
"Nggak kau tanya pendapat suamimu? Nanti dia protes," tampik Jenny, memberi saran.
"Yaudah, sebentar aku ke kamar deh, nanya bang defan, baru langsung kupesan." Dira beranjak dari ranjang, tempat itu sedikit lega setelah kepergian Dira.
Ketiga teman Dira langsung mandi bergantian. Beruntung, dalam kamar tamu sudah tersedia kamar mandi sendiri. Jenny dan Shinta sengaja mandi lagi lantaran ingin menikmati air hangat dari water heater yang terpasang.
Sementara Carol, ia merasa kotor lantaran seharian belum juga mandi. Akhirnya, mereka mengganti pakaian rumahan untuk sore ini.
Dira berjalan gontai ke kamar, langsung mencari Defan untuk dimintai pendapat. Dira langsung menemukan pria itu yang bersandar pada dipan tempat tidur tengah membaca berkas yang tidak diketahui oleh Dira.
Perempuan itu langsung mendekati suaminya, bergelayut manja pada dada bidang Defan. Lalu, menunjukkan ponsel pada satu aplikasi online pemesanan hotel.
"Apa ini?" Defan langsung menatap ke arah Dira, berkas yang ia genggam pun disimpan di atas ranjang.
"Besok kita kan mau liburan, jadi harus pesan kamar dulu. Ini vilanya bagus kali bang, reviewnya oke, desain vilanya juga klasik," terang Dira.
"Ehm ... yaudah kalau menurutmu bagus langsung pesan aja. Ngapain minta pendapat abang." Defan kembali mengambil berkas, satu tangan mengelus pucuk kepala Dira, sesekali ia menciuminya. Satu tangan lagi memegang berkas tentang kasus perjudian online.
"Abang nggak nolak atau kasih saran vila lain?" Dira menengadahkan kepalanya, menatap pria yang tengah sibuk memperhatikan berkas.
"Nggaklah, kalau soal itu urusan perempuan. Kalau istri abang nyaman, abang juga nyaman kok." Defan mencium pucuk kepala Dira, lalu fokus membaca berkas.
"Yaudah, kalau gitu aku pesan sekarang." Dira masih saja bergelayut manja pada pria itu, meski suaminya sedang sibuk membaca, lalu memesankan satu vila untuk mereka tempati esok saat liburan.
Namun, perhatian Defan langsung tersita mengingat menu makan malam mereka. Apalagi, Dira sedang hobi-hobinya makan banyak.
"Nanti mau makan diluar atau pesan online lagi?" tawar Defan, melingkarkan tangan di perut Dira setelah meletakkan kembali berkas pekerjaannya.
"Pesan ajalah, bang! Malas mau keluar lagi. Lagian kita besok harus bangun subuh-subuh loh, abang juga nggak usah kerja, harus istirahat biar nggak ngantuk pas nyetir," sanggah Dira, lalu menciumi bibir suaminya dengan gemas.
"Ck! Jangan goda-goda abang deh! Banyak kawanmu di sana! Jangan ngajak perang!" decak Defan, yang mulai tergoda dengan ciuman sang istri.
"Emangnya salah, ya? Cium suami sendiri loh! Kalau abang yang cium aku, akunya diam aja. Tapi kalau aku yang cium pasti protes." Dira mencubit gemas perut bawah pria itu.
"Awwww!" pekik Defan. Perutnya terasa perih dan memerah.
"Kalau abang yang cium itu biasa aja tapi kalau kau yang cium udah lain ceritanya! Bikin nafsu," bisik Defan di sisi telinga Dira, hingga perempuan itu kegelian dan meremang.
__ADS_1
"Ihhh ... abang tuh yang suka goda-goda duluan!" Dira mengelitik pinggul sang suami, membuat pria itu terkekeh sendirian.
Defan langsung mencekal tangan Dira. Lalu, memeluknya dengan erat. "Mau makan apa nanti?" Defan sedikit berbisik.
"Aku aja deh yang pesan langsung! Mau lihat-lihat dulu apa makanan yang enak!" Dira menciumi belahan dada kekar sang suami.
"Udah ah, abang nggak kuat nih. Besok aja pas honeymoon kita melakukan itu. Biar nggak habis tenaga abang," ujar Defan to the point.
"Ihh ... huek!" Dira menjulurkan lidah, lalu berlari meninggalkan suaminya sendiri di dalam kamar.
"Awas, ya!" teriak Defan sembari tersenyum lebar.
Dira menghampiri ketiga sahabatnya yang sedang asik mengobrol di dalam kamar.
Ceklek
Suara pintu terbuka menyita perhatian tiga wanita yang sedang asik mengobrol. Entah apa yang mereka obrolkan secara serius.
"Lagi ngapain kelen?" sapa Dira setelah berada di ambang batas pintu, menatap tajam kepada tiga wanita yang menyadari kedatangannya.
"Lagi ngobrol aja tentang jalan-jalan besok. Udah nggak sabar kami," jawab Jenny, membuat lengkungan lebar di sudut bibir.
"Suka-sukamu ajalah pesan apapun pasti kami makan," papar Carol.
Ia sudah pasrah dengan sahabatnya yang satu itu. Selera mereka lagipula masih sama. Apapun yang di makan Dira, Carol tak menolak.
Lain hal dengan Jenny dan Shinta, mereka malah mengusulkan untuk memesan makanan cepat saji.
"Mekdi atau Keefci enak kayaknya," imbuh Shinta. Jenny pun langsung mengiyakan.
"Hmm ... makanan cepat saji, ya? Kau mau, Rol?" Dira menatap Carol cukup lama, menunggu jawaban wanita itu.
"Kalau aku sih oke aja! Nah, kau sendiri?" timpal Carol.
"Kalau aku gampanglah. Tinggal kulihat-lihat lagi yang lain. Tapi kupesankan dulu makanan cepat saji ini. Mekdi ajalah ya? Lebih dekat jaraknya," sergah Dira, menatap ketiga temannya secara bergantian.
"Yaudah itu aja, aku mau burger sama kentang goreng, Dir. Nggak mau nasi," sosor Shinta.
__ADS_1
"Aku mau spagetti, Dir, sama es kopi pakai float ya! Pesan ayam gorengnya yang banyak hehe," susul Jenny.
"Kau, Rol?" Dira menatap Carol yang masih berpikir.
"Burger ajalah aku. Sama kaya Shinta. Kalau pesan es krim meleleh, ya?" tanya Carol dengan polos.
"Yaiyalah, Carol! Abang pengantarnya aja lama di jalan! Kau ada-ada pertanyaanmu," sesal Shinta.
"Yaudahlah, burger aja, Dir!" Carol tertawa dengan malu-malu karena meratapi pertanyaan yang bodoh.
"Yaudah, aku pesankan ya!" Dira langsung memesan ayam goreng berisi 9, paket burger beserta soda 3, dan kentang goreng 5, terakhir es kopi float permintaan Jenny 1.
"Kok banyak kali kau pesan?" celetuk Shinta melirik pesanan di ponsel Dira.
"Untuk suamiku juga lah! Ah kau pun, masa nggak ingat ada dia." Dira tertawa kecil.
"Astaga! Lupa aku!" kilah Shinta.
Pemburuan Dira belum selesai, ia masih menatap layar ponsel, mencari menu yang dapat menggugah selera.
Setelah bolak-balik scroll layar ponsel, matanya tertuju pada restoran chinesefood. "Ada mau chinesefood?" tawar Dira menyengir kuda.
"Ah, enggaklah! Aku udah cukup tadi itu," kata Carol dengan cepat.
"Sama! Nanti nggak habisku pula," tambah Shinta.
"Iya, akupun. Kau ajalah kalau mau!" lanjut Jenny.
Dira langsung memesankan chinesefood, mulai dari kwetiaw goreng, mie goreng serta nasi goreng. Memikirkan serta menatap foto pada aplikasi saja sudah membuat Dira mengences.
"Kok banyak kali kau pesan, Dir?" sambar Jenny saat mengintip pesanan Dira.
"Udah biarkan ajalah, uang-uang dia." Carol menimpali.
"Siapa tahu kelen juga mau makan," sanggah Dira, menampilkan cengiran kuda.
"Habisnya itu nanti." Carol sangat yakin karena siang tadi sudah melihat Dira saat makan.
__ADS_1
"Apa, iya? Tiga porsi itu habisnya? Kau tahu kan chinesefood satu menu aja porsi jumbo, apalagi tiga porsi hahaha." Jenny tak habis pikir dengan pesanan Dira.