
"Oh ... saya Rudy, Pak!" Rudy pun mengangguk sekali untuk menghormati pria yang lebih tua darinya, sementara Sahat mengulurkan tangan lalu diraih oleh Rudy, keduanya pun saling berjabat tangan.
Tak berselang lama, mereka langsung memasuki ruangan bawah tanah, di mana terlihat sebuat pintu kecil yang harus dibuka. Setelah pintu itu dibuka, barulah terlihat anak tangga yang berada ditengah-tengah lapangan.
Sahat dan Defan awalnya terasa bingung, seperti orang linglung karena memang tempat itu seperti lapangan kosong dan tidak ada permukiman sama sekali.
"Sunyi kali tempat ini, Bang!" seru Defan, mengedarkan pandangan dan disambung dengan gelak tawa Rudy.
"Yah ... beginilah kalau rumah dan kantor yang ditempati oleh seorang preman," kekeh Rudy sembari menarik handel pintu, lalu terlihat anak tangga di bawahnya.
"Astaga, ini tangga apa?" sambar Sahat, seperti orang kebingungan, baru kali ini ia menemukan tempat yang sangat aneh.
"Ya, inilah tangga menuju perkantoran saya, Pak," jawab Rudy dengan tegas, lalu menuruni anak tangga dan diekori oleh Defan dan Sahat secara bergantian karena anak tangga itu hanya muat untuk ukuran satu orang saja.
Mereka masuk ke dalam, saat itu juga Defan dan mertuanya sangat terkejut melihat ruangan yang sangat mewah berada di dalam bawah tanah.
"Gila juga ini tempat tinggal dan kantor, Abang!" seru Defan karena saat menangani kasus Rudy, ia tak mendatangi tempat ini.
Justru preman itulah yang mendatangi kantor Defan untuk menyerahkan semua barang bukti agar bisa menyelesaikan kasus perdatanya.
"Iya, ini rumah sekaligus tempat tinggal saya. Kebetulan saya tinggal sendiri dan anak buah saya semua datang ke sini kalau lagi ada pekerjaan tapi mereka tidak sering-sering berkumpul di sini kok," balas Rudy dengan lugas.
"Wow, hebat sekali tempat ini," puji Sahat.
"Ya, begitulah kalau preman kan takut ditemukan markasnya jadi harus di dalam dan terpencil seperti ini markasnya," celetuk Rudy dengan gamang.
Setelah tiba di ruang bawah tanah, kemudian Rudy mengantarkan Defan dan Sahat ke sebuah tempat yang berada di sudut ruangan.
Tempat itu sangat terpencil dengan pencahayaan temaram sehingga Sahat dan Defan tak percaya kalau tempat itu digunakan untuk menyimpan orang. Tubuh mereka saja bergidik ngeri saat menuju tempat itu.
"Horor kali tempat ini, Bang!" timpal Defan.
__ADS_1
Rudy lagi-lagi terkekeh, dia pun tak menyangka ada pengacara yang sepolos ini, apalagi baru tahu tentang kehidupan seorang preman.
"Beginilah, Pak kalau tempat tinggal preman. Mencekam dan mengerikan, jauh dari kerumunan orang-orang. Tempatnya pun sangat menyeramkan supaya tidak ada yang bisa menarik perhatian orang-orang," imbuh Rudy.
Tak lama, Rudy membuka ruangan dengan berbekal pintu besi yang kuat, tempat itu memang sering ia gunakan untuk menyekap orang-orang yang berurusan dengannya. Apalagi di dunia preman, ia seringkali mencari orang sesuai dengan suruhan orang yang menyewa jasanya.
Usai pintu besi itu terbuka, Sahat mengedarkan pandangan, ia terkejut dengan kondisi temannya yang sudah babak belur dengan wajah membiru. Tak hanya itu, temannya itu pun duduk di sebuah kursi tua dengan tangan terikat ke belakang.
Sebenarnya, Sahat merasa kasihan tapi kalau mengingat perlakuan rekan kerjanya yang membawa kabur uang simpanannya, rasa belas kasihan itu pun kembali sirna.
Kini, Sahat memasang raut wajah yang penuh amarah karena tidak suka ditipu dengan duit yang sangat banyak, apalagi duit itu adalah sisa terakhir untuk keperluan kebutuhan mereka sehari-hari.
*****
Anggi baru saja pulang ke apartemen. Ia menatap ponsel yang tertera dengan nomor pribadi Jaki Ananda di layar ponsel. Ingin sekali rasanya ia menghapus nomor pribadi Jaki—dosennya itu, tetapi seperti hatinya justru menolak keinginan tersebut.
Setelah menyelesaikan jadwal kuliah tadi siang, ia langsung bergegas pulang agar tidak berpapasan lagi dengan dosen killernya. Langsung saja, Anggi pun pulang tanpa berkumpul dengan teman-teman kampusnya.
Tapi, entah mengapa saat bersama Jaki tadi, karena banyak makanan yang berada di sana, mereka akhirnya berbagi sendok satu sama lain. Disetiap piring hanya ada satu sendok, untuk mencicipi makanan, mereka menggunakan sendok yang ada agar cita rasa itu tidak tercampur.
Anggi semakin larut dalam pikiran. Ia sebenarnya mulai memikirkan Jaki yang kerap menghantui tapi lagi-lagi Anggi menggeleng-gelengkankepala untuk membuyarkan pikiran tersebut.
Setelah lama menatap ponsel yang berada di genggaman, tiba-tiba ponsel itu berdering ternyata sebuah panggilan dari sang Mama langsung dijawab oleh Anggi.
"Halo, Ma ... apa kabar?" sapa Anggi, melalui sambungan telepon.
"Sehat, Boru kau apa kabar?" balas Melva.
"Sehat juga, Ma lagi ngapain Mama? Tumben mau menghubungi aku sore-sore gini," sergah Anggi.
"Rindu akulah sama anak siapudanku," ungkap Melva seraya terkekeh kecil.
__ADS_1
"Ah, tumben Mama rindu sama aku, biasanya nggak pernah Mama merindukanku!" canda Anggi.
"Bagaimana kuliahmu?" sosor Melva penasaran.
"Biasa saja, sama kayak kuliah seperti orang-orang pada umumnya, nilaiku juga cukup memuaskan," jelas Anggi.
"Apa kau sudah punya pacar di sana?" sela Melva, karena ia juga sangat penasaran dengan kehidupan percinraan Anggi karena selama ini terlalu memiliki hidup yang monoton.
Bahkan semasa SMA saja, dia tidak menikmati masa adanya kisah cinta monyet dengan pria yang ada di sekolahan selama tinggal di Medan.
"Ah nggak ada kok, Ma!" sahut Anggi tapi pikirannya melayang-layang pada Jaki Ananda.
"Masa sih?" hardik Melva penasaran.
"Iya serius," jawab Anggi terkekeh kecil.
"Oh iya, Ma ... boleh nggak sih menikah tidak satu suku dengan keluarga kita?" tanya Anggi seraya larut dalam pikirannya, karena ia mengingat kalau Jaki bukanlah orang batak seperti dirinya.
Sementara, dikeluarganya memiliki adat yang kuat dan sangat kental. Sepertinya akan sulit untuk bersatu dengan pria yang tidak satu suku dengannya.
"Apa pacarmu bukan orang batak?" Melva menimpali seraya terkekeh.
"Bu–bukan gitu, aku cuma bertanya saja kok. Iseng-iseng saja," kilah Anggi terbata-bata.
"Sebenarnya sih, kita harus lebih mengutamakan suku batak cuma kalau jodohmu memang bukan dari kalangan suku batak apalagi yang mau dibuat. Yang penting dia seagama denganmu," pesan Melva.
"Oh!" jawab Anggi, sontak ia sudah memiliki semangat yang menggebu jika bisa memiliki hubungan dengan Jaki Ananda.
Sepertinya ia mulai jatuh hati pada dosennya itu.
"Serius nih, emang pacarmu bukan orang batak, ya?" sanggah Melva, lagi-lagi bertanya karena ia masih sangat penasaran dengan anak bungsunya.
__ADS_1