
Defan masih memanjatkan doa yang panjang.
"Berikanlah kami anak kembar yang banyak untuk meramaikan keluarga kecil kami. Aku memohon dengan segenap hatiku, kabulkanlah doaku, ya, Tuhan! Aku harap, bisa bahagia bersama dengan istri dan anak-anakku kelak, sampai maut memisahkan kami berdua," pinta Defan, lalu membulatkan bola mata setelah menyudahi doanya.
Flashback off!
"Yang, kok melamun? Kapan mau bisa berenangnya!" tegur Defan, melihat istrinya berenang tak tentu arah.
"Ehe ... maaf, bang! Ini masih dicoba terus kok!" balas Dira, menggerakkan kembali kaki dan tangan, mencoba sesuai gerakan yang diajarkan oleh suaminya.
****
Sementara keluarga yang lain, asik menikmati air segar. Sengaja, diberi larangan tanda mendekati air terjun agar tidak ada pengunjung yang hanyut dan terbawa arus.
Melva dan Rosma kompak bersama-sama berenang menikmati air asli pegunungan. Sama halnya dengan Desman dan Sahat tetapi mereka juga berbaur dengan keluarga yang lainnya.
Namun, beberapa orang hanya menikmati pemandangan air terjun Efrata dengan kawasan yang hijau, diapit dengan perbukitan, membuat setiap pengunjung yang datang terpesona dengan keindahan alamnya.
Air terjun ini dikenal juga dengan Sampuran Efrata yang memiliki arti taman terindah dan suci. Sehingga, setiap wisatawan yang datang, tak luput mengunjungi wisata air terjun efrata dengan keindahan yang dapat dikagumi.
****
Usai menikmati air terjun Efrata, tour guide ternyata tak kehabisan akal mengajak keluarga Tampubolon untuk melanjutkan perjalanan. Tak jauh dari air terjun, tour guide sengaja meminta supir untuk menuju Menara Pandang Tele.
Sebab, hari masih sangat siang, masih ada waktu tersisa sebelum jadwal kepulangan keluarga itu. Tour guide juga sudah berdiskusi dengan Defan, bahkan mereka mendapatkan persetujuan jika hari masih panjang usai berkunjung dari tempat wisata kedua maka diperbolehkan mendatangi tempat lain.
Hanya melintasi jalanan terjal perbukitan selama 10 menit, keluarga Tampubolon sudah berada di menara yang berdiri dengan bangunan 4 lantai.
Seluruh keluarga berjalan kaki, memasuki menara itu. Terlihat, bangunan itu menawarkan pemandangan yang berbeda pada setiap lantainya. Seperti pada lantai dua, pengunjung dapat melihat panorama sekitar melalui balkon yang tersedia.
Kemudian pada lantai empat, pengunjung dapat melihat pemandangan dari dalam melalui dinding-dinding kaca.
__ADS_1
Pemandangan terlihat lebih luas dari puncak menara. Di sini, pengunjung akan melihat panorama Danau Toba dari segala penjuru. Air Terjun Sampuran Efrata dan sebagian dataran Pulau Samosir yang berada di tengah-tengah danau juga akan terlihat.
Saat berada di puncak menara, Dira bersandar pada dada suaminya. Menyaksikan keindahan alam danau toba dari menara itu. Tak terasa, hingga senja menyapa. Semua orang menyaksikan matahari terbenam sore itu.
****
Akhirnya, Defan bersama keluarga berpamitan pada kedua pemuda asal setempat yang menjadi tour guide selama dua hari berturut-turut.
"Terimakasih, ya, bang! Sudah mengajak kami berkeliling!" tutur Defan, menjabat tangan kedua pemuda itu secara bergantian.
"Kami yang harusnya berterima kasih, bang! Kapan-kapan kalau ke sini lagi, kontak kami saja!" ucap seorang pemuda, dijawab dengan anggukan Defan.
"Kami pamit dulu, ya, bang! Abang berdua bisa pulang sendiri?" tanya Defan, memastikan kedua pemuda itu bisa pulang dengan selamat.
"Tentu, bang! Sudah ada jemputan kami di perpakiran," jawab pemuda itu dengan tegas.
Defan pun berpamitan. Opung Matua dengan seluruh keluarga melambaikan tangan pada dua pemuda tour guide dari dalam bus. Tampak kelelahan di raut wajah opung Matua dan semua keluarga.
Prok ... Prok ...
Dira bahkan sampai menoleh ke belakang, ia juga turut kebingungan dengan apa yang terjadi.
"Hela, makasih sudah mengajak kami berwisata yang mewah dan menyenangkan!" puji Sahat, berteriak sembari mengacungkan kedua jempol.
Wajah Defan memerah, ia malu ditatap dengan senyum yang lebar oleh semua keluarga.
"Iya, Def! Sudah paten kali rencana liburanmu ini! Apalagi sampai pakai uangmu sendiri," tambah Opung Matua, memberikan dua jempol seperti yang dilakukan oleh anak laki-lakinya.
"Lain kali, jangan sungkan ambil uang dari amang simatuamu!" sindir Sohit, tak rela jika abangnya memang tak mengeluarkan uang arisan sepersen pun, Defan hanya terkekeh mendengar usulan tulangnya yang satu itu.
"Iya, iya, Tulang!" jawab Defan, kembali duduk menghampiri istrinya. Berada di kursi penumpang paling depan.
__ADS_1
Perjalanan panjang akan dimulai, semua keluarga yang merasakan lelah, mulai tertidur. Hari semakin gelap, jalanan pun tampak berkabut karena malam makin terasa dingin.
Defan tak bisa tidur, ia memastikan perjalanan tetap berjalan aman. Sama halnya dengan Dira, walau merasa lelah, ia tetap menemani suaminya untuk memperhatikan jalanan.
"Abang?" panggil Dira, menyandarkan kepala di dada sang suami.
"Apa, Sayang?" balas Defan, mengelus rambut istrinya dengan lemah lembut.
"Kenapa abang nggak ambil saja uang arisan dari bapak? Malah pakai uang pribadi untuk kepentingan liburan ini," protes Dira, setelah mengetahui kebenaran dibalik liburan keluarga besar.
"Nggak apa-apa, Sayang! Berbagi itu penting, apalagi sama keluarga. Nggak perlu pelit sama keluarga sendiri. Amang jadi bisa pakai uangnya untuk kebutuhan yang lain!" balas Defan, bernada lemah lembut, tak ingin membuat istrinya tersinggung.
"Ehm ... tapi uang abang kan jadi habis!" sesal Dira, mengerucutkan bibirnya.
"Ya, enggaklah! Haha!" tutur Defan, tertawa kecil melihat kepolosan istrinya yang tengah menggerutu.
"Loh, liburan semewah ini emangnya nggak perlu biaya besar?" hardik Dira, mendongakkan kepalanya agar bisa menatap manik suaminya.
"Nggak usah dipikirkan! Abang kerja untuk siapa? Untuk kau dan keluarga. Amang siapanya aku? Keluarga aku juga kan?" sergah Defan, menatap lekat wajah istrinya, lalu mendaratkan satu kecupan kecil di kening.
"Hmm ... iya sih, tapi seharusnya abang kompromi dulu sama aku! Kalau gini kan, aku jadi nggak enak sama abang!" lirih Dira, menundukkan kepalanya, merasa dirinya dikecewakan.
"Enggak enak kenapa sama suami sendiri?" Defan mencubit dagu istrinya, mendongakkan ke atas agar dia bisa melihat wajah cantik itu lagi.
"Ya, nggak enaklah! Harus bergantung terus sama suami!" keluh Dira, menatap wajah suaminya dengan raut yang penuh sesal.
"Justru bagus dong, Yang! Jadi ada fungsi abang sebagai seorang suami!" tandas Defan, mengecup bibir istrinya secepat kilat agar tidak ada yang memergoki.
"Ih, abang kebiasaan! Kalau ada yang lihat gimana?" cibir Dira, menekuk wajahnya membuat Defan semakin gemas pada gadis kecil itu.
"Hehe! Kalau sudah suami istri, siapa yang peduli?" bisik Defan, di sisi telinga Dira, membuat ia sedikit meremang dengan deru nafas yang terhembus.
__ADS_1
"Oalah! Susah kalau punya suami keras kepala, dibilanginnya susah!" Dira malah ikut menyambar bibir suaminya, membuat Defan tersenyum tipis dan malu-malu.