
Momen mandi bersama sudah dilakukan. Ritual pemandian seperti biasa layaknya seorang suami istri, mereka mandi dengan santai bahkan saling bermesraan di dalam kamar mandi.
Usai setengah jam berada di dalam kamar mandi, keduanya merasakan lapar yang luar biasa. "Yang, suapin, ya?" tutur Defan, merengek bagaikan anak kecil, usai memakai baju.
Dira langsung menoleh pada suaminya. Ia seketika mengangguk, tak ingin memperpanjang masalah. Dira berjalan gontai diekori oleh suaminya dari belakang.
Ia membuka bungkusan di meja makan. Membawa piring dan sendok. Mengambil nasi yang sudah ia masak sebelum tadi pergi melanjutkan aktivitas mandi.
"Kita belum punya bayi, bang! Tapi tetap ada bayi yang harus aku rawat!" keluh Dira, seraya menyuapkan satu sendok makanan ke mulut suaminya.
"Siapa, yang?" sahut Defan, tak mengerti apa maksud ucapan istrinya.
"Anak kita udah tenang di surga loh!" tambah Defan lagi.
"Bu–bukan itu!" ucap Dira terbata-bata.
"Terus siapa yang kau urus, yang?" cecar Defan, mengernyitkan alis.
"Ini bayinya ... bayi besar!" Dira mencubit hidung suaminya seraya terkekeh kecil.
"Astaga! Abang udah serius loh tadi nanggapinnya!" tutur Defan polos.
"Ih, abang nggak bisa diajak bercanda!" kekeh Dira, mencubit pinggang suaminya yang sedang mengunyah, alhasil Defan pun tersedak.
Uhuk ... Uhukk ...
Dira buru-buru memberikan gelas berisi air mineral agar diteguk oleh sang suami. "Maaf, abang!" sesal Dira, menepuk-nepuk punggung suaminya agar merasa lega.
"Iyah, nggak apa-apa, sayang!"
Usai makan malam, Dira dan Defan bersantai di ruang keluarga. Dira duduk menonton tv yang menyala, sedangkan Defan posisi tidur, menengadahkan kepala di atas paha Dira, ia sibuk memainkan ponsel, mengecek jadwal kerja.
"Yang, liburan yuk!" ucap Defan, merayu istrinya yang masih fokus menonton tv.
"Kemana lagi sih, bang? Emang nggak jera liburan kemarin itu?" jawab Dira, tanpa menatap suaminya.
"Hmm ... abis nifas maksud abang! Kita perlu waktu berdua, kemarin kan beda cerita! Itu liburan sama sahabatmu!" imbuh Defan, sedikit mendongak agar bisa menatap manik istrinya.
__ADS_1
"Masih lama, Bang! Seminggu lagi! Aku juga masih sibuk ospek. Ya, walaupun nggak seru!" sambung Dira, mencium bibir suaminya dengan cepat.
"Nggak seru kenapa lagi ospeknya, yang? Biasanya ospek itu masa-masa awal kuliah menyenangkan yang akan dikenang sepanjang masa!" papar Defan.
"Abang pernah jadi senior yang mengospek junior di kampus?" Dira menatap lekat suaminya, menatap penuh curiga pada pria tampan yang tidur di atas pangkuannya.
Sebelum Defan menjawab, ia masih berpikir. Defan tahu istrinya curiga kalau ia adalah pria yang banyak disukai para junior wanita maupun teman seangkatan.
"Pernah!" jawabnya singkat.
"Terus abang disukain cewek-cewek dong? Soalnya kawan-kawanku aja banyak yang suka sama senior!" hardik Dira, menatap penuh selidik.
Defan pun menceritakan kisah semasa kuliah. Banyak sekali wanita yang mendekati, memberi hadiah, cari perhatian, serta mengajak berpacaran.
Tapi semuanya ditolak oleh pria itu. Ia memang ingin fokus untuk kuliah, segera mengentaskan pendidikan selama 4 tahun ditambah 1 tahun untuk proses pembelajaran untuk menjadi seorang pengacara.
"Banyak dong yang dekatin abang? Dari ratusan mahasiswi, nggak mungkin nggak ada satupun yang menarik kan?" cecar Dira, menatap lekat mata elang suaminya.
"Banyak sih tapi abang tolak semuanya!" desah Defan, serasa menyesal dengan kesempatan itu.
"Kenapa? Jadi abang memang pujaan wanita saat di kampus?" Dira mencebikkan bibir lantaran kesal, padahal ia sendiri yang memancing suaminya untuk menceritakan kisah masa lampau.
"Ish!" decak Dira, memutar bola mata lantaran jengah pada suaminya yang merasa tak bersalah saat mengungkapkan pengakuan tersebut.
"Kenapa sih, yang? Kau yang nanya, kau juga yang menggerutu!" timpal Defan, menangkup wajah sang istri, menundukkan ke arah wajahnya.
"Aku nggak suka!" desah Dira, keduanya pun saling menatap.
"Haha! Itu kan sebelum pernikahan kita! Emangnya abang tahu kau jadi istri abang, terus cemburu kalau cewek-cewek suka sama abang!" kekeh Defan, menarik wajah Dira, memberi kecupan pada bibir dalam sekejap.
"Udah ah! Malas mau dengar cerita-cerita gitu! Bikin kesal aja!" decit Dira, kembali menatap tv yang ada di depan.
"Ih, aneh! Dia yang nanya malah dia yang marah," ucap Defan lirih.
"A–apa abang bilang?" Dira menunduk agar bisa menatap suaminya.
"Nggak apa-apa, yaudah kita tidur aja, yuk?" ajak Defan, mendudukkan tubuhnya.
__ADS_1
"Malas ah!" ucap Dira, bernada ketus.
"Jangan merajuk gitulah!" Defan mematikan tv, lalu tiba-tiba menggendong istrinya. Menggendong dengan posisi tubuh Dira menyamping.
Benar saja, Dira seketika luluh ketika diperlakukan istimewa. Dira melingkarkan tangan pada leher sang suami, berkali-kali ia mengecup bibir suaminya meski Defan berjalan tertatih-tatih mengangkat tubuhnya.
"Berat, ya, bang?" celetuk Dira, tersenyum lebar melihat nafas terengah-engah yang terdengar dari hidung suaminya.
"Enggak kok!" Defan menggeleng-geleng kepala, tak mengaku bahwa tubuh sang istri memang berat.
"Ah, yang benar!" kekeh Dira, seraya menggelitik pinggul Defan.
"Aww! Yang, geli! Nanti kau jatuh loh!" Defan mengeratkan gendongan agar istrinya tidak terjatuh.
Dira menghentikan aksinya. Ia juga tak mau membebani suaminya, sudah menggendong tubuh beratnya bahkan digelitiki. Bisa-bisa ia terjatuh ke lantai karena Defan tak kuat menahan rasa geli tersebut.
Defan menghempaskan tubuh Dira, tiba-tiba mengungkung tubuh ramping itu dengan nafas terenggal-enggal.
"Berat ternyata, yang!" kekeh Defan, menatap lekat wajah Dira.
"Pastilah, bang! Walaupun tubuhku ramping tapi kan tetap berat! Haha!" beber Dira, terkekeh geli.
Namun, tiba-tiba Defan menyumpal mulut Dira dengan menabrakkan benda kenyal miliknya. Dira hanya pasrah, saat lumattan demi lumattan semakin dalam.
Keduanya saling melumatt, menjelajahi rongga mulut, bertukar shaliva. Sesekali, keduanya melonggarkan ciuman agar bisa menarik nafas, mengambil oksigen di sekitar.
Ciuman berlangsung lama, semakin dalam semakin rakus hingga meningkatkan gairah keduanya. Namun, bibir Dira seketika terdiam kala mengingat bahwa darah nifas belum berhenti juga.
Dira mendorong tubuh suaminya, pagutan itu terlepas begitu saja. "Kenapa, yang?" tanya Defan, masih mengungkung istrinya, wajah mereka kini berjarak karena didorong oleh Dira.
"Ehm ... Aku kan masih nifas!" jawab Dira, menatap lekat sang suami.
"Aishh ... lupa, abang!" Keduanya malah tertawa terbahak-bahak, Defan juga menghempaskan tubuhnya di samping Dira.
"Nanggung, ya, yang!" keluh Defan, mengeyampingkan tubuhnya.
Kemudian, ia memeluk tubuh sang istri dengan erat, mencium pucuk kepala dengan lembut.
__ADS_1
"Maaf, ya, bang! Dira juga udah bergairah tapi tiba-tiba ingat, masih berdarah!" ucapnya kaku.
"Iya, nggak apa-apa, sayang! Semoga minggu depan cepat berlalu!" erang Defan, menghembuskan nafas beratnya, lalu mengaitkan pelukan tersebut, mengikis jarak diantara keduanya.