
Defan menginjakkan kakinya di halaman kantornya. Selama berjalan menyusuri lobi hingga ke dalam kantor, Defan senyum-senyum sendiri bak orang gila.
Dania dari kejauhan melihat tingkah Defan yang begitu aneh. Ia mengejutkan pria itu dari belakang.
Daaaarrrr!!
Dania meletakkan kedua tangannya di bahu pria yang bertubuh kekar itu. Bahkan Dania sampai rela berjinjit demi meraih pundak yang gagah dan tinggi itu.
"Hayo senyum-senyum terus dari tadi, kenapa sih?" ucap Dania penasaran menyelidiki sikap sahabatnya.
"Huuuu kepo aja," tandas Defan terus berjalan memasuki lift yang diekori Dania dari belakangnya.
"Mana oleh-oleh untukku?" tanya Dania seraya mengapitkan kedua telapak tangannya di depan wajah Defan.
Defan menyingkirkan kedua tangan itu. "Nggak ada oleh-oleh. Laki-laki mana mikirin oleh-oleh."
Defan dan Dania sampai di lantai 2, di mana ruangan Defan dan Dania berada.
"Def gimana persiapan sidangmu? Bentar lagi loh," celetuk Dania mengingatkan.
"Aman tenang! Udah kuatur semua itu," ungkap Defan angkuh. Ia sangat percaya diri akan kemenangannya, semua bukti telah didapatkannya.
"Lalu kapan kau mengunjungi anak itu?" sambung Dania lagi.
"Besok aku akan menemuinya," jelas Defan singkat.
"Aku ikut ya!" seru Dania bernada manja.
"Loh ngapain? Itukan bukan urusanmu! Udah urusin saja persoalan administrasi kantor," kilah Defan tak ingin berduaan dengan Dania karena akan menimbulkan kecemburuan pada Dira.
"Please!! Anak itu suka samaku kok," hardik Dania dengan wajah memelas agar diperbolehkan pergi bersama sahabatnya.
"Janganlah!" tampik Defan terus menolak keinginan Dania.
"Ayolah Def, aku janji tidak akan menganggumu selama bekerja," tuturnya dengan wajah penuh harap.
"Baiklah!" pungkas Defan yang tidak bisa lagi mengelak permintaan sahabat karibnya itu.
Defan dan Dania berpisah setelah keduanya masuk ke ruangan masing-masing. Dania sibuk dengan pekerjaannya, mengurus segala administrasi dan keuangan kantor.
__ADS_1
Sedangkan Defan mulai melihat berkas yang menumpuk di meja kerjanya. Berkas-berkas kasus yang akan ditanganinya.
Berbagai pekerjaan yang tertunda akibat jadwal pernikahan dan honeymoonnya selama satu minggu terakhir.
Haduh banyak sekali berkas yang harus ku baca! Nggak akan habis-habis kerjaanku ini!
Defan mengerang dalam batinnya seraya membaca satu-persatu kasus yang ada di dalam berkas tersebut. Mulai dari kasus KDRT, kasus perceraian, kasus kekerasan, kasus pencurian hingga kasus lainnya harus ia hadapi.
Defan mengulik semua kasus dengan sangat fokus hingga melewatkan makan siangnya.
Tok.. Tok..
Tiba-tiba suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Defan. Tatapannya kini penasaran dengan orang yang menunggu perintahnya dari balik pintu.
Ia berharap yang datang itu adalah istri kecilnya, yang membawakan makan siang untuknya.
"Masuk!" Defan terus menatap sosok dibalik pintu yang sedang menarik handle pintu ruangannya.
Sosok perempuan yang tak asing lagi di matanya. Perempuan itu tersenyum lebar, membawakan satu kotak nasi.
"Ini Def, makan siang untukmu. Aku tahu kau sibuk sekali hari ini. Jadi setelah selesai aku makan, aku bungkuskan satu untukmu." Dania tersenyum lebar mendekati meja kerja Defan, menyodorkan bungkusan yang ada ditangannya.
"Taro aja disitu Dan," tutur Defan, kembali mengalihkan pandangannya pada berkas yang ada dihadapannya.
Keinginannya tak sesuai harapan. Ia mengharapkan istrinya yang datang berkunjung tapi sepertinya itu mustahil terjadi. Mengingat Dira tak tahu dimana kantor Defan berada.
Dania melangkah gontai mendekati Defan, sebelumnya ia sudah meletakkan bungkusan itu di meja tamu yang tak jauh dari meja kerjanya.
"Lagi sibuk ngapain?" lontar Dania seolah-olah penasaran, padahal ia ingin mendekati pria itu.
"Kan bisa kau lihat sendiri, pekerjaanku nggak beres-beres. Udah sana pergi," usir Defan dengan dingin.
"Ih kok jutek kali sih. Semenjak kau nikah jadi lebih ngejauhin aku kayanya," protes Dania.
"Ngejauh apanya? Kan aku baru kerja hari ini," kilah Defan tak mengalihkan pandangannya.
"Buktinya waktu honeymoon beberapa kali teleponku kau reject," hardik Dania semakin kesal.
"Ya kau pikir ajalah sendiri, aku lagi honeymoon ngapain juga jawab teleponmu. Lagi sibuk liburan," ketus Defan tak ingin berlama-lama melanjutkan obrolan mereka.
__ADS_1
"Yaampun! Kau jadi berubah kali loh Def! Jadi ceritanya kau udah nggak mau berteman samaku lagi?" Dania menatap Defan dengan serius meski pria itu tak membalas tatapannya.
"Bukan gitu loh Dan, kau kan tahu sendiri posisinya. Statusku sekarang sudah berubah jadi suami orang. Kita sudah tidak bisa sama-sama seperti dulu. Ada orang yang harus dijaga perasaannya."
Defan berjalan ke arah meja tamu, ia mengambil bungkusan dari sahabatnya. Memakannya dengan santai sambil mendengar ocehan wanita yang tak kunjung pergi dari ruangannya.
"Nih kalau aku menjauh, kenapa sekarang aku makan makanan darimu?" Defan melirik Dania yang berjalan ke arahnya, duduk disamping Defan dengan santainya.
"Nah gitu dong! Aku mengerti kalau kau sudah memiliki istri. Setidaknya kau tetap menjaga hubungan baik kita! Aku ini sahabatmu sejak kita sekolah dulu! Masa kau mau melupakanku begitu saja," cecar Dania.
"Ya santai dong. Tapi aku ingatkan. Kedepannya kita tidak bisa pergi bersama-sama lagi. Untuk hal pribadi ya!" kecam Defan seraya menghabiskan makanannya.
"Aku juga tahu hal itu Def, mana mungkin aku mengajakmu keluar lagi untuk hal-hal kesenangan kita. Tapi kalau masalah pekerjaan aku boleh ikut ya!" Dania seketika mengerling, entah apa maksudnya saat ini.
"Jangan kaya gitu! Nggak enak kalau dilihat orang. Kerlinganmu bikin orang silau," timpal Defan.
"Udah sana pergi." Defan beranjak dari kursinya setelah meneguk segelas air untuk menghilangkan dahaganya.
Ia kembali ke kursi kebesarannya. Kursi tempat dimana ia bekerja. Namun, tatapannya masih tertuju pada sahabatnya, menunggu perempuan itu segera pergi dari hadapannya.
"Sana!" usir Defan dengan sengit.
"Iya! Oke! Oke! Aku juga mau kerja lagi kok." Dania berjalan mundur ke arah pintu, wajahnya tetap menatap sahabatnya yang mulai bertingkah arogan dan cuek padanya.
Kemudian, Dania melambaikan tangan sembari menggulum senyum genitnya pada Defan. Hal yang kerap sekali ia lakukan untuk menggoda sahabatnya itu.
Haduh! Dania! Dania! Ada-ada saja kelakuanmu! Kalau sering begitu, bisa-bisa istriku ngamuk!
Defan kembali fokus pada pekerjaannya. Ia membalik-balikkan berkas yang ada di mejanya. Satu berkas yang mendapat sorotannya, kasus korban kekerasan seksual yang sebentar lagi ia hadapi.
Ia jadi teringat pada kameran yang ada di kantornya. Kamera yang digunakan Dania untuk merekam pengakuan korban.
Ia berjalan mendekati lemari pajangan khusus penyimpanan koleksi kameranya. Lalu mencari kamera yang ditunjukkan Dania saat meneleponnya beberapa hari lalu.
"Nah ini dia." Defan mengangkat satu kamera berwarna hitam dibalut perpaduan silver. Kamera mirrorless miliknya.
Ia mencari-cari file yang menurut Dania sudah aman tersimpan disana. Bolak-balik menekan layar kamera yang bisa disentuh.
Tapi tak ada satupun rekaman yang tersimpan dengan waktu beberapa hari lalu. Bahkan tak tampak wajah korban dalam cover video yang ada di dalam salah satu file kamerannya.
__ADS_1
Defan semakin panik, mengutak-atik kamera itu. Dari awal file hingga file terakhir. Tapi tidak ada satupun. Untuk file terakhir pun sampai ia tonton, tapi bukan video itu yang dia cari. Apakah file video rekaman itu hilang?