
"Mampuslah aku!" gumam Defan menatap sengit layar kameranya.
Seketika yang ada dipikirannya adalah Dania. Orang yang ia suruh untuk merekam kejadian itu. Defan melangkah lebar menuju keluar ruangannya.
Menarik daun pintu yang ada di depannya, membantingnya dengan keras untuk meluapkan kekesalan dan rasa gusarnya.
Wajahnya penuh amarah. Tentunya marah pada sahabatnya yang dianggap lalai, tidak mengecek kembali videonya telah tersimpan atau tidak.
"Dan!" teriak Defan seraya berjalan cepat mencari sosok wanita itu.
Sementara Dania yang mendengar panggilan Defan tersenyum lebar. Senyum penuh kemenangan tersimpul di sudut bibirnya. Ia mengira Defan mencarinya untuk hal lain.
"Yah baru ketemu tadi kayanya dia udah kangen," gumam Dania menggulum senyum lebarnya.
"Dania!" teriak Defan dengan sangat kencang, membuat semua orang yang berada di dalam kantor itu menoleh ke arahnya.
Dania akhirnya menghampiri Defan yang ternyata sudah berada di depan ruangannya. "Kenapa Def?" balas Dania berwajah serius karena melihat raut wajah Defan sangat murka.
"Mana video yang kau rekam kemarin?" Defan menyodorkan kamera mirrorless miliknya kehadapan Dania dengan kesal.
"Ada disitu kok! Udah kau lihat kan?" tanyanya penuh bingung karena sikap Defan penuh amarah.
"Lihat apanya! Aku buka semua file, tapi video itu nggak ada! Dimana kau simpan?" cecar Defan ketus.
"Mana sini!" Dania mengambil kamera itu, membuka filenya satu-persatu. Betapa terkejutnya ia, tak ada satupun video yang kemarin direkam bahkan terakhir sudah diceknya tersimpan dengan aman.
"Kok nggak ada sih!" keluh Dania tertunduk lesu. Membolak-balikkan layar kameranya. Tapi tak kunjung ditemukan file yang mereka cari.
"Masa iya hilang?" tanya Dani dengan nada bergetar karena ketakutan pada sahabatnya. Kalau soal pekerjaan, tak dipungkiri lagi kalau Defan tidak akan segan untuk bersikap kejam.
"Kau gimana sih! Kan sudah kusuruh kalau harus simpan file itu baik-baik! Waktunya sudah sebentar lagi," bentak Defan tak peduli siapa wanita yang sekarang ada dihadapannya.
"Maaf!" lirihnya pelan, kepala Dania masih tertunduk lesu. Ingin sekali ia mengulang momen saat perekaman kemarin.
"Kalau begini gimana mengatasinya?" sesal Dania.
"Nggak tahulah aku! Kau urus itu! Momen seperti itu tidak akan terulang." Defan mendelik kesal pada sahabatnya, ia bergegas meninggalkan Dania seraya merampas kamera yang ada ditangan perempuan itu.
Dania masih berdiri mematung di depan ruangannya. Semua orang menatapnya dengan tajam. Seolah mencibir-cibirnya dari belakang.
Bahkan orang-orang disana sontak terkejut melihat amukan Defan yang begitu kejamnya. Bagaimana mungkin Dania mendapatkan perlakuan seperti itu? Yang mereka tahu Dania adalah sahabat karibnya Defan, orang yang digadang-gadang sebagai penerus perusahaan SNG Lawfirm. Selain itu. Dania juga kerap terlihat sangat akrab dengan CEO mereka saat ini.
__ADS_1
Huhhh
Dania mengeluarkan nafas kasarnya dengan kesal. Memalingkan wajahnya pada orang-orang yang tengah menatapnya dengan tatapan tajam.
Ia langsung masuk ke dalam ruangannya. Berjalan seraya menghentak-hentakkan kakinya karena merasa jengkel.
"Kenapa sih si Defan kalau marah nggak lihat-lihat situasi. Nggak lihat apa orang-orang disana ramai sekali! Bikin aku malu saja," dengus Dania kesal.
*****
Dira sudah pulang ke rumah sejak dua jam lalu. Kini ia bersantai mendengarkan musik melalui earphonenya. Ia melirik jam ditangannya, sudah pukul 4 sore rupanya. Satu jam lagi, suaminya akan pulang ke rumah.
"Hmmm bingung mau ngapain lagi," gumam Dira setelah pulang sekolah hanya berbaring malas diatas ranjangnya.
Bola matanya berputar, menatap rak buku besar yang ada di sisi kamar milik suaminya. Rak buku besar dan tinggi, bahkan untuk mengambil buku teratas harus menggunakan tangga yang tersedia dipojokan rak buku.
Ia mencari-cari buku sesuai minatnya. Karena merasa bosan daritadi mendengarkan musik sehingga beralih untuk mencoba membaca buku yang ada disana.
Tetapi baru saja beranjak dari ranjangnya, ia teringat akan janji pada mamaknya kemarin.
Ponsel yang ia genggam langsung mencari kontak telepon milik keluarganya.
Tuuuutt.... Tutttt....
"Halo," sapa seseorang dari ujung teleponnya, yang tak lain adalah mamaknya sendiri.
"Kok nggak kesini kau boru?" sambungnya lagi.
"Mak, lupa aku tadi setelah pulang sekolah kesana. Aku udah di rumah mertuaku. Kayanya nggak jadi kita ke bidan atau rumah sakit mak," balas Dira melalui sambungan teleponnya.
"Kenapa boru?" cecar Rosma.
"Bang Defan janji nggak mau itu dulu, tunggu aku sampai lulus mak," sahut Dira polos.
"Astaga boru! Itukan hanya ucapannya aja. Kita nggak tahu kedepannya. Lebih baik mencegah boru," ucap Rosma bijak, hal itu ia ucapkan demi kebaikan putri semata wayangnya.
"Tapi kata abang Defan juga itu nggak perlu mak. Dira udah kasih kepercayaan sama dia," lanjut Dira.
"Jangan gitu boru, kalau kau nggak sengaja di sentuhnya bagaimana? Apa kau mau tidak lulus dari sekolahmu itu? Dia sentuh kapanpun sah saja boru, karena kau sudah resmi jadi istrinya," berang Rosma membuat pikiran Dira semakin kalut dan berubah-ubah.
"Udah sinilah kau datang. Ke tempat bidan di dekat sini aja," ajak Rosma bernada lembut agar anaknya itu menyetujui ajakannya.
__ADS_1
"Malas kali aku loh mak! Aku masih kecil aja udah disuruh-suruh KB," sesal Dira.
"Ini semua demi kebaikanmu boru! Tapi kalau kau tidak mau, ya terserahmu saja!" timpal Rosma.
"Yaudahlah mak, bentar lagi aku kesana." Dira menutup sambungan teleponnya dengan kesal. Sebenarnya ia belum siap untuk program KB, terlebih setelah mencari tentang KB itu akan berpengaruh pada hormonnya.
Dengan terpaksa Dira bersiap-siap. Mengganti bajunya yang kasual untuk menemui mamaknya.
Satu pasang baju kasual ia ambil dari lemari, baju yang cukup santai namun tidak terlalu terbuka.
Ia berjalan gontai menuruni anak tangga, di ruang keluarga ada mertuanya yang sedang asik menonton tv.
Dira mendekatinya untuk berpamitan. "Inang, aku izin keluar dulu ya. Mau ketemu mamak." Dira meraih tangan putih yang mulus milik mertuanya, mencium punggung tangan itu dengan lembut.
"Hati-hati ya Dir." Melva hanya menatap Dira dengan datar, tak mengulik apa yang membuat Dira harus berkunjung ke rumahnya. Melva tak teringat dengan janji untuk memasang KB yang kemarin mereka obrolkan karena seingatnya mereka mencapai kesepakatan untuk menunda KB tersebut.
Dira memesan ojek online menggunakan ponselnya. Hanya lima menit ia menunggu, supir ojek online sudah ada di depannya.
Tanpa pikir panjang, Dira duduk dibelakang supir ojek online tersebut. Selama perjalanan ia fokus mendengarkan musik melalui earphonenya.
Musik tiba-tiba terhenti, rupanya teman-temannya di dalam grup watsapp telah ribut. Ia melihat layar ponselnya selama diperjalanan.
Shinta
Dir jangan lupa lagilah kau besok, bawa oleh-oleh itu.
Jenny
Iya loh! Kaupun janganlah terlambat ke sekolah! Jadi nggak banyak ceritamu yang kami dengarkan.
Carol
Apa besok kita ngumpul aja? Biar lebih seru ceritanya?
Dira
Tenang kelen semua! Nanti malam kusiapkan oleh-oleh itu. Kalau soal ngumpul aku kayanya belum bisa. Kayanya perlu izin suami hehe
Tiba-tiba Dira teringat pada suaminya. Ia belum memgabari suaminya tentang kepergiannya pulang ke rumah orang tuanya.
Waduh bang Defan bisa ngamuk kalau tahu aku pergi nggak bilang-bilang.
__ADS_1
Dira menatap tajam layar ponselnya, ia ingin mengirimkan pesan pada Defan tapi takut ditanyakan alasan untuk mengunjungi mamaknya. Padahal dia ingin sekali menyembunyikan soal pemasangan KB hari ini.