Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
rasa keram


__ADS_3

"Ayo, sekali lagi! Kita pasti bisa!" teriak Defan dengan suara parau. Ia semakin pesimis kalau istrinya bisa terselamatkan. Sebab, sudah dua tarikan, mereka tak berhasil membawa Dira naik ke atas.


"Hikss ... abang, maafin aku! Coba kalau tadi aku dengarkan omongan abang, pasti ini nggak akan terjadi," dengus Dira, penuh penyesalan.


"Diam! Abang nggak suka lihat kau nangis! Abang pasti bisa nyelamatin kau!" ketus Defan, sedikit membentak.


"Hiks ... hikss ..." Dira semakin menangis tersedu-sedu saat Defan membentaknya.


"Pegang tangan abang yang kuat! Sekali lagi kita tarik, ya!" sahut Defan penuh penekanan agar ketiga wanita yang ikut memegangi Dira juga mengeluarkan tenaganya.


"1,2,3!" Aba-aba dari Defan langsung dilaksanakan oleh ketiga wanita itu.


Brugghhh!


Dira berhasil ditangkap, tubuhnya sudah melemas berada dalam dekapan Defan. Dengan wajah yang basah dan memerah, ia sangat takut dengan kejadian yang menimpanya tadi.


"Abang!" kata Dira, dengan suara bergetar. Tubuhnya membelengguh dalam dekapan, ia meringis kesakitan setelah berhasil dibawa ke atas bukit.


"Aaawww," pekik Dira kesakitan, membuat Defan semakin khawatir.


Orang-orang di sana langsung membantu, ada yang memapah Jenny, Shinta dan Carol. Ada yang membantu menggendong Dira, serta merangkul Defan karena ikut melemas saat menarik tubuh sang istri agar berhasil diselamatkan.


"Awww! Perutku sakit!" ringis Dira, tak kuasa menahan sakit keram di perut.


"Sakit kenapa, sayang?" cecar Defan, menatap perut yang diremas oleh Dira dengan kedua tangannya.


Pengunjung lain yang ikut menyelamatkan langsung segera membawa turun dari perbukitan.


Saat itu, hari mendung, rintik-rintik hujan mulai membasahi setiap jalanan terjal. Defan bersama keempat wanita itu masih berusaha turun dari perbukitan dibantu pengujung lain.


Hujan terus mengguyur, semakin lama malah semakin deras. Jalanan terjal makin sulit dilintasi. Dira yang merintih kesakitan semakin tak kuasa menahan sakit diperut.


"Ahh!! Abang, perut aku sakit! Hiks ... hiks ..." rintih Dira memekik kesakitan.


Dira terus meremas perut yang terasa keram. Ia kembali mengingat moment saat terjatuh ke tepi jurang. Perutnya sempat menghantam tepian itu.

__ADS_1


30 menit yang lalu ...


Bugh! Bugh!


Suara tubuh Dira terpeleset hampir jatuh masuk ke jurang. Hingga akhirnya, tangan Dira berhasil ditarik oleh Carol meski badannya sempat terombang-ambing di tepi jurang. Satu tangan berhasil meraih bebatuan sebagai penyanggah agar ia tak terjatuh.


Setelah mengingat momen memilukan itu, Dira kembali berpikir. Pasti ada sesuatu hal yang terjadi di dalam perutnya. Rasa keram yang dahsyat terus membelengguh di dalam perut.


Para pengunjung lain yang membantu mereka turun dari perbukitan akhirnya berhenti sejenak di satu posko. Posko tempat orang-orang beristirahat serta meneduh.


Dira bahkan tersungkur di tempat duduk karena rasa sakit yang tak kunjung menghilang. Defan segera menghampiri sang istri, memastikan apa yang terjadi pada perut Dira.


Ia mengecek perut dengan kasat mata, sayangnya tidak ada yang aneh. Namun, Dira terus memekik kesakitan tanpa henti.


"Abang, perutku sakit!" rintihnya lagi.


"Sabar, sayang! Nanti kita langsung ke rumah sakit! Tahan dulu sakitnya. Coba ingat-ingat kenapa tadi perutmu?" cecar Defan seraya mengusap perut datar Dira.


"Tadi kebentur dinding tepian jurang itu bang. Ada dua kali kayaknya!" papar Dira.


"Yaudah, sabar-sabar, bentar lagi kita turun saat hujan mereda," sambung Defan.


"Rol, bajuku kuyub, dingin kali rasanya," keluh Jenny seraya mengigil.


Saat hujan, hawa dingin di perbukitan menusuk ke tulang. Bahkan mereka tak membawa perbekalan baju hangat lantaran tadi hari sangat cerah.


Saat diguyur hujan, untuk mencapai titik posko, mereka terpaksa rela berbasah-basah. Baju itu sedikit mengering meski rasa menggigil terus merasuki tubuh.


"Sabar-sabar, bentar lagi kita sampai di bawah! Langsung ganti baju aja nanti di mobil," ujar Carol.


Shinta hanya terdiam saja. Sedari tadi, ia tak membuka mulutnya. Entah rasa trauma yang menghantui, rasanya Shinta ingin segera kembali ke rumah, berkumpul dengan keluarga.


Wajah pucat pasif mulai terlihat pada Dira. Bibirnya bergetar mengigil kedinginan, mata yang membengkak karena nangis terus-menerus. Defan memeluk istrinya itu, menemani melintasi perbukitan agar segera turun ke bawah.


Hanya 10 menit, mereka akhirnya tiba di perpakiran. Ketiga sahabat Dira lebih dulu masuk ke dalam mobil setelah Dira didudukkan pada jok, mereka langsung mengganti baju, serta membantu Dira untuk menggantikan pakaiannya agar tak lagi kedinginan.

__ADS_1


Sementara, Defan telah mengambil baju ganti, di luar mobil ia menggantikan baju itu. Lalu, pergi ke kamar mandi terdekat untuk menggantikan celana yang basah.


Dira yang melemas memilih memejamkan mata di kursinya. Pikirannya kosong, rasa sakit terus membelengguh perutnya hingga dia ketiduran karena tak bisa menahan rasa sakit itu.


Defan yang datang setelah berganti baju, mengetok kaca mobil agar para perempuan memperbolehkan masuk.


"Masuk aja, bang! Kami udah beres!" seloroh Carol.


Hanya Carol, wanita yang tegar diantara semuanya, sebab ia masih bersikap biasa saja. Membantu ketiga teman lainnya disaat mereka merasakan kesedihan yang mendalam.


Kalau boleh jujur, Carol sebenarnya trauma, hanya saja dia menyimpan rapat-rapat rasa itu. Meski sempat menangis tetapi ia teguhkan hatinya agar semakin kuat menghadapi kenyataan yang telah terjadi.


"Kita ke rumah sakit dulu, ya!" beber Defan, lalu menginjak pedal gas mobil, melaju dengan cepat.


"Dir, Dira?" panggil Defan, sesekali menoleh ke kiri saat istrinya tertidur sangat pulas.


"Dia nggak apa-apa, kan? Hanya tidur aja?" cecar Defan semakin panik.


"Kayaknya cuma tidur aja, bang! Kecapekan juga tadi," sahut Carol. Dua teman lainnya juga ikut tertidur karena mereka kelelahan.


"Yaudah, Rol jagain yang lain. Kalau kau capek, tidur aja," tutur Defan, memfokuskan pandangan pada jalanan yang berkabut karena cuaca yang masih buruk.


"Iya, bang!" Carol justru tak memejamkan mata, ia menemani Defan agar matanya tak meleng pada pandangan di jalan.


Sebab, cuaca buruk bisa mengakibatkan apapun terjadi. Carol bisa memperingati Defan jika pria itu tak bisa melihat jalanan.


Menggunakan petunjuk papan jalanan, mereka akhirnya tiba di salah satu klinik kecil yang ada di desa tak jauh dari wisata perbukitan tadi.


Defan langsung menggendong istrinya yang masih tertidur.


"Heh, bangun! Kita udah di klinik," ujar Carol, menggoyangkan lengan Jenny dan Shinta bergantian.


Dengan mata yang sayup, mereka mulai keluar dari mobil. Mengekori Carol yang jalan lebih dulu.


Defan langsung mengantarkan Dira ke IGD. Membaringkan Dira di brangkar menunggu penindakan dari dokter dan perawat.

__ADS_1


"Apa yang terjadi, pak?" tanya Seorang Perawat, meminta penjelasan mengenai penyakit Dira.


Defan menjelaskan kejadian yang sempat menimpa istrinya. Seorang perawat itu terkejut hebat. Ia langsung memberikan penjelasan pada dokter yang menangani.


__ADS_2