
Defan berjalan gontai mengarah pintu kamar hotelnya. Menarik handel pintu membukakan daun pintu bagi pelayan yang hendak mengantarkan makanan.
"Selamat malam pak! Saya ingin mengantarkan makanan." Seorang pelayan menundukkan kepalanya. Setelah dipersilahkam masuk oleh Defan, pelayan itu mengantarkan dua piring nasi goreng ke dalam kamar.
"Terimakasih mas. Sisanya ambil saja." Defan memberikan tiga lembar uang kertas berwarna merah pada pelayanan tersebut, sebagai pembayaran serta tips untuk si pelayan.
"Baik. Terimakasih pak." Pelayan itu kemudian pergi dari kamar Defan.
Hening
Tak ada suara apapun didalam kamar, hanya kesunyian yang mendekap. Dira masih pulas tertidur. Defan ingin sekali menunggu hingga istrinya terbangun, tapi perutnya sudah tak sanggup menahan rasa lapar.
Akhirnya ia berinisiatif untuk menikmati makan malamnya seorang diri, selagi nasi goreng itu hangat tentunya akan terasa lebih nikmat.
Kesunyian menghilang, terdengar denting sendok dan piring beradu. Defan tengah asik menikmati makan malanya. Satu piring nasi goreng itu cukup mengenyangkan baginya.
"Abang kok nggak bangunin aku sih, akukan juga lapar!" tutur Dira dengan suara parau karena baru terbangun dari tidur lelapnya.
"Keburu mati aku kelaparan kalau nunggu kau sampai bangun," ucap Defan mendramatisir. Padahal niatnya tadi memang mau makan bersama, namun perutnya terus memberontak meminta segera diisi oleh makanan nikmat yang sudah tercium bau sedapnya.
"Ish," decak Dira sebal.
"Udah buruan makan! Jangan banyak bicara." Defan menyisihkan piringnya yang telah licin lantaran nasi goreng itu telah berpindah semua ke isi perutnya.
Eeeeeeuuu
Suara sendawa Defan yang keras mengagetkan seisi ruangan, tak terkecuali Dira. Defan mulai menghilangkan rasa malunya didepan sang istri untuk hal-hal kecil yang sudah menjadi kebiasaan dirinya.
Sementara Dira tak berani mengomentari suara sendawa yang dikeluarkan pria itu. Hanya melirik sekilas seraya duduk di kursi makannya.
Dira menatap makanan yang ada di meja makannya. Membuka plastik wrap yang membungkus diatas piring untuk menutupi makanan tersebut.
Tak berselang lama, makanan itu satu-persatu telah berpindah ke dalam mulutnya. Sendok makan itu terus beradu bersama piring hingga Dira mengentaskan makan malamnya.
__ADS_1
"Aahhhh kenyang kali," lirih Dira beranjak dari kursinya, mengelus-elus perutnya yang dirasa membuncit karena begitu kenyang.
"Abang lagi ngapain?" Dira menoleh ke arah Defan yang sedang sibuk menatap layar ponselnya dengan serius. Rupanya, sedaritadi Defan melanjutkan membaca materi kasus yang ia tangani.
Dira mendekati suaminya yang tak memberikan jawaban apapun. Ia duduk diatas ranjang, tepat disamping Defan.
*Hening
Dira hanya berani melirik suaminya yang tampak sangat serius. Membuatnya semakin penasaran. Rasa kenyang yang menerpa perutnya tak lantas membuatnya langsung merebahkan diri diatas ranjang.
Ia masih terduduk santai diatas ranjang, sesekali menatap lekat suaminya yang daritadi masih fokus menatap layar ponsel ditangannya.
"Bang ngapain sih?" Dira semakin penasaran, apa yang menarik perhatian suaminya itu sampai tak merespon pertanyaannya.
Ia mengikis jarak diantara mereka, bergerak mendekati tubuh suaminya. Kepalanya dikesampingkan, agar melihat apa yang sedang dibaca oleh pria itu.
"Itu apa sih bang?" Dira semakin kepo apa yang dibaca oleh suaminya saat ini. Suara Dira yang begitu dekat mengalihkan perhatian Defan.
"Loh sejak kapan kau disini? Kok dekat kali dudukmu samaku," celetuk Defan menatap lekat manik mata indah milik istri kecilnya yang hanya berjarak 20 centimeter.
"Oh! Ini aku lagi pelajari kasusku. Beres liburan dari sini, aku ada sidang. Jadi nggak boleh ada satupun materi yang terlewatkan." Defan menunjukkan layar ponselnya yang berisi materi berkas kasusnya pada Dira, membuat gadis itu mengangguk kecil dengan senyum manisnya.
"Jangan sering-sering senyum kaya gitu samaku," goda Defan, kemudian mencubit pipi Dira karena merasa gemas.
"Awww," decit Dira mengelus pipi mulusnya berbekas merah dari cubitan suaminya.
"Sakit loh bang! Udah keberapa kali nih aku abang sakiti!" keluhnya mengingat-ingat apa saja yang telah dilakukan suaminya tadi.
"Siangnya abang paksa aku naik paralayang bikin aku trauma seumur hidup. Tadi sore abang tindih tubuhku, hmmm apalagi ya? Oh iya, jidadku nih masih benjol, sekarang pipiku merah bekas cubitan," racaunya dengan menunjukkan titik tubuhnya yang membekas atas perlakuan suaminya itu.
"Btw, emang kasus apa tadi yang abang pelajari?" Dira kembali mengalihkan topik pembicaraan mereka. Karena terlintas dipikirannya saat itu, mengapa suaminya dari tadi sangat fokus mempelajari kasusnya.
"Kasus pelecehan seksual," jawabnya singkat tak ingin memperpanjang pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Siapa yang dilecehkan bang?" berang Dira seraya memelototkan matanya yang bulat.
"Anak umur lima tahun," papar Defan bernada santai.
"Hah? Apa? Lima tahun udah dilecehkan? Nggak ada otak memang pelakunya itu," desis Dira menunjukkan amukan yang tak biasa. Seketika Defan meliriknya bahkan sampai mengernyitkan keningnya karena melihat tingkah imut istrinya yang tengah mengamuk.
"Kok ngamuk?" Defan melayangkan pertanyaannya. Kemudian beralih lagi menatap ponselnya.
"Ya abang pikir ajalah! Masa anak lima tahun dilecehkan. Kaya nggak ada perempuan dewasa aja di dunia ini," keluh Dira mengerang, tubuhnya serasa sesak mendengar pilu gadis kecil yang menjadi topik pembicaraan mereka.
"Ya gitulah kalau laki-laki bersikap seperti binatang. Makanya dia nggak punya otak. Sampai nggak dipikirkannya gimana nasib gadis kecil itu," sambar Defan dengan kata-kata tajamnya.
Tubuh Dira semakin bergidik ngeri mendengar kata tajam itu. Terlalu frontal baginya, untung saja Defan tak meracau mengabsen nama-nama binatang itu satu-persatu sebagai bentuk makiannya terhadap pelaku.
"Iya bang iya! Abang yang tenang, jangan jadi ikutan ngamuk hehe," canda Dira mencairkan suasana.
"Terus sekarang anak kecil itu dimana bang?" tanyanya meneruskan pembicaraan mereka.
"Di rumah sakit, masih trauma dia, nggak mau cerita sama sekali tentang kejadian itu. Itu yang buat aku jadi berat menangani kasus ini. Sampai detik ini, aku belum dapat pengakuan dari korban," sesalnya.
"Udah jangan banyak ngobrol. Tidur sana! Aku mau lanjut pelajari ini dulu. Nggak kelar-kelar nanti kerjaku," timpal Defan tak mau pekerjaannya terganggu akibat racauan gadis kecil disampingnya.
"Iya bang, aku mau tidur. Awas abang jangan melecehkan aku ya! Aku juga masih kecil! Nanti aku laporin abang loh hihhh," goda Dira mengerling seraya menggetarkan tubuhnya, lalu menarik selimutnya menutupi tubuhnya yang telah terbaring.
"Hihhh siapa juga yang melecehkan kau! Kau itu istriku! Milikku! Jadi suka-suka akulah mau menyentuh tubuhmu sebebasnya," hardik Defan sembari menggelitik tubuh Dira dibalik selimutnya.
*cieee abang Defan udah mulai ngakuin nih, adek Dira miliknya🤣uhuyy
"Ihh abang!! Geli! Stop ya bang stop," titah Dira setengah berteriak.
"Abang berhenti," teriak Dira lagi, ia membuka selimutnya karena begitu gerah didalam sana. Apalagi gelitikan suaminya membuatnya tak bisa bergerak bebas.
Saat membuka selimut tersebut, wajah Defan tepat menatap wajahnya dengan lekat. Bola mata mereka berdua saling beradu.
__ADS_1
*hening