Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
kediaman orang tua


__ADS_3

"Betul sekali! Banyak ukm yang kegiatannya bagus loh di kampus kita. Saya sendiri bergabung di ukm radio, untuk menyiarkan berita dan hiburan melalui radio kampus!" timpal Wati.


"Wah, seru tuh, kak! Kita jadi penyiar, ya?" tanya Dira, sedikit tertarik dengan kegiatan ekstrakulikuler di kampus tersebut.


"Yap, benar sekali! Kau bisa jadi penyiar kalau mau bergabung! Kalau berminat, aku tunggu pendaftaranmu," tambah Wati, tersenyum lebar.


***


Di kelas jurusan hukum, perpisahan berlangsung cukup meriah tanpa kehadiran Shinta. Sehari ini, namun Panja merasa kehilangan karena tidak ada wanita yang selalu memperhatikannya. Shinta yang biasanya suka mengajaknya mengobrol ataupun sekedar bercanda dengannya, ia menjadi merasa menyesal telah mengusir Shinta dari kelas itu.


Namun, walaupun tanpa kehadiran Shinta, seharian proses perpisahan ospek berlangsung dengan lancar. Panja dengan kedua temannya menyampaikan perpisahan, kegiatan selama ospek mereka anggap sangat menyenangkan.


***


Beberapa jam berlalu...


Hari semakin sore, jam pulang pun berlangsung. Shinta bergegas keluar dari perpustakaan. Ia langsung mengambil tas yang masih ketinggalan di dalam kelas. Namun, saat ia hendak mengambil tas tersebut, justru dirinya berpapasan dengan Panja disaat semua maba dan senior lain sudah pulang.


Entah apa yang Panja lakukan atau memang dia sengaja menunggu kedatangan Shinta. Sepertinya dia merasakan sesuatu yang hilang .lantaran Panja tidak bersama perempuan itu dalam satu hari ini.


“Kenapa, bang?” tanya Shinta, saat dicegah oleh Panja keluar dari ruangan.


“Ehm ... sehari ini kau di mana? Kenapa malah kabur dari kelas?” tutur Panja, menatap lekat gadis itu.


“Aku di kantin dan perpustakaan. Kan yang suruh keluar dari ruangan ini adalah abang sendiri, lalu kenapa sekarang malah protes?” tegur Shinta, memicingkan mata.


***


Defan sudah menunggu di persimpangan jalan, menunggu kepulangan istrinya. Sejak 30 menit yang lalu, dia sudah bergegas pulang, bahkan hari ini sangat antusias untuk bertemu sang istri. Sebab, ia merindukan gadis kecil karena dalam satu hari ini, perempuan itu tidak menghubungi suaminya.

__ADS_1


Defan menatap ponsel, lalu mengirimkan pesan pada Dira. Ia mengabari kalau sudah berada di depan kampus, menjemput Dira. Maklum, esok adalah jadwal weekend, Defan ingin membujuk Dira staycation sesuai rencana awal. Istrinya selalu saja menolak jika diajak untuk menginap di hotel dengan alasan kalau belum selesai masa nifas setelah mengalami keguguran.


***


Dira dan ketiga sahabatnya bertemu di lapangan kampus, mereka memang senang berkumpul. Apalagi, besok tidak akan bertemu satu sama lain, karena kampus akan libur. Hanya saja, kegiatan ekstrakulikuler tetap berlangsung dan bisa diikuti oleh mahasiswa. Sesuai dengan permintaan para senior, maba bisa mendaftarkan untuk bergabung dengan UKM yang diminati.


“Dir, kau mau langsung pulang?” tanya Carol, seraya berjalan beriringan dengan kedua temannya, hanya Shinta yang belum datang menghampiri.


“Iya, suamiku sudah menunggu. Si Shinta mana sih?” gerutu Dira, sebelum berpamitan ia ingin melihat temannya yang satu itu.


“Nggak tahu, mungkin sudah pulang,” jawab Jenny, asal.


“Ah, tapi tadi di grup chat dia bilang mau pulang bersama kok, coba kau cek lagi,” imbuh Carol, sembari menunjukkan pesan Shinta untuk menumpang di mobil Carol.


“Oh, iya juga sih! Baru sadar aku,” kekeh Jenny, seraya menatap kembali ponselnya.


***


Pasca Panja melakukan penolakan secara terang-terangan. Nyatanya, Shinta sebenarnya sudah tak memperdulikan hal itu.


“Saya ingin berpamitan sama kau. Mulai besok, kita tidak akan berjumpa lagi,” tutur Panja, mengulurkan tangan agar keduanya saling berjabat tangan.


“Oh, aku kira ada perlu apa sampai harus menungguku di sini! Sudah besar kepala duluan aku!” kata Shinta, terkekeh.


“Enggak kok, saya hanya ingin berpamitan saja karena hari ini, kau tidak mengikuti ospek,” kilah ,Panja, menunggu raihan tangan Shinta dengan mengibaskan tangannya.


“Yasudah, bang! Kalau begitu, aku pamit pulang dulu!” jawab Shinta, meraih tangan Panja, lalu keduanya saling berjabat tangan.


Shinta bergegas pergi, meninggalkan Panja seorang diri. Dia tak lagi melihat ke belakang, bahkan dirinya merasa sudah move on dari laki-laki yang dua tahun lebih tua darinya.

__ADS_1


***


“Akh, kelamaan nih si Shinta, kalau gitu aku duluan deh! Kalian tunggu saja dia, suamiku udah nunggu dari tadi nih!” papar Dira.


Pesan dari Defan, dipastikan kembali oleh Dira.


Suamiku


Yang, abang parkir di persimpangan, sudah nggak boleh parkir sembarangan di depan kampus, buruan ya!!


“Ya, sana pergi!” usir Jenny, mendorong tubuh Dira tapi tiba-tiba ditahan oleh Shinta yang baru muncul entah dari mana.


“Eh, kau udah ditungguin dari tadi! Aku mau pulang nih, yaudah, aku langsung pulang aja! Bye!” Dira melambaikan tangan kepada ketiga sahabatnya, berlalu pergi dari tempat itu setelah berhasil melihat wajah teman yang satunya.


Carol, Jenny dan Shinta, berjalan gontai menuju perparkiran. Sementara Dira sudah berlari hingga gerbang kampus. Mencari keberadaan suaminya yang ternyata ada di persimpangan jalan. “Kok jauh kali sih parkirnya, bang!” keluh Dira, menatap lekat sang suami dari dalam mobil setelah masuk ke dalam dan duduk dengan manis di jok mobil.


“Tadi di larang parkir di depan kampus, yang. Mungkin ada peraturan baru!” jelas Defan, menyalakan mesin mobil, bergegas pergi dari area kampus Dira.


“Oh, tadi memang ada pengumuman sih, semua pedagang kaki lima atau yang parkir di depan kampus sudah di larang. Karena banyak pedagang liar dan parkir liar sembarangan juga di sana. Jadi pihak kampus ingin kalau depan kampus itu menjadi area steril,” tambah Dira, memberitahukan pengumuman yang sempat disampaikan oleh pihak kampus melalui speaker kampus.


"Oh, gitu ... Yang, bagaimana kalau kita nginap hari ini? Besok kan sudah libur, nginap di hotel gitu," usul Defan, setelah melajukan mobil.


"Ehmm ... kan aku bilang jangan dulu, bang! Aku masih nifas loh! Abang nggak bisa ngapa-ngapain," desah Dira, menolak secara halus keinginan suaminya.


"Ya, cuma liburan kok! Nggak ngapa-ngapain, hanya untuk berbagi waktu berdua," jelas Defan, meraih tangan istrinya, melekatkan jari-jemari keduanya.


"Kalau kita ke rumah amang aja gimana? Sudah lama loh kita nggak ke sana, nginap di sana deh. Lagian waktu itu, kita gagal mau nginap di sana," ungkap Dira, memberikan usulan pada suaminya.


Defan tampak berpikir sejenak, sepertinya usulan Dira adalah pilihan yang tepat. Rasanya, sudah lama tak menginjakkan kaki di kediaman kedua orangtuanya.

__ADS_1


Meski sang mama, tidak berada di rumah itu. Namun, masih ada bapak dan adik kedua Defan. "Yasudah, kita ke sana saja! Mau pulang dulu atau langsung?" tanya Defan, lalu mencium punggung tangan istrinya dengan kelembutan.


__ADS_2