
Defan belum mengetahui kalau istrinya sedang menangis. Tidak ada suara yang terdengar, awalnya Dira hanya menangis biasa saja. Tetapi karena tak bisa melawan rasa takutnya, rasa tangisnya mulai pecah.
"Haaaaaaa" teriak Dira.
"Hiks ... Hikss," kemudian terdengar suara tersedu-sedu.
"Aku mau pulang aja!!! Aku jera nggak mau lagi aku naik kaya gni!! Mamak! Bapak! Turunkan aku dari sini," teriak Dira sekencang-kencangnya.
"Heh Dira kenapa kau?" tanya Defan mulai panik.
"Aku mau turun sekarang juga!!!" teriaknya lagi sampai meronta-ronta.
"Tenang dulu! Kau mau mati ya?" Defan semakin khawatir tetapi perkataannya malah membuat Dira semakin histeris.
"Aku mau turun bukan mau mati," sindirnya dengan sinis, walaupun Dira tak berani membuka matanya. Tapi jantung Dira sudah merasa tidak aman, rasa phobianya menjulur keseluruh tubuhnya.
Semakin tubuhnya histeris, justru semakin menimbulkan goncangan yang dahsyat pada parasut mereka.
Defan kebingungan cara mengatasi Dira yang sudah kehilangan akalnya, menjerit-jerit bak orang gila. Sementara jarak tempuh mereka masih membutuhkan waktu 10 menit lagi.
"Tenang Dir, ada aku dibelakangmu.. Tarik nafas, lalu keluarkan. Tubuhmu akan semakin rileks. Bayangkan saja kalau kita sedang berada didalam pesawat. Kemarin kau malah senang saat berada didalam pesawatkan? nggak takut sama sekali,"
Defan terus menenangkan Dira, ia mulai menuturkan kata-kata yang baik agar Dira lebih rileks. Waktu 10 menit yang tersisa terasa cukup panjang bagi keduanya.
"Ahhhh hiks..hikss... aku mau turun. Pusing kepalaku rasanya," teriak Dira lagi.
Gocangan tubuh Dira semakin tak terhenti, rasa takutnya terus menyeruak, membuat Defan ingin sekali mengamuk. Tapi ia urungkan kembali niat mengamuknya karena khawatir malah membuat suasana semakin tegang.
"Dira! Dengarkan aku dulu, jangan gegabah. Kita bisa mati sia-sia kalau begini. Tolong yang tenang, paralayang kita sudah mulai oleng," papar Defan semakin ketakutan, tetapi ia mengatakannya dengan lembut agar Dira semakin tenang.
Ia mencoba berpikiran positif, mengarahkan parasut sesuai arah angin, kemudian mengarahkan sesuai dimana tempat pendaratan mereka berada.
Sementara Dira masih tidak menghentikan aksi tangisnya, Bulir bening sudah membasahi pipi mulusnya. "Hiks... hikss..." lirihnya tersedu-sedu.
"Ayo buka matamu! Beranikan dirimu untuk melihat kawasan Bali ini. Lihat pemandangan dibawah sana begitu indah," Defan terus melanjutkan perkataannya agar menenangkan Dira.
"Anggap pemandangan itu surga dunia!!" tegasnya lagi.
"Enggak bang! Aku takut. Mau apapun abang bilang, aku nggak berani lihat kebawah. Aku mau turun, aku udah nggak tahan lagi hiks.. hiks," ucapnya dengan teriakan hebat yang histeris.
"Yaudah kalau kau nggak mau lihat kebawah sana. Tutup saja matamu rapat-rapat. Anggap saja kita lagi terbang," kekehnya dengan nada serius.
"Tenang ya, jangan ada guncangan. 5 menit lagi kita sampai," imbuh Defan lagi-lagi berharap Dira segera sadar dan bersikap lebih tenang.
Dira mengangguk patuh, jika ia bergerak semaunya tentu akan menyulitkan Defan. Sementara mereka berdua masih diketinggian yang tidak diketahui sudah berapa mdpl.
__ADS_1
"Tenang Dir, tenang," ucapnya seraya menepuk pundak Dira dengan lembut.
Defan menyiapkan ancang-ancangnya, proses pendataran mereka tidak perlu banyak drama. Dira yang sudah tenang bahkan tidak menangis lagi sudah membuat situasi semakin kondusif.
Ia mengarahkan parasut mereka kebagian bawah. Dibawah sana, sudah ada instruktur lain yang sudah menunggu pendaratan mereka.
"Tenang ya! Sebentar lagi kita sampai di daratan," pungkas Defan.
Dira hanya menganguk tanpa berani membuka matanya sama sekali. Yang dipikiran Dira saat ini adalah ingin segera sampai di daratan. Beruntung ia tidak pingsan saat diatas tadi.
Pendaratan yang mulus berhasil dilakukan oleh Defan dan Dira. Meski Dira sangat tegang, tapi ia berhasil menginjakkan kakinya di pasir pantai tempat pendaratan mereka.
"Good job Dira," puji Defan membuat lengkungan tipis dimulutnya. Ia merasa bangga Dira sudah mengikuti arahannya selama diatas tadi.
Dua instruktur mulai melucuti pengaman yang dipakai oleh Dira dan Defan, satu-persatu dilepaskan. Meski Dira masih bergidik ngeri, merasakan sensasi ketegangan naik paralayang yang terombang-ambing diatas langit. Tapi hatinya mulai tenang setelah berada di daratan.
Defan merasa bersalah setelah memaksa Dira untuk tetap naik paralayang tersebut. Tapi, ia gengsi untuk mengungkapkan hal itu, lebih memilih membungkam mulutnya dengan menunjukkan ekspresi datar.
"Bang! Tolong jangan ajak aku lagi naik kaya gitu. Sudah kukatakan kalau aku phobia. Untung saja aku tidak pingsan," akunya dengan sedikit mendramatisir agar membuat Defan terpukul.
Tapi rasa bersalah suaminya terus disembunyikan, bisa jatuh harga dirinya kalau ia mengaku menyesal telah memaksa Dira menuruti keinginannya.
"Iya," jawaban singkat dari Defan membuat Dira terus dongkol.
Defan mengambil telepon genggamnya yang ada didalam saku celana. Dia menghubungi seseorang, yang tak lain adalah sopir mereka. "Ada dimana pak?" tanya Defan dengan datar.
"Oh saya sudah di perpakiran tempat bapak Defan dan bu Dira mendarat. Apakah bapak sudah selesai?' sang sopir melayangkan pertanyaannya kembali.
"Saya sudah selesai pak. Kalau begitu saya akan ke parkiran bersama istri saya," tandasnya seraya menutup sambungan telepon mereka.
"Ayo Dir," ajak Defan disaat Dira masih menenangkan dirinya, meminum segelas air untuk menghilangkan dahaganya.
Belum juga Dira memulihkan jiwanya dari rasa trauma, Defan justru sudah tak sabaran untuk meninggalkan tempat tersebut.
"Ayo Dira! Apa kau tidak dengar perkataanku," tegas Defan lagi membuat Dira menatapnya dengan tajam.
Dasar laki-laki yang tidak punya perasaan. Nggak lihat apa, orang lagi istirahat, Tubuhku aja masih merinding disko begini. Laki-laki nggak punya empati.
Hati kecil Dira bergumam terus mengomeli Defan. Dia tak punya keberanian untuk menyindir secara terang-terangan.
"Ayo cepat, pak Jay sudah menunggu," kata Defan dengan asal menyebutkan nama sang supir sesuai nama travel mereka.
"Sabar dikit bang," jawab Dira santai karena kehabisan tenaga untuk berdebat.
Akhirnya, Dira beranjak dari kursi rehatnya yang masih digedung milik Paragliding Tandem Bali. Dengan malas ia mengekori suaminya yang sudah berjalan sejak lima menit yang lalu.
__ADS_1
Defan dan Dira keluar dari gedung, menuju arah perpakiran. Mencari sosok sopir mereka yang menunggu dari tadi. Setelah menemukan mobil yang selama tiga hari ini mereka pakai untuk touring selama di Bali.
Sopir mereka langsung keluar dari jok mobilnya, membukakan pintu penumpang untuk pasangan suami istri tersebut.
"Pak, saya lapar. Antarkan ke restoran yang enak disekitar sini," titah Defan mengingat perutnya sudah keroncongan. Makan siang mereka kelewatan lagi, Dira dan Defan belum juga makan padahal sudah masuk jam dua siang.
Sepanjang perjalanan, Dira memilih tetap bungkam, karena masih dalam proses pemulihan jiwanya. Rasanya ia masih terbayang-banyang diketinggian saat berada diatas laut tadi.
Hufttt
Dira mengeluarkan nafas kasarnya sampai mendapat lirikan tajam dari suaminya.
"Kenapa Dir?" singgung Defan sebagai pria yang tidak peka sama sekali.
"Nggak apa-apa bang! Cuma buang nafas aja," ucap Dira penuh penekanan, seraya mencibir pria yang sudah menjadi suaminya itu meski hanya bisa mengucapkan didalam hatinya saja.
Percuma juga kalau aku bilang, kau kan nggak bakal ngerti gimana perasaanku. Nggak usah sok-sok nanyalah. Dasar pria nggak punya hati. erangnya dalam batin.
Umpatan dan sindiran terus berpacu dalam batin Dira. Entah mengapa suaminya itu tak bisa bersikap manis sekali saja. Setidaknya memberikan perhatian kecil untuknya, karena sudah memaksa untuk menaiki paralayang yang menyisakan bekas trauma tersendiri dibenaknya.
Dira dan Defan diantarkan ke sebuah restoran terkenal masih diarea yang tak jauh dari tempat mereka berwisata tadi. Restoran yang menyajikan ayam betutu dan sate lilit akan mengisi kekosongan perut mereka siang ini. Tepatnya siang menjelang sore.
"Silahkan masuk pak," ujar sopir setelah membukakan pintu mobil mereka.
Defan dan Dira keluar, melangkahkan kakinya ke dalam restoran yang berkonsep hutan tropical itu. Rasanya sangat sejuk, karena pepohonan yang mengepung gedung restorannya,
"Bagus juga konsep restoran ini," puji Defan setelah masuk ke dalam ruangan yang cukup ramai pengunjungnya. Padahal saat itu sudah melewati jam makan siang, tetapi pengunjungnya tetap ramai. Artinya restoran itu benar-benar menyajikan makanan yang nikmat sehingga banyak peminatnya.
Meja yang dipilih Defan untuk makan didalam ruangan, meski pihak restoran sudah menyiapkan gazebo, khusus untuk pengunjung yang memilih makan diluar ruangan. Seorang pelayan datang menghampiri, membawakan buku menu.
"Silahkan pak, apakah mau langsung dipesan?" tanyanya dengan sopan.
"Langsung saja mbak, saya mau pesan ayam betutu sama sate lilit untuk dua porsi," ucapnya setelah melihat isi menunya dan menutup buku menu itu kembali.
"Ada lagi pak?'
"Minumnya dua es kelapa muda sama dua porsi nasi," sambungnya tanpa bertanya dahulu pada Dira.
"Saya mau milkshake stroberi aja mbak," timpal Dira tanpa memperdulikan suaminya.
"Baik, adalagi yang mau dipesan?"
"Itu saja mbak! Nggak pakai lama ya! Saya sudah lapar," tegas Defan.
"Baik ditunggu sebentar ya pak," tutup pelayan mengakhiri percakapan mereka.
__ADS_1