
Maudy pun berkomat-kamit menyuruh Angga tersenyum padanya. Namun Angga tak kunjung menanggapi perempuan itu dan cuek saja pergi meninggalkan meja dosen.
"Kita akan bertemu lagi pekan depan, kalian harus sering belajar tentang kuliah yang saya berikan karena saya sangat suka memberikan kuis dadakan seperti ini. Pekan depan, kalau hasil kuis ini buruk, satu kelas akan mendapatkan hukuman!" timpal Maudy.
"Yah ... Bu!" seru seluruh mahasiswa dengan keluhan tentang ancaman hukuman itu.
Kelas pun terus berlanjut, masih ada satu dosen lagi yang akan memberikan pelajaran di kelas jurusan kedokteran. Dira dan Jeni tampak sibuk mendengar penjelasan dosen.
Hari itu, mereka memang hanya mendengarkan penjelasan dosen, tidak ada tugas yang diberikan setelah jam masa kuliah berakhir.
****
Jefri menyambangi kelas Carol, ia ingin makan siang bersama dengan pacarnya. Maklumlah baru pertama kali pacaran dan sedang hangat-hangatnya. Ia juga ingin mengenalkan Carol dengan teman-teman seangkatan.
"Rol, ayo ke kantin, Abang mau kenalin kau ke teman-teman seangkatan!" ucap Jefri, saat melambaikan tangan pada perempuan itu setelah Carol menghampiri.
"Enggak ah! Aku malu," tolak Carol.
"Loh, lagian kan sebagian dari mereka sudah mengenalmu!" tutur Jefri.
"Malu, Bang! Mereka itu kan seniorku, jadi aku merasa segan," tukas Carol.
"Nggak papa, ikut aja lah. Lagian kau nggak mau ketemu sama teman-temanmu di kantin? Pasti mereka sudah menunggumu, kan!" timpal Jefri, mengelus pucuk kepala pacarnya.
"Ya, kami memang sudah janjian ketemu di kantin untuk makan siang bersama!" jawab Carol.
"Yasudah, ayo kita ke kantin!" ajak Jefri.
Keduanya berjalan beriringan, meski banyak yang menatap mereka dengan tatapan curiga, termasuk teman-teman Carol. Bahkan mereka sudah menganggap kalau Carol sengaja mendekati seniornya.
****
Shinta berjalan gontai menuju kantin. Namun, ia tiba-tiba bertemu dengan Diki di tengah lorong kampus.
"Sin," teriak Diki seraya melambaikan tangan, ia pun tersenyum dengan lebar saat melihat perempuan itu.
Sinta menoleh ke belakang, setelah menatap wajah Diki, lalu berbalik lagi, pura-pura tak melihat pria itu. Bahkan, ia menatap dengan malas karena merasa jengah dengan pria yang awalnya dianggap sebagai gebetan.
Apalagi, setelah kemarin merasa ditipu dan uang jajan selama seminggu habis dalam waktu yang singkat hanya untuk mentraktir Diki, membuat Shinta merasa dendam seakan dipermainkan. Meskipun Shinta tak meminta ganti rugi pada Dika, sebab ia malu untuk meminta uang yang dianggap sebagai perkara kecil.
__ADS_1
Shinta terus berjalan, tetapi Diki malah berlari kecil mengejar untuk menghampiri Shinta. Namun Shinta, terus saja berjalan seakan-akan ia menghindari pria itu.
Hingga nafas Diki terenggal-enggal, akhirnya Diki telah sampai di sebelah Shinta.
"Kok jalannya cepat amat sih!" celetuk Diki seraya terengah-engah.
"Ada apa?" tanya Shinta ketus.
"Aku cuma ingin mau menyapa, kau mau ke mana?" sambung Diki.
"Kantin!" balas Shinta masih bernada ketus, bola matanya memutar karena masih merasa jengah dengan kehadiran pria yang tak ditunggu kedatangannya.
"Kok jutek gitu sih!" tambah Diki.
"Masih marah, ya? Soal kemarin?" ucapnya lagi.
"Marahlah, gara-gara kau, uang jajanku selama satu minggu sudah ludes!" kecam Shinta.
"Itu doang ngambek, yaudah gimana kalau sekarang aku traktir kau di kantin!" timpal Diki.
"Males ah, kau makan sendiri saja!" titah Shinta.
Kemudian, keduanya sampai di kantin, saat tiba di sana, sudah ada Dira dan Jenny yang tengah duduk santai di kantin kampus. Sementara, Carol belum terlihat tanda-tanda kedatangannya.
Shinta langsung menghampiri kedua sahabatnya agar Diki segera menjauh darinya. Namun Diki malah menarik sebuah kursi yang berada di samping Shinta karena kursi itu masih kosong. Penghuni aslinya masih belum datang yakni Carol.
"Ngapain sih kau di sini!" cemooh Shinta menggerutu, dengan tatapan yang sengit.
"Aku boleh gabung lah di sini!" balas Diki, menatap Dira dan Jenny bergantian.
Dira dan Jenny hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan dari pria itu. Sebab, mereka tak mengenal pria itu dan merasa asing dengan kedatangannya.
"Dia siapa?" tanya Jenny, to the point.
Shinta pun mendekat pada Jenny, lalu membisikkan sesuatu. "Dia yang kubilang kemarin, gebetanku itu!"
"Oh!" Jenny membulatkan mulutnya seraya menatap Diki dengan tatapan penuh selidik.
Saat mereka sedang mengobrol, tiba-tiba Carol dan Jefri baru saja sampai di kantin. Namun, Carol bukannya langsung ke meja di mana teman-temannya berada, melainkan langsung bergabung dengan teman-temannya Jefri.
__ADS_1
"Bang, ntar dulu, aku mau nyamperin teman-temanku. Nanti mereka nyariin loh!" pinta Carol, seraya berbisik pada pacarnya, agar yang lain tidak mendengar.
Jefri mengangguk, lalu mempersilakan Carol, ia tak ingin mengekang Carol sehingga membuat pacarnya tidak nyaman.
Carol mendatangi teman-temannya, lalu Carol berkata. "We, aku ke sana dulu, ya! Nemenin si Enjep, dia mau ngenalin aku ke kawan-kawannya!" ujar Carol, menyengir kuda pada ketiga sahabatnya.
Namun, alisnya seketika naik sebelah saat melihat sosok pria yang tak dikenalnya.
"Cie ... yang baru jadian pengen lengket terus. Jadi jarang kumpul sama kawan-kawannya!" sindir Dira.
"Bukan kemauanku, Dir!" Eh ... tapi dia siapa?" hardik Carol, menatap pria yang tengah santai di tempat ia biasa duduk.
"Temannya si Shinta tuh!" jawab Jenny cepat.
"Oh ... anak jurusan mana?" sahut Carol, menatap penuh selidik.
"Kenalin, aku Diki anak jurusan Akuntansi!" ucapnya seraya membentuk lengkungan lebar di kedua sudut bibir.
"Yaudah, lanjutkanlah kelen. Aku pamit dulu. Eh, Dir! Jangan langsung pulang, ya! Si Enjep mau ajak kalian makan-makan!" Carol mengingatkan Dira, sebab baru kali ini bertemu.
Dira pun mengangguk menyetujui permintaan sahabatnya. Hingga akhirnya, Carol pergi dari tempat itu. Meninggalkan ketiga sahabatnya serta seorang lelaki yang tak dikenalnya.
****
"We, aku bawa pacar nih!" celetuk Jefri, dengan bangga.
Teman-teman Jefri mengedarkan pandangan, mencari sosok perempuan yang dimaksud. Namun, tidak ada siapapun di sana.
"Siapa pacarmu?" tandas Judika, celingak-celinguk mencari wanita yang dikatakan oleh sahabatnya.
"Bentar lagi dia datang!" jawab Jefri, masih berkesan angkuh lantaran merasa statusnya telah berubah, tak lagi seorang jomblo.
Tak berselang lama, Carol pun menepuk pundak Jefri dari belakang.
"Nah ini dia orangnya!" Jefri mendorong tubuh Carol ke depan agar semua teman-temannya dapat melihat wajah Carol.
"Lah, dia junior yang dulu kau tembak itu, kan?" cetus Gembi, menatap lekat wajah Carol, memastikan lagi kalau pandangannya tidaklah salah.
"Iya, dia si Carol, kan? Bukannya kau ditolak mentah-mentah di depan semua maba? Terus sekarang sudah diterima dong cintanya?" kekeh Judika, tertawa kecil melihat kejadian yang aneh di depannya.
__ADS_1