengan lesu Dira memberhentikan langkahnya. Setidaknya posisinya sekarang agak jauh dari posisi Defan. Dira membelakangi Defan, kemudian berjongkok. Buru-buru ia membuka kancing koper dan mencari bajunya.
Sialnya, baju Defan semua yang berada diatas, sedangkan bajunya ada dibawah baju Defan.
"Kenapa nyusunnya begini sih," keluh Dira tak habis pikir dengan cara penyusunan baju yang dilakukan oleh pelayan di rumah Defan.
Tiba-tiba Defan beranjak dari atas ranjang berjalan kearah Dira. Dira tak mengetahui kalau Defan berjalan pelan-pelan tanpa bersuara. Melintasi tubuh Dira perlahan.
"Hah kenapa dia tiba-tiba ada didepanku. Kok nggak ada suara langkah kaki," gumam Dira seraya berdiri dengan cepat agar tak kelihatan oleh Defan.
Tapi yang tak disangka malah terjadi, saat Dira berdiri handuknya terlepas. Ikatan yang dililitkan oleh Dira melonggar saat ia jongkok tadi. Baju tak dapat, tubuh mulusnya malah terperengkap didepan mata Defan.
GLEKKK!!
Defan menelan air liurnya memandang tubuh naked Dira yang ada dihadapannya. Pikiran kotornya mulai menguasai.
__ADS_1
*YUK JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, & JADIKAN NOVEL INI FAVORIT KALIAN YA**🥰*