
"Ayolah! Sudah lama kita nggak pergi bersama," ucap Dania setelah duduk di sofa dekat Defan yang sedang menyandarkan kepalanya di sofa tersebut.
Ia membujuk sahabatnya untuk perayaan kemenangannya. Seperti yang sudah-sudah sering mereka berdua lakukan.
Dulu saat Defan masih single, belum terikat pernikahan seperti sekarang. Apapun ajakan dari Dania akan dipenuhi olehnya. Termasuk merayakan kemenangan kasusnya, mereka berdua sering sekali merayakannya hanya berdua saja.
Baik hanya acara makan-makan berdua, karokean, bahkan minum bir berdua pun kerap mereka lakukan. Hal itu tak sungkan keduanya lakukan lantaran mereka sudah sering bersama mulai saat remaja.
Flashback
"Def ayo bersulang! Karena kau sudah memenangkan sidang hari ini! Mari kita rayakan dengan menghabiskan beberapa botol bir yang ada di meja ini." Dania mengangkat gelas birnya tinggi-tinggi untuk bersulang.
Defan menyambutnya, mengangkat gelas itu, membenturkan gelasnya dan gelas Dania sebagai bentuk bersulangnya mereka berdua.
Mereka berdua di dalam bar, sengaja mendatangi tempat itu untuk perayaan kemenangan Defan atas kasus pembunuhan untuk yang pertama kalinya.
Defan untuk pertama kali mengambil kasus pembunuhan, semenjak kasus menyeramkan itu, ia tak lagi mau menerima kasus serupa. Kasus itu membuatnya ogah menangani persoalan pembunuhan kejam dan sadis.
Defan dan Dania asik menikmati lantunan musik jedag-jedug di dalam bar. Tak ada rasa canggung baik dari Dania maupun Defan. Mereka sudah terbiasa melakukan hal itu bersama.
Hanya saja, Defan berkomitmen tidak ada yang menyimpan perasaan diantara mereka. Persahabatan itu sampai kapanpun hanya sebagai bentuk persahabatan, tidak lebih!
Defan bahkan tak pernah melihat Dania sebagai sosok perempuan. Di matanya, Dania hanyalah seorang sahabat berbagi keluh-kesah, bersenang-senang bersama, bahkan teman sekolah serta rekan kerja.
Flashback Off
"Bagaimana Def? Mau nggak?" tanya Dania menatap lekat sahabatnya yang tampak sedang berpikir.
"Sekarang saja!" tutur Defan melemah, ia terpaksa menyetujui ajakan Dania lantaran ingin mempertahankan hubungan baik persahabatannya.
Lagipula, Defan sedang tidak berniat melanjutkan pekerjaannya. Ia sedang ingin berleha-leha, rehat sejenak dari hiruk-pikuk pekerjaanya.
__ADS_1
"Okay!" Dania berdiri dengan semangat yang menggebu-gebu. Ia tak menyangka tawaran traktirannya disetujui oleh Defan.
"Ayo buruan!" Dania menarik lengan Defan agar segera beranjak dari duduknya. Dengan rasa malas Defan berdiri, mengekori Dania dari belakang. Dania sempat mampir ke ruangannya, mengambil barang-barang miliknya. Karena saat itu sudah siang, pasti mereka selesai tepat saat jam pulang kerja.
"Kemana kita? Bar? Resto? Atau sekalian makan di tempat karaoke?" usul Dania bersemangat.
"Naik mobilmu ya?" celetuknya lagi.
"Siang-siang gini ke bar? Makan aja sesuai permintaanmu tadi! Kebetulan aku belum makan siang. Ayo ke parkiran," ajak Defan meski merasa sedikit jengah dengan sahabatnya itu.
"Oke makan, tapi makannya di tempat karaoke favorit kita ya? Sekalian buang suntuklah! Sejam-dua jam nggak masalah kan?" Dania menatap wajah Defan dengan memelas .agar disetujui.
"Oke!" jawab Defan singkat.
Defan sengaja tak mengabari Dira. Dia ingin menjaga perasaan istrinya. Terlebih, tadi malam Dira dan Dania baru berjumpa. Tentu saja, mood Dira langsung berubah derastis setelah pertemuan tak sengaja dengan sahabatnya itu.
Dania dan Defan masuk ke dalam mobil. Defan sibuk dengan stir mobil dan fokus mengendarai. Sedangkan Dania terus saja meracau bercanda ria dengan Defan, meski Defan hanya mendengarkan sesekali.
"Udah lama ya kita nggak kaya gini?" ucap Dania seraya tersenyum sumringah.
"Kita harus sering-sering gini Def, biar persahabatan kita nggak renggang." Dania menasehati.
"Hmmm." Defan hanya bergumam saja menjawab cerocosnya Dania.
Mereka tiba di tempat karaoke. Tempat karaoke itu tak jauh dari kantor. Dania langsung memesankan untuk bernyanyi selama dua jam di ruang karaoke. Tak lupa, ia juga memesan makanan untuk mengenyangkan perut mereka dahulu.
"Ayo Def, kita di ruang 21." Dania berjalan gontai menyusuri ruangan. Ternyata ruangan karaoke mereka ada di lantai dua. Defan dan Dania masuk berdua di ruang karaoke. Memulai nyanyian mereka dengan lagu-lagu berbahasa batak.
Kemudian, 15 menit berlalu, pesanan makanan mereka pun tiba. Seorang waiters menyajikan makanan berat dan ringan di meja. Makanan berat berupa nasi goreng dan mie goreng langsung disambar oleh dua pria dan wanita yang bersahabat itu.
Mereka menjeda lagunya, suasana tampak hening. Hanya terdengar sayup-sayup suara dari pengunjung lain saat bernyanyi.
__ADS_1
********
Dira dan ketiga sahabatnya baru saja tiba di tempat karaoke. Mereka berjalan beriringan memasuki tempat tersebut. "Aku aja yang pesan," kata Dira angkuh sekaligus mengibaskan ATM miliknya.
"Iya deh ... iya! Yang sekarang sudah punya banyak duit," ledek Carol tertawa-tawa kecil.
Dira memesankan ruangan untuk karaoke selama dua jam. Mereka mendapatkan ruangan nomor 22, kebetulan di lantai atas itu masih banyak yang kosong karena masih siang.
"Ayo!" ajak Dira berjalan gontai menuju ruangan 22.
"Aku lapar Dir, apa tadi kau pesankan makanan untuk kita?" ujar Jenny mengelus perutnya yang kelaparan.
Dira mengangguk ringan. Ia sengaja mentraktir teman-temannya sekaligus untuk membalas selama beberapa bulan ini tak bisa berkumpul ketiga sahabatnya.
"Tenang ... aku juga nggak sepelit itu kok. Udah aku pesankan banyak makanan untuk kita habiskan siang ini," teriak Dira mengangkat tingi-tinggi ATM miliknya.
Semenjak memiliki ATM dari suaminya, ia tak perlu khawatir lagi untuk melakukan pembayaran apapun. Termasuk mentraktir teman-temannya. Bahkan kalaupun dipakai hanya untuk sekedar karaoke, suaminya juga tak akan tahu jumlah pengurangan uang di dalam ATM itu.
Uangnya terlalu banyak shay digitnya𤣠berapalah yang bakal dihabiskan Dira yang hanya anak sekolahan ...
Dira dan ketiga sahabatnya menaiki anak tangga. Mereka menyusuri ruangan dan masuk ke ruangan 22. Shinta langsung mengambil alih remote untuk pengendali karaokenya.
"Aku dulu ya we! Udah nggak sabar mau nyumbang lagu dengan suara sumbangku hehe," gurau Shinta dengan lugasnya.
Ketiganya memilih diam, menuruti permintaan Shinta. Lagu kekinian mulai terdengar, lirik-lirik bermunculan di layar tv LED yang lebarnya 50 inchi.
Shinta mulai menyanyikakan lagu yang sedang boming di bulan Februari. Setelah menghabiskan satu lagu, kali ini Jenny mengambil alih remotenya.
Ia mulai menyanyikan lagu favoritnya dari Sheila On 7. Lagu berjudul seberapa pantas membuat ketiga sahabatnya cukup terpukau. Suara Jenny terdengar indah.
Lalu, kali ini Dira yang melanjutkan untuk menyanyikan sebuah lagu. Ia sangat suka dengan lagi Noah berjudul yang terdalam. Cukup pelik ia rasa lirik dalam lagu itu.
__ADS_1
Secara bergantian, akhirnya remote berada ditangan Carol. Ia pun menyanyikan lagu. Baru ia memulai nyanyiannya, suara ketokan pintu menghentikan lagunya.
Seorang waiters membawakan makanan yang sudah dipesan Dira sebelum memasuki ruangan. "Permisi mbak, saya mau mengantarkan pesanan," ucap pelayan itu mengulas senyum dibibirnya.