Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
meminta jatah


__ADS_3

"Enggak! Enggak! Nggak mungkin itu terjadi. Dira benar-benar masih —" Dira langsung menyumpal mulut Shinta dengan kedua tangannya, meski belum menuntaskan ucapannya.


Dengan ligatnya, Shinta menghempaskan dekapan tangan Dira yang berada di mulut. "Emang benar kan, kau masih segel?"


"Hmmmm!" Dira bergumam dengan malu-malu.


"Ah ... yang jujurlah kau!" cecar Carol semakin penasaran.


"Masa sih, sahabat kita ini masih polos?" Shinta menimpali.


Tak ada satupun dari mereka yang percaya. Hanya Defan dan Dira yang tahu betul bagaimana kisah rumah tangga mereka. Malam pertama, sepertinya itu akan terjadi malam ini.


Sudah tidak ada lagi penghalang bagi Defan dan tak ada alasan Dira untuk menolak sentuhan suaminya.


"Nggak percaya kelen kan? Mau bukti? Tanya sana sama bang Def," kekeh Dira mengerling.


Defan pun datang lagi menghampiri, kali ini ia ingin mengajak istrinya untuk pulang. Sudah cukup waktu yang ia berikan untuk mengobrol membicarakan hal yang masih tabu bagi Dira.


"Ayo, Dir. Kita mau pulang," ucap Defan.


"Iya bang, bentar." Dira langsung membubarkan perkumpulan bersama sahabatnya.


"Sstt ... ayo, pulang-pulang!" titah Dira, ia langsung meninggalkan ketiga temannya setelah saling mengecup pipi kiri dan pipi kanan sebagai tanda perpisahan hari ini.


******


Keluarga Defan sudah membuat jamuan untuk kelulusan Dira. Di meja makan sudah tersaji banyak makanan untuk penyambutan menantunya. Sejak pagi, Melva sudah repot untuk mengurus dunia perdapuran.


30 Menit Kemudian...


"Horas!" Sahat berteriak di depan pintu agar seluruh penghuni rumah berhamburan keluar menjamu mereka.


"Horas!" sahut Desman yang baru saja keluar dari pintu kamarnya.


"Udah sampai lae, selamat lah, ya, untuk anak kita." Desman berjabatan tangan dengan Sahat, lalu begitu juga dengan Rosma. Desman bahkan memeluk Dira begitu hangat.


Semua masuk ke dalam rumah. Melva yang masih sibuk di dapur langsung menyambut kedatangan menantu berserta besannya. Ia bersalaman dengan Sahat dan mengecup pipi kanan dan kiri Rosma dengan lembut.

__ADS_1


Anggi juga sama-sama lulus seperti Dira. Hanya saja, acara wisuda dan perpisahan di sekolah sudah lebih dulu dibandingkan sekolah Dira. Alhasil, sekarang ini dia masih menganggur dan hanya bermalas-malas di rumah. Begitu juga dengan Niar, ia sudah lulus kuliah tapi masih harus mengikuti PKPA. Untuk hari ini, dia sedang libur jadi bisa ikut menyambut kelulusan Dira.


Niar juga memiliki minat yang sama dengan abangnya. Ingin menjadi seorang pengacara handal dan profesional. Bakat itu sepertinya turun-temurun dalam keluarga mereka.


Dira sang tokoh utama hari ini langsung memberikan sambutan atas kelulusannya. "Terimakasih untuk bapak, mamak, amang, inang. Berkat kalian semua, Dira bisa sampai dititik ini. Mudah-mudahan aku bisa membanggakan semuanya. Doakan aku bisa menjadi seorang dokter yang berbakat dan bisa memberikan pelayanan pada masyarakat," ujar Dira panjang lebar.


Semuanya bertepuk tangan atas prestasi yang Dira raih. Ia tak menyangka dukungan dari orang terdekat benar-benar membuatnya sangat bersemangat.


"Acara hari ini sudah lama kita nantikan. Pesan amang hanya satu parmaen. Cepat-cepatlah kalian bikin cucu untuk kami," kata Desman saat menambahkan sambutan dalam acara.


Mendengar perkataan sang bapak, Defan langsung tersenyum tipis. Menantikan ucapan itu benar-benar terdengar di gendang telinga istrinya. Ia bahkan sudah tak sabar untuk menyentuh istrinya.


"Pleaseeee! Cepatlah malam!" gumam Defan.


Disisi lain, Dira hanya menghela nafas setelah mendengar permintaan mertuanya. Sudah lama memang kedua mertuanya menginginkan cucu. Sayangnya, hal itu tidak bisa segera direalisasikan karena terhalang proses pendidikan Dira.


"Gimana Def, udah siap kau kan ngasih cucu buat bapak?" lontar Desman memicingkan mata.


"Tenang bapak! Semua tergantung Dira. Kalau dia siap, Defan pun siap pak!" jawab Defan tegas dan bersemangat.


"Kalau si Dira harusnya udah siap! Kurang apalagi kau sampai nunggu hampir dua tahun," celetuk Sahat.


"Iya! Dira sudah siap! Semua kehendak Tuhan. Kalau sudah waktunya, inang, amang, mamak, bapak pasti akan punya cucu," jawab Dira terdesak.


"Mulai malam ini kalian percobaan untuk bikin cucu kami, ya," seloroh Melva tanpa filter.


"Iya Inang," balas Dira mengalah.


Asikkkk akhirnya dapat jatah malam ini. Nggak sekedar icip-icip.


Defan larut dalam pikirannya, mengharapkan suatu hal yang belum pernah terjadi diantara mereka sebagai sepasang suami istri.


"Kalau begitu, kita mulailah acara makan-makannya," pungkas Desman mengakhiri kata sambutan acara itu. Lalu, ia berlanjut memimpi doa makan mereka.


Semua orang langsung memakan sajian yang dipersiapkan oleh Melva. Sibuk untuk mengisi perut masing-masing. Tak ada suara obrolan.


*hening

__ADS_1


Tiga puluh menit berlalu, mereka semua melanjutkan acara dengan minum teh dan kopi. Sementara, Defan sudah mengajak istrinya untuk ke dalam kamar lama miliknya yang ada di rumah ini.


"Ada apa sih bang?" tanya Dira, lengannya terasa sakit saat ditarik oleh Defan.


"Ayo, ikut dulu," jawab Defan datar.


Dengan rasa malas, Dira mengikuti kemauan suaminya. Ia masih mengenakan kebaya dan make up tebal di acara perpisahan sekolahnya tadi.


"Dir, abang sudah terlalu lama menunggu. Hampir dua tahun loh. Dan benar-benar tidak pernah menyentuhmu," ungkap Defan saat mereka berdua duduk di tepian tempat tidur.


"Terus? Maksud abang apa?"


"Jujur saja, abang ingin ketegasanmu sebagai istri. Apa abang boleh menyentuhmu untuk malam ini," timpal Defan blak-blakan.


Seketika Dira menjadi malu, entah mengapa Defan harus meminta izin padanya. Sesuatu hal yang masih tabu baginya. Bahkan, ia sangat malu untuk mengungkit topik itu.


Kenapa pakai nanya segala sih! Kalau mau, langsung aja napa sih!


Dira menggerutu seorang diri tanpa menjawab pertanyaan suaminya. Tak pernah ia sangka, Defan pria sepolos itu. Mau meminta jatah saja harus mendapat izin dulu dari dirinya.


"Boleh bang," lirih Dira malu-malu seraya memalingkan wajahnya.


"A–apa?" Defan pura-pura tak mendengar ucapan istrinya.


"BOLEH! Itu hak abang," kata Dira penuh penekanan.


"Asikkk!!" gurau Defan seraya menghentakkan kepalan tangannya ke atas.


Dira yang melihat itupun semakin malu. Sepertinya, sudah lama suaminya menginginkan hal itu. Namun, rasa sabar pria itu terlalu kuat sehingga tak pernah menyentuh Dira mengikuti hawa nafsu belaka.


"Abang ih! Malu," pekik Dira langsung berlari keluar kamar.


Rasanya ia ingin lari dari suaminya karena membicarakan hal-hal senonoh seperti itu.


"Dir, hapus dulu make upnya," titah Melva saat Dira sudah berada di dapur bersamanya.


"Iya inang, nanti aja sekalian mandi."

__ADS_1


Dira langsung ikut berkumpul bersama keluarga. Sedangkan Defan masih kegirangan seorang diri di dalam kamar. Degupan jantungnya terasa begitu kencang. Darahnya mengalir sangat deras, kala menanti waktu hingga nanti malam.


Defan masih berpikir di dalam kamar, apakah ia harus membawa istrinya pulang ke rumah mereka atau bermalam saja di rumah kedua orangtuanya.


__ADS_2