Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
suami yang tak becus


__ADS_3

"Pulang? Emang Dira udah boleh pulang, bang?" sahut Carol, cukup terkejut mendengar penuturan pria itu.


Sebab, melihat kondisi Dira setelah mendapatkan operasi kecil, seharusnya ia lebih baik beristirahat di kamar.


"Iya, Dira udah boleh pulang! Biar istirahat di rumah saja. Kita harus segera kembali ke Medan," seloroh Defan, mulai berkemas, membantu Dira hendak menggantikan seragam rumah sakit yang dipakainya.


"Rol, tolong bantu panggilkan perawat. Biar dilepaskan infusnya," lanjut Defan memerintah.


Carol hanya mengangguk, melakukan apa yang diminta oleh pria itu. Dia memanggil seorang perawat, membawa ke dalam kamar Dira.


Perawat membantu melepaskan infus yang telah kosong. "Mau langsung pulang, ya, pak?" tanya perawat itu, lantaran Defan terlihat buru-buru.


"Iya, Sus! Perjalanan kami masih panjang," sahutnya.


"Baiklah, hati-hati di jalan, pak! Jangan lupa, obatnya diminum, ya, bu. Langsung istirahat di rumah." Perawat kemudian pergi setelah memberikan peringatan.


Defan membantu Dira berjalan ke kamar mandi. Menggantikan baju istrinya, mengenakan kembali pakaian yang sama saat mereka datang ke rumah sakit ini.


"Bang, apa nggak masalah kita pulang secepat ini?" tanya Dira, pasrah dengan semua yang dilakukan pria itu pada tubuhnya.


"Nggak apa-apa, yang. Kata dokter sudah boleh pulang, nanti istirahat di rumah. Biar mamaku yang jagain di rumah, ya!" Defan akhirnya selesai memakaikan baju Dira.


"Iya, bang!" Dira menurut saja dengan perkataan Defan. Perutnya sedikit sakit akibat sayatan bekas operasi kecil kuretase.


"Hati-hati jalannya." Defan merangkul Dira, berjalan pelan dan tak terburu-buru.


Namun, Dira yang merasa tubuhnya sehat tetap berjalan seperti biasa. Meski dipapah oleh Defan, Dira malah berjalan lenggak-lenggok seolah tak ada yang terjadi.


"Yang, jangan jauh-jauh, pegang tangan abang! Nanti kalau kenapa-napa, gimana?" tegur Defan, melihat istrinya petantang-petenteng.


"Iya, bang!" Dira semakin memikirkan apa yang telah terjadi. Kesalahannya begitu besar hingga mengorbankan anak mereka.


Anak yang dinginkan oleh suaminya setelah bersabar menunggu hampir dua tahun lamanya. Ia tahu, kalau Defan sangat merasakan kecewa yang mendalam. Namun, pria itu berhasil menyembunyikannya.


Defan memang menunjukkan ketegarannya. Namun, hatinya hancur berkeping-keping mengingat kepergian anak mereka yang masih berumur beberapa minggu.


Anak yang ia idam-idamkan akhirnya terwujud. Namun, sudah pergi meninggalkan mereka dalam waktu sekejap.

__ADS_1


Aku terlalu bodoh, kenapa aku tidak bisa menjaga istri dan anakku sendiri!


Defan memaki dirinya sendiri saat larut dalam pikiran. Ia merasa kesal dengan apa yang sudah terjadi hari ini. Perasaan kecewa, sakit, sedih menjadi satu.


******


Setelah melalui perjalanan panjang, hampir lima jam lamanya. Defan membaringkan Dira di atas ranjang. Ia memperingati, Dira tak boleh beranjak dari kasur karena harus beristirahat.


Tiga puluh menit yang lalu, Defan bergantian mengantarkan Jenny dan Shinta. Sementara, Carol ikut sampai ke lantai basement kondominium untuk mengambil mobil yang ia parkirkan di sana.


Defan mondar-mandir di ruang keluarga, ia merasa bimbang untuk menghubungi kedua orangtuanya. Namun, siapa lagi yang akan menjaga Dira kalau bukan sang mama?


Oleh karena itu, Defan terpaksa menelepon sang mama, memberikan kabar buruk yang tak pernah ia sangka akan terjadi.


"Halo, nak? Gimana kabarmu?" sapa Melva dari seberang telepon.


"Kurang sehat, ma. Mama ke sini sekarang, ya! Untuk jaga Dira! Defan sendiri belum kuat menerima keadaan ini," jawabnya dengan suara bergetar.


"Apa yang terjadi? Bukannya kau sama Dira habis liburan? Katanya mau honeymoon kedua?" cecar Melva, mendengar kesedihan dari nada bicara putranya.


"Sulit untuk dibicarakan di telepon, ma! Lebih baik mama ke sini saja!" ujar Defan, mematikan sambungan telepon secara sepihak.


****


"Pak, mama ke rumah Defan dulu, ya!" ucapnya dengan nafas terengah-enggah karena membereskan barang-barang untuk dibawa ke rumah Defan.


"Ada apa, ma?" tampik Desman, mengkerutkan kening, melihat istrinya buru-buru hendak pergi.


"Mama disuruh jagain Dira. Kayaknya ada sesuatu yang terjadi. Si Defan juga nada bicaranya beda," papar Melva khawatir pada kondisi putra dan menantunya.


"Yaudah, bapak antar ke sana!" balas Desman, beranjak dari kasur, menggantikan baju rumahan dengan pakaian kasual.


"Iya! Ajak si Anggi lah sekalian." Melva kemudian berlari, menaiki anak tangga, berteriak-teriak memanggil anak bungsunya.


"Anggi! Anggi!"


Anggi yang merasa terpanggil keluar dari kamar dengan rasa malas. "Ada apa sih, ma?"

__ADS_1


"Cepat siap-siap, kita mau ke rumah abangmu!" desak Melva tanpa penjelasan apapun.


"Ngapain?" Anggi hanya terdiam saat melihat kepergian sang mama yang berlalu begitu cepat.


Dengan rasa malas, ia mengganti baju. Mengenakan baju santai, untuk sekedar pergi ke rumah Defan.


Tak berselang lama, Anggi sudah berkumpul dengan mama dan bapaknya di ruang tamu. Niar yang asik sendiri di dalam kamar justru tak tahu apa yang terjadi.


"Nena, kau juga ikut!" titah Melva, ia tak ingin kerepotan seorang diri di dalam rumah Defan.


Nena hanya mengangguk pasrah, mengenakan pakaian seragam khas pelayan, ia masuk ke dalam mobil. Sebelum Melva meninggalkan rumah, ia berpesan pada salah satu pelayan.


"Si Niar biar aja di rumah. Kalau dia nanya, bilang aku ke rumah si Defan." Melva langsung masuk ke dalam mobil, duduk disamping suaminya yang hari ini menyetir khusus berkunjung ke rumah menantu mereka.


*****


Hari sudah mulai gelap, Defan semakin frustasi mengingat kepergian anak mereka. Namun, ia tak mau menunjukkan kesedihannya pada Dira. Dengan berat hati, ia menjaga Dira yang masih tertidur setelah menghabiskan obatnya sore tadi.


Defan hanya bisa menatap istrinya dengan tatapan sendu. Mengelus-elus pucuk kepala Dira sangat pelan agar tidak membangunkannya.


Saat membaringkan tubuhnya, ia memeluk istrinya dengan erat. Tanpa terasa, buliran bening berhasil lolos lagi dari pelupuk mata.


Diciumi pipi sang istri dengan kelembutan seraya dengan perasaan penuh penyesalan. Ia menganggap dirinya sebagai suami yang tak becus.


Tak mampu menjaga istri dan anaknya sendiri. Kesedihan mendalam terus membelengguh dalam pikiran.


Ting ... Tong ...


Suara bel berbunyi membuyarkan kesedihan Defan. Ia langsung menyeka rintikkan air mata yang tak henti-henti. Berjalan gontai menuju daun pintu.


Setelah memastikan wajahnya baik-baik saja, ia menarik daun pintu rumah. Terlihat dua orang paruh baya dan adik bungsunya telah menanti kedatangannya.


"Kenapa, kau?" cecar Desman, melihat raut wajah Defan begitu sendu.


"Masuk dulu pak, ma, Nggi," sahutnya.


Ia berjalan masuk diekori oleh ketiga tamu yang diharapkan sejak tadi tiba.

__ADS_1


"Ada apa, Def?" tanya Rosma, memicingkan mata, menangkup wajah Defan yang sendu.


Mata Defan yang beradu dengan mata Melva tak kuasa menahan tangisnya. Tangis itu mulai pecah, kakinya ikut terkulai lemas, ia langsung terjatuh dan bersimpuh di kaki Melva.


__ADS_2