
"Mungkin baru beres atau masih pakai baju," kata Dira.
Akhirnya, Dira langsung berpamitan menuju kamar, mengecek keadaan suaminya. Ternyata, sang suami baru saja selesai memakai baju, Dira memeluk suaminya dari belakang, memberikan pelukan hangat pagi itu.
"Ih, kebiasaan ngagetin!" ucap Defan, seraya meraih tangan Dira, membawa tubuh Dira ke hadapan Defan.
"Masuk siang, ya?" tanya Defan, menatap lekat istrinya, sembari meminta dipakaikan dasi.
Dira pun mengangguk, tangannya dengan lihai memasangkan dasi yang warnanya senada dengan kemeja suaminya. "Masuk jam 10 aku, Bang!"
"Oh, yaudah berarti nanti aku berangkat sendiri!" kata Defan, lalu menyambar bibir tipis sang istri untuk dilumatt sekejap, setelah dasinya terpasang dengan rapih.
Keduanya pun melangkah menuju meja makan, Defan langsung tersenyum saat melihat kedua mertuanya sudah duduk dengan santai. Bahkan, tatapan Defan fokus melihat sajian masakan yang begitu banyak di meja makan.
"Wah ... banyak sekali sarapannya!" ujar Defan, menatap takjub saat mengedarkan pandangan, lalu menoleh ke arah Dira.
"Itu Mamak yang masak, Bang bukan aku. Mana mungkin aku masak sebanyak itu pagi-pagi." Dira terkekeh kecil lantaran Defan sudah mengisyaratkan dan yakin kalau masakan itu bukanlah masakan istrinya.
Bagaimana mungkin, Dira mau repot pagi-pagi sekali untuk masak sebanyak itu. Apalagi setiap paginya, dia lebih memilih sarapan yang simpel daripada harus repot-repot memasak makanan yang enak dengan berbagai menu.
"Udah ketebak sih!" racau Defan dengan lirih, lalu mendapat satu pukulan dari sang istri.
"Ayo, makan!" titah Rosma.
Defan menarik kursi untuk istrinya dan ia juga duduk di sebelah Dira. Tak lama, mereka larut dalam santapan sarapan pagi itu, menu sarapan pagi adalah daging tumis serta sayur tumis dan beberapa menu pendamping yang memang disiapkan oleh Rosma sesuai stok yang ada di dalam kulkas.
Ada beberapa kentang dan juga kerupuk, Rosma mengolah kentang itu menjadi bola-bola kentang dan kerupuk digoreng untuk teman sarapan mereka pagi ini.
"Repot kali lah, Inang menyiapkan sarapan ini. Padahal biarkan saja Dira yang memasaknya," canda Defan, tertawa kecil untuk mencairkan suasana yang tampak sunyi.
__ADS_1
"Nggak papalah, Hela cuma sekali-kali kami menginap di sini! Inang senang kok masak sarapan untuk kalian!" beber Rosma, menyematkan lengkungan lebar dikedua sudut bibir.
"Sering-sering ajalah, Inang dan Amang menginap di sini, biar ada teman kami!" timpal Defan.
"Mana bisa, Hela banyak lae-laemu yang harus diurus di rumah!" jawab Rosma apa adanya.
"Iya, hampir lupa aku!" kilah Defan:
Kemudian mereka semua menyantap makanan itu dengan nikmat, Dira juga baru kali ini merasakan masakan sang mamak setelah sekian lama merindukan hasil masakan tersebut. Bahkan, menurutnya masakan mamaknya adalah yang terbaik yang pernah ia makan.
"Bagaimana, Dir apa kau sudah bisa memasak?" tanya Rosma, setelah menghabiskan santapannya.
"Hehehe ... belum, Mak paling masak yang simpel lah!" balas Dira.
"Harus belajarlah, Boru! Kalau perempuan itu harus pintar memasak dan bisa melayani suaminya jadi suaminya tidak sibuk mencari makanan di luar. Tapi ini bukan soal makanan!" sergah Rosma, menyematkan isyarat dalam pembicaraan itu.
Dira tampak berpikir maksud perkataan sang mamak. Namun, sedikit yang ia tangkap bahwa seorang istri harus bisa memasak agar suaminya tidak mencari wanita lain yang lihai melakukan itu. "Nantilah aku belajar!"
Lalu, Dira juga melambaikan tangan pada suaminya. Begitu juga dengan Rosma hanya tersenyum saat melihat kepergian suaminya.
"Hati-hati, Pak," pesan Rosma.
Defan dan Sahat melangkah bersama menuju lift, lalu pria tampan itu ia menanyakan sesuatu pada mertuanya. "Amang, mau diantar?"
"Nggak usahlah, Hela! Amang, naik kereta aja biar semakin cepat sampai di pabrik!" tutur Sahat.
"Yaudahlah, Amang kalau begitu aku pamit dulu!" ucap Defan, mencium punggung tangan mertuanya untuk berpamitan setelah mereka tiba di parkiran.
"Hati-hati ... jangan lupa cari penipu itu!" pesan Sahat.
__ADS_1
"Tenanglah, Amang! Hari ini aku sudah perintahkan orang-orangku untuk mencari pelaku itu," papar Defan, lalu tersenyum, dan keduanya berpisah menaiki kendaraan masing-masing.
Defan masuk ke dalam mobil, sementara Sahat menaiki motor. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing dan segera berlalu pergi dari lantai basement perpakiran.
***
"Mak, tenang aja lah, nggak usah khawatir soal penipu itu, mungkin nanti bisa ditemukan Bang Defan!" ucap Dira, seraya merapikan piring-piring kotor yang ada di meja makan.
"Mudah-mudahan lah, Boru biar cepat terselesaikan persoalan ini, biar kembali uang kita!" harap Rosma.
Dira langsung mencuci semua piring yang kotor serta sisa-sisa peralatan yang tadi dipakai oleh Rosma untuk memasak. Sementara Rosma membantu untuk menyapu rumah dan merapikan semua perlengkapan yang ada di dalam ruangan termasuk kamar yang mereka tiduri.
"Boru, apakah suamimu marah, waktu Mamak minta uang itu?" celetuk Rosma, keduanya berbincang sembari masing-masing sibuk melakukan aktivitasnya.
"Nggak usah Mamak khawatirkan itu, 10 juta nggak berarti apa-apa untuk Bang Defan. Lagian dia nggak bakal marah karena untuk kebutuhan keluarga istrinya kok," sergah Dira, tersenyum sumringah pada sang mamak.
"Syukurlah, mamak merasa nggak enak soalnya udah meminta uang padamu tapi karena keadaan mendesak terpaksa Mamak melakukannya!" sesal Rosma, tertunduk malu.
"Aku mengerti kok, Mak! Persoalan kayak gitu nggak usah Mamak pikirkan, kalau memang butuh, minta aja sama aku, nggak usah sungkan. Selama ada pasti aku akan kirimkan!" tukas Dira.
"Iya, Boru! Mamak minta maaf lah karena nggak bisa membahagiakanmu hanya bisa merepotkan saja!" racau Rosma.
"Nggak papa lah, Mak aku kan masih boru makak. Selama masih bisa membantu kenapa enggak?" hardik Dira, terkekeh kecil agar mamaknya tak terus bersedih.
Setelah menyelesaikan tugas masing-masing, mereka berdua duduk di ruang keluarga dan bersantai sembari menonton televisi yang menyala. Kedunya pun masih berlanjut menyemil bola-bola kentang yang sudah dimasak oleh Rosma karena saat sarapan tadi tidak ada yang menyentuh makanan itu
"Bola-bola kentang ini apa resepnya, Mak?" tanya Dira, menatap sang mamak menanti jawaban.
"Biasa aja kayak bikin perkedel cuma lebih kecil-kecil aja dibikin bentuk bulat. Bumbunya pun gampang paling bawang putih, bawang merah yang dihaluskan sama kasih daun bawang biar semakin wangi," tandas Rosma.
__ADS_1
"Oh ... gitu, nanti kucoba lah buat cemil-cemilanku sendiri. Kalau Bang Defan mana suka dia cemilan kayak gini!" balas Dira, menatap lekat manik sang mamak.
"Ya, bikinlah kalau kalau ada waktu. Jangan malas-malasan aja di rumah!" tegas Rosma.