Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
Godaan apalagi?


__ADS_3

Hingga pukul 9 malam, Dira dan Defan mengobrol bersama Sahat dan Rosma. Setengah jam yang lalu, Carol, Jenny dan Shinta sudah berpamitan pulang lebih dulu.


"Mak, kami mau pulang dulu, sudah sangat malam. Kami juga mau berkunjung ke rumah amang!" terang Dira, menatap lekat sang mamak yang seketika berwajah sendu.


"Iyalah, iya, boru! Hati-hati di jalan. Lain kali kalau ada apa-apa kabari mamak. Jangan kau bikin keluargamu sendiri kayak orang asing!" pesan Rosma, meraih badan Dira, memeluk dengan erat.


"Iya, mak!" jawab Dira seraya menepuk-nepuk punggung sang mamak.


Suaminya juga langsung mencium punggung tangan kedua orang tua Dira. Tak lama, mereka berpamitan pulang, meninggalkan halaman luas rumah baru keluarga Dira.


Di perjalanan, keduanya masih berpikir tentang rencana untuk menginap di rumah orang tua Defan. Sebab, hari sudah terlalu malam, terlebih Defan, esok harus bekerja langsung menuju pengadilan.


"Yang, apa kita pulang aja?" ujar Defan, meminta pendapat sang istri.


Dira yang masih berpakaian yang sama seperti saat berangkat ospek tadi sedikit bergeming. Sebenarnya, ia tak nyaman dengan penampilan ini, apalagi jika harus berkunjung ke rumah mertua.


"Kenapa memangnya bang?" tanya Dira, agar tidak kelihatan segera menyetujui perkataan suaminya yang sekaligus bersamaan menatap lekat sang suami.


"Ehmm ... Sudah terlalu malam untuk berkunjung, tidak enak sama bapak," sahut Defan, sesekali melirik mata Dira yang mulai sayu akibat kelelahan.


"Oh ... iya juga sih, bang! Lagian abang tadi terlalu lama datangnya. Jadi nggak ada alasan untuk pulang cepat karena abang sendiri datang setelah jam 7 malam!" tandas Dira.


"Hu'um! Maafin abang, ya, yang! Hari ini ada kejadian tidak terduga, jadi gimana menurutmu? Apa sebaiknya pulang saja?" ucap Defan, kembali pada pembicaraan inti mereka.


"Yaudah, bang, mending pulang aja. Dira juga nggak enak sama amang. Penampilan Dira kacau balau begini," desah Dira, menatap tubuhnya yang sangat acak-acakan.


"Baiklah!" Setelah mendapat persetujuan, Defan melajukan mobil dengan kencang.


Ia segera mengganti arah menuju kediaman kondominium tempat tinggal mereka berkeluh kesah. Selama 30 menit di perjalanan, Dira menyandarkan kepala ke jok kursi, agar badannya yang kelelahan sedikit meregang.


"Kejadian apa tadi yang terjadi, bang?" celetuk Dira, mengingat kejadian yang sempat dikeluhkan oleh suaminya.


"Tadi abang ke rumah klien untuk nyari barang bukti tapi barangnya sulit ditemukan. Alhasil abang sama asisten nunggu sampai dua jam di rumahnya," jelas Defan, seraya menghembuskan nafas kasar.

__ADS_1


"Oh! Tapi ketemu?" balas Dira, sedikit menoleh kepada wajah pria berparas tampan tersebut.


"Iya, yang. Untung saja ketemu! Itu satu-satunya bukti terkuat!" tandas Defan, lalu tersenyum tipis saat melihat wajah lelah sang istri.


Kalau capek, tidur saja!" lontar Defan lagi, kasihan melihat istrinya yang tampak kelelahan.


"Nggak ah, bahaya kalau aku tidur. Nanti abang nggak konsen jalannya!" sahut Dira, polos.


Maksudnya, ia khawatir kalau suaminya juga ikut mengantuk jika melihatnya tertidur. Namun, Defan justru berpikrian lain, ia malah berpikiran kotor sehingga membuat Dira terkekeh kegelian.


"Iya sih, nggak bakal konsen kalau lihat tubuh istrinya yang seksi menganggur," papar Defan, mengerlingkan mata.


"Hah? Hahahaha! Abang, itu sudah lain cerita!" kekeh Dira, menahan perutnya yang terasa sakit karena lelah tertawa.


"Kok ketawa sih!" sungut Defan, mengerutkan keningnya.


"Iyalah, lagian aku bilang apa, abang malah balas apa, pikirannya juga kotor kali!" sesal Dira, mendelik karena sebal melihat suaminya.


"Loh, kok kotor? Wajarlah, ucapanmu juga ambigu, mengarah ke sana!" kelit Defan, mengerucutkan bibir, seketika bibirnya mulai monyong ke depan karena cemberut.


"Oooo!" Defan hanya menganga lebar setelah mendengar penjelasan istri kecilnya.


Tubuh Defan yang terasa lelah seketika menjadi rileks. Pikirannya yang tak tenang mengenai persiapan sidang besok hilang dalam sekejap mata.


Perdebatan dirinya dengan sang istri membuat tubuh dan pikirannya semakin tenang. Suasana pun mencair serta rasa sedih yang sempat menghantui keduanya mengenai kejadian keguguran pun mulai luruh.


"Yang, weekend mau nginap di hotel?" tawar Defan, mengubah topik pembicaraan.


"Hmm ... untuk apa nginap di hotel? Aku juga belum bisa disentuh loh, bang!" tukas Dira, penuh penekanan.


"Yah, biar happy aja, yang! Nggak suntuk di rumah terus!" tambah Defan, memberi alibi.


"Nggak ah, nginapnya nanti saja! Selesai masa nifas, jadi bisa langsung gas bikin dedek bayi lagi!" tampik Dira, lalu tersenyum lebar pada suaminya.

__ADS_1


"Harus gas dong!" sahut Defan, terkekeh lebar.


Saat itu juga, Defan memarkirkan mobil di lantai basement. Tak terasa, selama waktu mengobrol dengan Dira, jalanan cepat dilalui.


Akhirnya, mereka tiba di kediaman tercinta. Rumah yang mereka tinggali selama satu hari ini. "Ayo, bang! Cepat! Aku mau mandi, badan terasa lengket!" keluh Dira, berjalan cepat agar segera masuk ke dalam rumah.


Mereka yang sudah keluar dari dalam lift, segera berlari menuju pintu utama. Defan memasukkan sandi di smart lock kondominium.


Keduanya langsung menuju kamar mandi bersamaan. "Abang, mau ngapain?" sanggah Dira, menatap lekat suaminya yang menerjang masuk ke dalam kamar mandi yang sama.


"Mau mandi dong, yang!" ucap Defan cuek, lalu melepas semua baju yang ia kenakan dan melempar ke lantai hingga berserakan.


"Abang!" berang Dira, menghentakkan kakinya, lalu memunguti baju suaminya dengan kesal.


"Taro di keranjang kotor dong! Di rumah ini, cuma kita sendiri yang membersihkan," lanjut Dira, mengekori suaminya yang berjalan gontai tanpa mengenakan sehelai benang pun.


"Hmmm," deham Defan, cuek. Ia langsung menyalakan shower setelah menempatkan posisi di bawah shower tersebut.


Air hangat meluncur dengan derasnya. Sementara Dira, hanya pasrah membuka seluruh baju yang ia pakai. Memeluk suaminya dari belakang hingga kulit menembus kulit.


Hal itu membuat tubuh Defan meremang seketika. Ia menoleh ke belakang, meski pandangan yang di dapat hanya pucuk kepala istrinya.


"Ayang, please lah, jangan goda abang kayak gini! Sangat menggoda iman!" desah Defan, mengeluarkan nafas berat serta menelan shaliva yang memenuhi kerongkongan dengan sulit.


"Kenapa sih, bang?" Dira semakin jahil, malah bergelayut manja pada punggung kekar suaminya.


"Astaga!" Defan membalikkan tubuhnya dengan cepat, lalu memeluk Dira dari depan. Menggendong gadis kecil itu, mendudukkan tubuhnya ke pinggang Defan.


Dira langsung menopang tubuh dengan kedua kaki yang dieratkan pada paha suaminya. Posisi itu semakin membuat Defan tergoda.


"Godaan apalagi ini, Tuhan!" ringis Defan, seraya mendongak ke atas, menatap langit-langit kamar mandi.


Lalu, dengan cepat ia menatap sang istri, melumatt bibir tipis itu dengan rakus.

__ADS_1


"Ehm ... abang!" rintih Dira terdengar lirih, lantaran mulutnya tersumpal dengan bibir sang suami yang terasa kenyal.


Defan terus melanjutkan aksinya, tanpa peduli, ia mengencangkan pegangan tangan yang melilit di paha Dira agar tersanggah dengan kuat.


__ADS_2