
"Enggaklah," Defan dengan tegas mengelak pertanyaan sahabatnya.
Dania merasa lega dengan pengakuan Defan yang mengatakan tidak menyukai calon istrinya sendiri. Tapi Dania sebenarnya tidak terlalu percaya dengan ucapannya.
Defan selalu mengingat Dira saja sudah menjadi satu pertanda kalau Defan memiliki rasa pada paribannya sendiri.
Dia tahu kalau Defan memang laki-laki yang tidak peka. Wajar saja dengan perasaannya sendiri tidak dia sadari. Padahal Dania yakin, rasa suka Defan pada Dira mulai muncul perlahan.
Selesai makan Defan langsung mengantarkan Dania pulang hingga sampai di depan rumahnya. Sepanjang diperjalanan menuju rumahnya, Defan terus memikirkan pertanyaan sahabatnya.
"Hufhhh," helaan nafasnya terdengar sangat berat.
"Apa benar aku sudah menyukai Dira?" gumamnya seorang diri.
Di dalam rumah, Defan bertemu dengan kedua orangtuanya yang sedang asik mengobrol di ruang tamu. Seminggu menjelang pernikahannya, kedua orang tuanya mengingatkan agar Defan tidak sering keluar malam untuk mengindari hal-hal yang tidak diinginkan.
"Nak kau ingatkan sebentar lagi kau akan menjadi suami Dira? Janganlah sering-sering kali kau keluar malam kaya gini. Selain bukan karena pekerjaan, kau boleh saja keluar asalkan bersama Dira," ucap Melva menasihati anaknya yang baru saja pulang.
Defan mengangguk menyetujui keinginan sang mama. Ia tidak ingin dianggap menjadi anak yang durhaka.
"Jadi kek mana semua persiapan pernikahanmu? Baju serta perlengkapan lainnya sudah siap?" tanya Desman penasaran.
"Udah siap semua pak! Amanlah!" tuturnya santai dan duduk di ruang tamu berkumpul dengan keluarganya.
"Pak untuk gedung dan dekor udah bapak siapkan? WOnya bagaimana?" Defan selama ini lepas tangan untuk mengurus acara pesta pernikahannya.
Ia hanya turun langsung untuk mengurus pakaiannya serta aksesoris kelengkapannya. Dan itu sudah dia tuntaskan bersama Dira.
"Amanlah itu semua! Udah ada WO yang mengaturnya. Mereka pasang dekor sehari sebelum pernikahan nanti," jelas Desman.
"Lagipula biaya yang dikeluarkan nggak dikit loh. Jadi kita terima jadi aja! Asal dipantau lah orang itu! Oh ya, nak besok kau ingat kan mau pemotretan prewed? udah kau ingatkan si Dira?" kata Melva datar. Ia khawatir anaknya akan melupakan jadwal tersebut.
"Astaga! Aku lupa ma! Tadi aku ketemu Dira, tapi Dira juga nggak bilang apa-apa. Apa Dira juga lupa?" ia malah balik bertanya-tanya.
"Tuhkan! untung mama ingatkan. Kalau tidak, bisa terlewat acara prewedmu! Hal sepenting itu kok dilupakan sih," ketus Melva.
__ADS_1
Defan langsung berpamitan pada kedua orangtuanya untuk masuk kedalam kamarnya. Ia mengambil ponsel dari kantong celananya dan mengirimkan sebuah pesan pada Dira.
Padahal sekarang sudah cukup larut malam, apakah Dira akan membacanya?
"Dir jangan lupa besok kita foto prewedding dari pagi!"
Defan mengingatkan Dira. hingga jam dua belas malam belum ada tanda-tanda balasan dari Dira. Defan khawatir Dira akan lupa dan berangkat ke sekolahnya.
Defan kembali mengambil ponselnya, mencoba untuk menghubungi Dira. Sayang telepon itupun juga tidak diangkat.
Dira tahu kalau besok adalah persiapan preweddingnya. Foto-foto yang akan dipajang nanti di pesta pernikahan mereka. Dira dengan sengaja tidak membalas pesan dari Defan.
Telepon dari paribannya juga tak digubris. Ia kesal dengan kejadian tadi saat di bioskop.
"Emangnya enak dicuekin! Abang juga suka nyuekin aku kan," lirih Dira sambil tersenyum karena pembalasan dendamnya terwujud.
Dira membiarkan ponselnya menyala. Mode silent menjadi andalannya agar tidak terganggu dari pariban dingin dan arogan itu. Sejenak dia terlelap tidur, karena tidak ingin wajahnya meninggalkan kesan mata panda akibat begadang.
Karena tidak ada balasan dari Dira, Defan pagi-pagi sekali sudah berangkat menjemput calon istrinya. Dia sudah mengenakan setelan jas yang dijahitnya di Bridal Tailor. Selaras dengan gaun yang dipesan oleh Dira.
Sesampainya ia di rumah Dira, ternyata Dira belum bangun dari tidurnya. Rosma yang mengetahui kedatangan helanya atau menantunya itu bergegas membangunkan boru sasadanya agar tidak terlambat.
"Dira...! Diraaaaa! Bangun!" teriak Rosma dengan lantang hingga terdengar oleh Defan.
"Anak gadis ko bangun siang. Calon suamimu udah nungguin tuh," tegas Rosma agar Dira beranjak dari tempat tidurnya.
Namun Dira bukannya beranjak, ia dengan santainya hanya melihat jam di dinding rumahnya. Mengetahui kalau Defan datang terlalu pagi.
Seharusnya Dira memiliki waktu untuk satu jam lagi melanjutkan tidurnya. Sebelumnya dia sudah meminta izin pada wali kelasnya, tidak bisa masuk sekolah hari ini. Jadi Dira cukup bersantai menghadapi Defan sekarang.
Apalagi Defan terlalu rajin sudah berada di rumahnya pagi ini karena takut Dira malah berangkat ke sekolah dan melupakan jadwal mereka. "Mak baru jam tujuh loh! Pemotretannya kan jam sembilan," ujar Dira dengan santai.
"Hush! Nggak enak sama hela itu! Kau ini, udah gadis masa harus dibangun-bangunkan,"
Rosma meninggalkan Dira, memberikan secangkir teh pada Defan dan satu piring pisang goreng buatannya. Defan mengisi perutnya lebih dulu, agar nanti tak kelaparan saat pemotretan.
__ADS_1
"Dira mana nantulang? Belum bangun juga?" Defan membuka suaranya yang sebenarnya ia tahu karena mendengar langsung teriakan calon mertuanya, tapi ia ingin basa-basi dengan mertuanya itu.
"Baru bangun dia, sabarlah kau ya. Dia mau mandi dulu. Ku tinggal dulu kau ya, banyak yang harus ku bereskan di dapur," kata Rosma sembari meninggalkan Defan yang sedang menyantap pisang gorengnya.
Defan mengambil ponselnya, mengecek jadwal sidang untuk kliennya ataupun jadwal konsultasi kliennya. Sejak dua minggu lalu, dia sudah mengosongkan jadwalnya pada hari ini. Karena hari ini sudah dia siapkan untuk pemotretan preweddnya. Dan Defan itu orangnya sangat pelupa, jika tak dicatat, bisa saja Defan akan melupakannya jadwal-jadwalnya sehingga berantakan.
"Lama juga si Dira," keluhnya.
Hampir sejam Defan menghabiskan waktunya seorang diri didepan rumah Dira. Padahal Dira dengan sengaja membiarkan Defan menunggu lebih lama untuk memberinya pelajaran.
"Rasakan kau!" batin Dira.
Dengan santai Dira menggunakan baju biasa, bukan gaun untuk pemotretannya. Melihat Dira yang belum bersiap-siap, Defan terperanjak.
"Loh kok masih pakai baju biasa?" tanya Defan datar dengan posisi berdiri karena ingin segera berangkat ke lokasi pemotretan.
"Kalau dipakai sekarang nanti kusut bang. Pakainya nanti aja, di lokasi pemotretan" ketus Dira.
Dira sekarang akan membalas perbuatan Defan. Jika Defan bersikap acuh dan dingin, hal yang sama pun akan ia lakukan.
"Yaudah buruan masuk,"
Defan kali ini langsung masuk ke dalam mobilnya, bahkan dia tak membantu Dira untuk membawa gaun prewednya. Membukakan pintu untuk Dira saja tidak dia lakukan.
"Berarti kemarin yang dia lakukan itu hanya pencitraan didepan kawanku," batin Dira yang mengingat moment dimana Defan sangat perhatian padanya dan sahabatnya. Membukakan pintu untuk Dira, sehingga membuat para sahabatnya kagum kalau Defan adalah pria yang romantis.
Defan membuka jendelanya dan berteriak.
"Nunggu apalagi? Cepat masuk! Kok malah diam," perintah Defan.
Dengan cepat Dira tertatih-tatih mengangkat gaunnya yang berat dan panjang itu. Memasukkannya sendiri ke kursi belakangnya. Mobil mewah sedan audi yang biasa Defan kendarai memang kosong melompong. Tidak ada barang bawaannya. Karena setelan jasnya sudah dia pakai.
Dira pun duduk disamping gaunnya, membuat Defan terbelalak.
"Apa maksudnya kau dibelakang? Emangnya aku supirmu," ketus Defan dengan dingin.
__ADS_1
"Aku mau jagain gaunnya bang, biar nggak lecet dan kusut," kekeh Dira yang sengaja ngerjain paribannya itu.