Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
pisah


__ADS_3

Pagi ini, Dira bangun tepat waktu. Jam 5 pagi sudah terbangun setelah mendengar suara alarm yang begitu memekakkan telinganya.


Di atas ranjang, ada Defan yang masih tertidur pulas. Dira bergegas mandi, ia mengecek kembali buku-buku pelajaran yang akan dibawa agar tak ada yang ketinggalan.


Tak lupa Dira juga membawa oleh-oleh untuk sahabatnya yang kemarin ketinggalan karena terlambat bangun.


Pagi ini, semua oleh-oleh sudah lengkap ia masukkan ke dalam totebag. Sekitar jam 6 pagi Dira juga sudah siap berpakaian seragam sekolah, seragam putih dengan rok span abu-abu.


"Bang bangun!" ucap Dira menggoyangkan tubuh suaminya setelah berdandan rapi, memoles wajahnya dengan make up tipis dan liptint natural. Defan masih belum juga bangun setelah panggilan pertama.


"Bang! Bangun!" teriak Dira dengan santainya.


"Iya! Kenapa sih?" sahut Defan merasa terganggu.


"Udah jam 6 loh! Emang nggak kerja?" Dira baru kali ini membangunkan suaminya. Hampir dua minggu mereka bersama, akhirnya Dira tersadar tanggungjawabnya sebagai seorang istri.


"Tumben," sindir Defan mulai membuka matanya perlahan.


Dira hanya berlalu tanpa menjawab pertanyaan suaminya. Yang terpenting tugasnya sudah selesai untuk membangunkan pria itu. Dira membawa tas gendong barunya serta totebag berisi hadiah untuk teman-temannya.


Ia meletakkan barang bawaannya di ruang keluarga, tak jauh dari letak meja makan. Padahal baru jam 6 pagi, tetapi meja sudah penuh terisi menu sarapan mereka.


Dengan rasa penasarannya, Dira mendekati salah satu pembantu yang sedang asik memasak di dapur. Sebenarnya ia ingin mencari tahu apa saja peraturan di rumah ini.


"Mbak, aku boleh tanya-tanya nggak?" ujar Dira menatap pembantu yang terlihat masih muda itu.


"Boleh non. Nanya apa ya?" sahut pembantu itu.


"Nama mbak siapa? Hehe! Kenalan dulu dong sebelum tanya-tanya," kekeh Dira seraya mengulurkan tangannya.


"Santai aja non. Saya Nena," balas pembantu itu sembari memperhatikan masakannya, lalu meraih uluran tangan Dira dengan lembut.


"Kalau mbak udah kenal aku siapa kan? hehe," timpal Dira terkekeh dengan malu-malu.

__ADS_1


"Sudah dong non. Istrinya tuan Defan! Masa saya nggak tahu, bisa dihukum sama nyonya," kilah wanita itu.


"Mbak, aku mau nanya nih. Sebenarnya disini mulai sarapan jam berapa?" lontar Dira memulai penyelidikannya sebagai menantu baru di keluarga suaminya.


"Oh itu. Sebentar lagi mulai kok non. Jam enam lewat 10 menit semua harus sudah duduk di meja makan," ungkap Nena tanpa mengalihkan pandangannya.


"Oh begitu, kalau di meja makan apa saja aturannya mbak?" tambah Dira semakin penasaran.


"Kalau sudah duduk disana ya makan non kaya biasanya. Cuma nggak boleh ada yang ngobrol. Gitu aja kok," tutur Nena sesekali menatap manik mata indah milik Dira.


"Terus kebiasaan mereka apalagi mbak?" Dira memerhatikan jamnya. Ternyata sudah lewat lima menit, tapi belum ada satupun yang datang ke meja makan.


"Enggak ada lagi non. Pokoknya aturan selama di meja makan datangnya tepat waktu sama tidak boleh bicara saat makan disana." Nena mengantarkan makanan yang baru saja matang, ia meletakkannya di atas meja makan.


"Mbak Nen, makasih ya," balas Dira mengerling, membuat Nena tersenyum karena merasa mulai akrab dengan istri tuannya.


Dira kemudian duduk santai di kursi makannya. Menunggu yang lain datang. Sedangkan Defan baru saja kelihatan batang hidungnya, ia menuruni anak tangga dengan santainya.


"Kok udah disitu Dir?" sambar Defan melihat sosok istrinya yang bersantai menunggu kedatangan yang lainnya.


"Biar nggak kena semprot kaya kemarin! Harus tepat waktu duduk disini," imbuh Dira seraya menyengir kuda. Pagi-pagi Defan bahkan sudah silau dengan deretan gigi putih istrinya.


"Ceria amat pagi-pagi," sindir Defan mengalihkan pembicaraannya.


"Ya biar nggak murung terus lah bang," tukas Dira sangat antusias.


Defan menarik kursinya, duduk di sebelah Dira. Setelah kedatangannya, kedua mertuanya pun hadir. Tak lama kemudian, kedua iparnya juga datang ke meja makan.


Semua memulai sarapan paginya. Niar dan Anggi hanya memakan roti coklat, kedua mertuanya sedang asik menikmati bubur ayam. Sementara Defan memakan roti stroberi dan Dira memakan nasi gurih khas medan.


Semua makanan itu sudah disiapkan oleh pembantu di rumah Defan. Yang lain hanya menikmati saja. Jika sedang rajin, terkadang Melva yang memasak. Tapi kalau untuk sarapan, mertuanya itu malas turun tangan.


Sebab, pagi-pagi ia lebih ingin bersantai. Melva lebih memilih memasak sendiri jika ada jamuan untuk tamu dan sanak keluarganya yang datang.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan sarapan paginya. Satu-persatu mulai meninggalkan meja makan. Niar dan Anggi pamit pada kedua orangtuanya. Niar mengantarkan Anggi ke sekolahnya karena searah dengan jalur kampusnya.


Kemudian Defan dan Dira juga berpamitan pada orang tuanya. Mereka menjabat tangan serta menciumnya dengan santun.


"Def, jangan lupa kau mampir cek kondominium itu ya. Pastikan semua barang sudah tertata." Desman mengingatkan anaknya agar tidak ada yang terlewatkan.


"Iya pak," jawab Defan lugas.


"Udah kau bawa kuncinya kan?" cetus Desman menatap penuh selidik.


"Oh iya, hampir lupa aku. Bentar ku ambil dulu." Defan bergegas ke dalam kamarnya, menaiki anak tangga dengan setengah berlari. Mengambil kunci yang ia simpan di laci nakas saat tadi malam.


"Pak, nanti ku cek setelah aku pulang dari rumah korban. Ada bukti yang tertinggal jadi harus ku dapatkan lagi," seloroh Defan setelah kembali ke meja dapur membawa kunci rumah untuk tempat tinggalnya bersama sang istri.


"Atur ajalah!" Desman kemudian berjalan diekori oleh Melva, Defan serta Dira.


Desman masuk ke dalam mobil, disupiri langsung oleh supir pribadinya. Sementara Defan dan Dira masuk ke mobil audi yang terparkir di garasi. Mobil itu milik Defan, ia beli dari hasil keringatnya sendiri setelah berkali-kali memenangkan kasus sidangnya.


"Bang, kenapa sih abang berangkatnya misah-misah? Bukannya satu kantor sama amang?" celetuk Dira dengan polosnya.


"Ya harus dong. Aku juga ada kegiatan sendiri, belum tentu aku langsung ke kantor. Kalau bapakku langsung ke kantornya dia. Nggak pakai mampir-mampir. Kalau aku kaya sekarang kan harus ngantar kau ke sekolah," ungkap Defan panjang lebar.


Dira hanya mengangguk patuh mendengar jawaban suaminya.


"Dah kau pakai tasmu ya! Gimana bagus nggak?" Defan fokus pada stir mobilnya, sesekali ia melirik wajah cantik di sampingnya.


"Bagus kali bang!" jawab Dira kegirangan.


"Oh ya Dir, nanti kita cek kondominiumnya sama-sama ya. Kau pulang sekolah jam berapa?" sambung Defan.


"Jam dua mungkin. Biasanya sih jam dua. Kalau nggak ada kegiatan lain ya. Emang mau berangkat jam berapa bang?" kata Dira menatap lekat pria yang tengah fokus pada jalanan didepannya.


"Belum tahu sih, aku masih ada kerjaan dulu. Nanti aku kabarilah. Mungkin ya sekitar jam 2an. Atau lebih. Tergantung selesai jadwalku," ceritanya.

__ADS_1


"Yaudah abang kabarin saja nanti ya! Emang kita benar mau pindah? Ehm.. Maksudku, abang udah siap pisah sama inang?" cecar Dira tak mengalihkan pandangannya sama sekali. Ia terus menatap lekat suaminya yang penuh pesona.


__ADS_2