
Defan menginjak pedal gas mobilnya. Mobil audi itu melaju sangat kencang. Sebelumnya ia sudah berkirim pesan pada istrinya.
Defan
Tunggu di depan sekolah. Aku akan menjemputmu.
Pesan itu langsung dibaca oleh Dira. Ia menunggu kehadiran suaminya. Padahal tadinya, Dira berniat untuk pulang ke rumah bersama sahabat-sahabatnya yang lain.
"Dir, gimana nih? Jadi ikut nggak sama kita," ujar Carol menunggu keputusan Dira yang plin-plan.
"Hmmm ... bang Defan baru balas pesanku nih. Katanya disuruh nunggu disini. Kelen duluan ajalah," ucap Dira.
"Yakin? Mau ditemenin di sini sampai bang Def datang nggak?" sambar Shinta malu-malu, sebenarnya ia ingin menunggu kedatangan pengerah tampan itu.
"Yeeee... Itukan maunya kau bukan maunya si Dira." Jenny memukul kepala Shinta dengan keras.
"Awww! Sakit tau!! Ngapain kau jitak-jitak aku. Emang kau nggak pengen lihat pangeran ganteng kita?" balas Shinta menggoda Jenny terang-terangan.
"Pengen sih." Jenny menjawabnya dengan cepat tanpa berpikir. Kedua wanita itu memang sebagai pemuja Defan Sinaga. Ketampanan Defan mampu meluluh lantakkan hati kedua sahabat Dira.
"Sssttt! Orang yang kelen omongin padahal istrinya ada disini loh," celetuk Carol.
Hahahahaah
Shinta dan Jenny terbahak dengan lebarnya. "Dir–Dir ... udah biasa kau kan lihat kami begini," goda Jenny mengerling.
"Ah ribut kali pun kelen! Sana pulang," timpal Dira terkekeh melihat kedua sahabatnya berbinar-binar menunggu kedatangan suaminya.
"Ayo!!!" teriak Carol yang posisinya ditengah langsung merangkul kedua sahabatnya itu.
Jenny dan Shinta mau tidak mau mengikuti iringan langkah kaki Carol. Mereka berjalan ke arah perparkiran, dimana mobil Carol berada.
Carol dan kedua sahabatnya langsung masuk ke dalam mobil. Shinta dan Jenny sangat heboh didalam sana.
"Ah kau ini nggak bisa lihat kami senang dikit," tutur Jenny tak terima langsung diajak pulang.
"Tau nih! Kapan lagi coba bisa lihat cowok seganteng bang Defan," sahut Shinta dengan matanya berbinar.
"Hushhh! Itu suami sahabat sendiri loh! Masa mau diembat juga," kilah Carol menimpali.
"Carol, jalannya pelan-pelan aja ya. Siapa tahu bang Defan keburu datang. Jadi kita bisa lihat mukanya walaupun hanya sekilas," timpal Jenny.
"Iya ... Carol! Pleaseeeee ...! Sekali aja, kita pengen lihat pengaeran tampan itu," lontar Shinta penuh harap.
"Hmmmm." Carol hanya bergumam saja menjawab perkataan sahabat-sahabatnya itu. Ia mulai menyalakan mobilnya, memutar stirnya setelah menginjakkan pedal gasnya. Ia keluar dari parkiran sekolahan.
"Dir ... ayo masuk," ucap Defan setelah berhenti tepat didepan Dira.
Dira langsung tersenyum lebar menyambut kedatangan suaminya. Ia membuka pintu lalu duduk di samping Defan. Baru saja Defan menyalakan mobilnya, mobil Carol baru keluar dari dalam sekolah.
"Cieeeeeeeee ... suit suit," teriak Shinta dan Jenny yang terpana melihat kebersamaan Dira dan Defan didalam mobil.
"Apasih!" Dira menggerutu setelah mendengar godaan dari teman-temannya yang tepat di samping mobil suaminya.
__ADS_1
"Puas kelen!" timpal Dira lagi. Ia tahu keinginan Jenny dan Shinta, melihat wajah tampan suaminya.
Carol langsung menginjakkan gasnya, melaju dengan cepat menjauhi mobil Defan yang belum juga bergerak.
"Ehh ... pelan-pelan napa Carol," desah Shinta menggerutu. Ia tak mau cepat kehilangan momen melihat wajah tampan suami Dira.
"Kelen dua ini! Makanya cepat cari jodoh. Biar nggak godain suami orang," kelit Carol menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah kedua sahabatnya.
"Eh ... btw kita jadi nongki?" sambar Jenny mengingatkan.
"Nggak apa-apa emang nongki tanpa si Dira?" sahut Shinta.
"Ya ... mau gimana lagi? Kalau nunggu si Dira ikut, bisa sampai kiamat," canda Jenny frontal.
"Hush ... sahabat sendiri kok diomongin. Udah kita mau nongki dimana?" tanya Carol sekaligus menengahi.
"Rumahmu aja Carol," usul Jenny.
"Iyah di rumahmu ajalah," sambung Shinta mengangguk.
"Yaudah kita ke rumahku ya!" teriak Carol melajukan mobilnya dengan cepat.
Defan dan Dira baru saja meninggalkan sekolah Dira. Mereka saling terdiam setelah berada di dalam mobil.
Ting ... Ting ... Ting
Suara ponsel Dira memecahkan keheningan di dalam mobil. Dira langsung menduga kalau notifkasi itu berasal dari grup watsappnya. Benar saja dugaannya. Jenny, Carol dan Shinta sedang asik ribut di dalam grup padahal mereka berada di rumah yang sama.
Carol
Dir, lihat kami nih lagi ngerujak! kau sih nggak mau ikut!! huhu
Jenny
Dia sok sibuk!
Shinta
Salam buat bang Def ya🥹
^^^Dira^^^
^^^Ribut kali kelen woi! Besoklah kita ngumpul lagi. Lagian kelen dadakan terus!^^^
Carol
Awas ya kalau besok bohong!
Jenny
Jangan banyak alasan lagi!
Shinta
__ADS_1
Bawa abang Defan juga gpp kok huhu!
^^^Dira^^^
^^^Udah gausah kelen wa-waan segala! Satu tempat pun malah main hp. Ngobrol sana! Bye!!^^^
Dira mematikan ponselnya, memasukkan ponsel itu kedalam saku roknya.
"Dir?" panggil Defan setelah melihat Dira tak sibuk lagi dengan ponselnya.
"Ya?" jawabnya datar.
"Mau makan?" tawar Defan mengulur waktu kebersamaan mereka.
"Masih kenyang!" balas Dira.
"Kapan sampainya sih bang?" sambung Dira lagi.
"Bentar lagi kok." Defan tetap fokus mengemudikan stirnya.
*Hening
Keduanya diam terpaku, masing-masing larut dalam pikirannya. Dira bingung mau membicarakan apalagi, sama halnya dengan Defan.
Suasana menjadi kaku, keduanya hanya fokus menatap ke depan jalanan. Hingga 10 menit dijalan, mereka tiba di perparkiran kondominium yang akan mereka huni sebentar lagi.
"Waaaawww," pekik Dira takjub melihat kondomium itu. Hanya ada 3 lantai, di lantai pertama tempat parkir, di lantai kedua satu kamar, dan lantai ketiga kamar lainnya.
"Bang! Ini beneran jadi rumah kita?" ucap Dira masih pangling dengan pandangan yang ada dihadapannya.
"Iya! Tapi rumah kita di lantai 2. Bukan satu gedung ini," hardik Defan menjelaskan secara detail.
"Ohh!! Kirain satu gedung ini punya kita. Lumayan dekat sih sama sekolahku, cuma 10 menit. Tapi lebih dekat rumah inang hehe," papar Dira seraya berjalan mengekori suaminya.
"Iyah, yang penting nggak terlalu jauh. Kalau naik kendaraan umum juga gampang." Defan terus berjalan, memencet tombol lift ketika mereka sudah berada di dalamnya.
"Loh, emangnya abang nggak antar aku ke sekolah lagi?" cecar Dira.
"Maksudnya, kalau aku nggak sempat antar gitu loh! Aku juga banyak kerjaan Dir," jelas Defan.
"Yah, kok gitu sih! Harus disempat-sempatin lah bang," protes Dira.
Mereka sampai di lantai 2. Ketika keluar dari lift langsung tertuju pintu rumah mereka. Kondomium itu memang sekilas seperti apartemen.
Namun, ukurannya lebih luas dari apartemen studio. Bahkan bisa dikatakan rumah mewah dan lebih private karena untuk diarea satu lantai saja hanya ada rumah mereka.
Dira langsung terpukau setelah pintu rumah mereka di buka. Rumah itu begitu luas bahkan terlalu berlebihan untuk ditinggali hanya dua orang saja.
"Bang kok besar kali sih! Bisa-bisa aku kesepian disini," keluh Dira karena ruangan itu semua sudah dilengkapi furniture mewah yang minimalis.
"Kok kesepian?" sanggah Defan.
"Iya, aku aja pulang sekolah jam 2 siang. Abang pulang jam 5 sore dari kantor. Nah, udah beberapa jam tuh aku di rumah sendirian." Dira mengedarkan pandangannya, menatap sekeliling ruangan itu.
__ADS_1