Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
gangguan


__ADS_3

"Bentar lagi pasti jadi opung kok," sahut Defan penuh keyakinan sehingga tatapan Dira tak kunjung beralih dari manik hitam yang indah milik suaminya itu.


"Dih, kok yakin kali abang?" Dira mengganti tatapannya, semakin tajam menyorot manik mata suaminya. Perasaannya semakin bergetar ketika suaminya mengatakan kalau sebentar lagi kedua orang tuanya akan memiliki cucu.


Dari siapa lagi kalau bukan darinya? Sebab, kedua iparnya saja belum menyelesaikan sekolahnya. Kemungkinan masih lama akan menikah. Karena keluarga mereka dari keluarga yang berkecukupan jadi tidak mungkin mengalami perjodohan seperti yang Dira rasakan.


"Yakinlah!" seloroh Defan dengan percaya diri.


Dira hanya terdiam mendengar penuturan suaminya. Ia malas menyelami pembicaraan itu lebih lanjut. Apalagi kalau suaminya tahu, sekarang dia sudah memasang KB agar tak bisa hamil.


Apa dia akan murka kalau tahu aku pasang KB? Ah, tapi kan sudah sesuai perjanjian kalau aku nggak boleh hamil sebelum lulus SMA!


"Bang, jalan-jalan yuk? Aku bosan," ujar Dira mengalihkan pembicaraan, ia tak mau lagi membahas soal dunia percucuan.


"Kemana?" jawab Defan dengan semangat tapi dia menyembunyikan ekspresinya itu.


"Ya kemana kek! Bosan nih di rumah terus! Pengen kemana gitu," sahut Dira seraya seolah sedang berpikir.


"Mau makan diluar? Nonton? Atau ngemall?" usul Defan semakin menggebu-gebu.


Sebenarnya tadi ia ingin mengajak Dira jalan-jalan sebelum pulang ke rumah. Tapi Dira terus saja beralasan masih kenyang sehingga Defan tak bisa beralasan lain lagi untuk mengajak gadis itu bepergian.


"Kok abang semangat kali." Dira menatap suaminya penuh selidik.


"Kan aku cuma ngusulin loh!" sambung Defan datar.


"Nonton aja yuk bang! Tapi film horor gimana?" Dira menatap lekat suaminya menunggu keputusan.


"Mumpung masih sore! Sekalian makan malam di luar. Aku bosan makan menu rumahan," lanjutnya lagi.


"Oke hayuk!" Defan langsung membuka aplikasi pemesanan tiket bioskop yang bisa dibeli secara online. Ia memesankan dua tiket untuk film horor sesuai permintaan istrinya.


"Ayo berangkat! Buruan ganti baju," titah Defan setelah ia mengganti bajunya lebih dulu.


"Iya!" Dira langsung memgambil satu pasang baju kasual miliknya, mengganti baju rumahan yang tadi sudah ia pakai.

__ADS_1


Setelah berganti baju, keduanya jalan beriringan. Tetapi mereka berdua dicegat oleh kedua orang tuanya setelah melewati ruang keluarga.


"Mau kemana?" ujar Desman yang sedang asik menonton acara berita di tv.


"Keluar dulu pak bentar. Mau jalan-jalan, urusan anak mudalah," jawab Defan seraya tersenyum tipis.


"Sini dulu!" Desman menganggukkan tangannya lalu menunjuk sofa disebelahnya, meminta Defan duduk disampingnya.


Defan dan Dira mendekat, duduk bersebelahan di sofa panjang yang ada di ruang itu.


"Gimana tadi udah kau cek rumah kalian itu?" ucap Desman penuh tatapan menyelidik.


"Udah pak! Udah lengkap kali pun. Bapak sampai nggak kasih kami ruang untuk menata rumah sendiri," keluh Defan.


"Supaya kau nggak repot lagi nanti!" jelas Desman.


"Jadi kapan kalin mau pindah?" Desman terus melanjutkan pertanyaannya.


"Seminggu lagilah pak. Besok aku ada sidang. Kalau itu sudah beres, baru aku fokuskan persiapan pindah. Lagian banyak kasusku yang terbengkalai. Belum sempat kupelajari," beber Defan menatap serius pria paruh baya itu.


"Oh! Iyah ngerti aku. Tapi cepat harus pindah dari rumah ini ya. Biar kalian berdua ada waktu sendiri. Mau ngapain pun kau bebas," terang Desman mengerling menggoda putranya.


"Yaudah sanalah!" usir Desman seraya mendorong bahu putranya itu.


Sedangkan Dira mengulurkan tangannya pada mertuanya. Ia menjabat tangan amang simatua dan inang simatuanya yang dari tadi duduk terdiam hanya mendengarkan pembicaraan dua pria itu.


"Kami pamit ya Amang, Inang." Dira tersenyum dengan kedua orang tua itu.


"Jam berapa kalian pulang Def?" sergah Melva memastikan.


"Malam kayanya mak! Gausah tunggu kami nanti. Kami mau makan malam diluar," jelas Defan mengerling pada ibunya itu, Melva pun mengerti maksud kode putranya. Putranya sedang mencoba mendekati menantunya itu.


Saat keduanya berjalan beriringan, di depan pintu Defan dan Dira berpapasan dengan Niar. "Mau kemana abang? Ikutlah," sambar Niar.


"Yeee! Anak kecil mau ikut-ikutan jalan! Jalan sana sama pacarmu! Ngapain ngekorin orang yang lagi ngedate!" sindir Defan dengan datar.

__ADS_1


"Oh mau ngedate rupanya! Yaudah sanalah kelen pergi berdua! Hush ... hushh ... Edak jangan mau digoda-goda sama bang Defan ya. Hati-hati errrrgh!" goda Niar berlari meninggalkan dua pasangan itu.


Dira hanya tersenyum melihat kelakuan iparnya itu. "Bisa juga dia bercanda! Selama ini padahal jutek sama kaya abangnya," batin Dira berjalan memasuki mobil yang ada di parkiran.


"Pasang sabuk pengamannya! Jangan lupa lagi," sindir Defan setelah duduk di kursi kemudinya.


Dira mengangguk patuh, mengerjakan perintah lelaki itu. Setelah semua terasa nyaman dan aman, Defan melajukan mobilnya. Namun, saat tepat melintasi pagar rumah, tiba-tiba seseorang datang.


Tin... Tin...


Suara klakson motor mengalihkan pandangan Defan dan Dira. Ternyata Anggi baru pulang dari sekolahnya. Ia dibonceng oleh supir ojek online.


Defan menghentikan mobilnya, membuka kaca jendelanya melihat wajah cantik adiknya yang baru turun dari motor.


"Mau kemana bang?" cecar Anggi penuh selidik.


"Jalan-jalan dulu bentar. Mau nyenangin edakmu," kata Defan membalas pertanyaan adiknya itu.


"Ikutlah! Aku juga pengen senang-senang." Anggi langsung berlari menarik handel pintu mobil. Namun, pintu itu tak kunjung terbuka karena sudah dikunci dari dalam oleh Defan.


"Bang! Bukain!" perintah Anggi dengan manjanya.


"Eh anak kecil mandi dulu, ganti seragamnya! Baru pulang sekolah mau ngikut nimbrung orang! Lagian udah jam berapa ini? Kok baru pulang jam segini? Lihat edakmu aja udah pulang dari jam 2 siang." Omelan Defan membuat Anggi jengah. Padahal ia baru saja pulang setelah berkumpul bersama teman-temannya mengerjakan tugas kelompok.


"Ih abang! Nanya dulu yang benar baru ngomel-ngomel," seloroh Anggi menatap tajam abangnya.


"Lah terus darimana? Pacaran ya?" cecar Defan.


"Bukain dulu pintunya! Aku mau ikut!" rengek Anggi memelas.


"Nggak! Udah sana masuk! Mandi dan ganti baju. Abang mau jalan berdua dulu sama edakmu," kilah Defan yang tak juga dimengertiin oleh adik bungsunya itu.


"Nggak mau! Aku juga pengen ikut bang!" Anggi semakin merengek, membuat Dira tak tega dengan iparnya itu.


"Udah buka aja bang. Anggi juga pengen ikut! Biarinlah sekali-kali ngasuh dua anak SMA," kekeh Dira menyengir.

__ADS_1


Defan hanya diam terpaku. Istrinya justru tidak mengerti kondisi mereka berdua. Defan itu sangat ingin jalan berdua dengan sang istri. Namun, istrinya malah ingin mengajak iparnya.


"Nggak ah!" Defan tetap bersikukuh ingin jalan berdua dengan Dira tanpa adanya gangguan dari adiknya.


__ADS_2