
DISCLAIMER!
SEBELUM KAMU MEMBACA BAB INI! PASTIKAN USIA KAMU SUDAH 18+ YANG TIDAK SUKA ADEGAN RANJANG BISA LANGSUNG SKIP YAA!!!
Akhirnya mereka berhasil menyatu malam itu. Terasa begitu nikmat dan mengigit bagi Defan. Begitu juga dengan Dira, ia menikmati ritme goyangan suaminya yang lama-kelamaan terasa begitu nikmat dan menggairahkan.
Defan menggerakkan tubuhnya ke atas dan ke bawah, kala Dira menikmati kungkungan suaminya. Jantung mereka berdua berpacu dengan kencang mengikuti gerakan malam pertama sesungguhnya.
"Ahhhh ... ahhh ..." desah keduanya begitu menggelegar di dalam ruang kamar.
Beruntung hari ini mereka tidak menginap di rumah sang mertua. Jika di sana, bisa-bisa seisi rumah gempar mendengar ******* kedua pasangan suami istri yang telah memadu kasih dengan tak sadarkan diri.
Defan terus bergoyang seraya menciumi bibir istrinya dengan rakus. Kedua tubuh mereka sampai-sampai dialiri keringat yang begitu deras.
Penyatuan malam itu sangat berkesan bagi mereka berdua. Pasutri itu benar-benar masih polos dengan gaya hubungan intim yang sederhana tapi terasa begitu nikmat.
"Ahhhh ..." desah Defan setelah mencapai kenikmatan yang memuncak. Benih-benihnya mulai memuncar ke dalam rahim Dira. Terasa hangat dan basah.
Goyangan tubuh suaminya tak terhenti meski ia sudah merasakan kenikmatan sehingga Dira pun ikut mencapai puncak kenikmatan di area kepemilikannya. Tubuhnya bergetar hebat, buluk kuduknya pun berdesir meremang kala dirinya juga merasakan kenikmatan yang luar biasa diakhir permainan mereka berdua.
"Ahhh!" pekik Dira meremasss dengan kuat punggung pria itu lantaran puncak kenikmatan yang baru ia rasakan pertama kalinya. Punggung Defan bahkan sampai memerah.
"Huh!" teriak Defan lantang setelah ia berhasil menggagahi wanita itu.
Cup
Satu kecupan hangat dan singkat ia layangkan di bibir tipis milik Dira sembari tersenyum lebar setelah permainan berakhir. Malam pertama itu begitu sempurna bagi keduanya.
"Makasih sayang," ucap Defan tanpa ragu-ragu saat ia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang kala permainan mereka telah usai. Ia menatap lekat raut wajah Dira yang begitu memerah dan berantakan tapi terkesan memancarkan aura yang sangat cantik.
"Sama-sama suamiku," jawab Dira tanpa rasa malu. Penyatuan mereka mengikis jarak diantara keduanya. Cinta mereka semakin kuat, saling menyayangi, hingga tak ada lagi rasa malu untuk memanggil kata panggilan mereka masing-masing.
Defan masih tak percaya kalau ia sudah berhasil merenggut kegadisan istrinya. Ia tersenyum tipis melihat wanita yang sedang merasa kelelahan. Menarik dan menghembuskan nafasnya begitu cepat.
__ADS_1
"Andai kita melakukannya sejak dulu, pasti tak ada lagi rasa benci dan sungkan antara kita berdua," terang Defan saat mendekati tubuh istrinya, lalu mendekap dalam kehangatan. Ia menciumi pucuk kepala itu dengan gemas.
"Tapi kan, saat itu aku belum dewasa, bang. Kalau sekarang, aku sudah mengerti dan umurku juga sudah pas untuk melakukan itu," sahut Dira menengadahkan kepalanya, menatap pria itu penuh haru.
"Iya, sayang ... terimakasih sudah mau menjadi istriku," balas Defan dengan tatapan bahagia.
"Iya bang, terimakasih juga sudah mau sabar dan menunggu selama menjadi suamiku!" tandas Dira mengerling.
"Kau ini, jangan lagi-lagi menggoda nakal begitu! Mau ronde kedua?" goda Defan mencubit gemas hidung istrinya.
"Jangan, bang! Lihat tuh masih perih! Sakit kali tahu di bawah! Abang sih enak-enak aja, lah aku yang merasakan kesakitannya serasa robek punyaku," hardik Dira bernada kesal.
"Iya-iya. Tapi kalau kepengen lagi boleh kan?" tanya Defan mengeratkan dekapannya. Kepalanya menunduk ke arah wajah Dira yang masih memerah.
"Lihat nanti deh! Aku mau bersih-bersih dulu. Lengket rasanya," keluh Dira mengendurkan pelukan suaminya.
"Aaahh ... ikut!!!" decit Defan manja.
"Ih, apaan sih." Dira menatap wajah Defan dengan sebal.
Tak ada lagi alasan Dira untuk menolak, tubuh mereka berdua sudah beradu tanpa satu helaian benang. Apa salahnya untuk mencoba mandi bersama di malam yang indah ini?
Dira akhirnya mengangguk pasrah, pria itu langsung menghampiri lalu memeluknya dari belakang. Mangalungkan tangan di lingkaran pinggang sang istri. Menghangatkan begitu mesra dari kulit tembus ke kulit lainnya. Mereka berdua berjalan gontai menuju kamar seraya berpelukan.
Defan bahkan sudah merasa candu pada tubuh istrinya. Ia seakan-akan tak mau lepas dan menjauh dari tubuh ramping itu.
Mereka berdua asik bermain dibawah pancuran shower yang mengaliri air hangat. Dira memercikkan air ke wajah suaminya, Defan pun membalasnya.
Keduanya bergegas mandi, membersihkan diri. Saling menggosok punggung. Setelah selesai mandi, entah mengapa perut mereka terasa sangat lapar.
"Abang, aku lapar!" cetus Dira saat duduk ditepian ranjang memakai bathrobe berwarna putih, rambutnya masih basah digulung dengan handuk kecil.
"Sama! Abang juga kerasa lapar kali. Mau cari makan di luar atau masak mie instant?" tawar Defan seraya memakai kembali piyamanya.
__ADS_1
"Makan di luar enak kayaknya, bang?" Dira pun mencoba berdiri. Saat ia mulai beranjak, rasa sakit di area pangkal paha dan kewanitaannya juga terasa begitu perih.
"Aaaa!" pekik Dira membuat Defan semakin khawatir langsung menghampirinya.
"Kenapa sayang?" Defan meraba area kaki sang istri, mencari area sakit yang dikeluhkan wanita itu.
"Bang, kayanya kita masak mie instant aja deh! Aku lupa kalau di bawah sini masih sakit," bisik Dira di telinga pria yang tengah khawatir itu.
"Ohhh ... abang, kira sudah nggak sakit. Maaf, ya, kau jdi merasakan sakit itu. Yaudah, kalau gitu, abang aja yang masakin," imbuh Defan menatap lekat Dira.
"Iya, kalau gitu, aku pakai baju dulu. Masak yang enak, ya, suamiku!" pinta Dira dengan nada manja.
Defan langsung melayangkan satu kecupan di dahi istrinya.
Cup
Kemudian, ia segera berlalu ke luar kamar menuju dapur. Mengambil dua mie instant kuah untuk direbus. Ia siapkan panaskan panci yang berisi air. Memasukkan telor ketika air telah mendidih, disusul dengan dua mie instant yang telah dipisahkan dari bungkusnya.
Sedangkan Dira, di dalam kamar ia langsung memakai piyama yang sama dengan sang suami. Sambil berjalan pontang-panting, ia menuju meja rias, mengeringkan rambut basah dengan hairdryer di sana.
"Dir, ayo, makan," teriak Defan setelah menyajikan dua mangkok mie instant di meja makan.
Dira pun berjalan tertatih-tatih, mendekati suaminya yang sudah menyiapkan makan malam mereka.
"Makasih sayang," tutur Dira sembari melayangkan kecupan di bibir pria yang sedang duduk manis di kursi.
Defan pun tersenyum-senyum melihat godaan yang terus-menerus diberikan Dira. Kebahagiannya tak terkira, baru kali ini ia merasakan kasih sayang yang luar biasa dari sang istri.
Mereka berdua menyantap makan malam tanpa bersuara sedikitpun. Hanya ada suara seruputan mie dan kuah, begitu juga dengan suara dentingan sendok dan mangkok yang beradu.
Setelah melewati makan malam keduanya duduk di ruang keluarga sambil menikmati tontonan tv yang menyala. Tapi, bukan Dira dan Defan yang menonton tv itu. Melainkan, tv itulah yang sedang menonton adegan Dira dan Defan sibuk sedang saling mencumbu.
Bibir mereka beradu, melum*at terus-menerus, saling menjelajahi rongga mulut dan bertukar shaliva.
__ADS_1
Setelah pagutan bibir mereka terlepas, Defan merebahkan diri di sofa. Kepalanya berada ditumpuan paha sang istri. Berlanjut saling bertatap-tatapan, pemandangan yang sangat meneduhkan membuat keduanya semakin candu.