
Di dalam kamar, Defan dan Dira merebahkan diri di atas ranjang, keduanya masih beristirahat, tidak bergegas langsung membersihkan diri.
"Ih ... udah lama kita nggak tidur di kamar ini, ternyata masih bersih juga," ucap Dira, mengedarkan pandangan menatap sekeliling kamar.
"Iya lah, selalu bersih kok kamar ini karena ada yang membersihkannya," tutur Defan.
Defan pun beranjak, ia ingin segera menuju kamar mandi tapi langkah kakinya terhenti karena ia ingin mengajak istrinya untuk ikut ke dalam kamar mandi.
Dira hanya menuruti saja keinginan suaminya, mereka membersihkan diri berdua di dalam kamar mandi, keduanya melakukan ritual mandi selama 30 menit, hingga kembali lagi ke dalam kamar.
Malam itu, Melva di ruang keluarga menyudahi tontonannya. Ia mematikan televisi karena sudah hampir jam 09.30 malam, apalagi Desman bahkan sudah sempat tertidur saat menemaninya.
"Pak, bangun!" titah Melva serata menggoyangkan tubuh suaminya agar pria itu terbangun dari tidur lelapnya.
Sontak, Desman membulatkan bola matanya hanya sekali dibangunkan, ia segera terjaga, melihat sekeliling yang ada di sana, tampak TV sudah mati tidak seperti saat ia menemani istrinya.
"Aduh, ketiduran lah, Bapak!" tandas pria itu, seraya menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
Sudah pasti Melva akan menggerutu karena melihatnya tertidur lelap dengan alasan ketiduran. "Bapak selalu kayak gitu kalau diajak menemani untuk nonton sinetron pasti ketiduran terus," protes Melva menatap sengit suaminya.
"Ya, siapa sih yang nggak ketiduran melihat tontonan yang membosankan seperti itu," desah Desman, kemudian ia beranjak dari sofa yang ditidurinya.
Sama halnya dengan Melva, ia juga ikut beranjak dan berjalan beriringan dengan sang suami menuju kamar utama. Keduanya masuk ke dalam kamar, lalu mengistirahatkan tubuh sejenak, tidak ada lagi pertemuan dengan anak dan menantunya.
Bahkan, Melva juga tak ingin mengganggu waktu Defan dan Dira saat sedang berdua berada di kediaman mereka.
"Pak, kapan si Dira hamil, ya?" keluh Melva seraya menatap lekat suaminya.
"Jangan desak-desak dia, nanti dia jadi merasa nggak enak kalau dituntut untuk segera memberikan cucu," tampik Desman dengan acuh.
"Tapi Mama udah nggak sabar mau menimang cucu," balas Melva m, maniknya menatap mata orang elang suaminya yang terlihat sangat sayu dan merasa mengantuk.
__ADS_1
"Sama, aku pun juga udah nggak sabar tapi harus disabar-sabari aja, nanti malah anaknya nggak jadi-jadi kalau dituntut terus," kilah Desman, lalu mengusap wajahnya yang semakin merasa mengantuk.
Tak lama, mulutnya pun terbuka lebar karena menguap.
"Ya, tapi gimana mungkin terus bisa bersabar. Apakah Dira harus program hamil atau suruh dia mengkonsumsi vitamin biar bisa cepat hamil," selorog Melva, tetap bersikukuh ingin segera memiliki cucu.
"Ah, ngapain? Orang dia udah jelas-jelas bisa hamil kok, kan kemarin keguguran," sahut Desman tak setuju.
"Iya sih, cuman kok terasa lama kali setelah keguguran malah nggak isi-isi," erang Melva.
"Udahlah, nggak usah terlalu Mama pikirkan soal itu, biarkan saja mereka berdua yang memikirkannya. Kita hanya menikmati waktunya saja, biarkan mereka menikmati masa-masa pernikahannya semasa masih berdua!" beber Desman.
"Iya, tapi mama udah nggak sabaran!" timpal Melva.
"Ngapain Mama memikirkan itu terus-menerus, lebih baik kita tidur saja!" Desman pun menguap dengan lebar, menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangan.
"Yaudahlah, ayo tidur!" Melva menarik selimut untuk menutupi kedua kaki dirinya dan suaminya.
Keduanyatampak beristirahat dan memasuki dunia alam mimpi.
****
Pikiran Carol meracau kemana-mana, ia bahkan mulai berprasangka buruk pada pacarnya. Sementara Jefri, sejak siang hingga malam ia masih sibuk bermain futsal. Namun, setelah 30 menit yang lalu, ia menyudahi permainan itu tapi masih berlanjut berkumpul-kumpul dengan teman-teman lamanya.
Apalagi, karena mereka sudah lama tidak memiliki waktu luang untuk berkumpul bersama. Bahkan Jefri sampai tak ingat kalau ia sudah memiliki pacar, ponselnya terus saja mati, ia sama sekali tak pernah melihat ponsel di balik dalam tas.
Saat itu, Jefri tengah asik berbincang dengan teman-temannya. Mereka mengobrolkan berbagai hal, tiba-tiba ada seorang temannya yang mengingatkan dan menanyakan bahwa apakah kini statusnya masih jomblo atau sudah memiliki pacar?
Jefri bukannya menjawab pertanyaan itu, setelah mendengar kata-kata dari temannya, Jefri terperanjat dari tempatnya. Ia langsung mencari tas yang tergeletak di atas meja, mengecek ponsel.
Saat itu juga, Jefri mengingat Carol karena belum menghubungi wanita itu sama sekali. Sejak pertemuan mereka terakhir kali pada siang tadi di kampus.
__ADS_1
"Udah punya pacar kok," jawab Jefri dengan terburu-buru, lalu menyalakan ponsel.
Namun wajahnya terlihat dengan tatapan penuh kecewa karena tidak ada satupun notifikasi pesan dari Carol.
Padahal, Jefri berharap bahwa Carol akan mengirimkan pesan padanya tapi ia menghempaskan ponsel dengan rasa kecewa, memasukkannya lagi ke dalam tas karena merasa jengkel.
"Kenapa kau kok sedih gitu?" celetuk teman Jefri, saat menatap lekat raut wajah Jefri yang tampak kecewa.
"Entahlah, pokoknya aku lagi kesal aja," seloroh Jefri dengan ketus.
Sepasang kekasih itu sama-sama tengah berharap satu sama lain, saling menunggu pesan yang akan mereka terima tapi tak ada satupun yang mau mengabari.
Akhirnya, Jefri kembali melanjutkan obrolan dengan teman-temannya untuk melupakan sejenak tentang kekasihnya. Hingga arut malam,'Jefri terus saja berkumpul bersama teman-temannya. Bahkan ia berniat untuk menginap di rumah salah satu temannya karena enggan untuk pulang ke rumah.
"Eh, tadi kau bilang sudah punya pacar, by the way siapa pacarmu?" sosor salah satu teman Jefri.
"Ada, juniorku yang satu jurusan dama aku juga tapi gitulah orangnya cuek," ungkap Jefri, menekuk wajahnya.
"Wah, asik dong kalau udah punya pacar yang cuek gitu diam-diam perhatian loh!" sambar teman Jefri yang lain.
"Asik sih tapi banyak nggak enaknya!" terang Jefri dengan lugas.
"Nggak enaknya kenapa?" tanya teman Jefri yang lain.
"Gimana, ya? Susah kali menjelaskannya, soalnya kadang kita sudah menuruti permintaan dia tapi ternyata tidak sesuai keinginannya, pokoknya kita serba salah!" keluh Jefri.
"Wajarlah, namanya juga perempuan, kadang pengen dituruti, kadang juga nggak mau dengar pendapat kita!" sambung teman Jefri.
****
Jenny baru saja mendapatkan sebuah pesan, matanya memicing dengan tatapan penasaran. Sebab sebuah pesan itu berasal dari orang yang sempat dikenalnya beberapa waktu yang lalu.
__ADS_1
"Dari mana bapak tua ini mengetahui nomor pribadiku?" desah Jenny, saat menatap pesan yang isinya ingin mengajaknya mengenal satu sama lain, bahkan lebih dekat.
"Perasaan aku nggak sempat tinggalkan nomor ponselku di fotokopian itu deh," batin Jenny, sejenak berpikir untuk kembali mengingat-ingat dan larut dalam pikirannya sendiri.