Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
sadar akan kesalahannya


__ADS_3

"Dir ... abang sungguh-sungguh mau minta maaf! Terus jadi mau jalan nggak malam ini?" ucap Defan menundukkan kepalanya. Ini adalah permintaan terakhirnya, bila tak dapat jawaban juga ia akan memilih diam saja.


Namun, lagi-lagi tak ada jawaban dari Dira. Dira melongos begitu saja, pergi keluar kamar. Entah apa yang mau ia lakukan sampai meninggalkan suaminya seorang diri di dalam kamar.


********


Seminggu kemudian ...


Seminggu berlalu, hubungan Defan dan Dira semakin renggang. Hari libur maupun hari biasa mereka lalui. Defan terus berkirim pesan pada istrinya tentang apa saja yang ia kerjakan atau pergi dengan siapa saja dirinya.


Namun, Dira tak pernah membalasnya. Pertanyaan dari Defan pun terus saja ia jawab sesingkat-singkatnya langsung pada intinya. Selama seminggu ini pun, Defan merasa frustasi. Ia tak berani menyentuh istrinya.


Saatnya untuk persiapan pindah rumah mereka. Defan sengaja mempersiapkan kepindahannya alih-alih agar Dira memaafkannya. Bila mereka tinggal berdua, tentu saja akan membuat Dira lebih nyaman bahkan tak sungkan.


Defan meminta pembantunya untuk menyimpan baju-bajunya ke dalam koper. Hanya disisakan baju rumahan untuk dipakai apabila mereka nanti berkunjung ke rumah orangtuanya.


Dua pembantunya pun membawakan koper itu ke ruang tamu agar dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Disana terlihat Dira yang sedang berpamitan pada kedua mertuanya serta ipar-iparnya.


Bahkan Melva sedikit menitikkan bulir-bulir bening dari sudut matanya karena rumah ini akan terasa sepi bila tidak ada lagi menantu yang paling ia sayangi.


"Dir, sering-sering kau kesini mampir ya! Pokoknya jangan malas kau datang kesini," ucap Melva mengusap air mata yang menetes dipipinya.


"Iyalah Inang. Nanti Dira sering main kesini. Kan mau ketemu sama edak Niar dan edak Anggi," selorohnya menggulum senyum termanis yang ia miliki.


Meski ia masih merajuk pada suaminya tapi untuk mertua dan iparnya ia tetap ramah. Tidak ada salahnya mereka, sehingga tidak ada alasan bagi Dira untuk menghindari keluarga suaminya.


Terlebih, semua keluarganya itu sangat baik padanya. "Baik-baik kalian dua ya! Jangan berantam aja kerjanya! Suami istri harus saling mengerti! Persiapkan cucu untuk kami juga. Tapi jangan sekarang! Persiapannya aja dulu," kata Desman menasehati kedua pasutri itu.


Defan pun hanya berani melirik istrinya. Tak berani menatap lekat karena istrinya itu bahkan membuang tatapan pada Defan.


"Iya Amang," jawab Dira singkat.

__ADS_1


"Pak, Ma, kami pamit dulu ya!" Defan menarik punggung tangan kedua orangtuanya, menciumnya dengan lembut.


Dira pun melakukan hal yang sama. Tak lupa, Dira menyalami kedua iparnya bahkan mereka bercipika-cipiki. Adik-adik Defan hanya mencium punggung tangan abangnya sebelum mereka berpisah.


Di dalam mobil, Dira sudah melambaikan tangannya dengan senyum manisnya. Namun, senyum itu berubah ketika ia melihat wajah suaminya. Sudah seminggu ini Dira memilih diam. Tak mau lagi meributkan masalah-masalah yang dibuat oleh suaminya.


Defan melajukan mobilnya, tangan kanannya memegang stir mobil. Tangan kirinya melambai kepada kedua orangtuanya serta adik-adiknya.


Kaya mau pergi pulkam aja orang ini dua ya we, padahal dekatnya rumahnya🤣


Selama 10 menit perjalanan, Defan dan Dira tiba di kondominium milik mereka. Suasana tampak canggung dan kikuk. Kebetulan hari ini, hari Minggu. Mereka pun libur bersama. Tak perlu menyiapkan persiapan apapun. Cukup memasukkan baju ke dalam lemari saja.


Sebenarnya sikap Defan selama seminggu ini biasa saja, hanya Dira tak menanggapinya. Dira konsisten untuk mengabaikan suaminya. Sampai hari ini tiba, dimana Defan sengaja untuk mengurus kepindahannya.


Awalnya Defan mau pindah setelah tiga hari persidangannya. Namun ia mengulur waktu. Terlebih kalau pindah di hari jam kerja akan lebih repot lagi.


Pagi ini, mereka berdua masing-masing memasukkan baju ke dalam lemari. Dira sangat cuek pada suaminya. Membiarkan suaminya melakukan seorang diri tanpa bantuannya.


Ia kemudian pergi keluar, melihat-lihat ruangan yang masih kosong. Hanya ada perabotan. Dira pun menuju dapur mereka. Ia melihat ke dalam lemari kitchen set, belum tersedia apapun.


Sepertinya aku harus belanja, mengisi lemari dapur. Supaya nanti siang tidak repot mencari makanan untuk dimasak.


Di rumah itu benar-benar tidak disediakan satu orang pun pembantu. Defan sengaja, ingin mengetahui apakah istrinya itu akan protes. Tapi sampai kepindahan mereka, Dira tak berani mengeluarkan pendapatnya.


*hening


Defan memilih untuk rebahan diatas ranjang. Sementara Dira masih bimbang ingin ke minimarket sendiri atau mengajak suaminya. Padahal momen berbelanja dengan suami lebih nikmat rasanya.


Tapi Dira tak mau berbaikan dengan suaminya sampai pria itu sadar akan kesalahannya. Dira akhirnya menarik daun pintu utama mereka. Ia keluar dari sana. Bermodalkan dompetnya tentu menggunakan uang suaminya.


Masalahnya, Dira belum bisa mencari uang sendiri. Jadi tidak mungkin ia bisa mengabaikan ATM dari suaminya itu. Meskipun sedang mode marah, Dira harus tetap memanfaatkan uang suaminya.

__ADS_1


Ia berjalan keluar. Dari lantai dua menuju lantai satu. Defan pun tak mengetahui kepergiannya. Setelah berada di lobi, ia menanyakan kepada seorang satpam yang berjaga pagi itu.


"Pak, apakah ada minimarket disekitar sini?" tanya Dira yang belum mengetahui seluk-beluk sekitar rumahnya.


"Ada mbak. Keluar saja, di samping gedung ini ada minimarket dan cafe." Satpam itupun mengarahkan pandangannya ke arah luar sembari menunjuk dengan tangannya.


"Terimakasih." Dira pergi dari tempat itu, ia keluar dari gedung kondominium, berjalan kaki ke arah samping gedung. Tak memerlukan waktu yang lama, ia langsung berada di depan minimarket.


Ia mendorong pintu minimarket berbahan kaca bening. Didepannya ada seorang laki-laki yang ingin keluar dari minimarket tersebut.


"Dir–Dira ya?" ucap pria itu saat melihat kedatangan Dira.


Dira mengangguk pelan. Wajah tampan yang ada di hadapannya itu memang mirip dengan teman sekelasnya. Namun, gayanya sangat berbeda saat menggunakan pakaian yang lebih stylish.


"Angga? Ngapain kau disini?" Dira menghentikan langkahnya, bahkan ia berjalan mundur mengikuti langkah kaki pria itu.


"Aku tinggal di gedung itu." Angga menunjuk ke arah kondominium milik mereka.


"Hah? Kok bisa? Bukannya itu hanya 3 lantai? Satu lantai hanya lobi, dan satu lantai milik ..." Dira menghentikan ucapannya.


"Milik siapa?" tanya Angga polos.


"Hmmm, apa lantai ketiga rumahmu?" tanya Dira mengalihkan pembicaraan mereka.


Angga pun langsung mengangguk. Dira tak menyangka kalau ia akan bertemu dengan teman sekelasnya di tempat itu. Artinya, Angga adalah anak orang kaya yang bisa tinggal ditempat mewah dan mahal seperti miliknya.


"Kau sendiri ngapain disini?" Angga menatap lekat wajah cantik Dira.


********


"Dir ... Dira ..." Defan memanggil istrinya tapi tak ada jawaban sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2