
"Abang ih bukain!" teriak Anggi semakin menjadi-jadi. Bahkan ia sampai menangis karena tak dibukakan pintu oleh abangnya.
"Udah bukain bang! Kasian sampai nangis gitu," tegur Dira semakin tak tega.
Akhirnya Defan menyerah, ia membukakan kuncinya. Dengan sigap, Anggi langsung menarik handel pintu mobil abangnya lalu masuk ke bagian kursi penumpang.
Anggi pun langsung menyeka air mata yang membasahi pipinya. Padahal ia hanya berpura-pura menangis tapi bulir bening itu ternyata sunguh-sungguh keluar dari sudut matanya.
"Ayo! Jalan bang!" teriak Anggi kegirangan. Padahal ia belum mengganti seragam sekolahnya tapi sudah ingin pergi jalan-jalan mengganggu kegiatan dua pasutri.
"Telepon mama dulu! Kabari kalau kau ikut sama kami," tegas Defan melirik adiknya yang kegirangan dari broadway mirrornya.
"Hmmmm!" Anggi langsung mengambil ponselnya, membuat satu panggilan pada mamanya.
"Mam? Anggi pergi sama bang Defan ya! Ini udah di mobil abang!" ucap Anggi melalui sambungan teleponnya.
"Iya hati-hati kalian! Jangan pulang malam-malam," tutup Melva mengakhiri teleponnya.
"Udah tuh kan! Puas!!!" raung Anggita menatap abangnya penuh kemenangan.
"Dir, tolong pesankan satu lagi tiket nonton untuk Anggi." Defan menyodorkan ponselnya pada Dira.
Dira hanya patuh mengikuti perintah suaminya. Ia menatap ponsel milik suaminya dengan background foto pernikahan mereka berdua.
"Kenapa? Kok bengong? Buruan pesan! Nanti kehabisan loh," titah Defan yang tetap fokus pada jalanan di delab meski sesekali ia melirik Dira yang masih terdiam.
"Apa paswordnya?" sambung Dira menunduk, menatap lekat layar ponsel suaminya. Ia semakin haru setelah melihat fotonya berada di ponsel milik suaminya.
"020222." Defan tetap fokus menyetir.
Hah? Apa? Tanggal pernikahan kita? Nggak salah ni laki? Kok bisa-bisanya dia terus nyerang aku gini. Pakai foto pernikahan, paswordpun pakai tanggal nikah!
Dira semakin larut dalam pikirannya. Ia tak menyangka kalau suaminya terus saja membuat ia semakin merasa jatuh cinta atas perlakuan-perlakuan kecil seperti itu.
"Cieeee!" celetuk Anggi memecahkan keheningan di dalam mobil itu.
__ADS_1
"Apalagi anak kecil!" sela Defan menatap tajam adiknya melalui broadway mirrornya.
"So sweet kali abang! Pasword ponselnya pun tanggal pernikahan kalian," ledek Anggita tersenyum tipis.
Dira hanya diam mengamati ekspresi suaminya. Namun, ia kembali memfokuskan untuk memesan tiket di ponsel suaminya.
"Hush anak kecil gausah sok tau," kilah Defan mengelak.
"Lah kalau bukan tanggal pernikahan, jadi itu tanggal apa coba?" cecar Anggi. Karena ia sangat mengingat tanggal pernikahan abangnya. Tanggal itupun sangat cantik dan mudah diingat.
Defan hanya terdiam, tak mau melanjutkan perdebatan dengan adiknya. Sedangkan Dira masih fokus memesankan satu tiket untuk iparnya.
"Kita nonton apasih dak?" tandas Anggi penasaran.
"Film horor," jawab Dira singkat.
"Hah? Apa? Kok nggak bilang mau nonton film horor? Aku takut nonton yang horor-horor! Mending aku pulang deh," timpal Anggi semakin lesu setelah mendengar tontonan kedua pasangan itu.
"Lah kan kau yang maksa mau ikut tadi! Nggak nanya-nanya dulu lagi!" kelit Defan.
"Yaelah! Kirain mau jalan-jalan kemana gitu! Eh malah nonton horor pulak! Hihhhh," ringis Anggi merasa ngeri.
"Serius?" pekik Anggi semakin kecewa. Dia sangat tak menyukai film horor. Selain seram, hal yang paling dibencinya adalah suara mengagetkan pada film tersebut. Membuat serasa jantungnya ingin copot saja.
Dira mengangguk dan terseyum menjawab pertanyaan iparnya itu. "Bang aku mau pulang ajalah! Putar balik bang," titah Anggi.
"Ihh ngerepotin aja nih anak kecil satu! Kan tadi udah dibilang mending di rumah! Kalau gini bikin orang repot aja! Yaudah kau harus tetap ikut nonton! Kalau mau pulang, ya pulang sendiri aja," ketus Defan mulai geram pada tingkah adik bungsunya itu.
"Iya dak, filmnya juga bentar lagi mulai. Kalau kita balik lagi, malah nggak jadi nonton," sesal Dira. Dira semakin emosi melihat tingkah iparnya yang sangat kekanakan.
" Ihhhh! Aku nggak suka film horor! Kalau gitu ganti aja filmya." Rengekan Anggi membuat Dira sangat kesal. Namun, ia tak mungkin meluapkan unek-uneknya terlebih pada iparnya.
Bisa-bisa Dira mendapat cibiran dari mertuanya kalau menegur ipar bungsunya. "Jadi gimana bang?" tanya Dira menatap lekat suaminya.
"Nggak mungkin ganti tontonan. Lagian ngapain sih si Anggi ini. Suka kali ganggu kegiatan orang. Tadi udah dibilang jangan ikut tapi merajuk aja kerjanya. Sekarang nonton film horor pun merajuk lagi!" Defan semakin kesal pada adiknya.
__ADS_1
"Udah kau kalau mau pulang, pulang sendiri aja sana," titah Defan semakin geram.
Defan memarkirkan mobilnya di lantai basement mall. Mereka bertiga keluar dari mobil setelah selesai terparkir. Namun, Anggi berjalan dengan ogah-ogahan membuat Defan semakin berang.
"Jadi kau mau ikut apa engga! Kalau nggak mau nggak usah maksain! Pulang aja sana!" titah Defan bernada tinggi. Membuat Anggi semakin merengek dan nangis. Sifat manjanya bahkan terlalu kelewatan sehingga Dira hanya terdiam sembari mengamati kedua kakak beradik itu tengah berdebat.
"Aku malas pulang sendiri! Aku mau jalan-jalan aja di mall! Kelen dua ajalah yang nonton!" lontar Anggi memalingkan wajahnya dari wajah abangnya.
"Hihhh! Kesal kali aku lihat kau! Entah ngapain pakai ikut-ikut segala! Sekarang jadi siapa yang repot," tegur Defan meninggikan suaranya.
Sayangnya, Defan tak setuju dengan keinginan adiknya yang berjalan-jalan sendiri di dalam mall. Ia tetap menarik lengan Anggi, mengajaknya hingga ke bioskop.
"Mau beli popcorn atau minum?" tawar Defan menatap kedua perempuan kecil yang ada dihadapannya.
"Aku mau!" jawab Anggi dengan sinis.
"Aku juga mau bang." Dira tersenyum pada suaminya.
"Yaudah Dir, jagain si Anggi biar nggak lari. Aku aja yang beliin!" Defan berjalan gontai ke arah kasir tempat pemesanan makanan. Ia memesan popcorn, minum, serta cemilan lainnya untuk menemani mereka nonton.
Sedangkan Dira dan Anggi menunggu di sofa. "Edak kalau nanti nggak kuat nonton horor, tutup aja matanya," usul Dira membuka percakapan mereka.
Anggi yang sedang asik menatap ponselnya hanya mengiyakan permintaan perempuan sebayanya itu. Mereka padahal sepantaran tetapi tidak ada keakraban diantara keduanya.
Apalagi karena mereka bersekolah ditempat yang berbeda. Jadi tak pernah ada pembicaraan mengenai sekolah, pelajaran ataupun keseharian antara keduanya.
Tak berselang lama, Defan datang menghampiri kedua perempuan yang tampak berjauhan itu. Ia menenteng popcorn, minuman serta cemilan yang sudah terbungkus menyatu.
"Ayo! 10 menit lagi mulai," sambar Defan masih berdiri menatap kedua gadis itu.
Dira dan Anggi beranjak dari kursinya. Mengekori Defan dari belakang. Anggi tampak pendiam, bulu kuduknya saja sudah bergidik ngeri tepat di depan pintu bioskop. Apalagi ketika saat menonton filmnya?
"Bang! Aku takut!" ringis Anggi menggenggam erat lengan abangnya.
Defan dan Anggi berjalan beriringan, sementara Dira berjalan seorang diri dibelakang mengekori suaminya dan iparnya.
__ADS_1
Ini suamiku malah ngasuh adiknya! Nggak jadi seru-seruan berdua hadeh
Dira mengeluh dalam batinnya. Menyorot kedua kakak beradik itu dengan tajam dan sedikit rasa kesalnya.