
Hatinya berdebar, takut bahwa istrinya sakit parah. Meskipun Dira ditemani oleh sahabatnya, tetap saja Defan khawatir.
****
Carol hanya bisa menyibukkan diri dengan menatap tv. Terkadang, ia menoleh ke arah Dira, menanti wanita itu terbangun dari tidur siang.
Carol bahkan mencoba memejamkan mata tetapi ia juga tak bisa tertidur lelap seperti Dira. Alhasil, dia pun sibuk berseluncur di ponsel. Menjalankan media sosial, melihat-lihat update terbaru dari teman-teman serta para selebritis.
Setelah 1 jam tidur tenang, Dira akhirnya terbangun karena teringat pada sahabatnya yang ada di rumah.
Dira membelalakkan matanya dengan cepat membuat Carol terkejut bukan kepalang. Bahkan, mata itu tak berkedip sedikit pun, Carol menjadi takut.
"Heh, udah bangun kau?" teriak Carol saat terkejut melihat mata itu tiba-tiba terbuka.
Dira langsung menoleh kepada Carol sembari menunjukkan cengiran kuda. "Hehe, sorry aku ketiduran, Rol! Lupa aku ada kau di sini," ujar Dira.
"Astaga! Tumben kau tidur siang, apa memang udah jadi kebiasaanmu?" Carol menatap sinis.
"Baru-baru ini aja sih. Nggak tahulah aku, banyak perubahan pada diriku sendiri," tutur Dira seraya mengucek bola mata.
"Jadi ngapain aja kau dari tadi? Udah hampir sore, ya?" Dira melihat jam yang menempel di dinding. Hampir menunjukkan jam 4 sore.
"Belum datang juga si Jenny dan Shinta?" cecar Dira sebelum mendapat jawaban Carol pada pertanyaan awalnya.
"Dari tadi aku nonton tv sama main hp ajalah! Sekaligus lihat-lihatin kau tidur. Mereka belum datang, pokoknya janjinya sore!" jelas Carol, mulai mengutak-atik remot.
Kakinya mulai keram, ia selonjorkan kaki yang dari tadi dilipat saat duduk. Lalu, merilekskan tubuhnya.
"Duh, kok lapar lagi aku, ya," desah Dira dengan keluhannya.
"A–apa? Aku aja masih kenyang kali loh! Makanmu sebanyak itu tadi, sekarang udah lapar lagi," tampik Carol seraya menggelengkan kepala.
"Namanya juga baru bangun tidur, Rol! Wajar orang kelaparan. Habis tenaga loh walaupun kita hanya tidur-tiduran aja." Dira beranjak dari sofa, mencari cemilan di kulkas.
Beruntung, masih ada beberapa snack-snack untuk mengganjal perut. Ia membawa bungkusan itu, lalu meletakkan di atas meja. Carol pun ikut memakan lantara ia ingin mengunyah saja.
__ADS_1
Bosan sedari tadi hanya berdiam diri. Namun, kini Dira dan Carol menunggu kedatangan dua sahabat lainnya.
******
Baru jam 4 sore, Defan sudah bersiap-siap untuk pulang. Kerjanya pun tidak begitu berat hari ini. Banyak pekerjaan yang rampung, tinggal menunggu agenda sidang perkara digelar.
Beberapa kasus juga ada yang berujung damai sehingga pihak korban hanya perlu mencabut laporan dan didampingi oleh S.N.G Lawfirm.
"Jun, saya pulang duluan, ya! Kau kalau mau pulang boleh saja, pastikan semua pekerjaan selesai. Jangan lupa barang bukti untuk Senin nanti." Defan langsung melangkah gontai, membawa barang-barang miliknya berupa tas dan jas yang tak ia pakai, hanya diselipkan di lengan.
"Baik, pak!" Juni hanya menuruti keinginan pria itu. Lagi pula, Juni tak ingin cepat-cepat pulang, sebab di kost-kostan pun ia tidak ada kegitan.
Lebih baik, ia memanfaatkan momen untuk mengkaji semua berkas serta mempersiapkan bukti-bukti yang dimiliki.
Defan sudah berlalu sejak lima menit yang lalu, Juni masih termenung, belum melanjutkan pekerjaan. Ia memikirkan mengapa bosnya itu pulang lebih awal. Tidak seperti biasanya, padahal Defan sering sekali pulang telat.
"Mungkin pak bos ada perlu, ya!" gumam Juni.
Di dalam lift, Defan tak sengaja bertemu dengan Dania yang sedang membawakan tumpukan berkas tentang administrasi kantor mereka.
"Eh, Def, kau mau pulang jam segini?" cecar Dania, seraya mengintip dari tumpukan berkas yang ada di hadapan.
"Iya, Dan, istriku lagi nggak enak badan." Defan menekan tombol buka saat lantai yang dituju Dania telah tiba.
"Buruan sana! Apa nggak berat itu," tegas Defan mempersilahkan Dania keluar dari dalam lift.
"I–iya, berat! Kau juga nggak mau bantu," sesal Dania, berjalan tertatih keluar dari dalam lift.
"Aku lagi buru-buru, nggak sempat aku bantu-bantu kau. Udah ya!" Defan menekan tombol agar pintu segera menutup.
Di depan lift, Dania hanya bengong melihat kekhawatiran Defan yang terlalu berlebihan. "Yaelah, gara-gara nggak enak badan aja suaminya sekhawatir itu. Udah bucin parah kayaknya si Defan ini," umpat Dania, kemudian melanjutkan jalannya, mengantarkan berkas pada atasannya.
Setelah tiba di lantai basement, Defan langsung berlari menuju mobil. Ia menaiki mobil sedan, bergegas menginjakkan pedal dengan laju yang cepat.
Alhasil, mobil itu keluar dari parkiran dalam waktu singkat. Pikiran Defan tak tenang satu hari ini, ia masih sangat khawatir pada kondisi istrinya.
__ADS_1
"Apa kami batalkan aja rencana honeymoon kedua?" batin Defan, saat fokus mengendarai mobil.
"Kalau Dira sakit, apa nggak bahaya dia liburan dengan cuaca dingin di sana?" Defan menimbang-nimbang pilihannya. Ia menjadi ragu untuk melanjutkan rencana liburan itu.
******
Ting Tong ...
Suara bel rumah berbunyi saat Carol dan Dira asik mengemil snack-snack yang ada di atas meja. Dira langsung berjalan gontai, memastikan siapa tamu yang datang ke rumah.
Tak mungkin suaminya harus menekan bel dulu karena biasanya langsung membuka smart lock dengan sandi yang ia ingat. Dira semakin penasaran, tebakannya yang datang adalah Jenny dan Shinta.
"Diraaaa!" teriak Jenny dan Shinta dengan heboh saat Dira membuka daun pintu.
"Astaga! Betul kan tebakanku! Kelen dua yang datang. Buruan masuk." Dira berjalan gontai, diekori oleh Jenny dan Shinta dengan riangnya membawa tas ransel milik mereka masing-masing.
"Tumben kelen cepat datang" ujar Dira setelah menghampiri Carol.
Jenny dan Shinta dengan heboh menceritakan perjalanan mereka ke rumah Dira.
"Si Shinta malas terus-terus disuruh mamaknya, maka disuruhnya aku menjemput ke rumah. Rempong kalilah! Aku ke rumah dia naik ojek online. Dari rumah Shinta kami naik taksi online," papar Jenny menggebu-gebu.
"Memang malas kali si Shinta ini," celetuk Carol.
"Cape aku loh, dua bulan libur, dua bulan pula aku yang mengerjakan semua tugas rumah. Palak kali aku sama mamakku," sesal Shinta.
"Jadi, kelen dua dari tadi ngapain aja?" timpal Jenny.
"Ya gini-gini ajalah, nonton, main hp, nonton si Dira tidur, nyemil, entah nanti apalagi," papar Carol.
Ceklek ...
Suara dorongan pintu langsung mengalihkan pandangan keempat wanita itu.
"Eh ... bereskan itu we, masa bang defan udah pulang sih. Kok cepat kali dia pulang." Dira langsung menghampiri, berjalan ke arah daun pintu.
__ADS_1
Carol langsung membersihkan remahan-remahan bekas snack yang ia makan bersama Dira. Sementara, Jenny dan Shinta masih bersantai di sofa.