
Ditengah-tengah sidang PBB informal itu, Carol sempat berdekatan dengan Jefri. Dengan malas Carol pun menuruti perkataan seniornya.
Jefri kegirangan bisa berdekatan dengan wanita yang disukai. Ia menanfaatkan kesempatan untuk melirik dan memandang Carol secara terang-terangan.
*****
Defan kembali duduk di kursi kebesaran setelah tiga tamu pergi kembali. Kini, ruangan tampak senyap, kesunyian mulai menyerang.
*Hening
Defan dan Juni tengah sibuk membaca berkas yang masih menumpuk di masing-masing meja kerja.
****
Di kelas jurusan hukum, tiga senior Shinta baru saja tiba. Mereka datang membawa berbagai perlatan untuk diberikan kepada mahasiswa baru.
Hari ini, maba diminta untuk memasak bersama di dalam kelas. Ketiga senior menenteng wajan, sutil, kompor gas portable, serta bahan makanan lainnya.
"Helo!!" sapa Panja.
"Pagi, kak!" jawab semua maba.
"Perhatiannya, harap tenang!" ucap Janu.
Semua anak-anak terdiam, mereka juga menatap tajam semua peralatan yang dibawa oleh seniornya sekaligus bertanya-tanya. Disisi lain, Shinta sangat antusias setelah kedatangan senior pujaannya.
"Hari ini, kita adakan kelas memasak! Untuk membuat semua maba semakin akrab satu sama lain. Masakan yang kita buat adalah makanan khas di Medan ini! Mie gomak, cara masaknya juga tidak sulit!" ungkap Nanda, menyusun kompor, wajan dan sutil.
"Waw!" teriak Shinta, lalu bertepuk tangan dengan gembira.
"Masaknya dibagi tiga kelompok. Yang tugasnya mengurus perbumbuan, mengurus masak mienya, serta menyiapkan piring dan sendok membagi mie dengan rata," tutur Janu.
Semua anak-anak semakin semangat. Untuk kegiatan ospek hari ini, menurut mereka sangat menarik. Kapan lagi bisa memasak bersama di dalam kelas. Bahkan, sekaligus mencicipi hasil masakan tersebut.
****
Jenny dan Shinta keluar dari dalam kelas. Mencari peralatan yang akan digunakan untuk membuat tas plastik. Satu-satunya tempat yang terpikirkan adalah kantin kampus.
"Jen, kita ke kantin! Minta sama ibu-ibu kantin untuk memberikan plastik bekas," tutur Dira, memberikan saran.
__ADS_1
Teman-teman yang lain pun juga ikut keluar dari kelas. Semua berpencar untuk mencari peralatan yang akan digunakan membuat tas plastik dan name tag.
Setelah tiba di kantin, Dira meminta bekas plastik bekas bungkusan minuman sachet. Sementara Jenny, meminta kardus bekas untuk nantinya digunakan sebagai bahan baku name tag.
"Permisi, bu, apakah saya boleh meminta plastik bekas bungkus minuman? Itu yang ada di tong sampah," ucap Dira, meminta dengan sopan santun.
"Kotor itu, kak!" sahut Ibu Kantin.
"Nggak apa-apa, bu, nanti saya bersihkan sendiri. Biar saya yang ambil dari tong sampah," ujar Dira, menengadahkan tangan agar diberikan tong sampah pada ibu kantin.
Ibu kantin pun luluh, ia memberikan tong sampah pada Dira. Perempuan itu langsung memilih sampah-sampah plastik yang bisa digunakan sebagai daur ulang pembuatan tas plastik.
Sementara Jenny, sialnya ia harus terpaksa merogoh kantong untuk mendapatkan kardus bekas. Sebab, ibu kantin terbiasa menjual kardus bekas ke rongsokan.
Jenny bahkan meminta kardus cukup banyak, sehingga ibu kantin tidak bisa memberikannya secara cuma-cuma.
"Bu, satu kardus seribulah!" tawar Jenny, menatap tajam pada ibu kantin yang sedang memikirkan harga yang pas untuk satu kardus tersebut.
"Nggak bisalah, kak! Saya biasa jual satu kardus tiga ribu. Masak kakak mau ambil 3 kardus jadi tiga ribu. Kesiniin aja 10 ribu, saya kasih empat kardus!" tampik ibu kantin.
"Yahh ... " sungut Jenny, pasrah, akhirnya memberikan sebagian uang saku perbekalan dari sang mama pada ibu kantin tersebut.
Ginilah kalau mamak-mamak jiwa dagang, nggak bisa kalah debat soal harga! Huh ...
*****
"Bang, geser sana!" titah Carol, berbisik agar tak mengganggu anak lain.
Jefri tetap duduk di samping Carol. Ia tak mau berpindah tempat. Usai menggelar sidang PBB, semua melanjutkan dengan adanya penyampaian kuis.
Jefri sengaja menunjuk Carol untuk maju ke depan.
"Lanjut, kita kuis tanya jawab. Yang nggak bisa jawab—" Belum juga Jefri menuntaskan perkataannya, Carol sudah memotong lebih dulu.
"Nggak disuruh jalan jongkok atau lari lapangan kan?" cecar Carol, menatap sinis pada seniornya.
"Hmm ... menurut kalian apa hukuman yang cocok?" tanya Jefri pada maba yang memperhatikan dengan serius.
"Gimana kalau hukumannya, minta tanda tangan dan foto bersama senior?" usul Grite, sengaja mengusulkan untuk memberikan kesempatan pada Jefri agar bisa lebih dekat.
__ADS_1
"Cakep!" teriak Judika, menjentikkan jari, menyetujui usulan dari juniornya.
"Oke! Gitu saja hukumannya!" Jefri makin senang adanya usulan yang bisa menguntungkan baginya.
"Ah elah, akal-akalan si Grite ini." Carol hanya membelalakkan matanya dengan rasa jengah yang memuncak lantaran usulan yang tak masuk akal.
"Oke, mulai dari Carol! Maju ke depan!" tegas Jefri, menatap lekat perempuan polos tersebut.
"Lah, aku?" Carol menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, kau! Apa nggak dengar apa tadi yang kubilang?" hardik Jefri, menatap dengan kesal.
Mau tidak mau, Carol maju ke depan sesuai permintaan seniornya. Ia masih menunggu pertanyaan yang akan dicecarkan padanya.
*****
Kebetulan sekali, Shinta berada pada kelompok Panja. Mereka bertugas untuk memasak mie, mulai merebus hingga menggoreng mie gomak tersebut.
Karena tidak ada santan untuk membuat kuah, semua sepakat agar memasak mie lidi menjadi mie goreng khas medan.
Shinta, Rina, dan Panja bertugas untuk merebus mie dulu. Rina menjaga wajan hingga air mendidih. Lalu, Panja bertugas memasukkan mie. Shinta mengaduk-aduk sutil agar mie terendam secara merata.
Di kelompok lain, beberapa orang sibuk mengupas bawang, memilin cabai, serta menyiapkan cobek yang dipinjam dari ibu kantin.
Kelompok satunya, menyiapkan piring berbahan sterofoam serta sendok plastik agar memudahkan untuk membagi makanan.
Shinta yang sibuk mengaduk-aduk mie, tiba-tiba Panja menawarkan diri untuk membantu mengaduk. Sebab, terlalu lama Shinta berada di depan wajan, sehingga uap panas membuatnya berkeringat.
"Sini, Shin, saya bantu!" usul Panja, mengulurkan tangan agar bisa meraih sutil yang dipegang Shinta.
Seketika, Shinta memberikannya. Namun, tangan mereka tidak sengaja bersentuhan. Shinta berbunga-bunga dengan adanya kesempatan tersebut.
"Aish ... lumayan nih!" lirih Shinta, menyeringai dengan senyuman tipis.
Sementara, Panja bersikap acuh. Ia merasa tidak ada yang terjadi. Shinta bukanlah seorang perempuan yang bisa meraih hatinya. Kini, ia sudah memiliki seorang pacar yang selalu ingin mendapatkan kabar darinya.
****
"Jen, kau bikinkan name tag untukku! Aku bikinkan tas plastik untukmu!" ucap Dira seraya menggunting plastik agar bisa digunakan.
__ADS_1
Seluruh anak-anak di jurusan kedokteran saling berbagi. Berbagi plastik, kardus, lem, kertas serta bahan-bahan yang digunakan.
Semua tampak sibuk membuat kerajinan tangan. Tanpa disadari, maba semakin akrab satu sama lain. Bahkan mereka bergotong royong agar bisa menghasilkan karya yang bagus.