
"Halo, sayang! Hai ... semua," sapa Defan, duduk di samping sang istri saat tiba di Restoran Nany.
"Hai, bang!" jawab ketiganya kompak.
Carol menyenggol lengan Dira, memberi kode untuk menyampaikan pada Defan tentang belanjaan mereka hari ini. Namun, Dira hanya terdiam dan berlagak kebingungan.
"Sudah pesan makanan?" tanya Defan, mengedarkan pandangan agar pelayan memberikan buku menu.
"Sudah kok, bang! Tadi abang aku pesanin steak," jawab Dira datar.
Disisi lain, Carol terus saja menyenggol lengan Dira. Jenny dan Shinta pun mengangguk untuk memberikan kode kalau Dira harus segera menyampaikan tentang pengeluaran hari ini, sebelum Defan menyinggung lebih dulu.
"Belanjaannya banyak nih!" singgung Defan, membuat tiga teman Dira semakin ketar-ketir.
Dira langsung menatap suaminya, lantas tak lupa mengulum senyum lebar agar suaminya tak marah.
"Ada apa? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Defan, pura-pura tak mengetahui tentang belanjaan tersebut.
"Ehm ... Ehm ..." Dira masih tergagu untuk mengungkapkan semua itu.
Tak berselamg lama, seorang pelayan datang membawakan makanan dan minuman yang sudah dipesan. Meletakkan di atas meja.
"Makan dulu, bang! Nanti dingin." Dira mengalihkan suaminya agar segera menyantap makanan.
Sebenarnya, ia masih mencari alasan untuk mengungkapkan semua tentang belanja hari ini. Bahkan, dirinya merasa tidak enak jika mengatakan di depan teman-temannya.
Akhirnya, setelah membuang nafas beratnya, Defan menyantap steak sapi yang telah dipesankan oleh sang istri. Selama proses makan, Carol terus saja mengganggu Dira.
Apalagi, tadi Defan sempat menyinggung tentang barang belanjaan mereka.
"Apa sih, Rol? Dari tadi senggol-senggol terus?" bisik Dira, mendekatkan wajahnya ke wajah Carol yang duduk bersebelahan.
Carol terdiam sejenak, menghela nafas dengan berat. Entah mengapa Dira berlagak tidak tahu sehingga membuatnya sedikit jengkel. "Jangan lupa nanti laporin sama suamimu."
Dira mengangguk patuh. Namun, ia masih menyela perkataan Carol. "Mungkin nanti aja di rumah kubilang semuanya."
"Ish, nggak enak loh! Tadi udah disinggung abang itu!" sesal Carol.
"Udah tenang aja kau."
__ADS_1
"Ehem ..." Defan berdehem saat melihat istrinya dan Carol sengaja berbisik-bisik.
Kedua perempuan itu saling menjauhkan tubuhnya. Dira pun menyodorkan minuman agar diteguk oleh lelaki itu.
"Abang sudah kenyang, mau ke mana lagi?" tanya Defan, mengedarkan pandangan menatap empat perempuan remaja di sekelilingnya.
"Pulang." Ketiga sahabat Dira menjawab dengan serentak.
"Ih, kok nggak seru kali kelen! Aku masih mau jalan-jalan loh!" protes Dira, menatap sinis ketiga temannya.
Carol pun mendekat, lalu berbisik. "Mending bilang sekarang aja sama suamimu!"
Dira seketika menatap suaminya. "Ehm ... bang, ada yang mau aku bilang!" ungkap Dira, menundukkan kepala, enggan menatap suaminya. Sebenarnya ia takut jika dimarahi oleh pria itu.
"Apa, Sayang?"
"Ehm ... Ehm ..." Dira masih berdehem tanpa melanjutkan perkataannya.
Tiba-tiba, Shinta menyambar dengan polos atau memang sengaja ingin mengadukan Dira pada suaminya. "Kami ditraktir Dira, Bang!"
Defan menoleh ke arah Shinta, lalu kembali menatap wajah istrinya dengan kepala tertunduk.
"Apa? Abang nggak dengar kau bilang apa!"
"Ih ... abang pura-pura tuli apa gimana sih!"
Dira memberanikan diri menatap manik suaminya. Netranya menangkap wajah dengan tatapan yang teduh serta penuh ketenangan. Bahkan, tidak terlintas sedikitpun raut wajah kemarahan pada suaminya.
"Coba bilangnya baik-baik," tutur Defan, mengulum senyum tipis di sudut bibir.
"Maaf," ucap Dira dengan lirih.
"Aku nggak minta izin abang! Aku pakai uang di ATM yang abang kasih untuk berbelanja bersama teman-teman," jelas Dira, menatap lekat suaminya.
Defan hanya tersenyum. Menatap istrinya yang ketakutan bak anak kecil tengah menghilangkan mainannya. Defan merengkuh dagu istrinya, agar wajah itu menatapnya dengan serius.
"Nggak apa-apa, abang sudah tahu! Memang ATM itu sudah menjadi milikmu tapi lain kali pakailah untuk hal-hal berguna, jangan hanya berfoya-foya belaka," pesan Defan, memberikan kecupan di pipi istrinya di depan semua teman-teman Dira.
Sontak saja, ketiga teman Dira memalingkan wajah agar tak melihat adegan romantis sepasang suami istri itu. Namun, usaha mereka sia-sia karena sudah menangkap adegan itu secara cuma-cuma.
__ADS_1
"Abang, malu sama kawanku!" gerutu Dira, melepaskan tangan suaminya dari dagu. Lalu, memberi jarak agar Defan tak lagi berbuat semena-mena di depan umum.
"Ups, sorry! Abang kira kita lagi nggak di depan umum," kilah Defan, sedikit terkekeh.
"Jadi abang nggak marah?" lontar Dira, mengembalikan topik pembicaraan tadi.
"Nggaklah, kan itu sudah jadi hakmu. Lagian abang tahu pengeluaranmu hari ini, memang sedikit kaget tetapi abang ingin dengar langsung dari mulutmu!" seloroh Defan, menatap Dira dan teman-temannya.
"Kalian juga nggak usah takut. Abang nggak marah. Ini juga baru pertama kali Dira lakukan. Mungkin hanya untuk menyenangkan kalian juga karena sudah lama menjadi sahabatnya," papar Defan, tersenyum penuh kehangatan.
Carol merasa lega mendengar penuturan pria itu. Sementara Jenny dan Shinta biasa saja. Tak ada respon yang berlebihan dari keduanya.
"Bang, kita jalan-jalan lagi, ya?" pinta Dira, memasang raut wajah yang memelas.
"Oke!" balas Defan cepat. Lalu beranjak dari kursinya, untuk memenuhi keinginan sang ratu.
"Sekarang?" tanya Dira, saat melihat pria itu sangat sigap untuk memenuhi permintaannya.
"Iya, ayo! Kalian juga ikut saja," ucap Defan, mulai berjalan gontai.
"Ayo, we!" ajak Dira.
Sementara teman-teman Dira bangkit mengkori Defan, sedangkan Dira berjalan menuju kasir, melakukan pembayaran untuk makanan yang dipesan. Defan dan tiga teman Dira sudah berjalan lebih dulu.
Ada satu yang menarik perhatian Defan. Shinta dengan santainya mengajak Defan mengobrol layaknya seorang teman. Shinta memang sengaja mencari perhatian suami temannya sendiri.
"Bang, aku kan kuliah hukum. Mau jadi pengacara kayak abang juga. Apa bisa nanti aku magang di kantor abang? Tentunya dibawah pengawasan abanglah!" beber Shinta, menatap Defan dengan tatapan berbinar.
"Bisa! Tapi kan masih lama prosesnya. Kau harus lulus dulu dari kuliahmu. Nanti ada pendidikan pengacara lagi, baru kau harus magang di firma hukum agar bisa menjadi pengacara sesungguhnya," jelas Defan, panjang lebar.
Dira yang melihat kedekatan antara Shinta dan Defan menunjukkan sikap waspada. Sejak lama, Shinta memang suka berperilaku aneh, seolah-olah ingin merebut suaminya.
"Agak lain memang si Shinta ini," gumam Dira, berjalan gontai mengekori suami dan sahabatnya dari belakang.
Shinta dan Defan sibuk berbincang, sedangkan Carol dan Jenny juga melakukan hal yang sama. Hanya Dira yang berjalan sendirian paling belakang.
"Susah nggak sih, bang jadi pengacara?" cecar Shinta, dengan santai berjalan beriringan bersama Defan.
Namun, langkah kaki Defan terhenti lantaran tak melihat sosok istrinya. Kaki Shinta juga ikut berhenti di tempat yang sama.
__ADS_1