Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
sat-set


__ADS_3

"Kau tenang saja, nggak bakal ada orang yang lewat ke sini karena tempat ini sangat sunyi dan tidak ada pintu keluar dari belakang kampus."


Maudy kembali melumatt bibir Angga lebih dalam lagi. Pria itu pun tak menolak, malah semakin larut menikmati sentuhan tiap sentuhan yang dilayangkan oleh dosennya.


Tak lama, ponsel Angga pun bergetar sehingga ia harus menyudahi cumbuan dosen cantik itu.


Drrt ....drt ...


"Tunggu sebentar, Bu. Temanku menghubungiku, mungkin ada sesuatu yang penting." Angga melerai tubuhnya yang menempel dengan tubuh Maudy, memberi jarak diantara mereka.


Angga berpamitan dengan dosennya lantaran harus segera mengejar penuntasan tugas kelompok yang menurutnya lebih penting dari sekedar cumbuan yang dilakukannya bersama Maudy.


Sebab, tugas ini cukup penting karena dosen yang memberikannya termasuk salah satu dosen killer yang paling ditakuti.


"Bu, aku sepertinya harus pergi dulu karena teman-temanku meminta untuk mengerjakan tugas kelompok."


"Hah ... bukannya jadwal kuliahmu hari ini sudah kosong?" kilah Maudy.


Rupanya Maudy sudah memeriksa jadwal kuliah di kelas kedokteran sehingga dia mengetahui apa saja jadwal yang akan dilakukan oleh pacarnya. Sehingga Maudy pun tak akan pernah merasa dibohongi dengan jadwal kuliahnya.


"Iya, memang jadwal kuliahku sudah kosong, Bu tapi karena ada tugas kelompok, dalam 2 hari lagi tugas itu akan dikumpulkan. Kalau tidak, aku juga tidak akan mendapatkan nilai," ungkap Angga.


"Sial!" umpat dosen Maudy dengan lirih.


"Yaudah, Bu aku pamit dulu," kata Angga, bergegas membenahi dirinya.


"Jangan lupa nanti kau datang ke rumahku. Alamatnya akan aku kirimkan melalui pesan," terang Maudy.


"Apa perlu aku harus ke rumah Ibu juga?" Angga merasakan kalau dosennya itu sangat aneh.


"Ya, iyalah. Status kita kini sudah berubah menjadi sepasang kekasih yang berpacaran. Apa salah seorang pacar berkunjung ke rumah pacarnya?" desak Maudy.


"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu," pamit Angga.


Angga segera berlari menuju taman kampus, ia tak ingin ketinggalan mengerjakan tugas kelompok.


Disisi lain, Dira dan Jenny sudah sibuk mencari bahan-bahan untuk dijadikan satu makalah tentang organ tubuh. Penjelasan organ tubuh yang akan disatukan dalam jilid makalah sesuai tugas yang diarahkan.


"Kok lama kali si Angga? Niat nggak sih dia mau ngerjain tugas ini?" gerutu Jenny, mengedarkan pandangan mencari teman satu kelompoknya.


"Sabar aja, mungkin dia ada perlu, bentar lagi pasti datang. Kan sudah dipastikan tadi melalui telepon," jawab Dira untuk menenangkan Jenny.


Kedua wanita itu asik mencari bahan di laptop masing-masing. Untung saja, karena memang sudah janjian untuk menyelesaikan tugas kelompok sehingga mereka membawa laptop dari rumah untuk mempercepat bahan makalah itu.


"Sorry, we! Agak lama soalnya tadi aku ada perlu dulu. Jadi apa nih yang harus aku bantu?" celetuk Angga, menatap penuh selidik kedua perempuan yang sibuk menatap laptop.

__ADS_1


"Kau cari organ bagian dalam, sementara si Jenny organ bagian luar dan aku sisanya membuat kata pengantar dan lain-lain," kata Dira memberikan arahan.


******


Tok ... tok ...


"Selamat siang," sapa Juni, setelah membuka daun pintu yang tertutup rapat, melihat tamu yang datang.


"Siang, apa betul ini ruangan Pak Defan, pengacara yang terkenal itu?" tanya seorang pria yang berdiri di ambang pintu.


"Ya, benar sekali, ada perlu apa, Pak? Silahkan masuk dulu," tutur Juni, mempersilahkan tamunya untuk masuk.


Sedangkan Defan langsung menoleh ke arah tamu yang baru saja memasuki ruangan kerjanya.


"Pak Defan?" tanya pria itu, menunjuk ke arah tubuh Defan.


Ia pun lekas mengulurkan tangan untuk saling berjabatan. Defan juga langsung beranjak dari kursi, ia menghampiri tamu dengan wajah yang kusut itu.


Tak berselang lama, Defan mengulurkan tangan, keduanya saling berjabatan. "Silahkan duduk, Pak!" titah Defan, setelah keduanya selesai berjabatan.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya lagi.


"Saya ada persoalan kasus yang harus Bapak tangani. Saya ingin menyewa Bapak sebagai pengacara saya," tandas pria itu.


Pria itu mengulurkan tangan, memberikan sebuah berkas untuk Defan.


"Sepertinya kasus ini cukup sulit," papar Defan sembari menghela nafas.


"Bagaimana, apa Bapak bisa menanganinya? Atau bapak sedang memegang banyak kasus?" cecar pria itu.


"Kalau kasus yang saya tangani sih memang selalu banyak, Pak tapi kalau untuk tambahan kasus ini, saya harus memikirkannya dengan matang," beber Defan.


"Baiklah, kalau begitu kabari saya kalau bapak menerima kasus ini." Pria itu memberikan sebuah kartu nama, lalu berpamitan untuk pergi dari ruangan Defan.


"Terima kasih sudah datang ke sini, Pak!" Defan tersenyum pada pria itu.


****


Carol tampak frustasi mengerjakan seluruh penjelasan dosen pada program kuliahnya. Bahkan, ia merasa kesulitan untuk mengikuti pembelajaran tersebut.


Namun, sebuah pesan menyita perhatiannya. Carol pun mengintip ponsel secara perlahan, meski dosen tengah fokus menerangkan pembelajaran itu.


Pesan dari Jefri ternyata baru saja masuk ke dalam ponselnya, ia membaca pesan itu.


nomor tidak dikenal (08xxx)

__ADS_1


Apakah kita bisa bertemu nanti setelah selesai jadwal kuliahmu?


Carol mengurutkan kening lantaran merasa curiga, mengapa Jefri bisa memiliki nomor ponselnya. Selama ini, ia tidak pernah bertukar nomor ponsel dengan pria yang mengaguminya itu.


Pandangan carol tak lagi menatap dosen yang ada di depan, karena matanya hanya menyorot sebuah pesan yang membuatnya semakin penasaran. Ingin sekali ia membalas pesan dari pria itu.


"Ck!" decak Carol karena plin-plan apakah harus membalas atau tidak.


Akhirnya, tanpa ragu-ragu, Carol membalas pesan Jefri. Awalnya, Carol konsisten menolak ajakan pria itu.


Carol


Maaf aku tidak bisa karena harus langsung pulang ke rumah.


Tak berselang lama sebuah balasan pesan pun kembali masuk memenuhi notifikasi di ponsel Carol.


Nomor tidak dikenal (08xxxx)


Tolonglah aku merindukanmu.


Kata-kata itu menyerang pikiran Carol, sebenarnya ia semakin merasa penasaran kepada pria itu lantaran tak kunjung menyerah meski sudah ditolak berkali-kali.


Carol


Baiklah aku akan bertemu denganmu tapi waktunya hanya 10 menit saja, di mana kita bertemu?


Carol dan Jefri saling berbalas pesan.


Nomor tidak dikenal (08xxx)


Oke, kita bertemu di depan kampus saja!


Carol


Baiklah jam 2 siang aku akan menunggumu di depan halaman kampus.


****


Di kantin kampus, Jefri tampak sumringah sebab ajakannya sudah diterima oleh perempuan itu. Hari ini, Jefri berniat untuk mengajak Carol berpacaran. Ia sudah menyiapkan rencana tanpa menunggu waktu yang lama.


"Pokoknya aku harus sat-set, siapa tahu keberuntungan berpihak padaku, aku harus segera menembaknya," ujar Jefri bergumam seorang diri.


****


Carol pun kembali menatap dosen dan memperhatikan tugas kuliah. Sebab, pelajaran itu harus ia kuasai untuk kuis pekan depan.

__ADS_1


__ADS_2